Category: Blog

  • Segera Terbit: Quarter-Life Bliss

    Segera terbit QUARTER-LIFE BLISS!

    Kepo dengan kontennya?

    Izinkan aku untuk sedikit membocorkan ya.

     

    SINOPSIS

    Ketidakpastian membuat siapa pun gelisah. Itu persis dengan kamu yang di momen Hari Raya enggan untuk menjawab berderet pertanyaan klise seperti: “Kerja di mana sekarang?“, “Bisnis apa yang kamu geluti?”, “S2-mu jurusan apa?”, “Kok belum dibawa calonnya?”, “Kapan menikah?”, “Kapan memiliki anak?”, “Masih tinggal indekost atau sudah punya rumah sendiri?”, dan seterusnya.

    Rentang umur 20an dan 30an yang sarat dengan ketidakapastian ibarat pesawat terbang.  Kamu mengalami pergolakan yang luar biasa di sepanjang jalan. Mungkin ada badai atau cuaca buruk yang menghadang dari detik ke detik selama di angkasa.  Tetapi jika kamu bisa mengetahui cara menavigasinya, kamu dapat melewatinya dengan pengalaman penuh warna nan bermakna.

    Krisis seperempat baya ibarat perjalanan hidup yang melampaui waktu. Karena ketika kamu lulus dari sekolah, kamu meninggalkan satu-satunya kehidupan yang pernah kamu kenal. Yaitu kehidupan yang telah dikemas rapi dalam bongkahan-bongkahan berukuran semester dengan tujuan-tujuan yang terletak di dalamnya. Tiba-tiba, kehidupan nyata datang seiring dengan kelulusanmu dari bangku sekolah atau perguruan tinggi. Silabusnya hilang seketika.

    Ada hari, ada minggu. Ada bulan, ada tahun. Tetapi tidak ada cara yang jelas untuk mengetahui kapan atau mengapa satu hal harus terjadi. Ini bisa menjadi eksistensi yang membingungkan. Ini dapat menjadi kenyataan yang membuatmu galau tak berkesudahan. Karena kamu dihadapkan pada ketidakpastian, perubahan yang tiada habisnya, persimpangan yang seakan-akan tiada ujungnya, atau pilihan hingga keputusan yang tak ada rumus bakunya.

    Krisis seperempat baya adalah salah satu titik paling krusial dalam hidupmu. Di fase itulah dirimu dibenturkan, dibentuk, dan diwarnai oleh apa yang disebut dengan persimpangan dengan frekuensi tertinggi. Di masa itulah kamu dipaksa untuk membuat keputusan dan menentukan pilihan rumit yang kelak mengubah peta hidupmu. Itulah periode strategis ketika hal-hal yang kamu lakukan atau tidak lakukan berdampak dahsyat di sisa hidupmu.

                Quarter-Life Bliss memandumu untuk bermanuver dalam menghadapi krisis seperempat baya yang menguras emosi. Kamu tidak hanya diajak untuk menjelajahi dari dalam untuk mengenal jati diri, namun juga dipandu untuk menyadari apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidup. Sehingga, kamu bisa mendefinisikan apa yang disebut dengan kebahagiaan dan kesuksesan dengan versi sendiri. Harapannya hidupmu makin terarah, kariermu makin berkah, dan keberadaan dirimu makin berfaedah.

     

     QUARTER-LIFE BLISS –  Seni Menjadikan Seperempat Bayamu Terarah, Berkah, dan Berfaedah

    Jumlah Halaman        : 200+xx

    Target Pembaca         : 18-35 tahun

    Penerbit                      : Tiga Serangkai

    Tahun Terbit               : 2020

    Genre                          : Psikologi Populer, Pengembangan Diri, Self-Help

     

     

    TESTIMONI 

    “Buku ini penting dibaca oleh para fresh graduate yang masih galau dengan masa depannya. Masa transisi dari lulus kuliah hingga bekerja dan berumah tangga memang tidak mudah. Karena ada begitu banyak pilihan, persimpangan jalan, dan ketidakpastian yang sering membingungkan setiap individu. Banyak orang yang hanya jalan di tempat atau malah jatuh terjerembab. Buku ini mungkin tidak bisa menjadi obat instan, tapi setidaknya bisa dijadikan rujukan untuk menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan menjadi baik.”

    Kemal E. Gani

    Group Chief Editor SWA Media Inc

     

    “Bagi Gen-Y yang lahir antara 1995 dan 2010 buku ini akan menjadi deja vu.  Harapan orang tua dan tekanan lingkungan bergaul Gen Y – khususnya di dunia Timur, penuh dengan tantangan yang cukup bikin resah.  Variasi anekdot di buku ini akan dapat memuluskan life journey mereka dan generasi selanjutnya pada fase Quarter-Life Bliss.”

    Irham Dilmy

    Wakil Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara 2014-2019

     

    “Sangat Segar dan menarik! Buku ini bisa menginspirasi semua pembaca untuk berkarier dan hidup dengan tujuan.”

    Roma Tampubolon

    CEO  StrengthsID

     

    “Kebanyakan  orang nampaknya  lebih  banyak  waktu  dalam  merencanakan liburan  daripada  merancang  kehidupan.  Buku  ini  membantu  orang-orang  yang  tengah mengidap  krisis usia 20an untuk  menjalani  transformasi  hidup  mereka.  Berikan Quarter-Life  Bliss  ini  kepada  kenalan  Anda  yang  ingin  memaksimalkan  usia  20an dan 30annya!”

    Teguh Eko Budiarto

    CEO Prosa.ai

     

    “Ditulis dengan sangat baik. Buku ini layak dijadikan pegangan wajib bagi siapa saja yang ingin mengarungi masa transisinya dengan menyenangkan.”

    Prof. DR. Irwandy Arif, MSc

    Guru Besar Teknik Pertambangan ITB

     

    “Saya sangat merekomendasikan Quarter-Life Bliss bagi siapa pun yang mencari pilihan terbaik untuk karier di masa depan. Mas Agung menggambarkan bagaimana Anda dipersilahkan untuk bisa melihat dari berbagai sudut pandang tentang diri kita. Anda akan belajar bagaimana mencari jati diri, bagaimana mengubah masalah menjadi peluang dan memanfaatkan peluang untuk menjadikan sesuatu yang berharga guna menjadikan Anda lebih baik.”

    Teguh Yoga Raksa
    HR Tech Enthusiast

    Human Capital Division Head PT DSN Tbk

     

    “Ini adalah kehidupan nyata, bukan kehidupan praktik untuk hidup. Penting untuk berhenti sejenak memikirkan apa yang benar-benar penting, apa yang benar-benar membuat bersemangat, dan kemudian merancang peta jalan yang bernama masa depan. Buku Agung ini adalah peta jalan itu. Ia membantu Anda menjelajahi jati diri, memberi Anda strategi, dan membeberkan latihan inovatif untuk menunjukkan Anda bagaimana menjadikan mimpi pribadi dan profesional menjadi kenyataan.”

    Prof. Dr. Ir. A.R. Adji Hoesodo SH, MH, MBA

    President GPU Singapura

  • Karma

    Hei, kamu.
    Apakah kamu pernah mendengar kata karma?
    Jika ya, percaya kah?
    Jika ya, apa alasannya?
    Jika tidak, apa yang menjadi faktornya?
    Saya sih percaya dengan karma.
    Dari kaca mata sains saja menguatkan loh. Jadi, karma itu semacam energi yang konon abadi. Energi hanya berubah bentuk, tidak hilang, tidak musnah.
    Jadi, jika kita suatu hari menaburkan kebajikan kepada si X senilai Y. Entah kita sadari atau tidak, kelak kita akan mendapati “balasan” yang setimpal. Mungkin bentuknya bisa Dewata ubah dalam bentuk lain. Penerimanya pun bisa jadi tidak langsung melalui diri kita. Bisa pasangan, anak, atau bahkan cucu.
    Karma, karma, karma.
    Jika apa saja yang kita lakukan kelak mendapatkan balasannya, masih beranikah kita mengingkari nurani?
    Jika apa pun yang kita tanam nanti akan kita panen, maukah kita menanam asal-asalan?
    Jika segala pikiran, tindakan, ucapan dan sikap kita ke depannya akan ditimbang; masihkah kita seenaknya sendiri?
    Karma. Mungkin di setiap kepercayaan bahasanya berbeda-beda. Namun yang pasti, hukum ini berlaku universal.
    Tak peduli siapa diri Anda, tidak ada orang yang “kebal” dengan hukum ini.
    Apa yang kamu tanam, kelak itulah yang akan kamu panen.
    Demi karma. Hidupmu, hidupku, hidup kita semua. Semua akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega  Kuningan, 12 September 2019
  • Lukisan Itu Bernama Anak

    Kata orang-orang bijak, ketika seorang manusia dilahirkan ia ibarat kertas putih. Bagaimana kualitas “olahan” kertas itu kelak bergantung bagaimana orang tua melukiskannya.
    Mungkin, ini terdengar sangat klise. Namun, itulah kehidupan. Mau jadi apa seseorang kelak sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua berperan dalam masa emas perkembangan buah hatinya.
    Benar, pendidikan formal dan pengaruh lingkungan tak kalah penting. Kendati demikian, menurut penelitian dari berbagai pihak, peran orang tua begitu sentral.
    Tentu, semua orang hanya mau melihat lukisan terindah. Mana ada orang yang mendambahkan lukisan terburuk?
    Sayangnya, belum tentu semua orang memahami peran hakikinya sebagai orang tua. Akibatnya, mereka seenaknya sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang sang anak.
    Semakin baik orang tua dalam mendidik anak, semakin baik pula “ganjaran” yang diterimanya kelak. Entah di alam dunia, maupun di alam keabadian.
    Akhir kata, saya teringat dengan untaian kata indah karya sang maestor Khalil Gibran berikut.

    Anakmu bukanlah milikmu,

    mereka adalah putra putri sang Hidup,

    yang rindu akan dirinya sendiri.

     

    Mereka lahir lewat engkau,

    tetapi bukan dari engkau,

    mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

     

    Berikanlah mereka kasih sayangmu,

    namun jangan sodorkan pemikiranmu,

    sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

     

    Patut kau berikan rumah bagi raganya,

    namun tidak bagi jiwanya,

    sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

    yang tiada dapat kau kunjungi,

    sekalipun dalam mimpimu.

     

    Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

    namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

    sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

    ataupun tenggelam ke masa lampau.

     

    Engkaulah busur asal anakmu,

    anak panah hidup, melesat pergi.

     

    Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

    Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

    hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

     

    Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

    sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

    sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

    Agung Setiyo Wibowo
    Mega Kuningan, 17 September 2019
  • Bahagia yang Seperti Apa?

    Bahagia adalah satu kata yang begitu magis bagi saya. Dan mungkin untuk miliaran orang lainnya. Apa pasal?
    Apapun yang kita jalani memang untuk mewujudkannya. Apapun yang kita kejar demi menjadikannya kenyataan.
    Namun, sudahkah kamu bahagia?
    Ayo, jawab saja dengan jujur. Aku tak berhak memberikan penilaian, kok!
    Di sekitar kita, banyak sekali fenomena yang dapat kita jadikan pelajaran. Dari orang yang hanya mengejar harta, tahta dan wanita. Hingga orang yang hanya mati-matian mendambakan ketenaran. Apapun itu, setiap orang secara naluriah memang ingin berbahagia.
    Sayangnya, meski syarat bahagia sesungguhnya gratis; banyak orang yang tak mencapai titik kebahagiaan. Mengapa? Karena mereka membuat persyaratan ini atau itu. Mereka menyetel bahagia dengan syarat.
    Ada yang baru bisa bahagia ketika memiliki mobil termewah. Ada yang baru merasa bahagia jika menduduki posisi tertentu. Ada yang baru memandang dirinya bahagia ketika memiliki uang atau harta benda dengan patokan tertentu. Ada yang merasa baru akan bahagia ketika mendapatkan anak. Ada yang merasa akan bahagia hanya ketika menjadi terkenal. Mungkin kalau ku uraikan tidak cukup 100 halaman.
    Bahagia sesungguhya tanpa syarat, kok. Benar-benar gratis pula. Semua yang kita butuhkan untuk menjadi bahagia sudah ada pada diri kita. Apa pasal?
    Karena bahagia adalah sekarang, apapun situasi atau kondisi yang kita hadapi. Jadi, penyesalan dengan masa lalu dan kegelisahan dengan masa depan tak dapat dihubungkan.
    Hmmmmm, begitulah bahagia. Ikhlas menjalani berderet ujian hidup tanpa syarat. Kalau kamu bagaimana? Kebahagiaan seperti apa yang kamu kejar?
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega Kuningan, 3 Oktober 2019
  • Pengingat Terbaik

    12 Agustus 2019 menjadi begitu bersejarah bagi saya. Di hari itu Tuhan memberikan kepercayaan kepada saya dan istri untuk merawat, mendidik, dan membesarkan putra pertama yang kami beri panggil Pandit.

    Dari jeritan tangis pertamanya saja, saya Pandit telah sukses membuat saya menangis penuh makna. Tentunya sangat bahagia bisa menemani tumbuh kembangnya kelak. Di sisi lain, berderet tantangan yang kelak mungkin menghadang bulai terbayang-bayang.

    Benar kata salah satu sahabat saya bahwa hadirnya seorang anak membawa pengaruh signifikan bagi keluarga muda. Tak mengherankan jika kelahiran bayi pertama menjadi “Game Changer” yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Lantas, apa yang dapat saya pelajari dari anak dalam beberapa minggu pertama kehadirannya?

    Pertama, manajemen waktu. Hadirnya anak mengingatkan saya untuk menghargai setiap detik kehidupan. Pasalnya dulu ketika masih melajang, saya sering menyia-nyiakan waktu begitu saja. Saya acapkali menghabiskan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang berfaedah.

    Kedua, tanggung jawab. Hadirnya anak mengingatkan saya untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Tidak hanya kepada diri sendiri dan Tuhan, namun juga kepada keluarga. Ketika masih berstatus sebagai jomblo mungkin bisa seenaknya “lari dari kenyataan” atau bersifat kekanak-kanakan. Sejak anak muncul, semua sifat itu secara naluriah ditinggalkan.

    Ketiga, akhlak. Hadirnya anak mengingatkan saya untuk menjadi “orang baik dan benar” sepanjang waktu. Jika dulu senantiasa melakukan dosa kecil tanpa merasa bersalah (meski tak merugikan orang lain). Sekarang sebaliknya. Setiap mau mengambil keputusan selalu berpikir seribu kali dan terbayang-bayang wajahnya. Karena kelak anak pasti akan meneladani orang tuanya.

    Mungkin masih berderet pelajaran dari hadirnya anak. Namun, jika boleh saya simpulkan tiga poin di ataslah yang utama. Bagi saya, anak adalah sebaik-baik pengingat. Lebih tepatnya lagi, anak adalah pengingat terbaik untuk menjadi yang lebih baik.

     

     

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Mega Kuningan, 27 September 2019

  • Pulang

    Pulang.
    Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama ini?
    Bagi yang merantau, mungkin langsung menghubungkannya dengan mudik. Berkumpul bersama orang tua tercinta dan kerabat.
    Bagi yang bekerja, bisa jadi langsung mengaitkannya dengan balik ke rumah. Merajut keceriaan kembali bersama anak dan istri.
    Tentu saya, Anda, dan kita semua memiliki makna yang berbeda-beda.
    Yang pasti, setiap orang di bumi ini kelak akan pulang. Karena sesungguhnya keberadaan kita di sini hanya sementara.
    Pulang ke mana Mas Agung?
    Pulang ke tempat kita berasal. Ke Maha Pencipta.
    Lantas, sudahkah Anda mempersiapkan bekal untuk pulang?
    Jika kita ingin bepergian yang identik senang-senang saja menyiapkan berderet bekal, bukankah kita lebih serius mempersiapkan pulang ke alam keabadian?
    Sejauh mana kita serius untuk berniat pulang kepada-Nya?
    Sebesar apa persiapan yang telah kita tunaikan untuk kembali ke sumber cinta?
    Siap atau tidak siap, kelak kita akan pulang.
    Mau-tidak mau, nanti kita pergi untuk kembali
    Pulang. Pulang. Pulang.
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega Kuningan, 12 September 2019