Category: Blog

  • Tips Menerbitkan Buku di Gramedia

    Banyak orang DM saya dengan pertanyaan yang sama:
    “Mas, gimana caranya buku saya bisa terbit di Gramedia?”

    Pertanyaan sederhana… tapi jawabannya panjang. Saya jawab dari tempat paling jujur sebagai seseorang yang sudah 17 tahun menulis ratusan buku — sebagai author, co-writer, dan ghostwriter di topik bisnis, manajemen, agama, komunikasi, leadership, sampai self-help.

    Saya sudah lihat proposal yang tembus, yang ditolak, yang harus direvisi berkali-kali, dan yang akhirnya melejit jadi best-seller.
    Saya juga melihat pola-pola yang tidak berubah selama hampir dua dekade.

    Jadi hari ini, saya rangkum semuanya dalam satu postingan.
    Kalau kamu berencana menerbitkan buku di Gramedia (atau penerbit mayor sejenis), simpan postingan ini baik-baik. 

    (more…)

  • Kalau Stresmu Tidak Terkendali, Kariermu Akan Ikut Terbakar

    Saya harus jujur: bertahun-tahun hidup saya dipimpin oleh satu hal — reaksi spontan terhadap stres.
    Saya pikir, semakin cepat saya merespons masalah, semakin kuat saya terlihat.
    Ada klien marah? Saya buru-buru menjelaskan.
    Ada target gagal? Saya panik dan bekerja dua kali lebih keras.
    Ada konflik internal? Saya langsung mencari siapa yang salah.

    Di titik itu, saya tidak sadar bahwa saya bukan sedang menghadapi stres…
    Saya sedang dikendalikan oleh stres.

    Dan ironisnya, semakin saya mencoba terlihat “tangguh”, semakin rapuh saya dibuatnya.
    Saya bekerja keras, tapi mudah tersinggung.
    Saya hadir dalam banyak ruang, tapi tidak sepenuhnya hadir di dalam diri.
    Saya semakin produktif, tapi semakin jauh dari tenang.

    Sampai akhirnya saya merasa ada yang salah — bukan pada dunia, bukan pada pekerjaan, bukan pada orang lain, tetapi pada otak saya sendiri.

    (more…)

  • Lo Gak Perlu Kerja 16 Jam Sehari Kalau 4 Jam Pertama Lo Beneran Fokus

    Gue mau jujur dari awal:
    Selama bertahun-tahun, gue bangga jadi orang yang susah istirahat.

    Kerja sampai malam, balas chat klien jam 11, buka laptop lagi di hari Minggu. Di LinkedIn, itu kelihatan keren: “productive”, “dedicated”, “hustler”. Tapi pelan-pelan gue sadar, ada sesuatu yang rusak: fokus makin pendek, emosi gampang meledak, ide kreatif seret, tapi jam kerja justru makin panjang.

    Sampai satu titik, gue nanya ke diri sendiri:

    “Kalau gue udah kerja segila ini, kenapa hidup rasanya malah nanggung — capek iya, puas nggak?”

    Pertanyaan itu pelan-pelan terjawab setelah gue baca satu buku yang judulnya sederhana tapi isinya nusuk:
    Rest: Why You Get More Done When You Work Less karya Alex Soojung-Kim Pang.

    Buku ini basically bilang:
    Masalahnya bukan karena kita kurang kerja keras. Masalahnya karena kita bodoh mengelola istirahat.

    Dan jujur, itu cukup bikin gue kaget dan… malu.

    (more…)

  • Karier Lo Nggak Lagi Ditetapkan — Lo yang Nulis Kode Takdirnya

    Gue mau mulai dari pertanyaan yang selama ini bikin gue pusing sendiri:

    Kenapa ada orang yang kerjanya biasa aja, tapi kariernya mulus, hidupnya ringan, aura-nya bersinar?
    Dan kenapa ada orang yang udah lembur, udah setia, udah jago, tapi kayak narik mobil mogok pakai tangan kosong setiap hari?

    Jawabannya bukan di luar. Bukan di energi orang lain.
    Jawabannya… ada di sistem internal kita sendiri yang jarang kita upgrade.

    Dan ironically, insight paling career-changing yang pernah gue baca bukan dari thread X tentang “10 cara masuk MBB”, bukan dari ebook gaji negotiation, bukan juga motivator live TikTok jam 1 pagi.

    Gue nemu jawabannya dari buku yang judulnya tampan, spiritual, tapi isinya relevan banget buat orang yang lagi ngatur karier dan kebahagiaan yaitu buku berjudul 

    Buku ini literally bikin gue merasa: “Oh, selama ini gue nyari cheat code di luar, padahal settings sistemnya error.”

    (more…)

  • Stop Jadi Komoditas, Mulailah Jadi Brand — Sebelum Karier Lo Hilang

    Gue masih inget momen hari itu. Laptop gue tutup, Slack sunyi, email terakhir HR kebuka: “Unfortunately, your position is impacted…”

    Boom. Layoff.

    Bukan cuma gue, ratusan ribu orang global ngalamin hal yang sama. Ironisnya? Gue merasa udah ngelakuin semuanya: jadi “karyawan teladan”, ngikut arahan, rajin lembur, ga banyak bicara, kerja rapi, profesional, resume cakep. Tapi tetap… tereliminasi kayak barang diskon di akhir musim.

    Dan 2 tahun kemudian, gue nemu jawaban yang bikin gue pengen teleport ke masa lalu dan bisikin diri gue sendiri:

    “Lo ga di-layoff karena skill lo kurang. Lo di-layoff karena brand lo ga beda.”

    Pelajaran karier paling mahal itu… justru gue dapet dari sebuah buku yang judulnya bukan buku motivasi. Bahkan cover-nya minimalis banget, ga teriak “Lo pasti sukses!”.

    Tapi isinya? Ngena. Tajem. Nohok.

    Itu buku yang bikin mindset gue soal karier jungkir balik: The Brand Gap karya Marty Neumeier. 

    (more…)

  • LinkedIn Itu Bukan Instagram Pakai Jas—Tapi Banyak yang Salah Kaprah

    Pernah lihat orang upload selfie di LinkedIn sambil caption: “Feeling grateful, finally touched down in Bali for client meeting.

    Yup, saya juga. Dan jujur, kadang saya bingung—ini mau ngasih insight profesional atau pamer gaya hidup yang dibungkus pakai emotikon bisnis?


    LinkedIn itu kayak ruang tamu digital. Kita ngobrolin hal-hal penting di situ: kerjaan, kolaborasi, value, dan perjalanan profesional. Tapi makin ke sini, banyak yang memperlakukannya kayak feed Instagram yang cuma diganti template biru dan font Arial.

    Sebagai pengguna LinkedIn aktif dan juga pengamat diam-diam (iya, saya sering scrolling jam 8 pagi), saya mau cerita dari hati ke hati: gimana sih sebaiknya kita manfaatin LinkedIn biar meaningful, nggak cuma numpang eksis?


     Let’s Talk: Do’s yang Bikin Kamu Menonjol di LinkedIn

    1. Tunjukin Value, Bukan Jabatan Doang.
    Orang lebih tertarik sama cerita perjalanan kamu naik jabatan, bukan sekadar update posisi baru. Share struggles kamu saat adaptasi di tempat baru, pelajaran dari gagal pitching, atau cara kamu handle tim hybrid. Cerita itu relatable dan bikin kamu terlihat manusiawi, bukan robot korporat.

    2. Ngobrol, Jangan Ceramah.
    LinkedIn bukan panggung TED Talk. Tulis dengan nada ngobrol. Ajak diskusi. Gunakan bahasa yang mengalir, kayak kamu lagi ngobrol bareng temen di coffee shop—tapi tetap sopan.

    3. Bangun Personal Brand yang Autentik.
    Kalau kamu konsultan, tunjukin pendekatan unik kamu bantu klien. Kalau kamu HR, bagikan proses rekrutmen yang beretika dan transparan. Jangan takut jadi beda. Autentik = menarik.

    4. Bantu Orang Lain Naik ke Atas.
    LinkedIn bukan kompetisi siapa paling keren. Engage dengan post orang lain. Kasih insight, komentar yang thoughtful, atau bantu repost lowongan kerja. Itu investasi sosial jangka panjang.


     Now, The Don’ts (Please, Jangan Dilakuin Lagi)

    1. Jangan Pake Gaya Motivator Ngawang.
    “Jangan pernah menyerah, Tuhan tahu kamu kuat.” – ini cocok buat IG Story, bukan LinkedIn. Di sini, kita butuh konteks, cerita nyata, bukan quotes kosong.

    2. Jangan Asal Add Orang Tanpa Konteks.
    Koneksi itu bukan angka. Kalau kamu recruiter, kasih intro dulu. Kalau kamu mau kolaborasi, jelaskan kenapa kamu reach out. Random connect = ignored.

    3. Jangan Pura-Pura Humble.
    Kalau mau cerita pencapaian, langsung aja. Nggak usah bilang “nggak nyangka bisa sampai sini” tiap kali posting. Itu udah basi. Own your success, tapi tetap rendah hati.


    Contoh yang Keren?

    Saya pernah follow seorang CFO muda yang rutin bagikan “fail story” waktu dia salah baca cash flow dan sempat bikin panik timnya. Tapi di akhir post, dia ngasih insight tentang pentingnya sense of ownership dan resilience. Itu baru konten berkualitas: jujur, edukatif, dan inspiratif.


    Penutup

    LinkedIn itu bukan sekadar tempat cari kerja. Ini platform buat membangun reputasi, berbagi insight, dan tumbuh bareng komunitas profesional.

    So, sebelum kamu posting, tanya dulu ke diri sendiri:
    “Post ini nambah nilai, atau cuma nambah views?”

    Kalau kamu setuju atau punya cerita sendiri soal “LinkedIn blunders”, drop komentar, like, atau repost tulisan ini. Siapa tahu, kamu bantu orang lain jadi lebih bijak dalam ber-LinkedIn-ria.