Category: Blog

  • Menemukan Benang Merah

                      “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.”

    Nampaknya ungkapan di atas sudah sering Anda dengar, bukan?  Jika ya, apa tanggapan Anda?

    Saya sendiri percaya. Bahkan, sangat mengamini. Karena setelah saya renungkan dalam-dalam, segala sesuatu memiliki arti. Baik masalah yang saya temui, orang-orang yang pernah saya jumpai, tempat-tempat yang saya singgahi, atau buku-buku yang pernah saya baca.

    SBY saya tidak akan pernah menjadi presiden RI jika tidak menikahi Ibu Kristiani Herrawati. Merry Riana tidak mungkin menjadi motivator jika bermalas-malasan ketika kuliah di Singapura. Bali mustahil sekali bisa menjadi “Pulau Surga” jika di masa lalu tidak ada “eksodus” masyarakat Majapahit dari Tanah Jawa.

    Sekarang, bagaimana diri Anda? Mungkin Anda capek dengan tekanan pekerjaan di kantor yang seakan tiada habisnya? Barangkali ada cepat mengeluh lantaran perilaku pasangan maupun buah hati yang menjengkelkan?  Ataukah Anda ingin mengakhiri hidup gara-gara beratnya masalah?

    Saya tidak mengenal Anda secara pribadi. Namun, kalau boleh saya beri saran; nikmatilah apa yang Anda hadapi sekarang. Karena bukan tidak mungkin di kemudian hari Anda akan baru menyadari apa maksudnya. Jalani apa yang menjadi peran Anda. Lantaran tidak mustahil kelak Anda justru merindukannya.

    Yang harus Anda ingat, diri Anda saat ini merupakan “akumulasi” dari pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda di masa lalu. Pencapaian Anda hari ini merupakan akibat dari sikap diri Anda di masa silam.

    Yang harus Anda sadari, Andalah kapten hidup Anda sendiri. Andalah penulis dari buku yang bernama kehidupan Anda sendiri. Andalah pencipta nasib Anda sendiri.

    Hidup Anda ibarat teka-teki. Karena dari waktu ke waktu Anda menorehkan potongan-potongan penuh warna. Mungkin saat ini Anda belum tahu apa maksudnya. Namun, cepat atau lambat Anda akan menyadarinya.

    Anda memang hanya bisa menemukan benang merah dari apa yang telah terjadi. Namun, hidup Anda sesungguhnya hanyalah di hari ini. Oleh karena itu, belajarlah dari masa lalu demi masa depan Anda. Dan, sekarang adalah waktu terbaik untuk mewujudkannya.

    Jadi, sudahkah Anda menemukan benang merah hidup Anda sendiri?

     

    Kebagusan, 4 Oktober 2018

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Apa Yang Saya Pelajari Di Usia 20an?

                Katanya, waktu tidak bisa ditukar dengan Rupiah. Konon, pengalaman tak bisa dihargai dengan Dolar.  Bagi saya, keduanya tidak salah. Yang pasti, waktu tidak pernah kembali dan pengalaman akan terus menjadi memori.

    Tahun ini saya resmi meninggalkan usian 20an. Artinya, saya mulai menginjak angka 30 di tahun 2018.

    Ada perasaan senang dan sedih yang mengiringi. Senang karena banyak hal yang telah saya lalui dalam satu dasawarsa terakhir. Sedih lantaran saya belum bisa memanfaatkan waktu sebagaimana mestinya.

    Saya sangat bersyukur bisa melewati usia 20an dengan pengalaman penuh warna. Karena masih diberi “kepercayaan” oleh Tuhan untuk bernafas di alam dunia.

    Mungkin bagi sebagian orang ini berlebihan. Namun, tidak bagi saya. Lantaran tidak sedikit teman sekolah, saudara, maupun tetangga seusia saya atau bahkan yang lebih muda sudah lebih dahulu menghadap kepada-Nya.

    Saya yakin pengalaman setiap orang melewati fase ini pastilah unik. Begitu pula cara memaknainya. Namun, jika saya ditanya apa pelajaran yang dapat saya ceritakan di usia 20an, inilah jawabannya.

     

    Men Can Plan Well, But God is the Best Planner

    Saya kira ini pelajaran terpenting. Karena sehebat apapun kita berencana, pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.

    Dalam konteks saya pribadi, untuk pertama kalinya saya percaya takdir di usia ini.  Sejak kecil – karena didikan orang tua dan agama – saya tahu takdir memang ada. Namun, saya baru bisa benar-benar menghayati apa itu takdir dan nasib di fase ini.

    Jika ditarik ke belakang, saya masih ingat betul bagaimana dulu pernah “jatuh” karena pendidikan. Khususnya ketika gagal menjadi mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga dan PKN STAN di tahun 2007.

    Dalam konteks karir, saya begitu banyak “ditolak” oleh perusahaan. Di sisi lain, tidak kalah banyak saya “dibajak” atau tiba-tiba ditawari untuk bergabung perusahaan tertentu.

    Dalam konteks penjualan, saya bertubi-tubi ditolak calon pelanggan. Namun, tak sedikit juga yang tiba-tiba mendapatkan closing tanpa saya menawarkan.

    Dalam konteks perjodohan tidak kalah seru. Tak terhitung berapa orang yang ingin saya “dekati”, tapi ujung-ujungnya tidak mendapati kecocokan. Tak ingat lagi berapa orang yang telah menolak saya untuk menjadi bagian hidupnya – meski baru mengatakan “halo”. Yang pasti, tidak sedikit  yang begitu agresif mempengaruhi saya untuk menikah dengannya.

     

     

    Dalam Hidup Kita Memilih dan Dipilih

                Apakah hidup ialah pilihan? Ya, saya mengamini. Lebih tepatnya lagi merupakan kumpulan dari beragam pilihan yang seolah tak berkesudahan.

    Yang saya pelajari di fase 20an ialah tentang memilih dan dipilih. Ya, ada saatnya kita memang benar-benar berkuasa penuh dengan pilihan yang kita inginkan. Namun, ada momen-momen tertentu yang ternyata kita “dipilih” oleh Tuhan untuk menjadi, melakukan atau mempunyai hal tertentu.

    Pada tahun 2008 misalnya. Saya “dipilih” untuk menerima beasiswa penuh dari Theodore Permadi Rachmat di Universitas Paramadina di bidang yang dulu saya cintai – hubungan internasional. Juga terpilih untuk menerima beasiswa penuh di salah satu sekolah kedinasan di Yogyakarta.

    Di tahun 2012, lain lagi ceritanya. Saya memilih untuk menjadi mahasiswa Master di Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Techological University (NTU), Singapura. Namun nasib berkata lain, saya gagal di “babak” terakhir. Sehingga membuat saya dipilih untuk menjadi mahasiswa Master di Universitas Indonesia melalui beasiswa Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

    Masih di tahun 2013, saya dipilih oleh salah satu profesor manajemen di Amerika Serikat. Lebih tepatnya untuk menjadi mahasiswa MBA di salah satu kampus di Florida. Karena sudah lebih dulu terikat dengan beasiswa di Universitas Indonesia, saya melepas atau menolak tawaran studi di Negeri Paman Sam.

     

    Tentang Menemukan Jodoh

                Berbeda dengan sebagian laki-laki di luar sana, saya tidak pernah berpacaran. Itu mengapa saya sama sekali tidak memiliki cerita romantis dengan orang tertentu.

    Untuk urusan perjodohan, saya termasuk orang yang “mengalir”. Artinya, saya bukan tipe perencana seperti beberapa teman saya yang memang telah merancang dengan sangat baik kriteria pasangan, hingga kapan dan di mana harus menikah.

    Jodoh memang misteri. Kita sering mendengar bahwa lama atau tidaknya berpacaran tidak menjamin sepasang manusia terikat dalam institusi pernikahan. Sebaliknya, tidak ada jaminan juga pasangan yang mengambil “jalur” taaruf bisa langgeng sampai “kakek-nenek”. Begitu pun mereka yang menikah karena dijodohkan oleh keluarga seperti cerita Siti Nurbaya.

    Jalan hidup orang berbeda-beda. Ada yang menemukan jodohnya di tempat kerja, komunitas, kampus, dikenalkan teman, dijodohkan, taaruf, hingga melalui aplikasi tertentu.

    Bagi saya, menikah bukanlah kompetisi. Bukan siapa yang paling cepat menemukan pasangannya. Bukan pula hanya dipengaruhi faktor finansial dan mental.

    Percaya atau tidak, siapapun akan menemukan jodohnya di saat dan waktu yang tepat menurut Tuhan. Disadari atau tidak, siapa saja akan memperoleh pasangan seperti yang dipikirkan dan diharapkan. Jika sudah demikian, yang harus dilakukan oleh orang-orang yang melajang ialah cukup berusaha dan berdoa.

     

    Mengenai Rezeki

                Usia 20an mungkin merupakan fase terpenting dalam menentukan pekerjaan. Tak mengherankan, di masa ini ada berbagai banyak keputusan yang harus diambil. Mulai dari memilih perguruan tinggi, tempat magang, profesi, hingga bidang bisnis yang ingin ditekuni.

    Yang saya pelajari, usia 20an begitu dinamis. Ada banyak perubahan pola pikir di masa ini. Ada beragam kejutan yang tak disangka-sangka. Ada berderet orang yang mewarnai perjalanan hidup kita di  fase ini.

    Di usia 20an, kita mulai belajar kerasnya kehidupan. Saya tidak mengatakan di fase sebelum atau setelahnya tidak keras – sama sekali bukan. Namun, di periode ini kita memang sedang gencar-gencarnya berjuang menjemput, mengupayakan, atau mencari rezeki.

    Yang saya pahami, uang bukan satu-satunya tolok ukur rezeki. Karena sudah jamak terdengar orang yang kaya-raya tapi bunuh diri. Para pesohor yang memiliki puluhan juta penggemar mengakhiri hidup dengan tragis. Para pengusaha yang bergelimang kemewahan tidak memiliki waktu untuk anak. Para pejabat yang terlihat “enak” menyesal dalam penjara yang memalukan.

    Rezeki tentang keberkahan. Bukan dari seberapa banyak kita memperoleh. Rezeki ialah tentang memberi, bukan terhenti pada tahap memiliki.

     

    Kebahagiaan Yang Paling Didambakan

                Di usia 20an kita mulai diuji oleh berbagai pernak-pernik kehidupan. Khususnya mengenai karir, bisnis, rumah tangga, dan gaya hidup.

    Di fase ini, nilai-nilai kehidupan kita benar-benar diuji. Karena pengaruh dari luar diri kita begitu luar biasa untuk “menggoyang” apa yang sesungguhnya kita inginkan dalam hidup.

    Kendali ada pada diri kita. Apakah kita mau mengikuti apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup atau mengikuti apa yang orang lain inginkan dari diri kita?

    Kendali ada pada diri sendiri. Apakah kita mau mengikuti apa yang membuat kita bahagia atau didikte oleh orang tua, teman, institusi atau media.

    Di usia 20an, identitas kita benar-benar mulai diuji. Apakah kebahagiaan versi kita berbanding lurus dengan kekayaan, ketenaran dan kekuasaan? Atau bukan dari ketiganya?

    Yang pasti, apapun yang sebenarnya kita inginkan, itulah yang membuat diri kita bahagia. Jika kita sudah tahu apa itu, ikuti saja kata hati.

    Namun, kita juga harus ingat. Bahwa apa yang kita lakukan tidak melanggar. Baik dari sisi agama, hukum, sosial dan alam.

     

    Sebenarnya di luar 5 (lima) hal di atas, masih ada berderet pelajaran lain yang bisa saya tuturkan. Namun, saya kira kelimanya telah mewakili.

    Usia 20an ialah periode eksplorasi. Jadi, lakukan saja apapun yang kita inginkan. Kejar apa saja yang membuat kita bahagia.

    Di fase 20an, energi kita berada pada puncaknya. Jadi, jangan sampai ia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang berarti dan kita banggakan di kemudian hari.

    Saya baru saja mengakhiri fase 20an. Ini cerita saya, bagaimana dengan Anda?

     

     

     

     

     

     

  • Followership Yang Terlupakan

    Belum lama ini saya bertukar pikiran dengan salah satu mitra. Sebut saja bernama Peter. Ia merupakan Direktur Pengembangan Bisnis di sebuah perusahaan telekomunikasi asal negeri jiran.

    Tiga bulan terakhir Peter pusing bukan kepalang. Pasalnya, berbagai pelatihan kepemimpinan yang diikuti oleh para bawahannya (setingkat Kepala Divisi) seolah sia-sia saja. Padahal ia telah memfasilitasi berderet program untuk mengasah jiwa kepemimpinan mereka.

    Kepercayaan diri Peter pelan-pelan meredup. Kendati ia telah mengikuti program Executive Coaching di salah satu firma konsultasi ternama. Ia merasa kemampuan kepemimpinannya sendiri lemah. Karena para bawahan yang diharapkan bisa membantunya memenuhi target-target perusahaan tidak berkinerja.

    Cerita Peter mungkin terdengar sangat klise. Betapa di luar sana para pemimpin di berbagai level dibuat frustasi oleh kinerja bawahannya. Mereka berlomba-lomba mengikutsertakan bawahannya dalam berbagai program. Dari training hingga coaching, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

    Menjadi pemimpin di era disruptif memang tidak mudah. Terlebih lagi jika di dalam organisasi tersebut komposisi antar generasi cukup berwarna. Entah Baby Boomer, Gen X, ataupun yang terutama Millennial. Karena pola pikir, cara pandang, dan orientasi karirnya bisa jadi berbeda satu sama lainnya.

    Sebagai mitra, saya tentu tidak bisa serta merta menghakimi Peter. Karena sebagai seorang Direktur, saya yakin ia telah berusaha memberikan yang terbaik untuk mewujudkan misi dan visi perusahaannya. Terlebih lagi jika saya lihat dari jejak rekam pendidikan, pengalaman organisasi, dan gaya kepribadiannya yang begitu mengesankan. Hampir tidak ada celah bagi saya untuk memberikan umpan balik yang berarti.

    Saya justru menangkap permasalahan Peter dari sisi lain. Karena saya pikir ia merupakan pemimpin yang baik. Namun, bagaimana dengan bawahannya? Apakah ia memiliki jiwa “kepengikutan” (followership) yang baik juga? Nah, ini yang masih menjadi tanda tanya.

    Seseorang bisa dikatakan sebagai pemimpin jika memiliki pengikut. Oleh karena itu, sejak kita kecil seolah-olah kita sudah didoktrin oleh pendidikan formal, masyarakat, maupun keluarga untuk menjadi pemimpin.

    Tidak ada yang salah memang.  Karena setiap orang dilahirkan sebagai pemimpin dengan kadar masing-masing. Minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarga. Alangkah baiknya jika bisa memimpin dalam skala lebih luas seperti perusahaan, organisasi nirlaba, atau pemerintahan.

    Namun, yang sering terlupakan ialah kepengikutan (followership). Karena seolah-olah pengikut dianggap memiliki “kasta” lebih rendah daripada pemimpin. Padahal, sejatinya sama saja. Pemimpin dan pengikut bagaikan dua sisi koin.

    Setiap orang ialah pemimpin. Setiap orang pada dasarnya juga merupakan pengikut dalam ruang dan waktu tertentu. Karena tidak akan ada  pemimpin yang baik tanpa memiliki pengalaman kepengikutan yang baik.

    Kepengikutan ialah kemauan untuk bekerjasama mencapai misi, yang ditunjukkan dengan kerjasama tim yang tinggi, guna membangun kohesi di antara anggota  organisasi. Dalam kacamata manajemen modern, pengikut merupakan bawahan yang memiliki power, wewenang, dan pengaruh lebih kecil dibandingkan dengan atasannya.

    Konsep kepengikutan di Indonesia mungkin belum setenar kepemimpinan. Karena dari buku-buku, seminar, pelatihan, konferensi, lokakarya, maupun pendidikan formal hampir semuanya ingin mencetak pemimpin yang hebat. Setidaknya yang saya alami sendiri.  Saya belum pernah menemukan satu pun buku panduan terbitan lokal atau forum yang mengajarkan saya sebagai “pengikut yang baik” di sepanjang 18 tahun belajar di bangku formal dan 6 tahun di dunia kerja.

    Jika Anda sekarang dipercaya sebagai  pemimpin, jangan sekal-kali meremehkan para bawahan Anda. Karena bukan tidak mungkin di suatu hari kelak, mereka akan berada di posisi setara atau lebih berpengaruh daripada Anda.

    Jika Anda sekarang “hanya” sebagai pengikut, jangan berkecil hati. Karena Anda bisa belajar banyak dari pemimpin di organisasi atau di luar organisasi Anda bekerja. Manfaatkan kesempatan emas tersebut untuk menjadikan diri Anda pemimpin yang kredibel di kemudian hari.

    Akhir kata, saya ingat pesan Mike Bonem dan Roger Patterson bahwa “If you believe lack of authority prevents you from leading effectively, it is time to rethink your understanding of leadership.” Sudahkah Anda menjadi pengikut yang baik?

     

    *Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 20 Agustus 2018 

     

  • Buku SOUP Lezat, Usaha Hebat

    Menyajikan soup lezat untuk bisnis skala besar jelas lebih rumit dibandingkan dengan soup lezat untuk skala “kaki lima”. Kuncinya dimulai dari membuat semangkok soup lezat. Baru bisa diperbanyak dengan standar resep dan cara memasak yang sama.

    Filosofi soup lezat menyadarkan kita mengapa 4 dari 5 pebisnis pemula gagal di dua tahun pertama dan mengapa 1 dari 25 perusahaan jatuh sebelum berumur 10 tahun. Konsep ini mengingatkan kita betapa ketidakseimbangan dalam menjalankan aspek sistem, orang, uang, dan pelanggan secara berkesinambungan menjadi bumerang yang mempercepat kehancuran usaha.

    Buku ini mengenalkan konsep Balanced Pillar sebagai alternatif Balanced Scorecard dengan gaya bertutur dan diksi yang membumi. Sehingga mudah dipahami pembaca untuk menyadarkan pentingnya menata keseimbangan pengembangan sistem yang dikelola oleh orang yang tepat, ditunjang oleh penataan uang yang tepat guna dan pengembangan jaringan pelanggan yang luas guna mencapai kinerja efisien yang berkelanjutan.

    Digodok bersama oleh tim solid yang berisi CEO di perusahaan multinasional & lokal, pengusaha, konsultan manajemen dan praktisi SDM; buku ini dilengkapi dengan kuisioner untuk membantu pembaca menilai organisasi secara paripurna dari empat aspek yang tak dapat dipisahkan yaitu sistem, orang, uang, dan pelanggan (SOUP). Sarat dengan studi kasus, lessons learned, best practices, dan temuan mutakhir dari persepektif lokal dan global; buku ini layak menjadi teman sekaligus guru yang mengajak pembaca belajar mengukur keseimbangan proses guna mewujudkan kinerja organisasi secara berkelanjutan – baik untuk lembaga profit maupun non-profit. Sehingga wajib digunakan sebagai “panduan” untuk pebisnis, direktur, manajer, Self-Employee, konsultan, mahasiswa, maupun masyarakat  luas.

     

    Mengapa Harus Membaca Buku Ini? 

    1. Menawarkan konsep manajemen asli Indonesia;
    2. Belum ada satupun buku terbitan lokal yang mengupas tuntas sistem manajemen strategis
    3. Menjadi konsep alternatif untuk melengkapi Balanced Scorecard (BSC);
    4. Ditulis dengan gaya bertutur yang menghadirkan engagement dengan pembaca sehingga lebih mudah dipahami;
    5. Dilengkapi dengan temuan mutakhir, best-practices dan studi-studi kasus dari dalam dan luar negeri;
    6. Dilengkapi dengan kuisioner yang berisi 76 pertanyaan untuk mengukur keseimbangan proses yang menjadi kunci kinerja organisasi, baik profit maupun non-profit;
    7. Membantu pembaca menilai organisasi secara paripurna dari empat aspek yang tak dapat dipisahkan yaitu sistem, orang, uang, dan pelanggan (SOUP);
    8. Menyadarkan pembaca pentingnya proses yang “seimbang” dan benar untuk keuntungan berkelanjutan.

     

    Di mana Bisa Mendapatkan Buku Ini?

    1. Versi cetak bisa diperoleh di toko buku Gramedia, Togamasdan Gunung Agung
    2. Versi digital bisa dibeli di 4 apps: iPusnas, iReader, iJogja dan E-Sentral 

     

    Apa Kata Para Tokoh? 

    “Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang ingin meningkatkan kinerja perusahaan dan mengerti konsep sistem manajemen strategis! Baca buku ini, perjuangkan mimpi Anda dan berkaryalah bagi negara kita tercinta. Indonesia, Pasti Bisa!”

    ~ Merry Riana, Motivator Wanita No.1 di Indonesia & Asia, Tokoh Inspirasi Buku & Film ‘MERRY RIANA: Mimpi Sejuta Dolar’,  TV Host ‘I’m Possible’ on Metro TV, Radio Host ‘The Merry Riana  Show’ on Sonora Network, www.MerryRiana.com

    “Membaca konsep dan narasi dalam buku ini secara utuh laksana menyelesaikan kuliah strategi di program MBA dalam waktu singkat namun tetap mendalam.”

    Harryadin Mahardika, Ph.D.

    Kepala Program Magister Manajemen

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

     

    “Apabila proses bisnis tidak seimbang, maka bisnis dengan usaha sekeras apapun akan tersendat bahkan bisa gagal total. Saya angkat topi untuk penulis yang telah mampu menuliskan gagasannya dengan cemerlang!”

    Dr. Ir., Ahmad Syamil, MBA

     Dekan Binus Business School Jakarta

     

    “Kita semua harus menjaga keberhasilan perusahaan kita, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dan untuk itu semua kegiatan perusahaan harus diukur agar mendukung keberhasilan dari kedua perspective itu. Balanced Pillar akan mengajak Anda untuk membuat pengukuran keberhasilan perusahaan Anda, baik untuk pencapaian objective di masa sekarang maupun keberlangsungan perusahaan di masa depan.”

    Pambudi Sunarsihanto

    Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (Indonesia)

    “Membangun bisnis bagi siapapun tidaklah mudah. Dibutuhkan sistem yang baik, sumber daya manusia  yang bertalenta, modal, dan kecakapan dalam memenuhi apa yang diinginkan pelanggan. Buku ini akan melengkapi tentang apa yang dibutuhkan dalam mengelola dan mengembangkan usaha.”

    Dr. Asto  Sunu Subroto

     CEO Mars Data Science

    Layaknya kehidupan manusia, bisnis yang sehat harus dijalankan secara seimbang. Dari aspek sistem, pengembangan sumber daya manusia, keuangan, hingga memuaskan pelanggan. Tanpa keseimbangan, bisnis memang masih bisa bergerak. Namun pasti akan datang suatu masa yang bernama ketumbangan. Congratulation Agung for writing this brilliant idea, keep up the good work! 
    Kus Heryuwono, President Director Intipesan Group
    “Buku ini hadir sebagai alternatif sekaligus pelengkap bagi Balanced Scorecard – konsep yang jauh dari sempurna untuk konteks Indonesia. Ia wajib dibaca oleh organisasi dan eksekutif yang ingin melakukan terobosan.”  
    Wijayanto Samirin, Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Ekonomi dan Keuangan & Komisaris Independen PT Indosat Ooredoo Tbk

    “Indonesia sebagai negara yang besar dan progresif membutuhkan buah pendalaman manajemen yang baik dan segar seperti buku ini. Para praktisi dan pemikir ilmu manajemen dapat menambah perspektifnya akan ketahanan organisasi dengan SOUP yang ditawarkan oleh Agung Setiyo Wibowo.”

    ~Andrew Emmanuel Tani, CEO AndrewTani & Co.

    “Ini merupakan buku pertama paling komprehensif yang pernah saya baca mengenai pentingnya menjaga keseimbangan seluruh aspek dalam roda organisasi. Studi-studi kasus yang dipaparkan mampu menyadarkan saya betapa mengelola organisasi  yang benar itu bermuara pada dua hal: strategy & execution. Yang terpenting, buku ini membantu saya memahami pengukuran kinerja organisasi dengan lebih masuk akal dan komprehensif.”
    Bahari Antono, CEO HRD Forum
    “Salah satu cara paling efektif dalam pembelajaran ialah meniru best practices dan lessons-learned dari the crème de la crème. Buku ini mampu menyuguhkan jalinan cerita perusahaan-perusahaan terbaik di buka bumi dalam mengelola aspek sistem (S), orang (O), uang (U) dan pelanggan (P)”.
    ~Hilbram Dunar; Pembawa Acara TV & Radio, Penulis Buku My Public Speaking
    “Buku ini kaya dengan inspirasi dan sekaligus how to yang aplikatif. Oleh karena itu, disarankan untuk menjadi rujukan para leader maupun manager yang ingin mewujudkan meaning dan effectiveness sekaligus.  Enjoy your reading. “
     ~ Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, Executive & Leadership Coach

    “Seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya, Agung menyajikan hasil kajian dan pemikirannya dalam tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami. Konsep “Balanced Pillar”, yang diajukan sebagai alternatif dari pendekatan “Balanced Scorecard” yang sudah lebih banyak dikenal dan dipakai, menekankan pada pentingnya keseimbangan empat aspek utama dalam organisasi, baik yang berorientasi profit maupun non-profit, yaitu sistem, orang, uang dan pelanggan (disingkat SOUP). Apa yang disampaikan dalam buku ini sangat mengena dan sesuai dengan pengalaman saya sendiri dalam mengelola usaha swasta maupun organisasi non-profit.”

    ~ Wicaksono Sarosa, Chief Knowledge Worker Ruang-Waktu Knowledge-Hub for Sustainable [Urban] Development dan Ketua Dewan Eksekutif Kemitraan-Habitat

    “Tidak semua orang bisa membaca kinerja perusahaan secara paripurna. Buku ini menawarkan semua yang perlu dipahami untuk menjalankan bisnis dengan benar. Saya rekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh pebisnis dan manager serta pimpinan perusahaan maupun organisasi nirlaba yang ingin meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasinya dengan signifikan.”

    ~ Aries Nugroho, General Manager Ogilvy Public Relations

    “Buku ini memiliki dua hal: komprehensif dan seimbang. Komprehensif dalam penyampaian mengenai pentingnya menjaga keseimbangan seluruh aspek dalam roda organisasi. Seimbang dalam penyajiannya yang komprehensif, mulai dari sejarah, filosofi, elaborasi aspek-aspek, hingga kuesioner untuk mengukur keseimbangan proses yang menjadi kunci kerja organisasi. Pun pula, studi-studi kasus yang dipaparkan mampu menyegarkan kita kembali mengenai cara mengelola organisasi yang benar yaitu bermuara pada dua hal: strategy & execution.”

    ~ Bambang Suseno, ST, CIIB, ANZIIF (Snr. Assoc.), CIP; Ketua Umum Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI)

    “Apa yang ditawarkan dalam buku ini tidak hanya bisa diterapkan untuk kalangan korporasi, tapi juga organisasi nirlaba. Agung dengan cerdas menggoreskan gagasannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Sehingga dapat dipahami oleh siapa saja.”

    ~ Tito Hananta Kusuma, Managing Partner Tito Hananta Kusuma & Co.

     

     

    Ingin Pesan Sekarang?

    Kamu bisa mendapatkan harga khusus sebelum 31 Agustus 2018. Jadi, tunggu apa lagi. Pesan sekarang  juga melalui Krishna di +62-852-3050-4735 (Whatsapp/Telegram/Line/SMS/Call) atau grandsaint@gmail.com.

  • Menjadi Politisi Millennial Idaman

    “Tidak ada kawan maupun musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi”.

    Ungkapan ini mungkin terdengar begitu klise bagi sebagian kita. Namun, memang begitulah adanya. Ia tidak lekang dimakan zaman.

    Politik memang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan. Siapapun yang berjuang di ranah ini, seyogyanya menjadikannya sebagai “kendaraan” untuk mewujudkan cita-citanya – bukan tujuan akhir.

    Saya sebut “kendaraan” karena tujuan politik itu sendiri ialah tidaklah tunggal. Idealnya, ia dijadikan “ladang” untuk mengabdi kepada Tuhan. Dengan cara memberikan solusi, menciptakan nilai tambah, melayani sesama, dan membantu kehidupan orang banyak. Itu semua dikristalkan dalam berderet luaran dari yang berbentuk undang-undang, kebijakan, hingga program-program.

    Karena politik hanyalah kendaraan, politisi idaman tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Ia justru dimanfaatkan sebagai “jalan tol” untuk memperjuangkan cita-cita bangsa yang telah terpatri dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

    Sayangnya, dalam konteks kekinian tidak mudah mendapati politisi idaman. Mungkin bisa dianalogikan dengan mencari jarum dalam tumpukan sekam. Pasalnya, bisa dibuktikan dengan tiada hentinya KPK menjerat para pemimpin daerah yang korup. Mereka ialah potret orang-orang yang menjadikan politik sebagai tujuan akhir. Menghisap uang rakyat dengan jubah agama, dan merampok aset negara dengan segala cara.

    Sebagai generasi yang sangat melek teknologi, sudah sepantasnya millennial bisa membedakan mana politisi busuk dan mana politisi idaman. Kategori pertama dengan mudah diidentifikasi karena mereka telah “diwakili” oleh para politisi yang sekarang ada di balik jeruji. Mereka sering “memainkan” proyek untuk kepentingan pribadi dan golongan, tidak banyak prestasi selama mengemban amanah, dan pada umumnya hanya licik dalam mengambil hati rakyat.

    Millennial adalah harapan bangsa. Mereka ialah agen perubahan sesungguhnya untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 – tepat seabad pasca kemerdekaan. Suatu fase yang disebut-sebut akan menempatkan negeri ini di peringkat lima besar ekonomi dunia. Suatu periode yang hanya bisa dicapai jika bonus demografi dimanfaatkan dengan benar.

    Dalam kacamata saya sebagai People Developer, ada beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada para calon politisi millennial idaman.

    Pertamamengenali diri sendiri. Sebelum benar-benar terjun ke ranah politik, langkah ini tidak bisa dilewati. Anda harus mengerti betul kekuatan, minat, bakat, passion, dan cita-cita diri sendiri. “Selesai dengan diri sendiri” ialah kunci sebelum menjadi pelayan masyarakat paripurna.

    Keduamenemukan panggilan hidup. Politik hanyalah salah satu cara untuk bermanfaat kepada orang lain. Karena untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik bisa dilakukan dari berbagai cara. Oleh karena itu, tanyalah diri Anda sendiri. Mengapa Anda ingin terjun ke politik praktis? Apa yang benar-benar Anda gelisahkan dalam politik Indonesia? Apa yang betul-betul Anda cari dan perjuangkan sebagai politisi? Di antara berderet masalah yang mendera bangsa ini, apa sektor yang akan Anda prioritaskan untuk dibenahi?

    Ketiga, merayakan kemajemukan. Karena NKRI harga mati, hanya Pancasila yang mampu menjadi bentengnya. Oleh karena itu perbedaan adalah rahmat, bukanlah kutukan. Itu mengapa ia ada untuk dirayakan, bukan dicari-cari segala cara untuk menambah masalah.  Menyadari hal ini, inklusifitas tidak bisa ditawar lagi. Politisi millennial harus benar-benar menjadi pribadi yang terbuka, progresif, dan memandang keragaman sebagai modal untuk mengantar kejayaan negeri.

    Keempat, memahami konteks glokal. Artinya, politisi millennial tidak hanya dituntut untuk berwawasan global, namun juga wajib memahami kearifikan lokal. Suka tidak suka, mau tidak mau, globalisasi tidak bisa  dihindarkan; itu mengapa menjadi pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah dengan konteks lokal menjadi keharusan. Untuk itu, membangun jejaring internasional demi kepentingan lokal menjadi kuncinya. Karena itu, membaca hikmah tersurat dan tersirat menjadi pedoman. Karena dewasa ini dan ke depannya, sinergitas atau kolaborasi ialah “panglima” bukan semata-mata kompetisi dalam arti sempit.

    Kelimamemiliki mentor. Memang benar, terjun langsung di lapangan ialah kunci untuk sukses di bidang apapun. Namun, memiliki mentor secara beriringan akan bisa menjadikan Anda lebih bernilai. Pasalnya, seorang mentor lebih dahulu menyelami ranahnya. Itu mengapa dengannya, Anda bisa mempelajari best practices, lessons learned, dan unique insights yang mungkin tak dapat didapatkan dari buku. Yang lebih penting lagi, Anda bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya agar tak jatuh di lubang yang sama. Jadi, tentukan segera “siapa saja mentor politisi Anda?”

    Keenammerancang obituari. Menjadi politisi rata-rata memang mudah, namun menjadi politisi idaman butuh perjuangan ekstra secara lahir maupun bathin. Oleh karena itu, sebelum mematok target setinggi langit, ada baiknya Anda untuk merancang obituari. Anda bisa berimaginasi dengan perjalanan hidup Anda sendiri, masalah-masalah yang ingin Anda selesaikan, orang-orang yang ingin Anda layani, prestasi yang ingin Anda torehkan, dan bagaimana Anda ingin dikenal oleh dunia. Mungkin ini terkesan idealis, namun tidak ada salahnya dicoba. Karena kata orang; nasib kita dimulai dari pikiran, bukan?

    Di luar dari enam poin di atas, sebenarnya masih ada berderet pesan lain yang ingin saya sampaikan untuk para calon politisi millennial idaman. Namun yang pasti, apapun ambisi yang Anda miliki, saya sarankan berpijak pada tiga kata: Be, Do, dan HaveBecoming yang diwakili oleh “Why” berarti misi hidup, mengapa ingin menjadi politisi dan apa motivasi terkuat dari dalam diri. Doing yang diwakili oleh “How” berarti apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencapai misi, itu mengapa disebut dengan strategi. Oleh karenanya, ini bersifat fleksibel karena menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kata kuncinya ialah cara, jalan, dan bagaimana. Having yang diwakili oleh “What” merupakan akibat dari upaya yang Anda kerahkan. Dalam kamus manajemen, bisa diartikan sebagai prestasi baik yang terlihat maupun tidak.

    Akhir kata, hidup ialah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda. Untuk apa Anda ada. Ke mana Anda ingin pergi. Dan mengapa Anda ingin sampai di sana. Selamat berjuang sababatku politisi millennial idaman!

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Biem.co pada 23 Juli 2018 

  • Seni Transformasi Diri

     

    Baru-baru ini saya bertemu kawan lama saya. Sebut saja bernama Heri. Kami bersua di salah satu pusat perbelanjaan papan atas di bilangan Senayan.

    Perjumpaan saya dengan Heri kali ini berbeda dari yang sudah-sudah. Pasalnya jika sebelumnya kami bercakap-cakap sebagai sesama teman seperjuangan. Pertemuan di Senayan itu ia memosisikan diri sebagai coachee, sedangkan saya sebagai coach.

    Usut demi usut, Heri ingin sekali mengubah hidupnya secara holistik. Ia mengaku sudah berusaha mati-matian untuk “menyulap” nasib dalam kurun lima tahun terakhir. Namun, hasilnya lagi-lagi selalu gagal. Ia memang unggul dalam satu atau dua sisi, namun masih saja “hancur” dalam sisi lain. Hidupnya tidak seimbang.

    Intinya, Heri berada dalam keputusasaan. Ia sudah mencoba hampir semua cara yang telah disarankan oleh para coach senior. Juga telah mengikuti apa yang disampaikan oleh para pembicara di seminar atau forum pengembangan diri yang diikutinya. Tidak hanya itu, berbagai buku keluaraan Amerika telah ia lahap. Namun, hasilnya masih nihil.

    Heri tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia ingin sekali memperbaiki hidupnya. Namun, selalu berhenti bahkan mundur di situ-situ saja karena satu dan lain hal.

    Sekilas, masalah yang dihadapi Heri sejatinya sederhana saja. Tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Mulai dari mental block hingga dorongan dari dalam diri yang ternyata hangat-hangat tahi ayam.

    Setelah saya cermati lebih dalam, Heri tak kunjung berhasil mengubah hidupnya karena empat hal. Ya, empat hal yang mungkin terkesan sepele tapi sering diabaikan dalam transformasi diri.

    Pertama, mengindentifikasi nilai-nilai hidup. Heri memang memiliki semangat besar untuk berubah. Namun, upayanya tidak diiringi dengan pengenalan diri sendiri terlebih dahulu. Sebagai contoh, ia sebenarnya tahu bahwa keluarga menjadi prioritas pertama dibandingkan dengan uang dan status. Realita di lapangan menunjukkan hal bertentangan, sehingga keluarga yang seharusnya menjadi support system malah tercampakkan. Sehingga, meski ia berhasil mendapatkan fortune & fame, kebahagiaan tidak hinggap di hatinya karena merasa “kosong”.

    Kedua, menetapkan goal yang jelas dan memiliki komitmen tinggi. Setelah saya amati, Heri memang sudah cukup baik memetakan tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Sayangnya, ia masih memiliki komitmen yang rendah. Sebagai contoh, ia ingin senantiasa fit. Namun, ia malas berolahraga dan malah sering mengkonsumsi masakan cepat saji, dan  begadang atas nama produktifitas. Akibatnya, ia memang senang dalam jangka pendek. Namun ia “kebobolan” untuk kebahagiaan jangka panjang. Tak mengherankan, tak peduli berapa banyak  uang dan popularitas yang ia dapatkan, ia masih merasa sebagai “remah-remah rengginang” karena sakit-sakitan.

    Ketiga, menyadari hambatan. Bertahun-tahun, Heri hanya mengukur keberhasilan dari satu sisi saja. Sebagaimana kebanyakan orang, ia menempatkan harta-tahta-ketenaran di urutan pertama. Sayangnya, ia tidak menyadari bahwa hidup ini pilihan. Jadi, selalu berlaku hukum trade-off. Alhasil, tak peduli seberapa besar dorongan ia ingin berubah, selalu saja gagal. Karena ia tak sadar bahwa kesehatan dan keluarga tidak kalah pentingnya dengan “kesuksesan semu” yang ia kejar setengah mati. Jadi, alangkah baiknya jika mampu menyeimbangkannya secara terus-menerus.

                Keempat, mengukur dan merayakan keberhasilan. Heri memang tahu apa yang diinginkan dalam hidupnya. Suatu permulaan yang cukup baik. Sayangnya, ia kurang menghargai diri sendiri. Jadi, ia enggan mengapresiasi kemajuan (progress) yang dicapai dalam upaya mereguk cita-cita besarnya. Ia lupa bahwa menikmati proses atau perjalanan terkadang lebih penting ketimbang mencapai titik akhir – yang mana sebenarnya tidak pernah ada kondisi itu.

    Semoga yang Heri alami di atas menjadi pelajaran berharga bagi Anda. Untuk senantiasa memandang hidup secara holistik. Bukan sepotong-potong, bukan secara parsial.

    Selamat menikmati proses transformasi diri. Sebuah seni yang sejatinya dapat kita poles di sepanjang perjalanan hidup. Sebagaimana yang dituturkan Rick Warren bahwa Transformation is a process, and as life happens there are tons of ups and downs. It’s a journey of discovery – there are moments on mountaintops and moments in deep valleys of despair.”
     

    *) Pertama kali dimuat di Inti Pesan, 13 Juli 2018