Category: Blog

  • Ilusi Pencapaian

    Ego.

    Hawa nafsu.
    Keakuan.
    Tiga kata ini nampaknya mewakili karakter asli manusia. Ingin menang sendiri. Mau kaya sendiri. Suka seenaknya sendiri.
    Manusia memang rakus. Sebaik apapun pencapaiannya, kita senantiasa merasa kurang dan kurang.
    Yang penghasilan perbulannya Rp 10 juta merasa kurang. Ia pikir Rp 1 miliar perbulan dapat mendamaikan jiwanya. Ternyata tidak. Begitu penghasilan naik, gaya hidup semakin naik. Down lagi deh. Resah lagi. Merasa menjadi remah-remah lagi.
    Yang belum memiliki mobil, berjuang setengah mati untuk membelinya. Kerja lebih keras lagi. Rela mengurangi kebersamaan dengan anak dan istri. Mau hutang ke bank dan dikejar-kejar Debt Collector yang bikin ngeri. Akhirnya merasa rendah diri. Ternyata mengikuti gengsi tak menjadikannya berpuas diri.
    Yang masih jomblo merasa kesepian. Mereka mendambaikan pasangan yang mau diajak menikah. Mereka pikir menikah bisa mendatangkan kedamaian batin. Setelah menikah, justru menjadikan mereka makin tertekan.Tuntutan pasangan seakan-akan di luar batas kemampuan. Himpitan ekonomi tak terelakkan. Perbedaan prinsip menjadi sumber petaka. Eh, kok akhirnya merindukan lagi masa membujang tanpa beban yang bebas mau berbuat apa saja.
    Begitulah hidup. Kita dihantui ilusi pencapaian yang sulit dibendung. Ini diperparah dengan demam digital yang mendorong diri sendiri untuk kepo hinga membanding-bandingkan diri dengan pencapaian rekan-rekan.
    Kita seringkali lupa dengan apa yang kita miliki. Itu mengapa kita tidak happy.
    Kita senantiasa lalai dengan tujuan hidup. Sehingga, hari demi hari terasa membosankan hingga tak bermakna.
    Kita acapkali tidak tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi. Sehingga, pencapaian demi pencapaian seperti tak berarti.
    Teman, hidup ini singkat. Apa yang kau cari?
    Agung Setiyo Wibowo
    Bogor, 29 Januari 2020
  • Orbit Kehidupan

    Orbit. Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata yang satu ini?

    Peredaran?
    Lintasan?
    Tata surya?
    Putaran?
    Ya, kamu benar. Bagiku memori tentangnya senantiasa berkaitan dengan pelajaran Geografi semasa sekolah. Intinya, setiap benda di angkasa raya memiliki jalan masing-masing. Selama kiamat belum datang, benda-benda tersebut kecil kemungkinannya (atau bahkan tidak mungkin) untuk saling menabrak. Karena masing-masing memiliki jalan.
    Begitu pun dalam hidup ini, teman. Jalanku, jalanmu, jalan kita tak ada yang sama. Setiap orang memiliki garis start dan finish sendiri-sendiri. Oleh karena itu kebahagiaan akan datang jika kita setia, ikhlas, atau fokus dengan yang dimiliki. Sebaliknya, penderitaan menghampiri ketika kita membandingkan orbit sendiri dengan orang lain.
    Nah, sudahkah kamu tahu orbitmu? Tak peduli dari mana kamu berasal, yang terpenting kamu harus tahu apa yang kamu inginkan. Ya, kamu harus mantap dengan apa yang kamu cari, kejar dan perjuangkan. Karena mengetahui arah kata orang bijak sudah 50% dari keberhasilan.
    Bagaimana kalau belum tahu orbit sendiri? Sederhana saja. Tanyakanlah:
    1. Siapa dirimu?
    2. Dari mana kamu berasal?
    3. Ke mana kamu ingin pergi?
    4. Mengapa kamu ingin sampai di sana?
    5. Bekal atau sumber daya apa yang kamu miliki?
    6. Siapa yang dapat membantumu untuk mencapainya?
    7. Apa ukuranmu untuk mengukur keberhasilannya?
    Teman, jujurlah dengan diri sendiri. Kenali orbitmu. Cintai takdirmu.
    Tabik.
    Agung Setiyo Wibowo
    Lenteng Agung, 23 Januari 2020
  • Momento Mori

    “Sekali berarti, setelah itu mati.” Pernahkah kamu mendengar ungkapan ini? Jika ya, selamat deh. Jika belum, izinkan kututurkan sekilas.

    Suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap kita akan binasa. Aku, kamu dan kita semua sedang antri menghadapi maut.
    Percayakah kamu dengan kematian? Kemanakah dirimu setelah nyawa melayang? Adakah kehidupan lain pasca meninggalkan bumi?
    Kematian memang misteri. Bahkan jauh sebelum kita dilahirkan, Tuhan telah menentukan usia kita di dunia. Termasuk dengan siapa kita menikah, seberapa banyak rezeki yang kita peroleh dan bagaimana jalan hidup kita.
    Ketika kecil, aku sering diingatkan dengan pesan ini. “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya, bekerja untuk akhiratmu seakan-akan esok kau akan tiada.”
    Semakin kita bertambah umur, sesungguhnya usia kita makin berkurang. Semakin dekat pula kita dengan ajal.
    Jika hari ini adalah hari terakhirmu, apa yang ingin kamu lakukan? Seberapa baik kamu ingin menjadi sebagai hamba Tuhan, suami, istri, anak, kakak, adik, ayah, ibu, atasan, warga negara dan pribadi?
    Kematian tak terelakkan. Momento mori. Sejauh ini, apa yang kau persiapkan?
    Tabik.
    Agung Setiyo Wibowo
    Lenteng Agung, 22 Januari 2020
  • Keakuanmu, Keakuanku

    Stres?

    Resah?
    Kecewa?
    Galau?
    Hampa?
    Takut?
    Enam kata ini nampaknya menjadi penyakit manusia modern. Dengan ambisi menaklukkan dunia atas nama mengejar kesenangan semu, kita seringkali kambuh dengan yang di atas.
    Kita takut jika kehilangan pekerjaan. Kita hampa menjalani rutinitas. Kita galau dengan tujuan hidup. Kita kecewa dengan diri sendiri karena merasa belum secemerlang orang lain. Kita resah membayangkan masa depan yang sarat dengan ketidakpastian. Atau mungkin kita stres menghadapi tuntutan pasangan, anak, orang tua, bos, bawahan, dan masyarakat di sekitar.
    Tahukah kamu akar semua itu? Jawabannya sederhana saja. Tak lain adalah keakuan.
    Rumusnya begini. Semakin tinggi rasa keakuanmu, semakin besar peluangmu untuk terjerembab dalam lembah pesimisme, negativisme dan kesengsaraan. Apa pasal?
    Karena keakuan adalah ego. Ego adalah nafsu. Dan kamu tahu itu apa? Itu adalah musuh kebahagiaan.
    Kawan, tak ada gunanya keakuan ini. Karena sesungguhnya dunia ini fana.
    Kawan, keakuan adalah simbol keterlekatan kita pada dunia. Itu adalah akar kesengsaraan.
    Kawan, sesungguhnya kita dan dunia seisinya ini tiada. Yang ada adalah Tuhan.
    Kawan, apa guna keakuan? Karena sesungguhnya kita tak memiliki apa-apa. Di dunia ini kita diuji. Ya, selama nyawa ada di kandung badan kita akan dihadapkan dengan ujian.
    Kawan, dunia ini begitu singkat. Di sini kita hanya singgah sebentar.
    Kawan, sudahkah kamu menyadari keakuanmu? Jika ya, selamat! Jika belum, saatnya merenungkannya.
    Keakuan? Lenyapkan.
    Tabik.
    Agung Setiyo Wibowo,
    Pasar Minggu, 20 Januari 2020
  • Menyikapi Ketakutan

    Takut. Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ini?

    Aku tak tahu apa masalah spesifikmu. Yang kutahu, sebagai manusia biasa kita memang senantiasa “mengantisipasi” hal-hal negatif atau marabahaya yang tidak kita inginkan dalam hidup. Untuk itulah, kita bersikap takut.
    Sebagian dari diri kita takut kehilangan pekerjaan. Sebagian lainnya takut kehilangan anggota keluarga untuk selama-lamanya. Sebagian lagi takut bisnisnya bangkrut, anak-anaknya tak mendapatkan pendidikan terbaik hingga diselingkungi pasangan. Tak sedikit yang takut dengan kematian.
    Ketakutan sesungguhnya manusiawi selama kita mampu mengendalikannya. Itu menjadi sahabat ketika kita terbantu dalam memitigasi risiko. Namun, itu justru menjadi petaka ketika kita justru merasa tak berdaya dalam bertindak.
    Sekarang, jujurlah dengan diri sendiri. Apa yang membuatmu takut? Apakah karena harta, tahta, popularitas, dan segala bentuk materi duniawi yang fana? Ataukah takut dengan yang memberi rasa takut?
    Hidup terlalu singkat jika kita takut dengan alasan yang keliru. Apa yang menakutkanmu?
    Tabik.
    Agung Setiyo Wibowo
    Citayam, 20 Januari 2020
  • Kecukupan

    Kurang, kurang dan kurang. Itulah manusia. Kita senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang kita miliki saat ini.

    Kita bekerja setengah mati atas nama memperbaiki taraf hidup. Membeli segala kebutuhan dan lebih sering keinginan yang tak terbatas. Seiring semakin besarnya pendapatan, semakin besar pula nafsu kita untuk membelakan. Di situlah akar masalahnya mengapa kita tidak pernah merasa cukup meski sesungguhnya telah berkecukupan.
    Waktu pendapatan pas-pasan, makan di Warteg aduhai nikmatnya. Tatkala penghasilan di atas angin, makan di hotel bintang lima pun tidak jarang masih terasa hambar.
    Waktu pendapatan pas-pasan, punya Avanza girangnya bukan main. Tatkala penghasilan di atas angin, punya Lamborghini belum bisa memuaskan.
    Waktu pendapatan pas-pasan, liburan ke Bali terasa seperti di alam surga. Tatkala penghasilan di atas angin, plesiran ke Las Vegas belum mampu memberikan kepuasan.
    Waktu penghasilan pas-pasan, tinggal di rumah kecil sudah bisa tersenyum. Tatkala penghasilan di atas angin, tinggal di rumah seharga 50 miliar masih merasa kurang.
    Lantas, seberapa besar batas cukup kita? Akankah kepuasan tak pernah terpenuhi? Kapan kebahagiaan menghampiri jika kita masih serakah?
    Manusia memang ditakdirkan bersifat hewani. Entah kita sadari atau tidak. Untuk itulah tugas nurani untuk mengikuti jiwa yang bersih, bukan hawa nafsu yang membuat hati panas.
    Mampukah? Siapkah?
    Tabik.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 15 Januari 2020