“Hei, sudah punya momongan belum?”
Category: Blog
-
Makna Keturunan
Pertanyaan ini begitu klise untuk dibahas. Namun, begitulah kenyataannya. Bagi pasangan yang hidup di alam budaya Indonesia, mendapati pertanyaan tersebut pasti tidak mengagetkan.Mungkin maksud si penanya baik. Namun, tak banyak yang menyikapi secara berbeda. Khususnya bagi yang ingin memilili keturunan namun belum diberi “kepercayaan”.Ya, bagiku anak adalah amanah. Sebuah tanggungjawab yang kelak akan diadili. Mengapa demikian?Karena sekeras apapun kita berjuang mendapatkan anak kalau Tuhan tidak merestui, ya tidak akan ada anak. Namun, sekuat apapun kita menolak kehadirannya kalau Tuhan menguji kita ya hadir juga si kecil.Kamu sering mendengar temanmu yang “kebobolan” meskipun telah memakai “pengaman” a.k.a KB? Kamu punya tetangga yang berkali-kali mencoba bayi tabung tapi mendapati kegagalan?Begitulah hidup. Semua adalah kehendaknya.Ada yang menikah langsung “diganjar” anak. Ada yang sudah 10 tahun berusaha mati-matian “membuat anak” tapi tetap belum kelihatan hasilnya. Ada yang menikahi duda/janda beranak. Ada yang mengadopsi bayi.Anak adalah ujian. Ia bisa menjadi berkah maupun kutukan. Keberkahan datang bagi orang tua yang mendidik dengan benar sesuai ajaran agama. Kutukan akan hadir bagi orang tua yang menelentarkannya, tak mengenalkan dengan agama, atau yang menyalahgunakannya.Anakmu adalah titipan. Ia datang mengujimu. Untuk mendekatkanmu kepada-Nya.Bagaimana menurutmu?Agung Setiyo WibowoJakarta, 4 Februari 2020 -
Merasa Bisa, Bisa Merasa
Dulu aku pernah tinggal di “penjara suci”, sebutan untuk pondok pesantren. Disebut penjara karena bagi teman-teman yang bandel, asrama laksana jeruji yang sarat dengan aturan. Disebut sucu karena misi lembaga pendidikan Islamnya.
Aku menikmati empat tahun sebagai santri. Setahun pertama hanya untuk mendalami pelajaran khas pesantren. Tiga tahun berikutnya juga mempelajari “ilmu duniawi”.Bagiku, hidup di pesantren adalah dalah satu fase terindah dalam hidup. Meskipun ada begitu banyak drama yang mengiringi. Peralihan dari masa remaja ke dewasa menjadikannya makin tak terlupakan.Tak terhitung ilmu dan pengalaman yang kudapatkan di asrama. Namun yang terpenting adalah mengenai fondasi ketuhanan, bermasyarakat, dan pengembangan diri.Salah satu pesan bermakna yang masih kuingat hingga kini adalah “Janganlah merasa bisa, tapi bisalah merasa.” Maksudnya?Tak baik bagi manusia untuk mengakui bahwa kita bisa. Karena sejatinya kita lemah, Tuhanlah yang sesungguhnya bisa. Seharusnya kita bersyukur diberi kemampuan untuk menjadi, melakukan atau memiliki sesuatu.Merasa bisa berarti keakuan yang menonjol. Egolah yang menguasai. Itulah sumber kejahatan, kemungkaran, ketakutan, kecemasan, kegalauan, keraguan dan seterusnya.Jadi, seharusnya bagaimana? Kita semestinya bisa merasa. Artinya merasa bahwa kita lemah. Kita sejatinya fana. Semua yang kita miliki atau bisa lakukan hanyalah ujian dari-Nya. Segalanya adalah titipan. Tak lebih dari pinjaman.Jadi, apa guna merasa bisa? Bisalah merasa!Agung Setiyo WibowoDepok, 4 Februari 2020 -
Penerimaan Diri
Stres?
Kecewa?Sakit hati?Menyesal?Depresi?Marah?Kesal?Saya yakin kamu pernah mengalami setidaknya salah satu dari keadaan di atas. Sebagaimana halnya saya.Dalam hidup, kita tak dapat mengendalikan peristiwa yang terjadi. Kita pun tak dapat mengontrol sikap orang lain. Kabar baiknya, kita bisa sepenuhnya menentukan respons kita.Misalnya kamu tak ingin terlambat pergi ke kantor. Oleh karena itu, kamu mengantisipasi segala cara agar bisa datang tepat waktu. Namun, di tengah jalan kamu mendapati kemacetan jalan karena imbas kecelakaan beruntun. Bagaimana sikapmu? Apakah mengeluh atau menerimanya dengan lapang dada?Contoh lainnya, kamu ingin mencari jodoh. Kamu berusaha mati-matian untuk memantaskan diri. Memperbaiki penampilan, memperbaiki mental, mengikuti seminar pra-pernikahan, meningkatkan kemapanan, mendekati lawan jenis, meminta bantuan makcomblang hingga memohon untuk dijodohkan. Setelah bertahun-tahun, kamu mendapati hasil nol. Bagaimana responmu? Apakah makin down atau justru bersemangat untuk menemukan separuh jiwamu?Saya yakin, kamu punya contoh unik. Demikian halnya orang lain di luar sana.Teman, penerimaan diri adalah salah satu kunci kebahagiaan. Di titik itu kamu tidak menilai atau menghakimi apapun yang menghampirimu. Kamu tidak berekspektasi. Namun kamu menerima tanpa syarat segala pengalaman hidup yang dihadiahkan untukmu.Penerimaan diri adalah syarat kebahagiaanmu. Sudahkah kamu membuktikannya?Agung Setiyo WibowoJakarta, 5 Februari 2020 -
Ilusi Kepemilikan
“Sudah 10 tahun merantau, lo sudah punya apa aja?”
Itu adalah pertanyaan yang kulontarkan kepada diri sendiri. Di abad digital seperti sekarang agaknya sebagian besar orang memamerkan kepemilikannya yang ditampilkan di akun-akun media sosialnya. Mereka pikir, orang lain bisa takjub atau setidaknya bilang “Wow!”.Bagaimana denganmu? Apakah kamu merasa menjadi “remah-remah” ketika membandingkan kepemilikan diri sendiri dengan orang lain? Pernahkah kamu merasa down karena tak memiliki harta benda berarti?Dalam salah satu fase kehidupan, jujur saya pun pernah mengalaminya. Namun setelah melewati titik balik, kepemilikan bukan menjadi isu yang saya pedulikan lagi. Apa pasal?Semua yang kita miliki tak lebih dari titipan. Segala harta benda yang kita bangga-banggakan cuma “numpang lewat”. Apa guna diagung-agungkan? Apa manfaatnya menuhankan kepemilikan?Sejatinya dunia dan segala isinya ini fana. Sesungguhnya yang berwujud di alam ini adalah Tuhan. Jadi, jika kita masih merasa memiliki itu artinya ego atau keakuan kita yang mengendalikan diri. Dan itulah sumber kesengsaraan.Alih-alih menumpuk kepemilikan, mengapa kita tidak memperkaya pengalaman? Daripada menuhankan segala hal yang fana, mengapa kita tidak menuhankan pencipta segala hal?Ilusi kepemilikan. Sudahkah kamu menyadarinya?Agung Setiyo WibowoJakarta, 5 Februari 2020 -
Keyakinan
Yakin. Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ini? Mungkin kamu menghubungkannya dengan iman, juga kepercayaan. Atau yang lainnya?
Apapun pendapatmu, sah-sah saja. Yang pasti, keyakinan tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun, energinya jauh melampaui apa yang kita bayangkan.Ya, keyakinan adalah sumber kekuatanmu. Tanpanya, hidup bisa terombang-ambing tanpa tujuan.Keyakinan mengubah:* pesimisme menjadi optimisme;* berpikir negatif menjadi positif;* ketakutan menjadi keberanian;* keraguan menjadi kemantapan;* kebimbangan menjadi determinasi.Bisa juga sebaliknya, bukan?Yang pasti, kamu adalah apa yang kamu yakini. Nasibmu hari ini adalah akumulasi dari keyakinanmu kemarin.Jadi, apa yang membuatmu yakin?Bendakah? Manusiakah? Kejadiankah? Atau apa?Teman, satu-satunya keyakinan hakiki adalah bertuhan. Karena segalanya hanya fana.Aku sudah yakin dengan jalan hidupku. Kalau kamu?Agung Setiyo WibowoDepok, 28 Januari 2020