Category: Blog

  • Tentang Hidup

     Ada takdir, ada nasib

    Kadang menerima, kadang memberi

    Siapa tidak kenal Ali Bin Abi Thalib

    Paman Nabi yang baik hati

     

    Beli bunga di Cipanas

    Menginap semalam di Cianjur

    Janganlah adik suka memelas

    Jika ingin bernasib mujur

     

    Tekuni hobi, geluti kerja

    Jangan lupa hidup bahagia

    Hidup di dunia begitu singkatnya

    Janganlah sia-siakan begitu saja

     

    Seminggu berlibur ke Pulau Bali

    Dengan membawa anak dan istri

    Oh indahnya itu pelangi

    Mensyukuri nikmat Tuhan yang tak terperi

     

    Katakan Horas ketika di Medan

    Sampaikan Assalamu’alaikum di Banyuwangi

    Jangan sia-siakan kesempatan

    Karena konon tidak datang dua kali

     

    Mega Kuningan, 24 Oktober 2018

  • Tentang Syukur  

     

    Jalan-jalan ke Madiun

    Mampir belanja ke Caruban

    Apa maksud Anda tertegun

    Merenungkan kehahagiaan

     

    Syukur itu kunci bahagia

    Keikhlasan pondasinya

    Apa guna berfoya-foya

    Merugi sekali jiwa dan raga

     

    Sate Madura di Pasaraya

    Es Cendolnya dari Banjarnegara

    Siapa mau hidup bahagia

    Syukur itu kata kuncinya

     

    Rame-rame ke Pekanbaru

    Lanjut menyeberang ke Singapura

    Ayolah wujudkan hidup yang baru

    Bermanfaat banyak untuk sesama

     

    Berwisata ke Kota Kupang

    Mampir sepekan ke Pulau Sumba

    Hati siapa tidaklah girang

    Hidup bahagia bersama keluarga

     

    Mega Kuningan, 23 Oktober 2018

  • Tentang Kesehatan  

     

    Beli tomat di Pasar Kramat

    Tidak lupa ditemani sahabat

    Saya dan Anda berbadan sehat

    Jika memiliki kebulatan tekad dan keinginan kuat

     

    Apa guna uang segunung

    Jika sembahyang terlupakan

    Apa manfaat tuan merenung

    Jika Tuhan diabaikan

     

    Beli rambutan di pasar rakyat

    Ditemani anak kesayangan

    Apabila Anda ingin hidup yang nikmat

    Utamakan kesehatan

     

    Berburu apel di Kota Batu

    Mampir belanja ke Kota Malang

    Seimbangkan karir dan ibadahmu

    Demi kebahagiaan sekarang dan yang akan datang

     

    Laris-manis dagangan nyonya

    Berkat doa yatim-piatu

    Aduh bahagianya kita semua

    Jika membantu orang lain untuk maju

     

    Mega Kuningan, 22 Oktober 2018

  • Tentang Kesejahteraan

    Jalan-jalan ke Magetan

    Mampir sebentar ke Sarangan

    Jika Anda mendambakan kesehatan

    Cukupkan makanan dan minuman

     

    Paramadina ada di mana

    Adanya di Jakarta

    Jika tuan mau bahagia

    Bersyukur adalah kuncinya

     

    Transit sebentar ke Surabaya

    Lalu bertolak ke Banyuwangi

    Ayo kawan-kawanku semua

    Siapkan bekal sebelum mati

     

    Plesiran seminggu ke Singapura

    Tidak lupa membeli kaos

    Kalau nyonya ingin sejahtera

    Janganlah pelihara gaya hidup yang boros

     

    Membeli Batik di Surakarta

    Dilanjutkan ke Tawamangmangu

    Apakah Anda ingin kaya

    Rajinlah membantu sesamamu

     

    Kawasan Antar Bangsa Mega Kuningan, 19 Oktober 2018

  • Yang Ada, Yang Tiada

                     Pernahkah Anda kecewa?

    Pernahkah Anda menyesal?

    Pernahkah Anda cemas?

    Pernahkah Anda takut?

    Pernahkah Anda bosan?

    Jika Anda menjawab dua atau lebih dari lima pertanyaan di atas, Anda berarti seperti kebanyakan orang di dunia ini. Orang-orang yang masih disetir dari apa yang terjadi di luar dirinya.

    Faktanya, kebahagiaan hanya ditentukan oleh diri sendiri. Bukan dari benda, orang, atau kejadian.

    Jadi, dalam situasi dan kondisi apapun Anda bisa memilih. Lagi pula, tidak ada yang abadi di alam ini.

    Mungkin sekarang Anda kaya, sebentar lagi Anda jatuh miskin. Barangkali Anda sekarang berada di puncak kekuasaan, bukan tidak mungkin tiba-tiba terkurung dalam penjara. Bisa jadi Anda saat ini dirundung duka yang seolah tiada habisnya, siapa tahu secara mengejutkan Anda berubah pikiran besok?

    Apa yang Anda miliki sebenarnya ialah titipin. Ia merupakan amanah. Yang kelak dipertanggungjawabkan di akhirat – jika Anda percaya.

    Apa yang berwujud di dunia ini sebetulnya sebaliknya. Apa yang ada, sejatinya tidak ada. Mengapa demikian?

    Karena alam semesta raya beserta isinya ialah buah karya Sang Pencipta. Hanya bersifat semu. Pun sementara.

    Jika sudah demikian, apa yang Anda bangga-banggakan? Apa yang bisa Anda sombongkan? Jika toh di kemudian hari Anda tidak membawanya dalam alam kubur?

    Yang ada, yang tiada. Semua yang merasa Anda miliki saat ini cuma bersifat sementara. Tidak ada yang benar-benar dalam rengkuhan Anda. Karena diri Anda sendiripun sesungguhnya tidak ada.

    Jadi, apa guna kecewa, menyesal, cemas, takut atau bosan? Mengapa tidak sepenuhnya ‘sadar’ dengan apa yang Anda hadapi sekarang? Kenapa tidak terhubung dengan Tuhan dalam setiap hempusan nafas?

    Yang ada, yang tiada. Sudahkah Anda mampu ‘meniadakan’ keakuan Anda?

    Kawasan Antar Bangsa Mega Kuningan, 18 Oktober 2018

  • Tentang Kiasu

                     Belum lama ini saya bersua dengan Rima (bukan nama sebenarnya). Ia merupakan “junior” saya di SMA yang belakangan telah sukses berkarir di negeri jiran, Singapura.

    Kecemerlangan Rima tidak datang tiba-tiba. Sejak SMA, anak ini sudah terlihat sangat ambisius. Ia kerap kali menjuarai perlombaan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Mulai dari olimpiade, debat, cerdas cermat dan seterusnya.

    Hari-hari Rima tidak dapat “dilepaskan” dari internet. Itu mengapa kemanapun ia membawa ponsel, ipad, dan laptop yang tersambung dengan koneksi  internet berkecepatan tinggi.

    Ya, Rima merupakan konsultan pemasaran digital di kantor regional Asia-Pasifik sebuah agensi asal Amerika Serikat. Posisinya sudah setingkat di bawah direktur.

    Rima bekerja di kantor dengan budaya multibudaya. Temannya datang dari berbagai ras. Bahasa ibu, agama, etnis, agama, dan ideologinya pun tentu berbeda-beda.

    Rima merupakan satu-satunya anak Indonesia yang berkarir di kantor tersebut. Ia merasa bangga karena bisa “bersaing” dengan rekan-rekannya dari negara lain. Terlebih lagi ia merupakan satu dari tiga karyawan yang berasal dari Asia Tenggara – dua lainnya berasal dari Singapura dan Filipina.

    Ketika saya tanya, apakah yang Rima paling banyak pelajari dari Singapura? Rima dengan lantang menjawabnya Kiasu. Kira-kira bisa diartikan sebagai sebuah etos kerja yang “terlalu kompetitif”. Diksi ini berasal dari dialek Hokkien yang mengekspresikan mental “takut kalah”. Merujuk pada semangat warga Singapura atau pendatang di Singapura yang cenderung berpikir “egois” dan senantiasa mau menjadi yang terdepan atau unggul dibandingkan dengan yang lainnya.

    Kiasu sejatinya bisa berkonotasi positif maupun negatif. Bisa dikatakan positif karena dengan mental tersebut kinerja siapa saja menjadi terdongkrak. Karena semua orang berpacu untuk menjadi yang terbaik atau sebagai pemenang. Sisi negatifnya mungkin bisa menimbulkan stres, iri, atau cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

    Kiasu memang telah menjadi rahasia umum akan kerasnya kehidupan di Singapura. Sebuah negara yang setiap tahunnya menarik diaspora dari berbagai belahan dunia.

    Bagaimana dengan diri Anda? Seberapa lekat dengan Kiasu?

     

    Kawasan Antar Bangsa Mega Kuningan, 17 Oktober 2018