Hai teman.
Author: Agung Wibowo
-
Haruskah Mengikuti Aliran?
Pernahkah kamu merasa stres, marah, kecewa, menyesal, takut, cemas, sedih, atau kesal?Jika ya, apa penyebabnya?Jika aku boleh memprediksi, pasti erat kaitannya dengan ekspektasi dan sikap.Dalam hidup, ada banyak hal yang tak bisa kita kontrol. Misalnya, kejadian atau perilaku orang lain terhadap kita. Namun, sesugguhnya kita bisa mengendalikan sikap.Jadi, jika ada temanmu yang bilang “Jalani aja bak air mengalir”, aku sih setuju sekali. Karena semakin kita “melawan”, semakin tidak bahagia diri kita.Mengalir maksudnya menerima dengan ikhlas. Kita menjalani dengan totalitas. Tanpa maksud menghakimi yang berlebihan.Lantas, seberapa “mengalir” hidupmu? Seberapa bahagia dirimu?Agung Setiyo WibowoDepok, 8 Desember 2020 -
Anak Fellow
Anak Fellow menuturkan perjalanan nyata penulis memperjuangkan pendidikan. Terinspirasi dari ribuan teman yang terhubung dengan platform Kampusgw.com, apa yang ditulis di sini menguraikan secara rinci bagaimana jatuh-bangunnya menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi dengan jalur beasiswa.
Sebagai orang yang pernah berkali-kali gagal memperjuangkan beasiswa, penulis bertekad berniat berbagi strategi. Sebagai orang yang sempat “down” lantaran keterbatasan finansial untuk melanjutkan pendidikan, buku ini lahir untuk berbagi tips, trik, dan hikmah. Sebagai orang yang pernah bekerja sambil kuliah, buku ini ada untuk mengajak pembaca merenungkan makna hidup.Memoar ini hadir sama sekali bukan untuk menggurui atau menyombongkan diri. Sebaliknya, pesan-pesan yang tersurat maupun tersirat sengaja dirancang sedemikian rupa oleh penulis untuk menginspirasi, memotivasi, dan mengeluarkan potensi terbaik dari dalam diri pembaca sekalian.
Apa yang Dibahas Dalam Buku Ini?
•Mengingatkan kembali pentingnya pendidikan bagi masa depan generasi muda
•Mengajak pelajar dan mahasiswa memetakan terlebih dahulu kekuatan, minat, bakat, dan potensi diri sebelum memilih jurusan (program studi) tertentu
•Menuturkan hikmah yang tersirat maupun tersurat dari ke-belum-beruntungan dan keberuntungan penulis dalam mendapatkan beasiswa
•Menguraikan strategi, teknik, dan peta jalan dalam memenangkan beasiswa S1 maupun S2
•Menyadarkan urgensi Self-Discovery setelah menamatkan SMA maupun S1
•Mengedukasi betapa strategisnya Self-Mastery sebelum menentukan jurusan kuliah, perguruan tinggi, dan pekerjaan
•Menyodorkan hikmah yang dialami penulis dalam Life After College
•Membagi rahasia melewati Fresh Graduate Syndrome dan Krisis Seperempat Baya
•Memaknai keberhasilan dan kebahagiaan dari beragam sudut pandang
Testimoni
“Setiap orang menghadapi tantangan dan cara tanggap yang unik, oleh karena itu perjalanan hidup setiap individupun menjadi unik. Saya mengenal Agung Setiyo Wibowo sejak tahun 2008 ketika dia harus menjawab tantangan hidupnya untuk memperjuangkan akses memperoleh pendidikan tinggi di tengah biaya pendidikan yang mahal. Sebagai tim panel Paramadina Fellowship saat itu, saya mengagumi kegigihannya dalam cara dia memperjuangkan asa: mengerahkan segala kompetensi dan menyandarkan keyakinan kepada yang Kuasa. Memoar ini menyadarkan pembaca untuk selalu melihat kehidupan dari dua sisi secara berimbang, sekaligus memberikan pesan untuk tidak cepat menyerah dalam memperjuangkan rajutan asa. Untuk kalian yang muda-muda : Rugi bingits kalau gak baca buku ini.”
Dr. Dra. Prima Naomi, M.T.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan Sumber Daya Universitas Paramadina“Tidak perlu membaca buku ini jika hanya ingin mengetahui ‘How To Get Scholarship’. Karena Anda bisa menemukan jutaan artikel ataupun blog yang mengupas tuntas tips dan trik mendapatkan beasiswa. Memoar ini lebih dari itu. Karena mengajak pembaca menemukenali diri sendiri dan merenungkan esensi kehidupan yang dibalut dalam petualangan menimba ilmu.”
Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten
Alumni Queen’s University of Belfast, Inggris Penerima Beasiswa LPDP, Kementerian Keuangan RI
“Touchy, mengalir, dan mengharukan.” Tiga kata ini mungkin paling tepat mewakili bagaimana Mas Agung menguraikan sepenggal kisah hidupnya. Sarat dengan pelajaran hidup, pesan moral, dan cerita menggelitik khas Millennial.”
Digital Expert
“Setiap orang memiliki jalan unik dalam mengarungi perjalanan hidupnya, termasuk dalam memperjuangkan pendidikan, karier dan masa depannya di tengah keterbatasan yang ada. Memoar ini menyadarkan pembaca untuk tetap optimis dalam memperjuangkan dan merealiasikan mimpi dan cita-cita.”
Founder & Managing Director Gerakan Tunas Bangsa
People Development Manager Tanihub
“Selalu ada jalan bagi siapa saja yang mengupayakannya. Sepertinya ungkapan ini paling cocok menggambarkan perjalanan penulis yang penuh tantangan dan cobaan dalam memenuhi cita-cita akademiknya. Kalau Agung bisa maka para pembaca pun juga pasti bisa.”
Founder iBeasiswa
Bagaimana Cara Mendapatkannya?
Anda dapat membeli atau menikmati Anak Fellow melalui dua kanal:
- Google Books: Buka https://books.google.co.id/, lalu ketik Anak Fellow.
- Google Play Book: Buka apps Play Book, lalu ketik Anak Fellow.
-
Hidup dalam Antrian
“Ih sebel deh. Lama bener antrinya. Buang-buang waktu saja.”
Hemmm, pernahkah kamu menjadi jengkel karena mengantri? Apakah batas kesabaranmu pernah habis ketika menunggu giliran?Saya yakin kita semua pernah menghadapi antrian panjang. Namun, saya percaya bahwa setiap orang memiliki beragam sikap melewatinya.Sesungguhnya, hidup adalah tentang mengantri. Di setiap masa, kita menunggu sesuatu demi mendapatkan giliran, jatah atau apapun itu namanya.Terkadang antrian sesuai keinginan. Tidak jarang malah sebaliknya.Jika antrian urusan dunia kita mungkin masih bisa merekayasa, tidak demikian dengan antrian meninggalkan dunia. Giliran kita sudah tertulis dengan jelas. Kita tidak kuasa mengubahnya.Ya, kita memang tak bisa menunda maupun mempercepat kematian. Bahkan, sedetik pun. Bahkan trilyunan uang tak bisa kita manfaatkan untuk mengintervensi ajal.Jadi, sudahkah kamu bersabar dengan antrian-antrianmu? Sadarkah kamu bahwa kini kamu sedang mengantri untuk dipanggil oleh-Nya? Apa saja yang telah, sedang dan akan kamu siapkan selama mengantri?Demi masa. Demi antrian. Demi Tuhan.Agung Setiyo WibowoDepok, 26 Agustus 2020 -
Batas Buatan Sendiri
“Sabar ada batasnya!”
“Mimpi itu tanpa batas!”Pernahkah kamu mendengar dua pernyataan di atas? Atau setidaknya yang mirip maknanya?Katakanlah ya. Apa reaksimu? Apapun jtu, batas sesungguhnya tak ada. Yang menciptakan batasan adalah kita sendiri.Batas sejalan dengan keyakinan diri kita. Ini berkaitan dengan pengalaman masa lalu, nilai-nilai, kebiasaan, cara pandang dan bagaimana kita menilai diri sendiri.Jadi, apa yang membatasi langkahmu untuk mewujudkan mimpi? Benarkah batasan yang kamu anggap menghalangimu itu ada?Hidup sejatinya penuh dengan segala kemungkinan. Tanpa batas. Kamu sendirilah batasnya.Agung Setiyo WibowoDepok, 31 Agustus 2020 -
Kamu Tiada Duanya
Unik.
Berbeda.Tidak sama.Itulah tiga kata yang bisa kusematkan ketika menilai seseorang. Ya, masing-masing diri kita memiliki historis tersendiri.Tak ada satu orang pun yang memiliki cerita berbeda denganmu. Karena kamu spesial. Tiada duanya.Bahkan dua orang yang katanya kembar pun memiliki seabrek perbedaan. Setuju?Jadi, mau apa lagi?Jangan pernah membandingkan dirimu dengan siapapun. Karena jalan hidupmu dengan mereka tidak sama.Jangan pernah minder melihat orang yang kamu anggap lebih oke. Jangan pernah sombong melihat orang yang kamu anggap lebih nelangsa.Hidup begitu singkat, kawan. Cintai takdirmu.Agung Setiyo WibowoDepok, 21 September 2020