Author: Agung Wibowo

  • Kekuatan Ikhlas

    Guys, kamu tahu ikhlas kan? Aku yakin kamu tahu.

    Ikhlas tuh padanan katanya tulus. Nggak jauh beda dengan ridha.
    Terdengar begitu sepele sih. Tapi, makna dan efeknya wow.
    Menurutku, ikhlas adakah kunci kebahagiaan sih. Karena dari titik ini kita menerima apapun yang terjadi pada diri kita.
    Orang yang ikhlas tuh nggak ada mengeluh dalam kamus hidupnya. Segala kejadian diterima dengan lapang dada. Karena ia tahu bahwa hidup ini perlu dijalani.
    Kenapa coba? Karena kebanyakan dari kita (kadang-kadang aku pun masih) seringkali menghakimi segala sesuatu secara tidak proporsional. Kita senantiasa merasa kecewa, menyesal, terpuruk, down, galau, sedih, takut, marah atau khawatir jika ada hal yang tak sesuai dengan keinginan kita. Sebaliknya, kita tidak jarang senang berlebihan jika ada hal-hal positif yang “berpihak” kepada kita.
    Ikhlas menjadikan diri kita lebih kuat dalam menjalani hidup. Juga kunci mereguk kebahagiaan. Sayangnya, kita seringkali melupakannya. Sehingga, hidup ini terasa begitu berat dan penuh masalah.
    Bagaimana menurutmu?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 5 November 2020
  • Tak Ada yang Kebetulan

    “Tak ada yang kebetulan”. Kalimat ini sering kudengar.

    Pernah kamu mendengarnya? Jika ya, apa tanggapanmu?
    Menurutku, memang ya kok. Ambil saja perjalanan hidupmu. Betapa banyak hal yang seperti tak masuk akal terjadi – sambung menyambung keterkaitannya. Mulai dari urusan jodoh, pekerjaan, bisnjs, keluarga, hingga keberuntungan.
    Benar jika kamu mengatakan kitalah yang berupaya. Tak salah jika kamu mengklaim semua pencapaianmu adalah hasil kerja keras. Aku hanya ingin menekankan bahwa takdir itu memang ada.
    Disinilah misterinya. Kita tidak tahu mana yang masih kita upayakan dan mana yang tidak. Tuhan hanya meminta kita untuk ikhtiar dan tawakkal. Karena segala sesuatu telah dituliskan-Nya. Dengan demikian, hasil di luar kendali kita.
    Terdengar klise? Memang. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Cintai takdirmu.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 11 November 2020
  • Keakuan

    Aku, keakuan.

    Menurutmu, apa itu keakuan?
    Apapun definisimu, aku menghargai itu. Karena masing-masing individu toh memang memilikinya – entah disadari atau tidak.
    Seringkali, keakuan adalah sumber penderitaanmu. Loh, kok bisa?
    Ketika kamu terlalu ngotot memperjuangkan sesuatu, keakuanmu bisa mengantarkanmu pada jurang kekecewaan. Ketika kamu mati-matian membuktikan cinta tapi hanya bertepuk sebelah tangan, keakuanmu menjadikanmu sakit hati. Ketika kamu terlalu merasa “memiliki” apapun, keakuanmu menjadi sumber kemarahan, iri dengki, ketakutan, kekhawatiran, kekesalahan dan berbagai sifat hewani lainnya.
    Jadi, seberapa besar keakuanmu? Sudahkah kamu menyadari dan mampu mengelolanya?
    Apakah sekarang kamu merasa hidupmu tidak bahagia atau tidak seperti yang kamu inginkan? Coba nilai kadar keakuanmu.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 20 November 2020
  • Cuek is The Best

    Gue punya dua kakak perempuan. Usia keduanya terpaut jauh dari gue.

    Ada satu hal yang gue ingat dari mereka. Salah satunya mantra “Cuek is the best” yang dulu dipajang di pintu masuk kamar.
    Awalnya gue acuh. Namun selang dua dekade berikutnya, gue jadi tersadarkan diri. Bahwa cuek itu penting.
    Gue bukan bermaksud untuk bersikap tidak peduli kepada sekitar. Bukan juga untuk bersikap tidak empati, tidak bertenggangrasa atau antisosial.
    Gue hanya ingin menekankan bahwa cuek itu penting. Terlebih lagi di era digital yang serba terhubung ini. Kita terlalu banyak dijejali dengan informasi, dogma, atau pengaruh dalam lintas wujud.
    Menurut gue, hanya orang-orang cuek yang bisa terus berada di titik bahagia. Karena cuek mendorong kita untuk menjadi diri sendiri. Tidak terpancing dengan kondisi di luar diri kita. Karena kita tahu, kendali hidup ada pada diri kita.
    Bagaimana menurutmu? Seberapa cuek lho?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 26 November 2020
  • Persepsimu, Sikapmu

    Persepsi? Ehmm, apa yang ada di benakmu tentangnya?

    Apapun itu, sesungguhnya segala sesuatu bersifat netral. Baik kejadian, benda, atau seseorang. Kitalah yang mempersepsikan, menghakimi atau menilainya. Dari situlah sikap, pikiran, dan tindakan kita berakal.
    Jika ada krisis misalnya. Orang yang memandang sisi positif akan menjadikannya sebagai peluang. Sebaliknya, sisi negatif menganggapnya tak lebih dari petaka.
    Persepsi kita dipengaruhi oleh beragam faktor. Dari pola asuh orang tua, nilai-nilai, pendidikan, pergaulan, hingga lingkungan.
    Jika kita amati, kebanyakan konflik, perselisihan atau permusuhan dimulai dari ketidaksamaan persepsi. Itulah pentingnya mengenal satu sama lain lebih dalam untuk merekatkan tali komunikasi. Tidak hanya yang tersurat, namun juga yang tersirat. Baik yang terekam secara sadar maupun yang hanya bisa dinilai dari alam bawah sadar.
    Nah, bagaimana denganmu? Apakah kamu memiliki pengalaman menarik mengenai persepsi?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 27 November 2020
  • Memaknai Kritikan

    “Tak ada manusia yang sempurna.” Ungkapan ini begitu klise, bukan?

    Ya, kesempurnaan memang hanya milik Tuhan. Sehebat apapun ciptaan-Nya tentu ada kekurangan, kelemahan, kecacatan dan keburukan.
    Untuk tumbuh, kita perlu kritikan dari orang lain. Karena kita tidak sepenuhnya menyadari “titik buta” kita.
    Untuk mengembangkan diri, kritikan seyogyanya menjadi keharusan. Karena dari situ kita tahu sisi mana yang perlu diperbaiki, ditingkatkan lagi.
    Bagi sebagian orang, menerima kritikan sungguh sulit. Menyakitkan, membuat diri “down”, hingga timbul penolakan berlebihan.
    Nah, bagaimana denganmu? Bagaimana kamu memandang kritikan?
    Kritikan mereka, modal tumbuhmu.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 4 Desember 2020