Author: Agung Wibowo

  • Merangkul Ketidaksempurnaan

    “Kesempurnaan hanyalah milik Allah!”

    Ungkapan ini mungkin terdengar sangat klise. Namun toh relevansinya abadi.
    Manusia memang tak luput dari apa yang namanya cacat, kurang, dan lemah. Sekeren apapun kita menampilkan diri pada publik, kita memiliki ketidaksempurnaan dari banyak sisi.
    Jadi, relevansinya apa Mas? Terimalah ketidaksempurnaanmu. Karena semakin kamu mengharapkannya, kebahagiaan semakin menjauh.
    Ketidaksempurnaan menyadarkan kita bahwa kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Hanya Tuhanlah yang sempurna, tempat kita memohon dan bersandar.
    Sudahkah kamu menyadari ketidaksempurnaanmu?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 6 Januari 2020
  • Rahasia Kebahagiaan

    Bahagia? Ehmmm, apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ini?

    Apapun itu, aku yakin kamu ingin bahagia. Meskipun definisi dan parametermu berbeda denganku dan orang lain.
    Nah, salah satu rahasia kebahagiaan menurutku adalah bersyukur. Mengapa?
    Karena bersyukur mencermin kita menerima dan mengapresiasi apa yang ada dalam diri kita saat ini. Tak menyesali masa lalu, tak merisaukan masa depan.
    Bersyukur membuat hati adem. Karena kita berdamai dengan diri sendiri.
    Sudahkah kamu bersyukur hari ini?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 13 Januari 2021
  • Benarkah Perbedaan Itu Indah?

    Unik.

    Spesial.
    Berbeda.
    Tidak sama.
    Ya, itulah diri kita.
    Kita memiliki keyakinan, kepribadian, karakter, minat, bakat, kebiasaan dan ideologi masing-masing.
    Tidak ada yang lebih buruk atau lebih baik. Yang ada adalah pilihan. Keputusan untuk menjalani kehidupan yang benar-benar kita inginkan.
    Namun, kita tak boleh egois. Kita hanyalah sebutir debu di tengah miliaran yang lainnya. Kita adalah bagian dari masyarakat.
    Kita tak bisa hidup sendirian. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan menghargai perbedaan-perbedaan dari orang lain.
    Kita perlu berempati. Welas asih. Cinta. Jika tak terwujud, hanya tersisa konflik, permusuhan, dan penderitaan.
    Kita mesti ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian, kita perlu memiliki jiwa melayani. Tidak mementingkan diri sendiri.
    Jadi, benarkah perbedaan itu indah? Sederhana saja. Pelangi indah karena penuh warna. Begitupun umat manusia.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 15 Januari 2021
  • Jangan Kebanyakan Mikir!

    Kawan, pernahkah kamu mendengar istilah “Jangan kebanyakan mikir!”? Jika ya, apa pendapatmu?

    Apapun itu, aku tak berhak menghakimi. Namun,  aku hanya ingin menekankan bahwa apapun yang berlebihan tidak baik.
    Ya, berpikir memang wajib diperlukan untuk membantu pengambilan keputusan terbaik. Namun, apa jadinya kalau kita ” tenggelam” dalam prosesnya hingga melupakan bertindak untuk mewujudkan gol?
    Kawan, bertindak sama pentingnya dengan berpikir. Jadi, selalu rencanakan aktivitasmu. Evaluasilah jika diperlukan. Tinggalkan apa yang membuatmu terhambat. Lakukan perbaikan secara berkesinambungan. Karena hidup terlalu singkat untuk disia-siakan.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 14 Desember 2020
  • Waktumu, Nasibmu

    Demi waktu

    Sang saksi perjalanan kita
    Mengarungi liku-liku dunia
    Demi waktu
    Ada yang sadar keterbatasannya
    Sehingga menjadikan semangat terus membara
    Untuk mewujudkan diri yang bahagia
    Demi waktu
    Kebanyakan kita lengah karenanya
    Menukarkan kesenangan sesaat
    Mendapatkan penyesalan selamanya
    Juga penderitaan tiada tara
    Demi waktu
    Yang bisa menjadi musuh terburukmu
    Juga menjadi sahabat terbaikmu
    Semua adalah pilihanmu
    Demi waktu
    Apa tujuan hidupmu?
    Apa yang memotivasimu untuk terus maju?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 15 Desember 2020
  • Belajar dari Bayi

    Pertumbuhan. Itu menurutku merupakan satu kata yang bisa menggambarkan jika saya ditanya mengenai bayi.

    Coba kita perhatikan. Sejak keluar rahim, bayi terus bertumbuh. Meskipun setiap bayi memiliki “kecepatan” pertumbuhan yang beragam.
    Pengalaman pertama kali bisa berjalan misalnya. Bayi perempuan cenderung lebih cepat daripada bayi laki-laki. Sementara itu, baik bayi laki-laki maupun perempuan memiliki kecerdasan tertentu yang lebih dulu berkembang. Ada yang kecerdasan motoriknya lebih dulu terlihat dibandingkan kecerdasan verbal, ada yang kecerdasan emosionalnya lebih tertata daripada kecerdasan audotorinya, dan seterusnya.
    Dari bayi aku belajar banyak hal. Salah satunya tentang proses. Mereka tak pernah mengeluh. Karena mengganggap belajar adalah proses bermain yang menyenangkan. Sungguh berbeda dengan orang dewasa yang sudah banyak memiliki “mental block”.
    Itulah pendapatku. Kalau kamu bagaimana?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok,17 Desember 2020