Author: Agung Wibowo

  • Tips Menemukan Ghost Writer yang Cocok

    Menemukan Ghost Writer yang cocok memang gampang-gampang susah. Setuju kah teman-teman?

    Ya, seperti menemukan pekerjaan yang cocok atau jodoh yang cocok lah ya. Serupa tapi tak sama.

    Saya jadi teringat dengan salah satu klien yang notabene merupakan seorang petinggi BUMN Perbankan. Sebelumnya, ia pernah mencoba 2 Ghost Writer berbeda untuk menuliskan pemikirannya menjadi sebuah buku. Namun menurut beliau, kualitas buku yang dihasilkan tak sesuai dengan harapan. Sehingga, aku orang ketiga yang dipercaya untuk mewujudkannya. Dan ternyata aku berjodoh. Buku beliau berhasil menembus penerbit beken sekelas Elex Media Komputindo tanpa biaya sepeser pun.

    Selidik demi selidik, petinggi BUMN tersebut mengaku bahwa dua Ghost Writer kurang mampu menyesuaikan gaya bahasanya dengan bahasa bidang industri atau profesi tersebut. Dengan kata lain, tidak ada kecocokan antara Ghost Writer  dengan klien.

    Nah, bagaimana cara Menemukan Ghost Writer yang cocok dong? Kan itu ibarat mencari jarum dalam tumpukan sekam bukan?

    Pertama, dan mungkin ini yang termudah, baca salah satu buku karya Ghost Writer tersebut. Apakah gaya bahasa yang digunakan kamu sukai? Bagaimana gaya storytelling-nya?

    Kedua, amati latar belakangnya. Apa profesi Ghost Writer sebelumnya? Apakah ia jurnalis? Ataukah ia profesional yang pernah menekuni bidang tertentu?

    Jika ia seorang jurnalis atau copywriter, pastikan kamu yakin betul mereka adalah penulis yang handal. Karena pengetahuan cepat diperoleh, tapi “penjiwaan” pada topik tertentu belum tentu bukan?

    Sebisa mungkin, kamu mendapatkan Ghost Writer yang memiliki pengalaman langsung di bidang yang ingin kamu tulis. Jika memungkinkan loh ya.

    Ketiga, ajak ngobrol lebih jauh. Jika kamu berada di kota yang berbeda, ajak Ghost Writer yang kamu bidik untuk bertemu secara virtual via Zoom, Teams atau platform sejenis. Jika kamu tinggal di area yang sama, sebisa mungkin kamu bertemu tatap muka. Tanyakan secara detil mengenai pengalaman, mekanisme kerja, biaya, dan seterusnya.

    Nah, itulah 3 tips menemukan Ghost Writer yang cocok versi saya. Apakah kamu tertarik menulis buku dan menerbitkan buku guys?

     

  • Berapa Biaya Menulis 1 Buku ala Ghost Writer?

    Pengen nulis buku tapi nggak punya waktu?

    Atau udah berusaha nulis tapi berhenti di tengah jalan?

    Jika iya, mungkin saatnya kamu mempertimbangkan untuk memakai jasa Ghost Writer. Mereka akan membantu menerjemahkan uneg-unegmu, pemikiranmu, atau gagasanmu menjadi buku yang lacak baca.

    Namun, mencari Ghost Writer yang cocok memang gampang-gampang susah. Jika tidak percaya, browsing saja dengan kata kunci tersebut. Kamu akan menemukan seabrek pilihan. Bingung kan? Hehe.

    Mungkin banyak teman-teman yang kepo, “Berapa sih tarif Ghost Writer untuk menulis satu buku?”

    Jawabannya, tentu variatif ya. Dari yang “recehan” sampai harga premium, teman-teman dengan mudah menemukannya di jagad maya.

    Sebagai gambaran, seorang Ghost Writer pemula mematok Rp 5 juta – Rp 10 juta perbuku. Ghost Writer dengan pengalaman tingkat madya, mematok Rp 15 juta – Rp 30 juta. Sementara itu Ghost Writer  berkaliber tinggi bisa mematok > Rp 75 juta perbuku.

    Itu perbuku loh ya. Ada juga yang perhalaman. Semakin terkenal atau berpengalama seorang Ghost Writer , maka semakin mahal pula biaya yang dikeluarkan.

    Nah, pertanyaan saya adalah, “Apakah kamu tertarik menjadi seorang Ghost Writer  profesional?”

    Atau malah pengen mencari seorang Ghost Writer  untuk menulis dan menerbitkan bukumu?

    Kamu bisa hubungi aku untuk info lebih lanjut ya.

     

  • Prinsipmu, Prinsipku, Prinsip Kita

    Prinsip?

    Satu kata ini aku yakin setiap orang memilikinya. Karena bukankah dalam hidup kita disuguhkan berderet pilihan?
    Nah prinsip itu memengaruhi cara kita bersikap, bertutur kata dan bertindak. Ketika kita dihadapkan masalah, prinsip ini membantu kita mengambil keputusan terbaik.
    Manusia hidup bersosial. Tentunya, setiap individu memiliki prinsip beragam. Jangan sampai kita memaksakan prinsip kita untuk diterima orang lain jika ternyata merugikan.
    Punya prinsip boleh, bahkan diharuskan. Namun, kita perlu ingat aturan agama dan sosial. Karena kita tidak hidup sendiri.
    So, apakah prinsip-prinsip yang kau pegang selama ini? Sudahlah kau berpegang teguh padanya?
    Agung Setiyo Wibowo
    Jakarta, 5 September 2022
  • Menerima Apa Adanya

    “Urip iku nerimo ing pandum”. Begitulah salah satu wejangan masyarakat Jawa yang masih diamini hingga kini.

    Menerima bukan berarti pasrah atau pasif. Tapi ikhlas dan mensyukuri setelah mengupayan sebaik mungkin.
    Mengapa itu penting? Karena kebanyakan orang tidak bahagia karena tidak menerima realita yang dianggap tak sesuai ekspektasi.
    Bagaimana denganmu hari ini? Jangan lupa bahagia.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 23 September 2022
  • It’ Time for Slow Living

    Dunia bergerak begitu cepat. Semua orang terlihat sibuk. Demi mengejar apa yang disebut dengan sukses.

    Lantas, haruskah kita selalu terburu-buru. Atas nama waktu?
    Tak salah. Tapi ada kalanya kita juga perlu melambat. Menikmati karunia Illahi yang tak terhitung.
    Slow living. Bukan berarti malas-malasan. Tapi adalah cara untuk mengekspresikan diri.
    Berhentilah sejenak kawan. Melambatlah jika diperlukan sebelum kita diharuskan terburu-buru.
    Agung Setiyo Wibowo
    Jakarta, 27 September 2022
  • Menerima Kenyataan

    Belum lama ini saya terkejut dengan salah satu tragedi olahraga paling mematikan di Asia Tenggara. Fanatisme yang tidak diingingi kematangan mental mengakibatkan ratusan nyawa melayang. Duka untuk Indonesia.

    Kejadian itu mengingatkanku dalam konteks pribadi. Untuk bisa menerima kenyataan yang diberikan Tuhan. Karena bukankah kita tak bisa mengendalikan segalanya? Yang bisa kontrol adalah sikap kita.
    Sudahkah kamu menerima kenyataan? Itu bukan berarti pasrah ya. Ikhtiar dan tawakkal harus ditunaikan.
    Amor fati.
    Jakarta, 3 Oktober 2022