Author: Agung Wibowo

  • Menyelami “Panggilan” Dalam Keseharian

    Belum lama ini saya mendapatkan pesan singkat melalui surat elektronik dari seseorang. Sebut saja bernama Krishna. Secara pribadi, saya belum pernah mengenal namanya – apalagi bertemu. Oleh karena itu, ketika ada surat masuk, saya langsung membacanya secara seksama.

    Selidik demi selidik, Krishna merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Mesin di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Semarang, Jawa Tengah. Akhir April lalu, ia menyelesaikan membaca buku saya terbitan 2017 yang berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Krisis Seperempat Baya.

    Singkat kata, Krishna merasa tercerahkan setelah membaca buku. Sebagai calon Sarjana, ia mengaku beruntung sekali mendapatkan semacam “pencerahan” karenanya. Namun, di saat yang bersamaan ia meminta nasehat untuk membuat peta jalan karir yang akan dilaluinya kelak.

    Krishna mungkin hanya satu dari jutaan lulusan perguruan tinggi yang setiap tahunnya dihadapkan pada fase terpenting dalam perjalanan hidup. Tidak lain ialah menentukan cetak biru karir. Ya, Krishna tidak sendirian. Jangankan fresh graduate, para profesional berusia 40 atau yang telah melewati titik paruh baya juga tidak jarang dirisaukan dengan urusan berkarya.

    Mencermati hal ini, saya langsung teringat dengan survei independen yang saya lakukan pada kurun 2016-2018. Sebuah riset yang melibatkan lebih dari 1000 orang di 100 kota di Indonesia, Asia – Pasifik, Eropa Utara, dan Amerika. Survei itu bertajuk panggilan hidup.

    Dari hasil temuan yang saat ini masih dalam proses pengolahan, lebih dari 90 persen responden mengaku bahwa karir merupakan salah satu aspek terpenting dalam hidup. Hal itu tidak mengherankan mengingat sebagian besar waktu produktif kita dihabiskan pada aspek tersebut.

    Yang menarik, lebih dari separuh responden mengatakan kurang puas dengan pekerjaan yang dimiliki saat ini. Akibatnya, kebahagiaan cukup terusik. Ketentraman apa lagi. Kenyataan ini menyebabkan mereka mulai mendefinisikan kembali apa yang paling diinginkan dalam hidup, apa yang dianggap paling penting, apa yang paling diprioritaskan, apa yang membuat hidup bermakna, dan bagaimana mereka bisa menjadi “pribadi baru” di kemudian hari.

    Dari temuan riset yang kelak akan saya beberkan lagi dalam bentuk buku, rupanya hanya sebagian responden yang benar-benar menyelami “panggilan” dalam berkarya dan menjalani hidup dengan “hidup”. Akibatnya, sebanyak apapun penghasilan yang didapatkan tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Konsekuensinya, sekeras apapun usaha yang dikerahkan untuk mencapai goal, menjadikan mereka cepat bosan, hampa, dan kehilangan motivasi. Pemaknaan “panggilan” antar individu memang beragam. Pasalnya, seringkali berkaitan dengan perjalanan intristik. Tidak lain merupakan titik temu antara minat, bakat, keterampilan, passion, apa yang benar-benar digelisahkan, dan bidang apa yang paling sungguh-sungguh ingin digeluti untuk memecahkan masalah di sekitar.

    Dari ribuan orang yang saya temui, “panggilan” memang salah satu pilar kunci yang menentukan bahagia atau tidaknya seorang individu. Pasalnya, orang yang menyelami “panggilan”, akan senantiasa terdorong untuk menciptakan nilai tambah, memberikan solusi, bermanfaat kepada sesama, dan membuat perbedaan dalam bidang-bidang yang kurang dipikirkan oleh orang lain.

    Orang yang memiliki “panggilan” pada umumnya tidak rentan bosan, hampa, dan kehilangan motivasi. Karena tujuan mereka berkarya (dan hidup) bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk memberi atau melayani orang lain sesuai dengan potensi.

    Orang yang menyelami “panggilan” berkarya dengan jiwa dan hati. Tidak hanya dengan otak yang seringkali berkutat pada masalah “untung-rugi”. Lantas, sudahkah Anda menyadari “panggilan” hidup Anda sendiri? Kalaupun belum, tidak usah khawatir. Karena panggilan tersebut sudah Ada di dalam diri. Anda hanya perlu traveling inside. Lebih tepatnya lagi, traveling within yourself. Selamat mencoba.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan pada 16 Mei 2018 

     

  • Mengapa Praktik Pseudosains ‘Laris Manis’ Di Negeri Ini?

    Baru-baru ini masyarakat Indonesia dibuat heboh dengan dipecatnya Mayjen TNI dr. Terawan Agus Putranto dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Kabarnya, Kepala Rumah Sakit Umum Pusat Angkatan Darat (RSPAD) itu dianggap melanggar sumpah dokter dan kode etik yang ramai diperbincangkan di kedai-kedai kopi, perguruan tinggi, instansi pemerintahan dan dunia maya.

    Yang menarik, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) tidak mempermasalahkan teknik terapi pengobatan Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk mengobati stroke. Melainkan murni pelanggaran kode etik.

    Terawan bukanlah orang sembarangan. Pasalnya, ia merupakan satu dari segelintir dokter kepresidenan yang sarat dengan prestasi. Jebolan S3 Universitas Hasanuddin Makassar itu sejak 2004 memperkenalkan inovasi metode medis yang mencuri perhatian publik. Melalui teknik Brain Spa atau Brainwash yang menjadi andalannya, hingga kini tidak kurang dari 40 ribu pasien yang telah mencoba pengobatannya.

    Menurut Ketua MKEK dr. Prijo Pratomo Sp. Rad, temuan hasil penelitian akademik yang diterapkan pada pasien harus melalui serangkaian uji publik hingga layak sesuai standar profesi kedokteran. Bukan berarti yang sudah ilmiah secara akademik lantas ilmiah dalam ranah medis. Pasalnya, ada serangkaian uji klinis lewat multisenter, pada hewan, in vitro, in vivo.

    Pemecatan dr. Terawan memang menimbulkan kontroversi. Pasalnya, masyarakat menilai terobosan karya anak bangsa itu seharusnya didukung oleh berbagai pihak. Apalagi, sudah ada ribuan pasien yang merasakan manfaatnya. Sehingga, pemecatan dikhawatirkan akan mematikan inovasi di bidang sains.

    Mungkin publik juga masih ingat dengan kasus rompi antikanker besutan dokter Warsito Purwo Taruno. Meski konteksnya sedikit berbeda, masalah yang dihadapi oleh dua dokter jenius tersebut ada kemiripannya.

    Dalam perspektif ilmu kedokteran, sebuah terapi medis dituntut harus berlandaskan ilmu kedokteran terkini yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun etika. Keharusan ini untuk memastikan kebermanfaatan dan tidak membahayakan penderita. Dalam istilah medis dikenal dengan Evidence-Based Medicine (EBM) yang salah satu indikatornya ialah hasil penelitian yang dipublikasikan dalam berderet jurnal kedokteran terpercaya.

    Bagaimana EBM untuk inovasi dokter Terawan? Sayangnya, sejauh ini belum banyak EBM yang mendukung. Baik penelitian pre-klinik maupun penelitian klinik.

    Lantas, bagaimana dengan manfaat terapi yang membeberkan kesembuhan pasien? Lagi-lagi, dalam kaidah ilmu kedokteran bukan termasuk EBM. Karena testimony merupakan pengakuan subyektif. Bukan berdasarkan parameter yang jelas sesuai dengan standar ilmiah.

    Kasus Dokter Terawan mungkin hanya puncak gunung es dari praktik pseudosains yang ‘laris-manis’ di tanah air. Sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim secara ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Sebuah ilmu semu yang kelihatan ilmiah, namun tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang teruji dan serangkli berbenturan dengan konsensus ilmiah secara umum.

    Pseudosains sendiri pertama kali muncul pada tahun 1843. Berasal dari bahasa Yunani Pseudo yang berarti palsu atau semu dan bahasa Latin Scientia yang bermakna pengetahuan atau bidang pengetahuan. Dalam perkembangannya, pseudosains memang cenderung berkonotasi negatif. Karena dipakai untuk menunjukkan bahwa subyek yang mendapatkan label tersebut digambarkan tidak akurat atau tidak bisa dipercaya sebagai ilmu pengetahuan.

    Di lndonesia sendiri, masyarakat sudah lama mempercayai dan mengambil manfaat dari pseudosains meski komunitas akademik tidak menganjurkannya. Dalam bidang psikologi dan pengembangan sumber daya manusia saja misalnya. Kita sudah sangat “bersahabat” dengan astrologi, primbon, palmistri (garis tangan), numerologi, grafologi, fisiognomi hingga Neuro-Linguistic Programming (NLP).

    Pseudosains – khususnya berkaca pada kasus Dokter Terawan – mengingatkan kita pada dikotomi teori versus praktik. Ranah akademik seringkali dianggap kaku karena menaati metode ilmiah yang begitu kompleks dan memakan waktu lama. Sementara itu, masyarakat bisnis dan akar rumput sebaliknya. Mereka perlu solusi yang konkrit, aplikatif, dan mampu menjawab ‘kebutuhan’ pasar.

    Membandingkan teori dan praktik sejatinya seperti membandingkan mana yang lebih dulu ada antara telur dan ayam. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Saling mewarnai, saling mempengaruhi satu sama lain.

    Mungkin saat ini, memang belum banyak bukti ilmiah yang berpihak pada inovasi dokter Terawan. Namun, bukan tidak mungkin kelak akan banyak penelitian lain yang mendukung temuannya. Jurnal-jurnal kedokteran internasional satu per satu bisa jadi menguatkan gebrakan dokter fenomenal tersebut di masa akan datang.

    Pada akhirnya, masyarakat tidak akan lagi mempersoalkan apakah pseudosains atau bukan. Namun, sejauh mana suatu inovasi bisa benar-benar langsung dirasakan manfaatnya kepada orang-orang yang membutuhkan. Hanya waktu yang bisa menjawab.

     

    Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 30 April 2018 

  • Benarkah Nasib Kita Ditentukan Oleh Cara Berpikir

    “Your beliefs become your thoughts, your thoughts become your words, your words become
    your actions, your actions become your habits, your habits become your values, and your values
    become your destiny.”
    ― Mahatma Gandhi

    Kutipan dari bapak bangsa India di atas bisa jadi belum tentu semua orang mengamininya. Namun, jika kita renungkan kembali sulit sekali untuk membantahnya.

    Nasib kita memang berpangkal dari pola pikir kita sendiri. Pasalnya, pikiran menjadi perkataan. Perkataan menjadi perbuatan. Perbuatan menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi nilai-nilai. Dan nilai-nilai menjadi nasib yang kita terima.

    Menyadari hal itu, cara paling efektif untuk mengubah diri sendiri ialah dengan mengubah cara berpikir. Begitu pula dalam berhubungan dengan orang lain. Cara termudah untuk mempengaruhi orang lain ialah dengan menyesuaikan sikap kita dengan cara berpikir mereka.

    Dalam konteks organisasi, saling mengetahui cara berpikir kolega merupakan pangkal dari keberhasilan. Pasalnya, setiap orang memiliki pola pikir unik.

    Dengan mengetahui cara berpikir orang lain; kita bisa terlatih untuk berempati, mengelola emosi, dan bijak menyikapi apa saja. Itu semua ditunjukkan dengan kelihaian berkomunikasi, seni memimpin, dan mengelola hubungan baik dengan sesama. Pada akhirnya timbullah kohesivitas tim yang mendorong terwujudnya kinerja unggul.

    Mengetahui bagaimana pikiran manusia bekerja memang baik. Namun akan lebih baik lagi jika juga mengetahui faktor genetika alias pembawaan sejak lahir.

    Memahami bagaimana unsur genetika dan cara berpikir dapat mempengaruhi “nasib”, menjadi keniscayaan jika kita ingin sukses. Baik dalam aspek personal maupun profesional. Pasalnya genetika (nature) dan pengalaman hidup (nurture) bagai koin bermata dua. Tak terpisahkan.

    Menurut Steven Pinker dalam bukunya The Blank Slite ditegaskan bahwa 70% variasi antar individu disebabkan oleh genetika. Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan menorehkan suatu tanda pada otaknya.

    Saya jadi teringat dengan kajian menarik bertajuk Emergenetika. Sebuah studi mengenai ciri-ciri watak/pembawaan yang muncul sebagai perpaduan dari unsur genetika/alami dan hasil asuhan/pendidikan/pengalalaman sehingga membentuk sikap dan perilaku tertentu.

    Emergenetika sendiri tak dapat dipisahkan dengan gagasan Psikolog Universitas Harvard Jerome Kagan. Menurut beliau otak seorang bagaikan sepotong kkain abu-abu puncat. Benang hitam genetika terjalin dengan benang putih lingkungan yang menghasilkan warna campuran hitam dengan putih yaitu abu-abu.

    Sementara itu penelitian riset David T. Lykken mengenai pasangan kembar dua atau tiga di seluruh dunia menunjukkan bahwa manusia kembar memiliki kesamaan watak atau perilaku. Seperti dalam kasus Jerry Levey dan Mark Newman – kembar identik yang telah berpisah puluhan tahun namun masih memiliki sejumlah kesamaan. Mulai dari memelihara kumis, potongan rambut, kacamata pilot hingga warna ikat pinggang. Demikian halnya dengan Jim Springer dan Jim Lewis yang terpisahkan berpuluh-puluh tahun ketika dipertemukan masih sama-sama senang merokok Salem, minum Miller elite, menggigit kuku dan balapan mobil.

    Otak memang faktor yang sangat menentukan cara berpikir manusia. Itu mengapa emergenetika mengkaji ranah tersebut secara mendalam. Pemindaian otak dengan teknologi canggih misalnya. Dapat mengungkapkan cara kerja otak, bagian otak mana yang berfungsi untuk memecahkan masalah serta berapa lama sebuah pengalaman berdampak dalam pikiran kita.

    Saya langsung teringat dengan Dr Geil Browning, Ph.D. dan Dr Wendell Williams, Ph.D. Pasalnya mereka telah melakukan penelitian yang hasilnya mampu memberikan gambaran secara komprehensif mengenai kombinasi preferensi berpikir dan atribut perilaku.

    Riset yang melibatkan lebih dari 300.000 orang dewasa tersebut membawa mereka mematenkan produk bernama Emergenetics®. Dalam perkembangannya, paten tersebut melahirkan perusahaan pengembangan organisasi bernama Emergenetics International. Sebuah institusi yang mengandalkan penelitian psikometrik dan studi perilaku untuk memberi saran dan berkonsultasi dengan bisnis dan individu tentang cara menilai sumber daya manusia. Berawal dari Amerika Utara, kini perusahaan tersebut telah menyebar ke berbagai negara di dunia – tak terkecuali Indonesia.

    Emergenetics menawarkan beberapa jasa. Salah satunya ialah assessment untuk mengetahui seseorang berdasarkan empat atribut berpikir (analitis, struktural, sosial, dan konseptual dan tiga atribut perilaku (ekspresif, asertifitas dan fleksibilitas). Sejak 1998, mereka telah memsertifikasi coach, profesional sumber daya manusia, dan trainer dengan ribuan individu telah menjadi penerima manfaat secara global.

    Emergenetics merupakan instrumen pembuat profil berbasis riset ilmiah yang menunjukkan cara berpikir individu secara genetik (genetic) dan bertindak dengan cara tertentu. Cara berpikir dan bertindak tersebut dapat berubah (emerge) akibat faktor sosial/lingkungan yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Kombinasi dari genetika dan pengalaman hidup ini terjalin dan membentuk pola yang dapat kita pelajari guna mendongkrak komunikasi dan produktivitas.

    Belum lama ini saya pun mencoba jasa Emergenetics. Hasilnya memang menggambarkan diri kita sebenarnya. Itu mengapa tidak mengherankan jika organisasi-organisasi yang pernah menjadi kliennya terbukti mampu membentuk tim lebih produktif, meningkatkan pemahaman dan mengurangi konflik di antara rekan kerja, menjamin kualitas pekerjaan yang lebih baik dan juga pengembangan solusi yang lebih efektif atas sebuah masalah. Pribadi yang menemukenali dengan baik atribut cara berpikir dan perilaku mereka, pada umumnya dapat berkomunikasi, memiliki kemampuan menjual, melakukan presentasi, mengajar dan memotivasi orang lain dengan lebih efektif.

    Emergenetics memang bukan satu-satunya peranti yang dapat kita pakai untuk mengetahui cara berpikir dan berperilaku kita. Di luar sana mungkin banyak penyedia layanan sejenis yang dapat membantu menemukan kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu selaku anggota tim dan kekuatan mana yang berhubungan dengan energi terbesarnya. Jika kekuatan tersebut dapat dimaksimalkan, maka setiap individu mampu bekerja lebih lama tanpa kehabisan energi.

    Saya pribadi telah mencobanya. Bagaimana dengan Anda ?

     

    Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 14 April 2018 

  • Generasi Muda dan Duta Wisata

    Apa yang menjadi persamaan antara Maudi Koesnaedi, Venna Melinda, Airin Rachmi Diany, dan Tina Talisa? Jika Anda menjawab mereka sama-sama berkarisma, populer dan cerdas saya tidak menampiknya. Namun yang saya maksud bukan itu.

    Lantas, apa yang menyamakan antara Zumi Zola, Tommy Tjokro, dan Indra Bekti? Jika Anda mengatakan benang merah di antara mereka hanya keelokan rupa, maka Anda salah besar.

    Lalu, apa hubungan antara semua tokoh yang saya sebutkan di atas? Mereka sama-sama pernah menjadi duta wisata di kota/kabupaten masing-masing di masa mudanya.

    Tina Talisa pernah dinobatkan menjadi Mojang Jawa Barat sebelum menjadi pembawa acara berita tersohor. Venna Melinda pernah tercatat sebagai None DKI Jakarta sebelum melenggang ke ranah hiburan dan politik. Zumi Zola pernah bertengger dalam daftar Abang Jakarta Selatan sebelum menjadi aktor dan Gubernur Jambi.

    Mungkin Anda bertanya-tanya, seberapa signifikan pengaruh pengalaman mereka sebagai alumni duta wisata dalam mendongkrak perjalanan karirnya? Barangkali terkesan subyektif jika diuraikan orang per orang. Namun, dalam riset independen yang saya lakukan terhadap ratusan duta wisata di 70 kota/kabupaten dan 20 provinsi dalam kurun waktu 2016-2018, hasilnya cukup membuat saya tercengang.

    Keberadaan duta wisata selama ini memang masih luput dari perhatian publik. Mereka hampir tidak pernah menjadi bahan kajian akademik. Di saat bersamaan, ajang pemilihan duta wisata tidak jarang masih disamakan dengan kontes bertajuk pageant lain seperti Puteri Indonesia dan Miss Indonesia.

    Padahal, pemilihan duta wisata lebih dari itu. Ia tidak semata-mata memilih orang yang “enak dipandang”. Di antara aspek penilaian memang berkutat pada kecerdasan (brain), keindahan (beauty) dan perilaku (behaviour). Namun aspek lain seperti keterampilan berbahasa asing dan lokal, berkesenian, dan pemahaman dengan budaya tidak kalah ditekankan.  Sehingga tidak berlebihan jika ajang ini merupakan salah satu ajang terbaik dalam pemberdayaan pemuda.

    Selama ini memang belum ada definisi baku mengenai duta wisata. Namun yang pasti mereka ialah anak-anak muda terpilih yang telah melalui serangkaian seleksi ketat dari pemerintah daerah masing-masing untuk membantu mempromosikan potensi budaya, pariwisata, dan ekonomi kepada publik. Baik dalam tataran lokal, nasional, bahkan Internasional.

    Di Provinsi DKI Jakarta mereka yang terpilih dikenal dengan Abang-None. Di Provinsi Jawa Barat disebut dengan Mojang-Jajaka. Di Provinsi Sulawesi Selatan dinamakan dengan Dara-Daeng. Di provinsi asal saya sendiri Jawa Timur, penamaan bahkan unik di setiap daerah kota/kabupatennya. Misalnya saja Cak-Ning untuk Kota Surabaya, Kakang-Sendhuk untuk Kabupaten Ponorogo, Dimas-Diajeng untuk Kabupaten Ngawi, Kacong-Jebbing untuk Kabupaten Bangkalan, Cung-Ndhuk untuk Kabupaten Tuban, Joko-Roro untuk Kabupaten Malang, Kangmas-Nimas untuk Kota Batu atau Kethuk-Kenang untuk Kabupaten Pacitan. Singkat kata, gelar pemenang ajang ini menyesuaikan dengan budaya setempat.

    Berdasarkan hasil riset independen saya, berikut ini beberapa alasan kuat mengapa generasi muda perlu mengikuti ajang duta wisata di kota/kabupaten/provinsi masing-masing.

    Mengenal Potensi Daerah

    Ini tentu menjadi faktor yang tak terbantahkan. Pasalnya, selama mengikuti ajang ini, para peserta dapat mendapatkan seabrek pelatihan atau pengetahuan mengenai daerah sendiri. Mulai dari aspek sejarah, budaya, pariwisata, ekonomi, hingga sosial politik. Selain itu, juga diajak untuk “turun ke lapangan”. Sehingga, disadari atau tidak, bisa menjadi inspirasi untuk mengembangkan daerah sendiri di masa depan, apapun profesi yang akan ditekuni.

    Mendongkrak Soft Skills

    Duta wisata di kota/kabupaten manapun dituntut untuk pandai berkomunikasi. Pasalnya, keterampilan tersebut begitu vital selama menjabat atau setelah mengarungi dunia nyata. Kabar baiknya, hampir semua paguyuban duta wisata di seluruh Indonesia memiliki sederet kegiatan untuk mengasah soft skills. Dari seni kepemimpinan, berbicara di depan publik, mengelola emosi, membangun tim, menetapkan sasaran, menyelesaikan masalah, mengorganisir, manajemen waktu, hingga kegesitan menyikapi perubahan atau ketidakpastian.

    Membangun Jejaring

    Ajang pemilihan duta wisata senantiasa dibanjiri oleh para talent dengan renjana dan bidang yang beragam. Itu mengapa sangat cocok dimanfaatkan untuk membangun jejaring. Singkat kata, kontes semacam ini paling tepat untuk mengenalkan kepada publik mengenai siapa diri kita dan bagaimana kemampuan yang dimiliki dapat bermanfaat kepada masyarakat. Kelak, jaringan yang terbangun tersebut dapat dimaksimalkan untuk mendongkrak karir masing-masing.

    Mengenal Diri Sendiri

    Di ajang pemilihan duta wisata, kompetitor sesungguhnya bukanlah peserta lain. Melainkan diri sendiri. Pasalnya, tidak perlu menjadi “lebih baik” dari orang lain atau “terbaik” di antara semua peserta. Para peserta hanya dianjurkan untuk menjadi yang terbaik versi dirinya sendiri. Karena para pemenang di daerah manapun biasanya adalah mereka yang mengenali diri sendiri lebih baik. Menerima kekurangan dan kelemahan sama pentingnya dengan mengoptimalkan kelebihan dan kekuatan. Singkat kata, ajang ini sangat cocok untuk membantu peserta mengenali diri sendiri.

    Memang, tidak harus menjadi seorang duta wisata yang secara resmi diberikan “selempang kebesaran” oleh pemimpin daerah. Karena siapa saja sebenarnya bisa menjadi duta sesuai dengan kepakaran masing-masing.

    Yang perlu diingat, bukan gelar yang sejatinya dikejar oleh para kawula muda. Namun, semangat berjuang dengan mental kesatrialah yang perlu dibiasakan untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Itu bisa diperoleh melalui ajang pemilihan duta wisata.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Biem.co, 13 April 2018 

  • The Ambassadors’ Journey: Cerita Saya dan Para Jebolan Duta Wisata Se-Indonesia

    Duta wisata. Apa sih yang ada di benak Anda ketika mendengar namanya? Sepasang model “pembawa nampan” yang terbiasa hadir dalam seremonial acara-acara pemerintahan? Ataukah muda-mudi jebolan kontes pageant di bidang budaya yang hanya bisa senyum-senyum manis tanpa peran berarti?

    Apapun pendapat Anda, sah-sah saja. Karena toh selama ini belum banyak publikasi mengenai keberadaan mereka. Untuk itulah mengapa buku ini ditulis.

    Tidak banyak orang yang tahu mengenai ajang pemilihan duta wisata. Padahal sampai buku ini ditulis; negeri ini memiliki 34 provinsi, 415 kabupaten, 93 kota, 1 kabupaten administrasi dan 5 kota administrasi. Jika pertahun setiap pemerintah daerah “menelurkan” 10 pasang duta wisata saja, berapa jumlah keseluruhannya? Lebih dari 10 ribu. Angka yang begitu “seksi” jika bisa diberdayakan dengan benar dan berkelanjutan.

    Buku ini hadir untuk mematahkan anggapan bahwa ajang pemilihan duta wisata hanyalah buang-buang anggaran saja. Karena ada begitu banyak hal positif yang didapatkan dari kegiatan tersebut. Pemerintah sendiri terbantu karena jebolan ajang tersebut membantu mereka dalam program-program promosi maupun pengembangan pariwisata dan kebudayaan. Masyarakat diuntungkan karena para duta tersebut bisa menjadi “penyambung lidah” inspirasi. Para alumni duta wisata sendiri mereguk berbagai benefit. Mulai dari pengembangan diri, pengenalan potensi kota/kabupaten yang lebih dalam, penguasaan kesenian dan kebudayaan lokal yang meningkat, terdongkraknya jejaring, hingga sebagai platform untuk sukses dalam karir.

    Buku ini memaparkan pengalaman pribadi penulis sebagai seorang alumni duta wisata. Diperkuat dengan survei yang melibatkan ratusan alumni duta wisata dari Sabang sampai Merauke. Ditambah lagi dengan kurasi profil para alumni duta wisata yang sekarang menjadi figur publik dan menginspirasi. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan tips dan trik menjadi seorang duta wisata yang keren.

    Beberapa tokoh alumni duta wisata yang diulas tuntas perjalanan hidupnya dalam buku ini antara lain:

    1. Sylviana Murni (mantan Walikota Jakarta Pusat)
    2. Zumi Zola  (Gubernur Jambi)
    3. Airin Rachmi Diany (Wali Kota Tangerang Selatan)
    4. Tina Talisa (News Anchor)
    5. Tommy Tjokro (News Anchor)
    6. Indra Bekti (Presenter, Artis)
    7. Hatna Danarda (Vokalis Naff)
    8. Ratih Sanggarwati (Model)
    9. Ashanty (Artis)
    10. Angkie Yudistia (Sociopreneur)
    11. Yuliandre Darwis (Ketua KPI)
    12. Maudy Koesnadi (Artis)
    13. Venna Melinda (Artis, Politisi)
    14. Dan puluhan sosok lain dari seluruh Indonesia

    Secara sederhana, isi buku ini memaparkan:

    1. Pemaknaan duta wisata
    2. Pengalaman penulis sebagai duta wisata
    3. Bincang dengan para duta wisata
    4. Profil para duta wisata yang menginspirasi dari beragam profesi
    5. Bagaimana cara menjadi seorang duta wisata yang sukses (tips/trik/strategi)
    6. Pesan untuk para calon duta wisata

    Buku ini sama sekali bukan untuk menggurui. Hanya secercah cerita dari orang yang pernah mengalami lebih dulu. Informasi yang diberikan pun berimbang, tidak berat sebelah. Gaya bahasa yang dipakai juga “lo, gue”.  Sehingga, sangat cocok dibaca oleh:

    1. Siapa saja yang berminat menjadi duta wisata di daerah masing-masing (Abang None, Mojang Jajaka, Uda Uni, Agam Inong, Mas Mbak, Cak Ning, Dara Daeng, Jegeg Bagus, Muli Mekhanai, Kacong Cebbing, dst)
    2. Siapa saja yang bermimpi untuk memenangkan kontes pageant seperti Puteri Indonesia, Miss Indonesia, Puteri Pariwisata Indonesia, Putera Puteri Batik, Putera Indonesia, Duta GenRe, Duta Lingkungan Hidup, Miss Coffee, dan semacamnya.
    3. Para alumni duta wisata yang ingin mengenang masa pengabdiannya.
    4. Pengamat pariwisata, kebudayaan, model, dan peagants.
    5. Para pemangku kepentingan di bawah Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dan berbagai dinas terkait.
    6. Pencari kebijaksanaan di manapun berada

     

    Apa Kata Mereka?

    “Duta wisata dipilih bukan hanya untuk sebuah event seremonial. Tapi menjadi tumpuan aktualisasi generasi muda – menjadi mitra pemerintah dalam membranding destinasi pariwisata di Indonesia, khususnya di kota/kabupaten masing-masing. Buku ini saya rasa mampu mewakili cerita klasik pengalaman para duta wisata di manapun berada. “

    (Yuliandre Darwis, Ph.D – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia 2016-2019)

     

    “Menjadi seorang duta itu tidak mudah. Ia tidak hanya menjadi tempat orang mendapatkan informasi, ia juga harus mampu memberi klarifikasi atas banyak hal yang mungkin tengah terjadi. Artinya seorang duta harus memiliki pemahaman yang mumpuni dan juga kemampuan berdiplomasi dalam mencari solusi. Dan itu hanya ada pada pribadi orang-orang terpilih.

    Termasuk menjadi duta wisata. Ia harus memiliki kecintaan sejati pada daerah yang diwakili. Karena hanya dengan tulus mencintai, ia dapat melayani daerahnya dengan setulus hati. Ia dan daerahnya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dirinya adalah daerahnya dan daerahnya adalah dirinya.

    Duta wisata adalah adalah sebuah refleksi dimana orang melihat keindahan wisata pada suatu daerah terpancar dalam pribadi dirinya. Jiwanya telah menyatu dengan alamnya.  Oleh karena itu menjadi duta wisata adalah sebuah kehormatan karena ia terpilih untuk berada pada garis depan sekaligus menjadi titik sentral pariwisata di daerahnya.”

    (Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APRFounder & Director, The London School of Public Relations Jakarta)

     

    “Tugas saya sebagai diplomat yang mewakili Indonesia di luar negeri sangat terbantu dengan pengalaman menjadi salah satu Dimas Yogyakarta Tahun 1993. Mempromosikan Indonesia kepada publik internasional dapat saya lakukan dengan lebih mudah, strategis dan cerdas berbekal ilmu dan pengetahuan yang didapat ketika bertugas menjadi duta wisata.”

    (Aziz Nurwahyudi – Minister Counsellor Penerangan Sosial dan Budaya, KBRI Den Haag)

     

    “Pengalaman merupakan sesuatu yang nyata untuk bisa diceritakan.  But All the best ideas come out of the process, they come out of the work itself. Things occur to you. Nikmati dan kembangkan lah dari proses tersebut. Public speaking, leadership, dan improving your social skills….Ketiga hal ini didukung dengan kepedulian yang tinggi akan membangun karakter muda yang jauh lebih bermanfaat untuk negeri. Buku ini secara lugas menyampaikan hal tersebut serta menceritakan sisi yang lebih jelas peran dan manfaat dari seorang Duta Wisata. All the best buat Agung dengan support positifnya untuk anak muda Indonesia.”

    (Tommy Tjokro – Head of News Production and Lead Anchor, MNC World News)

     

    “Buku ini memiliki manfaat ganda.  Pertama, memberikan gambaran yang dekat melalui orang pertama mengenai duta wisata.  Kedua, menyimpan ilmu dan hikmah mengenai perjuangan anak-anak muda sebagai duta wisata agar selalu siap ditengok kembali.  Kedua manfaat tersebut membuat buku ini menjadi kenangan abadi tidak hanya bagi si pelaku, tetapi juga si pembaca.  Di buku ini, pelaku dan pembaca seperti berdialog mengenai pengalaman konyol atau hebat dari sebuah pengalaman bernama duta wisata.”

    (Ir. Totok Amin Soefijanto, MA, Ed.DDeputi Rektor Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina)

     

    “Sebagai Duta Pariwisata… saya pribadi jujur tidak masuk atas keingingan sendiri, namun karena keadaan.  Setelah menjalani proses karantina dan mendapatkan gelar Abang Harapan 1 di Pemilihan Abang None Jakarta Barat 2008, saya merasa wajib menjalankan amanah melestarikan budaya Betawi atau budaya Indonesia ke nasional maupun dunia, dengan Cara saya sendiri di bidang seni peran karena ‘tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat’.”

    (Ade Firman Hakim – Artis)

     

    “Menjadi Duta Wisata membuktikan bahwa seseorang lulus seleksi dalam sebuah kompetisi yang terancang baik.  Seleksi yang sesungguhnya nantinya adalah saat menghadapi ‘kompetisi’ yang sebenarnya di dunia luar, yang lebih nyata, yang lebih berat lagi. Penilaian pemenangnya adakalanya tidak dipublikasi, kriteria pemenang kompetisi ini bahkan seringkali tidak dijelaskan dari awal. Menjadi Duta Wisata ini adalah sebuah modal awal. Modal berikutnya adalah penerapannya di masyarakat luas. Hanya orang-orang dengan personal brand yang cemerlang yang akan memenangkan pertandingan di kompetisi ‘nyata’ tersebut. Gunakan kesempatan untuk ikut ajang pemilihan Duta Wisata atau sejenisnya untuk kemudian mengasah dalam pertandingan kehidupan berkelanjutan setelahnya.” 

    (Amalia E. Maulana, Ph.D.  –  Brand Consultant & Ethnographer, Director ETNOMARK Consulting/Penulis buku “PERSONAL BRANDING: Membangun Citra Diri yang Cemerlang”)

     

    “Duta Wisata? Bukan sekedar kontes; tapi juga bermakna mendalam untuk melatih soft skills; juga membuat generasi muda mengenal, menjalani, dan melestarikan budaya tradisional  di masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Selain mempromosikan pariwisata, Lomba Pemilihan Duta Wisata bisa dijadikan ajang pendidikan untuk belajar di berbagai bidang dan kontribusi nyata ke masyarakat. Jangan hanya bangga dengan prestasi selempang, jangan hanya bangga menginspirasi, tapi jadilah bermanfaat bagi kemajuan banyak orang. Buku ini bisa dijadikan petunjuk bagaimana memaknai Lomba Pemilihan Duta Wisata.”

    (Nursasongko Soegijatno – Pengamat Pageants, www.indonesianpageants.com)

     

    “Saya tidak mengatakan kalau menjadi duta wisata itu bisa mengubah hidup, apalagi menjamin terwujudnya kesuksesan. Tapi saya berani berkata jujur bahwa pengalaman darinya merupakan kawah candradimuka untuk personal development yang manfaatnya dapat dirasakan seumur hidup. A well-written book, congratulation Agung!”

    (Yudy Rizard Hakim – Chief Corporate Affairs Officer, PT Bakrieland Development Tbk)

     

    Buku The Ambassador Journey karya Agung ini semakin meneguhkan kontestasi yang menghasilkan para Duta Wisata sebagai ujung tombak promosi pariwisata di level daerah maupun nasional, bukan sekedar menghasilkan figur anak muda yang smart dan charming. Namun sejatinya dalam proses kompetisi dan selama menjalankan peran sebagai duta wisata, melejitkan Adversity Quotient atau tingkat ketahanan seorang manusia dalam menghadapi tantangan dan tekanan (human resilience). Berkembangnya AQ di samping juga IQ dan EQ personal para duta wisata ditambah opportunity memperkaya pengalaman, ilmu, soft skill serta networking. Pada kenyataannya membentuk para pribadi yang sukses seperti figur-figur yang ditampilkan oleh penulis dalam buku ini. Selamat membaca dan menyelami sosok-sosok inspiratif dalam The Ambassador Journey!

    (Arief Rahman, ST, MM – Board of Policy, East Java Tourism Promotion Board, CEO LensaIndonesia.com)

     

    “Menjadi duta wisata sama sekali tidak identik dengan wajah dan penampilan luar. Menjadi brand ambassador sesungguhnya-lah duta wisata itu, dengan tingkatan berbeda-beda, misalnya daerah hingga negara bahkan internasional. Buku ini membuktikan bagaimana sepak terjang para mantan duta wisata berkiprah di berbagai bidang ilmu dan terjun ke masyarakat, tidak hanya untuk mewujudkan cita-cita pribadinya namun juga pengabdian bagi nusa bangsa. Buku yang lugas, menarik dan layak mengisi perpustakan pribadi anda di rumah dan kantor.”

    (Fessy Farizqoh Alwi SH MKn – Notaris Jakarta/Mantan Wartawan Televisi-News Anchor)

     

    “Seorang duta wisata berkiprah bukan karena gelar yang diperoleh akan tetapi dari niatannya sendiri. Saya percaya bahwa latar belakang budaya dan asal usul tidak menentukan siapa jati diri kita, tapi keinginan dan ketulusan kita dalam aksi nyatalah yang menunjukan siapa kita sebenarnya. Perlu diingat bahwa ‘pengabdian berbicara lebih dari pada sekedar gelar’.”

    (Andre Wijaya Binarto, S.I.Kom, M.I.Kom – Marketing Manager PT Pundi Kencana, Food Stylist & Food Photographer)

     

    “Menjadi duta wisata merupakan awal dari perjalanan karir kehidupan saya. Saya banyak belajar dari pengalaman menjadi seorang duta wisata yang saya gunakan dalam mengatur perencanaan hidup saya hingga sekarang. Duta wisata jadi langkah awal saya mengabdi ke masyarakat karena ilmu-ilmu yang saya dapat di sekolah dan kampus, bisa saya aplikasikan selama bertugas menjadi duta wisata. Saya banyak belajar  untuk memberikan apa yang saya miliki untuk orang lain, hingga saya percaya, dengan banyak memberi kita akan mendapat lebih banyak dari yang kita miliki.”

    (Hijrah Saputra, ST  – Agam Provinsi Aceh 2008/Owner Piyoh Design/Co-founder The Leader)

     

    “Kendati belum bisa menjalankan tugas secara maksimal ketika menjabat, masa bhakti sebagai duta wisata merupakan salah satu  life-changing experiences. Buku karya Agung ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca oleh siapa saja yang tertarik menjadi The Next Tourism Ambassador!”

    (Isabella Fawzi, News Presenter)

     

    “Dari dulu saya dan teman-teman agak risih ketika dianggap hanya sebagai ‘pajangan’. Mungkin masyarakat hanya menilai kiprah duta wisata dari satu sisi. Para public figure yang diulas dalam buku ini agaknya dapat mewakili kualitas jebolan para duta wisata.”

    (Doddy Matondang)

     

    “Lahirnya buku ini setidaknya menginspirasi pemuda pada umumnya dan duta wisata pada khususnya yang sarat akan prestasi. Terlebih pasca ‘lepas slempang’, ‘mahkota’, dan ‘baju kebesaran’. Setiap dari kita mempunyai perjalanan dan kemana arah hendak dilanjutkan. Mimpi tak hanya cukup sampai menjadi duta wisata, tapi hanya sebagian pendek ceerita  perjalanan cerita ke anak cucu kita kelak. Yang terpenting bangun networking saat menjabat, lalu memanfaatkannya ke depan untuk hal-hal yang positif. Bravo duta wisata dan budaya Indonesia. Kita adalah ‘spokesperson’ dunia pariwisata Indonesia.”

    (Bachtiar Jamaluddin – CEO sewabusanabetawi.com)

     

    “Duta wisata bukan berarti pemanis maupun pajangan berwajah tampan dan cantik. Namun sebagai duta wisata yang menjadi mitra pemerintah bahkan Agent of Change dalam pemajuan industri pariwisata di Indonesia. Buku ini mampu memberikan tips  dan trik menjadi the Next Tourism Ambassador, mewakili pengalaman dan prestasi terbaik yang sudah kami dapatkan saat menjabat maupun purna. Karena bagi saya pribadi,  menjadi duta wisata itu “setahun masa bhakti, selamanya menginspirasi. 2 jempol untuk Bang Agung yang telah berani mendeskripsikan semuanya dalam buku ini.”

    (Riska Ega Wardani – Dyah Kabupaten Magetan Tahun 2009)

     

    Persembahan

    Buku sederhana ini saya persembahkan untuk bangsa Indonesia, khususnya para pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Penulis berterima kasih sebesar-besarnya kepada para alumni duta wisata dari Sabang sampai Merauke  yang telah berpartisipasi dalam Survei Duta Wisata Indonesia Tahun 2015-2017. Juga kepada seluruh informan yang berkenan meluangkan waktunya dalam penulisan buku ini. Di antaranya:

     

    1. Agam Inong Provinsi Aceh
    2. Jaka Dara Provinsi Sumatera Utara
    3. Bujang Dara Provinsi Riau
    4. Bujang Gadis Provinsi Jambi
    5. Bujang Gadis Provinsi Sumatera Selatan
    6. Bujang Dayang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
    7. Muli Mekhanai Provinsi Lampung
    8. Bujang Gadis Provinsi Bengkulu
    9. Udi Uni Sumatera Barat
    10. Abang None Provinsi DKI Jakarta
    11. Kang Nong Provinsi Banten
    12. Mojang Jajaka Provinsi Jawa Barat
    13. Raka Raki Provinsi Jawa Timur
    14. Mas Mbak Provinsi Jawa Tengah
    15. Dimas Diajeng Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
    16. Jegeg Bagus Provinsi Bali
    17. Nanang Galuh Provinsi Kalimantan Selatan
    18. Duta Wisata Provinsi Kalimantan Timur
    19. Jagau Bawi Nyai Provinsi Kalimantan Tengah
    20. Bujang Dare Khatulistiwa Provinsi Kalimantan Barat
    21. Nyong Noni Provinsi Sulawesi Utara
    22. Dara Daeng Provinsi Sulawesi Selatan
    23. Randa Kalibasa Provinsi Sulawesi Tengah
    24. Uti No’u Provinsi Gorontalo
    25. Jojaro Mongare Provinsi Maluku
    26. Putra Putri Duta Wisata Provinsi Papua
    27. Putra Putri Duta Wisata Provinsi Papua Barat
    28. Kang Nong Kabupaten Tangerang
    29. Kang Nong Kota Tangerang
    30. Mojang Jajaka Kota Bandung
    31. Gus Yuk Kota Mojokerto
    32. Mas Mbak Kota Salatiga
    33. Mas Mbak Kabupaten Cilacap
    34. Mbas Mbak Kabupaten Klaten
    35. Mojang Jajaka Kabupaten Kuningan
    36. Mas Mbak Kabupaten Grobogan
    37. Kacong Cebbing Kabupaten Sampang
    38. Cung Ndhuk Kabupaten Tuban
    39. Unting Manjan Kota Tarakan
    40. Denok Kenang Kota Semarang
    41. Kangmas Diajeng Kota Blitar
    42. Mojang Jajaka Kabupaten Bandung Barat
    43. Nanang Galuh Kabupaten Hulu Sungai Tengah
    44. Agam Inong Kota Banda Aceh
    45. Bujang Gadis Kota Bengkulu
    46. Atak Diang Kabupaten Barito Kuala
    47. Mas Mbak Kabupaten Semarang
    48. Kakang Mbakyu Kota Malang
    49. Abang Cut Kota Sabang
    50. Putra Putri Pariwisata Kabupaten Kubu Raya
    51. Abang None Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu
    52. Mojang Jajaka Kota Bogor
    53. Mojang Jajaka Kabupaten Bogor
    54. Beru Bujang Gayo Kabupaten Bener Meriah
    55. Cak Yuk Kabupaten Gresik
    56. Cak Yuk Kabupaten Pasuruan
    57. Abang Mpok Kota Depok
    58. Putra Putri Duta Wisata Kabupaten Kutai Timur
    59. Mojang Jajaka Kabupaten Sukabumi
    60. Kakang Ayu Kabupaten Probolinggo
    61. Kang Yuk Kota Probolinggo
    62. Jaka Dara Kota Medan
    63. Agai Ulai Kabupaten Berau
    64. Mojang Jajaka Kabupaten Tasikmalaya
    65. Gus Yuk Kabupaten Mojokerto
    66. Putra Putri Pariwisata Kabupaten Barito Utara
    67. Mojang Jajaka Kabupaten Indramayu
    68. Dimas Diajeng Kabupaten Sleman
    69. Bujang Gadis Kabupaten Bengkulu Selatan
    70. Bagus Dyah Kabupaten Magetan
    71. Bujang Gadis Kabupaten Kaur
    72. Putra Putri Pasola Kabupaten Sumba Barat
    73. Putra Putri Mahakam Kota Balikpapan
    74. Cak Ning Kota Surabaya
    75. Abang None Kota Administrasi Jakarta Barat
    76. Abang None Kota Administrasi Jakarta Utara
    77. Mas Mbak Kota Magelang
    78. Abang None Kota Administrasi Jakarta Selatan
    79. Kang Nong Kota Tangerang Selatan
    80. Kaka Teteh Kabupaten Pandeglang
    81. Abang None Kota Administrasi Jakarta Pusat
    82. Abang None Kota Administrasi Jakarta Timur
    83. Dimas Diajeng Kota Yogyakarta
    84. Bujang Dare Kota Pontianak
    85. Bujang Dayang Kota Pangkalpinang
    86. Kacong Jebbing Kabupaten Bondowoso
    87. Uda Uni Kota Padang
    88. Dara Daeng Kabupaten Takalar
    89. Dimas Diajeng Kabupaten Bantul
    90. Bujang Gadis Kota Jambi
    91. Kakang Sendhuk Kabupaten Ponorogo
    92. Kakang Mbakyu Kota Madiun
    93. Dara Daeng Kota Makassar
    94. Putra Putri Kota Surakarta
    95. Nyong Nona Kota Manado
    96. Teruna Teruni Kota Denpasar
    97. Kacong Cebbing Kabupaten Pamekasan
    98. Bujang Semulen Kabupaten Kapahiang

     

    Berapa harganya? 

    Rp 100.000,- untuk versi cetak (di luar ongkos kirim)

    Rp 55.000,- untuk versi digital (beli di sini)

     

    Mau Pesan? 

    Bisa sekarang juga. Klik ini atau melalui pranala  bit.ly/BeliBukuDutaWisata

     

    Masih Kepo? 

    Mampir saja ke laman ini bit.ly/DutaWisata atau klik ini

     

     

    Grand  +62 852 3050 4735 (Whatsapp/Telegram)

    Krishna +62-819-0861-2832 (SMS/Phone)

  • Millennial Berdaya Sebagai “Sokoguru” Indonesia Emas

    Belum lama ini saya berjumpa dengan tiga teman kuliah saya. Sebut saja namanya Charles, Waluyo, dan Ahmad. Kami pernah menimba ilmu di jurusan dan perguruan tinggi yang berbeda di Ibukota.

    Charles merupakan Sarjana Ekonomi. Sejak kuliah sudah rajin berjualan online. Aktif di komunitas startup, UMKM, dan wirausahawan muda. Sebelum wisuda, penghasilan pasifnya sudah mencapai ratusan juta Rupiah. Di usia yang belum genap 28 tahun, saat ini ia telah memiliki tiga perusahaan berbasis teknologi di bidang yang paling dicintainya – kuliner. Di sepanjang sejarah hidupnya, Charles tak pernah menjadi pekerja untuk orang lain. Meskipun demikian, ia belajar memahami perilaku manusia ketika aktif sebagai agen asuransi dan bisnis pemasaran jaringan.

    Waluyo merupakan Sarjana Teknik Mesin. Di sepanjang sepuluh semester masa studinya, ia aktif sekali di dunia organisasi, baik di dalam maupun luar kampus. Sempat mencalonkan diri sebagai Ketua Senat Mahasiswa meski harus puas sebagai Runner Up. Kini bekerja sebagai seorang Manajer di salah satu perusahaan startup asal Singapura. Di waktu luang, ia menjadi konsultan lepas, pembicara di isu kepemudaan, dan blogger. Tidak hanya itu, ia begitu aktif di bidang sosial. Dalam waktu dekat, ia menelurkan Social Enterprise yang fokus dalam bidang kemaritiman.

    Ahmad merupakan Sarjana Ilmu Komunikasi. Di masa kuliahnya tidak aktif di organisasi. Tidak pula suka berdagang. Namun, ia merupakan “Social Butterfly” sejati. Rajanya pesta. Pandai “menaklukkan hati” orang. Tak hayal temannya beragam dari kalangan crème de la crème hingga kasta paria. Kini bekerja sebagai Publicist, Model, dan Pembawa Acara Berita di salah satu televisi papan atas tanah air. Penghasilannya sebagai Self-Employee jika dihitung-hitung tidak kalah denga Charles yang notabennya sebagai pengusaha dan Waluyo yang bekerja di perusahaan multinasional.

    Charles, Waluyo, dan Ahmad merupakan potret dari millennial Indonesia. Sebuah generasi yang belakangan menjadi bahan diskusi di mana-mana. Dari kedai kopi “emperan” hingga hotel bintang lima. Sebuah generasi yang lahir antara tahun 1980an sampai 2000an.

    Kajian mengenai millennial memang baru “boom” lima tahun terakhir. Di episentrum peradaban modern Amerika Serikat misalnya. Universitas Berkley bersama Boston Consulting Group pernah mengkaji bertema American Millennials: Deciphering the Enigma Generation. Sementara itu Pew Research Center di tahun 2010 merilis sebuah laporan riset yang bertajuk Millennials: A Potrait of Generation Next.

    Di Indonesia sendiri, studi mengenai millennial mulai terdengar riuh rendah di kalangan bisnis. Khususnya di komunitas praktisi sumber daya manusia dan konsultan pemasaran.

    Alvara Research Center misalnya. Pernah menulis buku berjudul Millennial Nusantara yang mengupas tuntas mengenai generasi yang dipastikan akan menentukan masa depan Republik tercinta. Karya yang ditulis rekan saya Cak Hasanuddin Ali dan Mas Lilik Purwadi itu intinya memotret Gen Y dari A ke Z dari sudut pandang beragam. Namun pesannya sederhana saja. Millennial memiliki tiga ciri yang begitu kuat yaitu Connected, Creative, dan Confidence. Dari perspektif kualitatif mungkin data yang berhasil digali di lapangan melalui observasi dan wawancara mendalam terkesan biasa saja. Namun dari perspektif kuantitatif, survei yang dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan menggunakan kaidah statistik yang dapat dipertanggungjawabkan, menjadi faktor utama mengapa siapapun yang ingin mengenal millennial di negeri ini harus membacanya.

    Buku berbasis riset lain yang “mencuri perhatian” publik ialah Generasi Langgas: Millennials Indonesia karangan Yoris Sebastian, Dilla Amran dan Youth Lab. Dalam salah satu bab secara cukup rinci dipaparkan karakter Gen Y (langgas) yang merupakan hasil penelitian Muhammad Faisal PhD dan Tara Talita MSc dari biro riset Youth Laboratory Indonesia di lima kota populer: Jakarta, Medan, Bandung, Makassar dan Malang. Karakter yang dimaksud ialah suka “ngumpul” (collective), cerdas menyesuaikan tren (customization), proaktif dalam komunitas yang disukai (community), dekat dengan orang tua (close to family), terbuka dalam berinteraksi dengan generasi lain (change over generation), suka menginspirasi dan diinspirasi (chasing inspiration), sangat terhubung dengan dunia luar (connected), dan sangat percaya diri (confidence).

    Saya langsung teringat dengan pidato Presiden Jokowi belum lama ini. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah itu menegaskan bahwa Indonesia diprediksi akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat pada tahun 2045 – tepat seabad setelah kemerdekaan RI.

    Prediksi di atas hanya bisa direguk jika didukung stabilitas politik, keamanan, harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi dunia. Sebuah analisis yang merupakan hasil kajian Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro.

    Berbagai temuan think tank papan atas dunia memang menempatkan Indonesia dalam salah satu pusaran utama ekonomi global di tahun 2045. ”Ramalan prestasi” tersebut dapat dicapai dengan empat modal. Pertama, penduduk yang mencapai sekitar 300 juta. Kedua, pertumbuhan ekonomi antara 5-6 persen. Ketiga, produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 9,1 triliun. Terakhir pendapatan perkapita USD 29.000.

    Dalam kesempatan yang sama, Jokowi berpesan kepada anak-anak muda untuk masuk ke dunia jasa. Karena itu merupakan salah satu industri yang paling menjanjikan di masa depan. Sebuah ranah yang memang lekat dengan dunia “generasi zaman now”. Sebuah ceruk yang berkaitan dengan rantai pasok ritel, media, kuliner, ecommerce, pariwisata, dan gaya hidup.

    Kabar baiknya, bonus demografi Indonesia akan memuncak antara tahun 2025-2035. Sebuah masa yang mungkin akan sulit terulang lagi mengingat populasi di fase itu usia produktif lebih banyak dari usia non-produktif. Sebuah periode yang harus dimaksimalkan oleh semua pihak untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045. Ketika membludaknya tenaga kerja produktif menjadi “sokoguru” dalam menggenjot roda ekonomi.

    Memimpikan “Indonesia Emas”di tahun 2045 mungkin terdengar mengada- ada. Yang pasti, generasi millennial yang berdaya ialah salah satu penentu bisa atau tidaknya mengantarkan negeri ini dalam era kejayaan. Saatnya mengenali generasi langgas lebih dekat.

     

    *) Dimuat pertama kali di Inti Pesan, 4 April 2018