Author: Agung Wibowo

  • Mendefinisikan Ulang Resolusi

     

    Belum lama ini, salah satu teman terdekat saya – Sebut saja bernama Tom, bertanya kepada saya, “Om. Sudah berapa persen resolusimu di tahun 2017 yang tercapai?”.

    Saya pun dengan enteng menjawab, “Alhamdulillah 100% telah tercapai”.

    “Ah yang bener. Saya serius nih”. Sanggah Tom sambil merapikan dasinya.

    “Saya serius. Ngapain juga bercanda? Kalau kamu? “ Sahut saya dengan penasaran.

    “Baaaaarrrru 60%. Malu sih sebenarnya. Tapi apa boleh buat. Mungkin tahun depan saya nggak akan mematok target yang muluk-muluk deh”. Tukas Tom sambil menundukkan kepala.

    “Saya tahu mengapa kamu tidak mampu memenuhi target yang dibuat sendiri.” Jawaban saya dengan muka serius.

    “Sotoy kamu. Memangnya kenapa?” Sanggah Tom dengan mata jelalatan.

    “Kamu tidak tahu apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidup. Ingin menjadi sosok yang seperti apa, mau melakukan apa saja, dan berhasrat memiliki apa saja”. Sahut saya dengan nada lirih.

    “Ih, bener banget. Kok kamu tahu banget sih tentang saya meski saya belum sepenuhnya terbuka kepada kamu?”

     

    ***

    Percakapan di atas mungkin sama sekali tidak relevan dengan diri Anda. Bisa jadi Anda anggap remeh begitu saja. Atau barangkali begitu menyentuh perasaan Anda meski berbeda konteks.

    Suka atau tidak, siap atau tidak, tak lama lagi Anda akan menyudahi perjalanan hidup di tahun 2017. Jika  diibaratkan sebuah lukisan, saya yakin apa yang Anda torehkan di tahun ini penuh warna. Pahit getir pastilah saling mengisi. Jatuh bangun mungkin tak mengherankan lagi. Tantangan hingga ujian silih berganti mengisi hari.

    Yang pasti, 2018 segera menyambut Anda. Jika dihubungkan dengan percakapan di atas, apakah perjalanan hidup Anda mirip dengan Tom? Masih perlukah Anda membuat resolusi di setiap pergantian tahun?

    Saya sama sekali tidak menggurui. Because, I don’t tell you what to do. But I just share you what I have done.

                Resolusi sangat berarti bagi orang-orang yang mengetahui apa yang diinginkan dalam hidupnya. Sebaliknya, ia kurang berdampak bagi mereka yang hanya memiliki semangat “hangat-hangat tahi ayam”. Ia tidak cocok untuk orang yang hanya mimpi di siang bolong, tapi memiliki disiplin dan komitmen yang rendah untuk mewujudkannya.

    Sebagai individu, Anda sah-sah saja memiliki mimpi setinggi langit. Sebagai pribadi, tidak ada seorang pun yang berhak melarang Anda untuk berambisi besar. Sebagai manusia, Anda diberikan kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk melakukan apapun asalkan bermanfaat kepada sesama dan tidak merugikan orang lain.

    Anda bisa menganggap resolusi sebagai “mantra kehidupan”. Tidak ada salahnya Anda memaknainya sebagai ultimate goal. Tidak ada ruginya jika Anda mengartikannya sebagai road map ataupun blue print.

    Yang pasti, resolusi hanyalah pepesan kosong jika Anda tidak tahu apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup. Yang jelas, resolusi tidak lebih dari “To Do List” yang nice to have jika Anda tidak beraksi.

    Sebagai “benang merah” dari pertemuan saya dengan ribuan orang dalam dua tahun terakhir, saya menemukan saripati dari apa yang disebut dengan resolusi. Tidak lain ialah Be, Do, dan Have.

                Pertama, Be. Anda harus tahu ingin menjadi sosok yang seperti apa ke depannya. Tahu saja tidaklah cukup. Anda harus memiliki alasan yang kuat untuk mencapai target tersebut. Dengan kata lain, motivasi Anda harus sejalan dengan nilai-nilai dan prinsip yang Anda pegang.

    Be sebanding dengan Why. Artinya, Anda harus menemukan burning desire mengapa ingin menjadi sosok yang diinginkan sebelum melangkah ke strategi (How) dan eksekusinya (What). Misalnya, ingin menjadi penyanyi untuk menghibur atau membahagiakan sesama, ingin menjadi dosen untuk mencerdaskan anak bangsa, ingin menjadi pengusaha untuk mengurangi pengangguran, ingin menjadi politisi untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan, ingin menjadi wartawan untuk menyuarakan kebenaran, dan seterusnya.

    Kedua, Do. Setelah menemukan motivasi dari dalam diri untuk menjadi “seseorang di masa depan”, Anda harus beraksi. Dalam kamus manajemen, Do ini berkaitan erat dengan goal. Oleh karena itu, sebaiknya benar-benar cerdas alias SMART dalam mewujudkannya. SMART sendiri merupakan kependekan dari specific (spesifik/rinci), measurable (terukur/dapat dievaluasi), attainable (dapat dicapai), realistic (realistis), dan time-bound (dibatasi oleh waktu).

    Do merupakan padanan dari How alias strategi. Yaitu, apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencapai Be tadi. Jika Why haruslah jelas dari awal, maka How ini bersifat fleksibel. Dengan kata lain, Anda harus habis-habisan untuk mewujudkan ingin menjadi apa, namun cara menuju ke sana bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan. Itu bukan berarti plin-plan, akan tetapi adaptif. Sehingga, pendekatan SMART bisa sangat membantu untuk memenuhi target demi target yang Anda inginkan.

    Ketiga alias yang terakhir adalah Have. Setelah Anda memiliki tujuan yang jelas dan upaya yang gigih untuk “memantaskan diri”, Anda berhak untuk memiliki sesuatu.

    Mungkin Anda pernah mengingat pepatah bahwa hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Barangkali Anda mengamini kata orang bijak bahwa barang siapa menanam, maka ia akan memanen. Dalam resolusi, sebenarnya sama saja. Anda hanya akan memperoleh apa yang benar-benar Anda percayai untuk dicapai. Anda hanya akan menuai apa  yang benar-benar Anda mimpikan, harapkan, dan imaginasikan. Anda hanya akan memperoleh Apa yang Anda upayakan.

    Apakah Anda telah paham sepenuhnya dengan Be, Do, dan Have? Saya harap demikian.

    Yang pasti, fokuskan saja dengan hanya yang benar-benar Anda inginkan. Disiplinkah diri dengan terus beraksi untuk mencapai tujuan yang disasar. Perkara hasil akhirnya nanti bagaimana, itu bukan urusan Anda.

    Resolusi merupakan doa. Resolusi merupakan cita. Itu mengapa penting sekali untuk  hanya berpikir, berprasangka, berupaya, dan bersikap yang baik-baik saja. Jangan terlalu mengikat bathin Anda dengan hasil. Karena itu merupakan “wilayah” Tuhan.

    Jadi, masih yakinkah Anda dengan adanya hari esok? Masih percayakah Anda dengan mimpi? Masih optimiskah Anda untuk mengejar cita? Jika ya, resolusi mungkin menjadi salah satu ikhtiar untuk memantaskan diri. Selamat tahun baru 2018.

     

    Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 25 Desember 2017

  • Memaknai Panggilan Hidup

     

    Dalam dua tahun terakhir saya meneliti tentang apa yang membuat saya paling bergairah. Suatu hal yang membuat saya bertanya-tanya, penasaran, dan larut dalam kenikmatan prosesnya. Riset tersebut bertajuk The Calling Journey.

                Sejauh ini, saya telah mewawancarai lebih dari 1200 orang dari beragam latar belakang. Dari menteri hingga jenderal, dari profesor hingga seniman, dari dokter hingga pemuka agama, dari pengacara hingga anggota DPR, dari ilmuwan hingga motivator, dari karyawan hingga  pengusaha, dan seterusnya.

    Saya mencari tahu apa yang benar-benar mereka inginkan dalam hidup hingga apa yang menjadikan mereka bahagia. Saya menggali sangat dalam apa yang paling mereka cari selama di dunia hingga apa yang menjadikan mereka bisa sukses. Saya penasaran dengan titik balik hingga apa yang menjadikan mereka bermakna dalam bekerja.

    Setelah saya analisis dengan seksama, apa yang dituturkan oleh ribuan orang tersebut bermuara pada benang merah yang sama. Tidak lain ialah panggilan hidup.

    Memang tidak ada definisi baku yang diamini oleh semua pihak untuk memaknai panggilan hidup. Namun, saya sendiri menilainya sebagai sebuah power dari dalam diri setiap individu untuk bekerja sesuai dengan “panggilan” Tuhan.

    Lantas, panggilan seperti apa yang dimaksud? Yang pasti panggilan itu tak perlu dicari-cari. Hanya perlu disadari.

    Kemudian, siapa yang memanggil? Jelas saja, sang pemanggil ialah Tuhan – pencipta kita. Ia mengundang seluruh umat manusia agar bisa berkarya sesuai dengan kemauan-Nya.

    Lalu, bagaimana jika kita belum mengenali panggilan hidup diri sendiri? Tenang saja. Mungkin kita perlu berhenti sejenak. Barangkali kita hanya perlu jujur dengan diri sendiri. Bisa jadi, kita cuma butuh belajar bersabar mengenalinya.

    Tidak semua orang menyadari pentingnya panggilan hidup. Namun hampir setiap dari diri kita mengejar setengah mati apa  yang dinamakan dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Padahal jika kita mau jujur, panggilan hidup merupakan akar dari apa yang kita perjuangkan habis-habisan selama ini. Setinggi apapun mimpinya. Sebesar apapun targetnya. Siapapun orangnya.

    Di luar sana banyak orang mengira bahwa panggilan hidup haruslah sesuatu yang luar  biasa. Misalnya saja melakukan hal-hal spektakuler seperti halnya Bunda Theresa, Martin Luther King, atau Mahatma Gandhi.

    Kita sering kali terlupa bahwa setiap individu memiliki kepribadian, passion, keterampilan, hobi, minat, bakat, kekuatan, dan mimpi yang unik. Oleh karena itu, jelas saja kurang arif jika membanding-bandingkan panggilan hidup diri sendiri dengan orang lain.

    Setelah saya renungkan lagi, kunci untuk menemukan panggilan hidup ternyata sederhana saja. Ia sepadan dengan apa yang betul-betul membuat kita gelisah. Ia sebanding dengan masalah apa yang benar-benar ingin kita pecahkan – setidaknya sekali seumur hidup.

    Ingin membantu menciptakan lapangan pekerjaan? Panggilan kita berarti sebagai pengusaha. Mau mengangkat derajat pendidikan? Panggilan hidup kita berarti sebagai dosen atau guru. Berhasrat memperbaiki negeri ini secara langsung dari sistemnya? Panggilan hidup kita berarti sebagai politisi.

    Perjalanan setiap orang dalam mengenai panggilan hidup beragam. Yang pasti, ia akan datang ketika kita telah mengenali diri sendiri. Yang jelas, ia akan muncul ketika kita telah menyadari apa yang benar-benar kita bisa berikan untuk dunia lebih baik.

    Cepat atau lambat, kita harus menemukan apa yang paling bermakna dalam hidup. Sekarang atau belakangan, kita harus mengetahui apa  yang menjadi cetak biru hidup.

    Jadi, apa panggilan hidup Anda? Apa yang sesungguhnya Anda ingin capai dalam hidup? Apa hal yang pantas Anda perjuangkan? Apa yang paling berarti bagi Anda?

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 17 Desember 2017 

     

     

     

  • Filosofi Kendi, Batu dan Bola

    Masalah ialah teman kehidupan. Selama nafas masih di kandung badan, sepanjang itu pula ia akan mengiringi.

    Tiada seorang pun di dunia ini yang dapat terhindar dari masalah. Karena ia hanya akan hengkang ketika kita meninggal.

    Masalah ialah ujian. Ia menjadikan seorang individu “naik kelas” jika dapat mengatasi. Namun, di saat yang bersamaan menjatuhkan siapa saja yang kurang arif menyikapi.

    Masalah membelah manusia menjadi dua kelompok. Pertama, mereka yang memandangnya sebagai beban. Orang-orang tipe ini selalu mencari alasan, menyalahkan orang lain, meratapi keadaan, menyesali masa lalu, dan merisaukan yang belum terjadi. Merekalah sang pecundang. Kedua, mereka yang melihatnya sebagai peluang. Orang-orang di kategori ini selalu mencari solusi. Mereka berjuang mati-matian untuk mencari jalan keluar yang biasanya mampu menciptakan nilai tambah, melayani, hingga membantu orang banyak. Merekalah sang jawara.

    Menurut salah satu Guru saya, ada tiga jenis manusia di dunia ini jika dihadapkan pada masalah. Beliau menyebutnya dengan filosofi kendi, batu, dan bola.

    Pertama, filosofi kendi. Jika mendapati masalah, orang di kategori ini mengambil keputusan yang justru merugikan diri sendiri. Ibarat kendi yang dilempar ke lantai, sang kendi pastilah pecah. Mana ada kendi – yang terbuat dari tanah liat – masih bisa utuh tanpa cacat jika dibanting?

    Kedua, filosofi batu. Jika menemukan masalah, orang di kategori ini mengambil keputusan yang merugikan orang lain. Ibarat batu yang dilempar ke kaca, sang kaca pastilah pecah. Apa guna dilahirkan di dunia jika terus menjadi “duri” bagi sesama?

    Ketiga, filosofi bola. Jika menghadapi masalah, orang di kategori ini justru bangkit lagi. Ibarat bola (karet) yang dilempar ke lantai, sang bola tidaklah pecah. Tidak pula  merusak lantai. Ia jatuh sebentar, tapi justru naik lagi hingga beberapa kali.

    Nah, itulah filosofi kendi, batu, dan bola. Metafora sederhana yang menyadarkan kita untuk terus-menerus menjadi bola. Sebuah benda yang tahan banting. Sebuah barang lentur yang menjadi kesukaan orang di semua usia.

    Memang, kita sering kali menjadi kendi. Yang makin terpuruk ketika dirundung masalah. Atau menjadi batu yang merugikan saudara-saudara kita yang sejatinya tidak bersalah.

    Namun, masalah hakikatnya netral. Persepsi kitalah yang menjadikannya sebagai ancaman hingga beban. Persepsi kita pula yang menilainya sebagai tantangan hingga peluang. Itu mengapa siapapun boleh dihadapkan pada masalah yang sama. Hanya pola pikirlah yang membuatnya menyikapi secara berbeda.

    Pada akhirnya, cepat atau lambat, kita akan tersadar. Bahwa hidup adalah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, kita harus tahu siapa diri kita. Untuk apa kita ada, kemana kita ingin pergi, dan mengapa kita ingin sampai di sana.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 18 Desember 2017 

  • Menyikapi Masa Depan

     

              Sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar (atau mungkin di Taman Kanak-Kanak), guru senantiasa bertanya,” nak nanti kalau sudah gede mau jadi apa?”. Sontak satu kelas pun jawabannya berbeda. Dokter, pilot, polisi, penyanyi, dan guru barangkali di antara jawaban yang paling populer. Memasuki tingkat Sekolah Menengah Atas, pertanyaan yang sama makin heboh untuk disikapi. Namun, di fase ini kebanyakan sudah mulai realistis dengan pilihannya. Oleh karenanya, tidak sedikit yang sudah mantap dengan jurusan perkuliahan, mau kerja di bidang apa dan seterusnya.

    Di pekan-pekan awal perkuliahan, setiap mahasiswa baru lazimnya ditanya oleh dosen mengenai motivasi mengambil jurusan tertentu. Sontak satu kelas memiliki jawaban yang beraneka. Anak FK sudah pasti ingin menjadi dokter, anak FISIP banyak yang ingin jadi negarawan atau aktivis sosial, anak FIB banyak yang bermimpi sebagai sastrawan, anak FIKOM sebagian besar ingin bergelut di bidang media atau kehumasan, anak FEB sebagian besar ingin menjadi pengusaha atau bekerja di perusahaan multinasional. Dan sebagainya.

    Lima tahun setelah lulus dari perkuliahan, jika ditanya mengenai cita-cita mungkin jawabannya akan mengagetkan. Ada anak FK yang mantap menjadi pengusaha lantaran bisa memperkerjakan banyak orang, ada jebolan jurusan pariwisata yang “tersesat” di bidang kehumasan, ada anak FISIP yang menikmati hari-harinya sebagai bankir, banyak pula yang masih gelisah dengan pilihan karirnya. Yang perlu digarisbawahi, di fase ini mimpi kita di waktu kecil atau di masa perkuliahan sedang diuji. Seberapa besar idealisme kita “bersahabat” dengan pragmatisme, seberapa kuat tekad kita mengejar cita di tengah masalah yang terus mendera, seberapa tinggi keshalehan sosial kita untuk mengiringi ego yang membuncah, atau seberapa yakin diri kita memandang masa depan?

    Masa depan. Ya, kata ini paling sering disebut-sebut oleh pengejar mimpi di tingkatan manapun. Demi masa depan, banyak orang habis-habisan harta untuk dapat sekolah. Sebagian ada yang rela menggadaikan keimanannya. Sebagian yang lain tega mengkhianati teman dan keluarganya. Tidak sedikit juga yang masih berada di rel nan lurus. Yang membedakan adalah bagaimana mereka menyikapinya.

    Di sekeliling kita, ada begitu banyak pelajaran dari orang-orang dalam menyikapi masa depan. Ada yang berani pergi ke dukun untuk mencari pesugihan. Ada yang bekerja 18 jam perhari untuk memenuhi target penjualan. Ada yang hanya tidur empat jam perhari untuk menjadi orang paling ahli di satu bidang. Sebagaian rela menggemplang uang negara demi perut keluarga. Sebagian yang lainnya hanya mengikuti arus lantaran takut mengambil resiko.

    Di manapun, memang ada saja orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih cita. Tapi, masih ada banyak orang yang mengejar mimpi masa depan dengan cara-cara terpuji: bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, bekerja tuntas, dan bekerja dengan totalitas.

    Saya jadi teringat pesan Pak John M. Richardson Jr. “When it comes to the future, there are three kinds of people: those who let it happen, those who make it happen, and those who wonder what happened.”

    Di antara tiga tipe di atas, masuk di kategori manakah Anda?

    Semoga saya dan Anda sekalian berada pada sisi yang (seharusnya) benar. Menyikapi masa depan dengan mimpi, keyakinan dan berusaha mewujudkan (atau menciptakannya). Karena masa depan Anda ditentukan dari apa yang kita lakukan sekarang.

     

    *) Artikel ini dimuat di Intipesan, 28 Oktober 2017 

  • Anda Ingin Menjadi Sebaik Apa?

     

    Baru-baru ini saya beranjangsana di kediaman Vishnu (bukan  nama sebenarnya). Beliau merupakan salah satu pangarang papan atas di Asia. Karya-karyanya menghiasi daftar buku terlaris di kawasan ini.

    Seperti biasa, pertemuan diawali dengan berbasa-basi. Mengenal satu sama lain. Latar belakang pendidikan, pekerjaan, bisnis, hobi, rumah tangga, hingga bagaimana memandang kehidupan.

    Sebagai Gen Y yang masih haus dengan pengalaman, pertemuan seperti ini jelas tidak saya sia-siakan begitu saja. Terlebih lagi, tidak mudah mendapatkan slot wawancara untuk orang sekaliber Vishnu yang setiap saat “mondar-mandir” di bandara. Salah satu pertanda betapa tingginya mobilitas pria itu.

    Jika disarikan, sebenarnya ada berderet pesan moral yang disampaikannya. Namun, dari seabrek itu ada satu yang paling berkesan bagi saya. Tidak lain, tidak bukan ialah pertanyaan, “anda ingin menjadi sebaik apa”.

    Jujur, pertanyaan tersebut benar-benar menampar hati saya. Sederhana tapi begitu mendalam maknanya. Mungkin juga berlaku bagi Anda.

    Sering kali kita memiliki angan-angan besar. Acap kali kita didorong lingkungan untuk bermimpi setinggi-tingginya. Tidak jarang kita mendapatkan “tekanan sosial” untuk mencapai target-target tertentu. Sudah terbiasa kita mematok diri sendiri untuk melakukan X, memiliki Y, dan menduduki Z.

                Pertanyaan saya sekarang ialah, “anda ingin menjadi sebaik apa?” Sah-sah saja menetapkan mimpi, tujuan atau target. Tapi, apakah kita siap membayar harganya? Mudah saja berangan-angan, tapi apakah kita berkomitmen untuk mewujudkannya?

    Target hanyalah target jika kita hanya diam. Mimpi hanyalah mimpi jika kita bermalas-masalan. Tujuan hanya tujuan jika kita tidak melakukan apa-apa.

    Sebagian besar orang sebenarnya sudah berupaya untuk mewujudkan mimpi, tujuan, dan target hidupnya. Tapi tidak semua berhasil mereguknya. Di mana kesalahannya?

    Sangat mudah dijawab. Biang keladinya bernama “standar” atau “batas toleransi” yang kita buat sendiri di alam pikiran.

    Misalnya nih. Steve ingin menjadi Salesman dengan penghasilan minimal 1 Miliar perbulan. Untuk mencapai itu, setidaknya ia harus melakukan cold calling kepada 100 orang perhari dan bertatap muka langsung kepada 20 orang. Setiap saat, ia mendapati masalah yang mengancam targetnya. Entah karena faktor cuaca, prospek yang “kurang berpihak”, kemacetan jalan, kesehatan, kecapekan, hingga mood yang fluktuatif.

    Jika Steve memang benar ingin menjadi orang yang keren, sudah selayaknya ia membayar “harga” untuk mendapatkan minimal 1 M perbulan. Namun, setinggi apa Steve memberikan toleransi kepada dirinya jika faktor-faktor eksternal yang menghambat datang kepadanya? Di titik itulah motivasi sesorang diuji. Apakah ia benar-benar memiliki “panggilan” untuk do something atau sebaliknya.

    Contoh yang paling mudah juga berlaku di bidang politik. Katakanlah Anda saat ini sudah berhasil menjadi walikota di daerah Anda. Jika ambisi Anda besar, bukan tidak mungkin Anda akan mengejar posisi yang lebih tinggi seperti gubernur, menteri, hingga presiden. Jika Anda cukup berpuas diri dengan menjadi walikota, itulah yang menjadi “batas” atau “toleransi” yang Anda ciptakan di alam pikiran sendiri. Itulah ukuran keberhasilan yang Anda patok sendiri. Itulah target, tujuan, atau mimpi versi Anda.

    Bagi sebagian orang, menjadi walikota bisa jadi sudah membuat hati merinding karena kagum. Bagi sebagian lainnya, bisa jadi belumlah apa-apa. Nah, itulah artinya target, tujuan, atau mimpi yang bermuara pada pikiran. Satu hal yang bersumber pada pertanyaan, “anda ingin menjadi sebaik apa?”

    Semoga apa yang disampaikan Vishnu menjadi pelajaran bagi kita semua. Sukses atau gagal bagi setiap orang itu relatif. Besar atau kecilnya mimpi bagi setiap individu itu subyektif. Semua kembali kepada hati nurani Anda. Anda ingin menjadi sebaik apa?

     

    Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 7 September 2017. 

  • Mengapa Kebahagiaan Tak Kunjung Diraih?

    Semua orang mungkin mengamini bahwasannya hidup ini hanya sekali.Dari tunawisma di kolong jembatan, Wakil Rakyat di Senayan, tukang loak di pasar tradisional, artis yang tiap hari mondar-mandir di layarkaca, da’i sejuta ummat, hingga tentu Anda sendiri. Oleh karenanya, setiap orang berlomba-lomba untuk mengejar mimpi sesuai kadar masing-masing.

    Mimpi seperti apa yang dikejar orang kebanyakan? Yang pasti, jawabannya akan relatif. Namun, jika boleh saya sarikan ada tiga hal besar. Ada yang mengejar ketiga hal sekaligus, ada yang dua diantaranya, ada juga yang hanya berkutat di satu hal.

    Pertama, pemburu harta benda. Secara naluriah, manusia digariskan untuk bekerja. Dengan bekerja, ia dapat menghasilkan pundi-pundi Rupiah yang digunakannya memenuhi segala macam kebutuhan. Baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kebugaran, rekreasi, dantakterhingga. Sayangnya, manusia memang memiliki kesamaan dengan binatang. Bersifat rakus, selalu merasa kurang, tidak pernah merasa puas, dan seringkali abai dengan moralitas. Apa contohnya? Lihat saja ratusan birokrat yang terjerumus kasus korupsi, pengusaha yang berani menggemplang pajak, orang-orang yang mencari ‘pesugihan’ untuk mereguk kekayaan dengan jalan pintas, atau maraknya perjudian.

    Kedua, pencari ketenaran. Kebutuhan untuk diakui, dikenal, dipuji, atau dielu-elukan merupakan hal lain yang dikejar orang. Biasanya ini dilalui jika hal pertama terpenuhi. Namun, sebagian kecil lainnya memang mengejar yang pertama dengan cara ini. Tengoklah di berbagai liputan media. Berapa ribu peserta setiap diadakan kontes Peagants, ajang pencarian bakat, atau perlombaan apa saja yang dilakukan media. Di sisi lain, berapa banyak politisi, pengusaha, atau tokoh masyarakat yang menggunakan segala cara untuk meningkatkan pamor. Tidak sedikit yang rela mengeluarkan uang untuk mendongkrak publisitas.Tidak ada bedanya dengan mengiklankan produk atau jasa.Semuanya berlomba-lomba untuk menunjukkan kehebatan, memperlihatkan prestasi yang diraih, atau mensyiarkan kebaikan yang pernah dilakukan.

    Ketiga, pejuang kekuasaan. Hal ini dikejar jika yang pertama atau kedua telah digaet. Sebagian kecil fokus mengejarnya sejak kecil kendati hal pertama dan kedua tak terpikirkan. Contohnya mudah ditemui. Pengusaha yang masuk politik untuk melanggengkan imperium bisnisnya, public figure yang dipinang partai politik untuk memenangkan perolehan suara, aktivis sosial yang tergoda duduk dengan jabatan DPRD hingga DPR RI, dan sebagainya. Memang ada sih yang berpolitik secara idealis untuk memperjuangkan misi mulia. Namun sayangnya kebanyakan masih terbatas memenuhi syahwat kekuasaan yang bergelora.

    Untuk mencapai tiga hal di atas dengan patokan “sukses” di mata kebanyakan orang tidaklah mudah. Ada harga mahal yang harus dibayar.Mulai dari sulitnya waktu berkumpul dengan keluarga, jam tidur yang berantakan, kebugaran tubuh yang tergadaikan, percekcokan dengan kolega, atau kesalah pahaman orang-orang terdekat dengan sepak terjangnya. Akibatnya, hidup dipenuhi ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan keraguan yang tak berkesudahan.

    Sebenarnya, sebagian besar orang mengejar tiga hal di atas untuk mencapai kebahagiaan. Sayangnya, pengendalian emosi yang kurang baik justru semakin menjauhkannya. Ada orang yang berpikir harus kaya dulu sebelum bahagia, menjadikan ketenaran sebagai syarat bahagia, dan berkuasa baruba hagia. Masalahnya, ketiga hal di atas bukan penjamin kebahagiaan.

    Lantas, apakah mengejar harta benda, ketenaran, dan kekuasaan salah?Samas ekali tidak selama niatnya benar. Misalnya memburu harta benda agar bisa berderma lebih banyak, mengejar ketenaran supaya jalan hidupnya menjadi inspirasi, mengejar kedudukan untuk memperjuangkan misi kemanusiaan nan hakiki.

    Banyak orang tidak mengerti mengapa kebahagiaan yang dikejar tak kunjung diraih. Biasanya watak ‘keakuan’ atau ego yang mendominasi setiap gerak langkahnya. Jika tidak, mereka gagal mengendalikan keinginan yang tak berkesudahan. Akibatnya, ketidaktenangan batin atau kecemasan dalam hati sulit sulit keluar dari diri. Dengan demikian, apa resep untuk mereguk kebahagiaan? Sederhana sekali. Dalam memperjuangkan apapun, tanggalkan keakuan dan keinginan. Niatkan segala langkah untuk menebarkan manfaat kepada sesama, menciptakan nilai tambah, dan mengabdi kepadaTuhan.

    Dalam kamus falsafah Jawa, fenomena di atas disepadankan dengan peribahasa “mburu uceng kelangan deleg”. Uceng adalah salah satu jenis ikan berukuran kecil yang mudah ditemui di sungai-sungai di pedesaan Jawa. Adapun deleg adalah ikan berukuran besar yang biasanya dikenal dengan nama gabus. Uceng merupakan gambaran nikmat pemberian Tuhan yang besarnya hanya sepucuk jarum akan tetapi dikejar setiap waktu dengan pengerahan segala tenaga, pikiran, biaya dan upaya. Akan tetapi deleg, gambaran dari simbol Tuhan atau keagamaan terlupakan.

    Lantas, apa arti yang tersirat?  Kira-kira maknanya ialah jangan hanya mengejar hal-hal sekunder dengan melupakan hal primer. Sering kali kita memang berjuang habis-habisan untuk mengejar tiga hal di atas akan tetapi acuh dengan hal-hal yang sejatinya lebih penting seperti mengamalkan ajaran agama, mendidik anak, bersilaturrahmi, berderma, atau mengupayakan misi yang berdampak untuk orang banyak.

    Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan. Jika yang dikejar adalah kebahagiaan, memang sudah fitrahnya kita menyadari bahwa kenikmatan duniawi yang digambarkan “uceng”sebaiknya tidak melupakan kita kepada “deleg” yaitu Tuhan. Memang tidak mudah untuk memprioritaskan dan menyeimbangkan pengejaran uceng atau deleg. Tapi jika ada niat yang kuat, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat mengejar (dan menikmati) kebahagiaan.

     

    Dimuat pertama kali di Inti Pesan, 30 Agustus 2017