Suatu sore, aku duduk di ruang tunggu kantor sebuah perusahaan yang omzetnya delapan digit dolar. Aku ke sana untuk bertemu CEO-nya. Sambil menunggu, iseng aku buka LinkedIn perusahaan itu. Lalu aku cari nama sang CEO.
Hasilnya kosong. Bukan kosong dalam arti tidak ada akun — akunnya ada. Tapi isinya foto profil dari lima tahun lalu, dan postingan terakhir soal “Selamat Hari Kemerdekaan” tahun sebelumnya.
Aku duduk di sana sambil mikir, “Perusahaan ini triliunan rupiah nilainya. Tapi orang yang memimpinnya, di ruang publik paling ramai untuk kalangan profesional dunia, nyaris tidak eksis.”
Bayangkan sebuah mercusuar — bangunannya kokoh, terlihat gagah dari kejauhan, tapi lampunya mati. Kapal-kapal tetap bisa melihat siluetnya di siang hari. Tapi begitu malam turun, saat kapal-kapal justru paling butuh arah, mercusuar itu menghilang dari pandangan.
Banyak eksekutif seperti itu. Perusahaannya kokoh. Reputasinya, di kalangan internal, luar biasa. Tapi begitu dunia luar mencari arah — mencari sosok yang bisa dipercaya, dikutip, diajak diskusi — lampunya mati. Yang terlihat cuma logo perusahaan, tanpa wajah manusia di baliknya.
Dan di dunia yang makin haus akan “siapa orangnya, bukan cuma apa perusahaannya,” itu mahal harganya.
Orang Tidak Percaya Perusahaan. Orang Percaya Orang.
Konten yang dibagikan oleh individu — bukan akun perusahaan — mendapat jangkauan dan kepercayaan jauh lebih besar. LinkedIn sendiri berulang kali menegaskan bahwa algoritmanya memprioritaskan suara manusia di atas suara institusi.
Logikanya sederhana. Orang tidak follow “PT Maju Bersama”. Orang follow direktur yang berbagi cara berpikirnya, cara dia menghadapi krisis, atau jurus jitunya dalam membaca arah industri.
Kalau CEO diam, perusahaan kehilangan suara paling kuat yang sebenarnya dia punya — bukan produk, bukan iklan, tapi manusia yang memimpinnya.
LinkedIn Bukan Ruang Personal Branding. Ini Ruang Kepemimpinan Publik
Banyak eksekutif menghindari LinkedIn karena menganggapnya “ranah personal branding” — sesuatu yang terasa vain, terlalu tentang diri sendiri, tidak sesuai dengan posisi mereka yang seharusnya bicara lewat hasil kerja, bukan lewat postingan.
Tapi coba lihat dari sudut lain. Setiap kali seorang pemimpin naik podium konferensi, memberi kata sambutan di acara resmi, atau diwawancarai media — itu bukan personal branding. Itu kepemimpinan publik. LinkedIn hari ini adalah podium itu, hanya saja bentuknya digital dan available 24 jam.
Menolak tampil di LinkedIn sebagai C-level bukan berarti rendah hati. Itu berarti membiarkan podium paling besar di industri Anda dipegang oleh orang lain — kompetitor Anda, misalnya, yang justru rajin bicara di sana.
Bandingkan dua CEO di industri yang sama, ukuran perusahaan mirip. CEO pertama aktif menulis satu-dua kali seminggu — bukan tentang produk, tapi tentang cara dia mengambil keputusan sulit, pelajaran dari kegagalan proyek, atau pandangannya soal arah industri lima tahun ke depan.
CEO kedua nyaris tidak pernah muncul. Perusahaannya justru lebih besar dari kompetitornya itu.
Dalam dua tahun, siapa yang lebih sering diundang jadi pembicara? Siapa yang namanya muncul duluan saat media mencari narasumber untuk isu industri? Siapa yang talent terbaik ingin bekerja untuknya, bahkan sebelum tahu ada lowongan?
Jawabannya bukan yang perusahaannya lebih besar. Jawabannya yang suaranya lebih sering terdengar.
Dan yang menarik — begitu CEO pertama makin dikenal, perusahaannya ikut menyala. Karena orang yang tadinya cuma follow dia sebagai individu, mulai penasaran: perusahaan macam apa yang dipimpin orang seperti ini?
Ini Soal Berani Terlihat Manusiawi
Titik baliknya bukan di frekuensi posting. Titik baliknya di keberanian untuk terlihat manusiawi — mengakui keputusan yang ternyata salah, membagikan proses berpikir yang belum sempurna, menunjukkan bahwa di balik jabatan besar, ada manusia yang juga terus belajar.
Ironisnya, justru kerentanan itulah yang membuat kepemimpinan terasa lebih kuat, bukan lebih lemah. Orang tidak percaya pemimpin yang terlihat sempurna. Orang percaya pemimpin yang jujur soal prosesnya.
Kalau lampu mercusuar Anda mati, kapal-kapal akan tetap berlayar. Hanya saja, mereka akan mengikuti cahaya lain.
Mau memastikan lampu Anda — dan perusahaan Anda — tetap menyala di LinkedIn?
Baca ebook LinkedIn Hacks atau, kalau Anda ingin pendampingan langsung dan strategi yang disesuaikan dengan posisi Anda sebagai pemimpin, daftar Private Mentoring sekarang.
Leave a Reply