Suatu sore, aku duduk di ruang tunggu kantor sebuah perusahaan yang omzetnya delapan digit dolar. Aku ke sana untuk bertemu CEO-nya. Sambil menunggu, iseng aku buka LinkedIn perusahaan itu. Lalu aku cari nama sang CEO.
Hasilnya kosong. Bukan kosong dalam arti tidak ada akun — akunnya ada. Tapi isinya foto profil dari lima tahun lalu, dan postingan terakhir soal “Selamat Hari Kemerdekaan” tahun sebelumnya.
Aku duduk di sana sambil mikir, “Perusahaan ini triliunan rupiah nilainya. Tapi orang yang memimpinnya, di ruang publik paling ramai untuk kalangan profesional dunia, nyaris tidak eksis.”