Saya masih ingat malam itu dengan sangat jelas. Jam sepuluh malam, laptop masih menyala, dan saya mengetik pesan panjang ke salah satu anggota tim saya — nadanya sopan di permukaan, tapi kalau jujur, isinya penuh kekesalan yang saya bungkus rapi dengan kata-kata profesional.

Dalam hati saya berkata, “Kenapa sih dia selalu lambat merespons? Kenapa saya harus terus-menerus mendorong dia untuk kerja lebih baik?”

Saya merasa benar. Saya merasa sudah menjadi pemimpin yang sabar dan  sudah berusaha maksimal menghadapi orang yang “kurang inisiatif”. Saya bahkan sempat cerita ke teman dekat, mengeluh betapa capeknya menjadi atasan yang harus terus mendorong orang lain.

Tapi ada satu hal kecil yang mengganjal. Saya tidak pernah benar-benar bertanya, “Jangan-jangan, masalahnya bukan di dia. Jangan-jangan, masalahnya ada di cara saya melihat dia?”

Butuh waktu bertahun-tahun, dan satu buku tipis berjudul Leadership and Self-Deception dari The Arbinger Institute, untuk akhirnya membuat saya berhenti dan bertanya sejujur-jujurnya pada diri sendiri.

Bayangkan Anda sedang menyetir mobil di jalan tol, dan kaca spion Anda tertutup lumpur tebal. Anda tidak bisa melihat apa yang ada di belakang dengan jelas. Setiap kali ada mobil yang mepet atau menyalip mendadak, Anda langsung menyalahkan pengemudi itu — “ugal-ugalan banget sih!” Anda tidak pernah berpikir bahwa mungkin, sebagian masalahnya ada pada kaca spion Anda sendiri yang kotor, yang membuat Anda tidak bisa melihat situasi dengan utuh.

Self-deception itu persis seperti kaca spion berlumpur itu. Bedanya, yang berlumpur adalah cara kita memandang orang lain. Dan yang paling mengerikan: orang yang matanya berlumpur biasanya tidak tahu bahwa dia sedang tidak bisa melihat dengan jernih. Dia justru merasa dirinya yang paling waras di jalan itu.

Leadership and Self-Deception mulai membongkar sesuatu yang selama ini saya anggap remeh bahwa masalah terbesar dalam kepemimpinan adalah soal apakah kita sedang “melihat” orang lain sebagai manusia, atau sekadar sebagai objek yang menghambat rencana kita.

Mengenal “Kotak” (Penjara) yang Kita Bangun Sendiri

The Arbinger Institute memperkenalkan konsep yang mereka sebut “the box”. Ini adalah kondisi mental ketika kita berhenti melihat orang lain sebagai pribadi dengan kebutuhan, ketakutan, dan harapan yang sama sahihnya dengan kita — dan mulai melihat mereka sebagai:

  • Kendaraan, alat untuk mencapai tujuan kita
  • Penghalang, yang menghambat rencana kita
  • Tidak relevan, yang keberadaannya tidak penting sama sekali

Ketika kita “di dalam kotak”, kita menjadi buta terhadap kontribusi kita sendiri pada masalah yang terjadi. Kita hanya bisa melihat kesalahan orang lain, dan diam-diam mengumpulkan “bukti” untuk membenarkan penilaian negatif kita tadi. Semakin banyak bukti yang kita kumpulkan, semakin kita yakin bahwa kitalah pihak yang benar — dan justifikasi itu membuat kita makin sulit keluar dari kotak.

Ironisnya, semakin keras kita berusaha “memperbaiki” orang lain selagi kita masih di dalam kotak, situasi biasanya malah makin buruk. Karena yang kita perbaiki bukan hubungannya, melainkan hanya memperkuat cara kita membenarkan diri sendiri.

Cerita yang Membuat Saya Terdiam

Salah satu bagian paling menohok dari buku ini adalah kisah tentang seorang eksekutif bernama Bud, yang menceritakan pengalamannya sebagai ayah baru. Suatu malam, bayinya menangis. Ia terbangun, dan sempat berpikir untuk bangun menenangkan si bayi — tapi kemudian ia berpikir, “Ah, istri saya pasti lebih sigap menanganinya,” lalu ia pura-pura tidur.

Yang menarik bukan tindakannya semata, tapi apa yang terjadi setelahnya di dalam kepalanya. Begitu ia mengabaikan dorongan hati kecilnya untuk membantu — itulah yang disebut Arbinger sebagai self-betrayal, pengkhianatan terhadap perasaan sendiri tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk orang lain. Dan begitu self-betrayal terjadi, otak kita otomatis mulai bekerja lembur menciptakan alasan pembenaran: “Istri saya memang lebih cocok mengurus bayi”, “Saya kan sudah kerja seharian, wajar istirahat”, bahkan sampai mulai mencari-cari kesalahan kecil pada istrinya untuk memperkuat argumen bahwa dirinya tidak salah.

Padahal, tidak ada yang berubah dari kenyataan di ruangan itu. Bayi tetap menangis, istri tetap kelelahan. Yang berubah hanyalah cara Bud melihat situasi itu — dari mata yang jernih menjadi mata yang berlumpur, demi melindungi egonya sendiri.

Saya membaca bagian ini sambil menahan napas, karena saya langsung teringat malam saat saya marah-marah dalam hati pada anggota tim saya. Jangan-jangan, jauh sebelum dia “gagal” memenuhi ekspektasi saya, saya sudah lebih dulu mengabaikan sesuatu — mungkin tidak memberi konteks yang jelas, mungkin tidak benar-benar mendengarkan kesulitannya minggu itu. Dan begitu saya mengabaikan itu, saya mulai sibuk mengumpulkan “bukti” bahwa dialah yang bermasalah, bukan saya.

Kotak Bertemu Kotak

Bagian yang membuat saya makin merinding adalah konsep collusion — ketika dua orang yang sama-sama “di dalam kotak” saling memicu perilaku terburuk satu sama lain.

Anda defensif, saya menjadi makin curiga. Saya makin curiga, Anda jadi makin defensif.

Lingkaran setan ini bisa berlangsung bertahun-tahun, di rumah tangga, di tim kerja, bahkan di skala organisasi besar — dan yang paling menyedihkan, kedua pihak sama-sama merasa dirinya korban.

Inilah alasan kenapa banyak konflik di kantor terasa begitu familiar, seperti déjà vu. Karena memang polanya berulang: dua orang yang sama-sama tidak melihat kontribusinya sendiri, saling menyalahkan, dan makin lama makin yakin bahwa merekalah yang paling teraniaya.

Anda tidak bisa mengubah perilaku orang lain selama Anda masih memandang mereka sebagai objek.

Sehebat apa pun teknik komunikasi Anda, secanggih apa pun strategi motivasi tim yang Anda pelajari, semua itu akan gagal selama secara mendasar Anda masih melihat orang di depan Anda sebagai penghalang, bukan sebagai manusia.

Dengan kata lain: masalah kepemimpinan yang selama ini kita coba selesaikan dengan skill baru, sering kali sebenarnya adalah masalah cara pandang yang belum pernah kita sadari.

Keluarlah dari Kotak, Sekecil Apa Pun Langkahnya

Kabar baiknya, buku ini tidak berhenti di titik menyalahkan diri sendiri. The Arbinger Institute menegaskan bahwa cara keluar dari kotak adalah dengan jujur mengakui: “Saya sedang tidak melihat orang ini secara utuh. Saya sedang membenarkan diri saya sendiri.” Kesadaran sejujur itu, sekecil apa pun, sudah cukup untuk mulai membuka kembali kaca spion yang berlumpur tadi.

Sejak membaca buku ini, saya mulai punya kebiasaan kecil.

Setiap kali saya merasa sangat yakin bahwa “orang ini yang salah, saya benar”, saya berhenti sejenak dan bertanya, “Kotak apa yang sedang saya tempati sekarang?”

Pertanyaan sederhana ini, anehnya, sering langsung meredakan amarah yang tadinya terasa begitu sah.

Kepemimpinan Dimulai dari Kejujuran pada Diri Sendiri

Pada akhirnya, Leadership and Self-Deception mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi berat untuk dijalankan: kepemimpinan sejati tidak dimulai dari seberapa pintar kita membaca orang lain, tapi seberapa jujur kita membaca diri sendiri.

Mungkin, pertanyaan terpenting yang bisa kita tanyakan hari ini bukan “kenapa dia begitu menyebalkan”, tapi “kaca spion mana dalam diri saya yang sedang berlumpur, dan sudah berapa lama saya membiarkannya begitu?”


Nah, bagaimana dengan diri Anda? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:

Jika Anda ingin mengubah pemikiran, pengalaman, keahlian, atau ide Anda menjadi buku — DM saya.

Ingin gabung komunitas yang saya bangun? 

Boleh. Berikut ya.

Linkedin Hacks Academy
LinkedIn Book Club
LinkedIn Career Club
Indonesia Writers Club
Indonesia Freelancers Club

#LeadershipAndSelfDeception #ArbingerInstitute #KepemimpinanOtentik #SelfAwareness #GrowthMindset #LinkedInHacks #LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *