Saya mau cerita sesuatu yang mungkin kedengarannya aneh untuk dibahas di LinkedIn.
Bukan studi kasus dari Steve Jobs. Bukan juga dari Elon Musk atau para founder startup unicorn yang biasa dijadikan rujukan personal branding.
Saya mau ajak Anda melihat ke dalam negeri sendiri. Ke seorang laki-laki kelahiran Solo yang dulunya cuma dikenal sebagai penjual mebel, lalu sepuluh tahun kemudian namanya sudah tercatat dalam sejarah sebagai Presiden Republik Indonesia—dua periode berturut-turut.
Ya, saya sedang bicara tentang Joko Widodo. Atau yang lebih akrab kita panggil: Jokowi.
Yang ingin saya ajak lihat bersama adalah satu hal yang lebih sempit tapi menarik: bagaimana seorang pengusaha mebel “berwajah ndeso” dan kelihatan “plonga-plongo” dari kota kecil bisa membangun identitas yang begitu kuat, konsisten, dan mudah diingat—sampai bertahan dari panggung kota, panggung provinsi, hingga panggung nasional.
Karena kalau kita mau jujur, apa yang beliau lakukan—sadar atau tidak—adalah salah satu contoh personal branding paling efektif yang pernah kita saksikan di Indonesia.
Dari Kalilarangan ke Istana: Jalan yang Nggak Linear
Coba kita runut sebentar perjalanannya.
Jokowi lahir dari keluarga sederhana di Solo. Bukan dari keluarga politisi, keluarga tentara, ataupun keluarga pengusaha besar. Ia menyelesaikan pendidikan kehutanan di UGM, lalu menekuni bisnis mebel—industri yang jauh dari hingar-bingar panggung publik.
Tahun 2005, ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Surakarta. Menang. Selama menjabat, ia dikenal dengan gaya blusukan—turun langsung ke pasar, ke permukiman kumuh, ke tempat-tempat yang jarang disentuh pejabat. Salah satu pencapaian yang paling sering disebut adalah caranya merelokasi pedagang kaki lima di kawasan Taman Banjarsari tanpa kerusuhan, sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil dilakukan tanpa gesekan.
Nama itu kemudian menarik perhatian tokoh nasional. Ia disarankan maju ke kontestasi yang jauh lebih besar: Gubernur DKI Jakarta. Tahun 2012, bersama Basuki Tjahaja Purnama, ia berhasil mengalahkan petahana. Gaya yang sama ia bawa—turun ke lapangan, dekat dengan warga, tampil sederhana di tengah panggung ibu kota yang biasanya penuh gengsi dan seremoni.
Belum genap dua tahun menjabat gubernur, PDI Perjuangan mencalonkannya sebagai presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla. Tahun 2014, ia menang. Tahun 2019, ia kembali maju berpasangan dengan Ma’ruf Amin, dan kembali terpilih untuk periode kedua hingga 2024.
Dari mebel ke Loji Gandung, dari Loji Gandung ke Balai Kota DKI, dari Balai Kota DKI ke Istana Negara. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun.
Ini bukan cerita tentang keberuntungan semata. Ada pola yang berulang di setiap panggung yang ia naiki—dan pola itulah yang layak kita bedah.
Satu Identitas, Banyak Panggung
Dalam buku Personal Branding, Kunci Kesuksesan di Dunia Politik karya Dewi Haroen, disebutkan bahwa branding di dunia politik butuh waktu yang relatif panjang untuk terbentuk secara alami. Namun ada pengecualian menarik: seorang tokoh bisa membangun brand jauh lebih cepat kalau ia punya satu metode atau ciri khas yang konsisten dan mudah dikenali publik—dan blusukan disebut sebagai salah satu contoh paling nyata dari percepatan itu.
Yang menarik dari perjalanan Jokowi bukan cuma soal blusukannya sebagai taktik komunikasi. Yang lebih penting adalah konsistensinya. Karakter yang ia tunjukkan sebagai Wali Kota Solo—sederhana, dekat dengan rakyat kecil, turun langsung tanpa banyak protokol—adalah karakter yang sama persis yang ia bawa saat jadi Gubernur DKI, dan karakter yang sama pula yang ia bawa saat jadi Presiden.
Ia tidak mengganti identitas setiap kali naik panggung yang lebih besar. Ia tidak tiba-tiba jadi sosok yang berbeda begitu duduk di kursi yang lebih tinggi.
Ini poin yang sering dilupakan orang saat bicara personal branding. Banyak yang mengira personal branding itu soal “tampil beda” atau “menciptakan citra baru” setiap kali naik level. Padahal yang justru membuat brand kuat adalah sebaliknya: satu identitas yang sama, dibawa konsisten ke panggung yang berbeda-beda, sampai identitas itu jadi begitu melekat sehingga orang bisa mengenalinya bahkan tanpa melihat jabatannya.
Tapi Mari Kita Jujur Juga
Saya nggak mau cerita ini terdengar seperti pemujaan buta, karena itu bukan tujuan tulisan ini.
Ben Bland, peneliti dari Lowy Institute, menulis buku berjudul Man of Contradictions yang mengulas fenomena Jokowi secara lebih kritis. Salah satu tesis utamanya: kesuksesan Jokowi memang banyak ditopang gaya kepemimpinan yang dekat dengan rakyat kecil, tapi di sisi lain perjalanannya juga diwarnai kontradiksi—mulai dari kebijakan yang dianggap melemahkan lembaga antikorupsi, hingga tudingan politik dinasti seiring majunya anggota keluarganya ke kontestasi politik.
Saya sengaja menyertakan catatan ini karena penting untuk memisahkan dua hal: keberhasilan seseorang membangun personal brand yang kuat, dengan penilaian kita terhadap seluruh rekam jejak kebijakannya. Dua hal itu bisa dibahas terpisah, dan keduanya sah-sah saja diperdebatkan.
Tulisan ini murni membedah yang pertama—bagaimana sebuah identitas dibangun dan dijaga konsisten—bukan mengajak Anda menilai yang kedua.
Justru dari situ pelajarannya makin jelas: personal branding yang kuat bisa membuat orang percaya pada sosok Anda, tapi ia tidak menggantikan tanggung jawab dan hasil kerja yang sesungguhnya.
Brand membuka pintu. Substansi yang membuat orang betah di dalamnya.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Pakai di LinkedIn?
Nah, ini bagian yang paling saya suka bahas. Karena pola yang sama persis ini—bukan taktiknya, tapi prinsipnya—bisa kita pakai untuk membangun personal branding di LinkedIn, sekecil apa pun panggung kita saat ini.
1. Temukan “blusukan” versi Anda. Blusukan itu inti nya cuma satu: menunjukkan diri secara langsung, bukan lewat lapisan pencitraan. Di LinkedIn, versi Anda bisa berupa berbagi proses kerja apa adanya—bukan cuma hasil akhir yang sudah dipoles. Kalau Anda seorang desainer, tunjukkan revisi ke-7 sebelum desain final disetujui klien. Kalau Anda seorang manajer, tunjukkan bagaimana Anda menyelesaikan konflik tim, bukan cuma foto tim yang sedang tersenyum di acara gathering.
2. Bawa satu identitas yang sama, meski panggungnya berubah. Jokowi tidak berubah karakter dari wali kota ke presiden. Anda pun begitu—kalau hari ini Anda dikenal sebagai orang yang blak-blakan soal proses belajar dan kegagalan, jangan tiba-tiba jadi sok formal dan berjarak begitu naik jabatan atau pindah perusahaan. Konsistensi karakter itulah yang membuat orang merasa mengenal “Anda”, bukan sekadar mengenal “posisi Anda”.
3. Kesederhanaan bisa jadi diferensiasi, bukan kelemahan. Di tengah linimasa LinkedIn yang penuh dengan gaya “thought leader” yang serba meyakinkan dan serba tahu segalanya, justru ketulusan dan kesederhanaan sering jadi napas segar. Contohnya sederhana: alih-alih menulis “5 strategi yang mengubah karier saya”, coba tulis “saya salah ambil keputusan bulan lalu, dan ini yang saya pelajari.” Postingan semacam ini biasanya justru mendapat engagement dan trust yang lebih dalam dibanding konten yang terlalu “sempurna”.
4. Biarkan rekam jejak yang bicara, bukan klaim. Jokowi tidak membangun namanya dengan menyebut dirinya “pemimpin yang dekat dengan rakyat” di baliho. Nama itu melekat karena orang-orang yang menyaksikan langsung caranya bekerja yang menyebarkan cerita itu. Di LinkedIn, ini artinya: dokumentasikan hasil kerja Anda secara konsisten dari waktu ke waktu, biarkan rekan kerja, klien, atau atasan yang bercerita lewat rekomendasi dan komentar—itu jauh lebih kredibel daripada Anda menyebut diri sendiri “expert” di headline.
5. Naik panggung boleh, ganti karakter jangan. Setiap kali naik level karier—dari staf ke supervisor, dari supervisor ke manajer—banyak orang tergoda untuk “membangun ulang” personal branding dari nol, seolah harus jadi orang baru. Padahal yang lebih kuat justru sebaliknya: bawa nilai dan gaya komunikasi yang sama, cukup perluas skalanya. Orang yang mengenal Anda sejak level bawah akan jadi pendukung paling loyal saat Anda naik ke level yang lebih tinggi—persis seperti tokoh nasional yang tadinya hanya mengenal Jokowi sebagai wali kota, lalu ikut mendorongnya ke panggung yang lebih besar.
Brand yang Bertahan Bukan yang Paling Ramai, tapi yang Paling Konsisten
Kalau ada satu hal yang saya ambil dari kisah ini, ini dia: personal branding yang bertahan lama dibangun dari satu identitas yang dijaga tetap sama, di panggung apa pun Anda berdiri—entah itu panggung sekecil rapat divisi, atau panggung sebesar negara.
Jokowi mungkin bukan rujukan personal branding yang biasa dibahas di kelas-kelas marketing. Tapi justru karena jarang dibahas, mungkin di situlah pelajarannya jadi lebih segar untuk kita renungkan bersama.
Anda nggak perlu jadi presiden untuk punya brand yang kuat. Anda cuma perlu satu identitas yang konsisten, dan keberanian untuk terus membawanya—dari panggung kecil, ke panggung yang lebih besar.
Leave a Reply