Saya mau cerita sesuatu yang mungkin kedengarannya aneh untuk dibahas di LinkedIn.
Bukan studi kasus dari Steve Jobs. Bukan juga dari Elon Musk atau para founder startup unicorn yang biasa dijadikan rujukan personal branding.
Saya mau ajak Anda melihat ke dalam negeri sendiri. Ke seorang laki-laki kelahiran Solo yang dulunya cuma dikenal sebagai penjual mebel, lalu sepuluh tahun kemudian namanya sudah tercatat dalam sejarah sebagai Presiden Republik Indonesia—dua periode berturut-turut.
Ya, saya sedang bicara tentang Joko Widodo. Atau yang lebih akrab kita panggil: Jokowi.
Yang ingin saya ajak lihat bersama adalah satu hal yang lebih sempit tapi menarik: bagaimana seorang pengusaha mebel “berwajah ndeso” dan kelihatan “plonga-plongo” dari kota kecil bisa membangun identitas yang begitu kuat, konsisten, dan mudah diingat—sampai bertahan dari panggung kota, panggung provinsi, hingga panggung nasional.
Karena kalau kita mau jujur, apa yang beliau lakukan—sadar atau tidak—adalah salah satu contoh personal branding paling efektif yang pernah kita saksikan di Indonesia.