Tag: Buku

  • Buku yang Perlu Anda Tulis

    Saat ini kita berada di abad digital. Era ini menawarkan akses informasi gratis tanpa batas. Kita disuguhkan berbagai konten sesuai dengan yang kita mau.

    Kita bisa mungkin lebih suka konten-konten ringan namun menarik secara audioviual melalui TikTok, Instagram atau YouTube. Bisa jadi, kita lebih suka konten-konten lebih serius yang menawarkan insight mendalam seperti buku.

    Apapun itu, sebagai konsumen kita diberikan pilihan sangat beragam.

    Hadirnya internet harus kita akui tidak mengubah wajah industri perbukuan. Kini industri menghadapi penurunan konsumen yang luar biasa meskipun ada riset lebih lanjut untuk memvalidasi. Di sisi lain, hadirnya berbagai platform media sosial telah lebih banyak menelurkan kreator konten daripada penulis buku. Karena generasi saat ini konon tidak terlalu suka yang serius.

    Bagi Anda yang ingin survive di industri perbukuan, kita perlu memutar otak agar karya yang kita hasilkan tidak sekadar terbit. Kita perlu berupaya ekstra agar buku kita bisa diterima pasar dengan baik.

    Untuk mewujudkan buku yang laris, setidak-tidaknya kita perlu memenuhi tiga aspek. Kita perlu menulis apa yang kita sukai, apa yang kita kuasai, dan apa yang dibutuhkan pasar.

    Dengan menulis apa yang kita sukai, kita mengikuti minat dan passion kita. Ini mendorong kita untuk memberikan yang terbaik karena kita merasa itulah bidang kita. Itulah apa yang membuat kita bekerja layaknya bermain. Ide-ide terbaik kita akan muncul karena tak ada beban.

    Dengan menulis apa yang kita kuasai, kita bisa jauh lebih kredibel di mata pembaca. Karena kita menuliskan apa yang menjadi keahlian. Kita menuliskan apa yang mencerminkan keterampilan, pengetahuan, kepakaran atau profesi kita. Ini membuat proses penulisan juga lebih mudah.

    Dengan menulis apa yang dibutuhkan pasar, buku kita dapat menyuguhkan solusi. Ini membuat kita membuat buku yang mengisi gap. Artinya, kita hanya merancang buku yang menyelesaikan masalah orang banyak. Kita menawarkan nilai tambah, bukan sekadar mengikuti idealisme kita. Sehingga, potensi pembelinya jauh lebih tinggi karena ada permintaan.

    Nah, sebisa mungkin buku-buku yang kita tulis memenuhi 3 unsur itu. Kuncinya, kita perlu rajin mengamati di sekitar. Kita perlu lebih peka. Kita wajib riset secara serius. Karena buku-buku terlaris lahir dari dorongan riset pasar, bukan karena asumsi penulis.

    So, buku apa yang ingin Anda tulis dalam waktu dekat?

     

    Depok, 25 Maret 2024

     

     

  • Lebih Sukses Karena Buku

    Buku adalah kumpulan informasi, cerita, atau gagasan yang disusun dalam bentuk tulisan dan disajikan dalam lembaran-lembaran kertas atau format digital. Buku dapat berfungsi sebagai sumber pengetahuan, hiburan, atau inspirasi, dan merupakan medium penting dalam menyampaikan ide, budaya, dan sejarah dari satu generasi ke generasi lainnya. Buku juga mencakup berbagai genre seperti fiksi, non-fiksi, biografi, pendidikan, dan lain-lain.

    Pentingnya Menulis Buku untuk Karier dan Pribadi

    Menulis buku memberikan manfaat yang signifikan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional, antara lain:

    1. Membangun Reputasi dan Kredibilitas
      Menulis buku di bidang tertentu dapat meningkatkan reputasi dan kredibilitas Anda sebagai ahli. Buku menjadi bukti konkret pengetahuan Anda, yang bisa meningkatkan kepercayaan orang terhadap kemampuan dan wawasan Anda.
    2. Meningkatkan Peluang Karier
      Bagi banyak profesional, terutama di bidang akademik, konsultasi, atau bisnis, menulis buku dapat membuka pintu ke peluang baru, seperti undangan berbicara di konferensi, kolaborasi dengan perusahaan lain, hingga peluang promosi dalam pekerjaan.
    3. Pengembangan Pribadi dan Pemikiran Kritis
      Proses menulis memaksa Anda untuk mendalami topik, menstrukturkan ide, dan menganalisis konsep secara mendalam. Hal ini dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
    4. Sarana Ekspresi Diri dan Kreativitas
      Menulis buku adalah bentuk ekspresi diri yang mendalam. Anda dapat menuangkan pemikiran, ide, cerita, dan emosi dalam sebuah karya yang dapat dibaca oleh banyak orang. Ini menjadi ruang untuk membebaskan kreativitas Anda.
    5. Warisan Jangka Panjang
      Buku dapat menjadi bagian dari warisan intelektual yang Anda tinggalkan untuk dunia. Sebuah karya yang baik dapat terus dibaca dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
    6. Sumber Pendapatan Pasif
      Buku yang sukses bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Penjualan buku, baik cetak maupun digital, serta royalti dari terbitan dapat memberikan pemasukan yang berkelanjutan.

    Persiapan untuk Menjadi Penulis Buku yang Sukses

    Tidak ada “makan siang yang gratis”. Pepatah itu meskipun klise juga relevan di konteks ini. Ada begitu banyak hal yang perlu kita persiapkan untuk menjadi penulis buku yang sukses.

    1. Tentukan Tujuan dan Topik yang Jelas
      Pertama, tentukan alasan mengapa Anda ingin menulis buku. Apakah untuk berbagi pengetahuan, membangun merek pribadi, atau hanya untuk kepuasan pribadi? Memiliki tujuan yang jelas akan membantu Anda tetap fokus sepanjang proses penulisan.
    2. Lakukan Riset Mendalam
      Sebelum mulai menulis, lakukan riset yang menyeluruh tentang topik yang Anda pilih. Buku yang kuat didasarkan pada informasi yang akurat dan kaya, yang tidak hanya berasal dari pengalaman pribadi tetapi juga dari sumber-sumber yang terpercaya.
    3. Buat Outline yang Terstruktur
      Sebuah buku memerlukan alur yang jelas agar pembaca mudah mengikutinya. Buatlah kerangka atau outline dari bab-bab yang akan Anda tulis untuk membantu mengorganisasikan ide.
    4. Tetapkan Waktu dan Disiplin Menulis
      Menulis buku adalah proyek yang memakan waktu. Tetapkan jadwal yang konsisten dan disiplin untuk menulis sedikit demi sedikit setiap hari. Mengelola waktu dengan baik adalah kunci agar proyek penulisan Anda tetap berjalan lancar.
    5. Kembangkan Gaya Penulisan Pribadi
      Setiap penulis memiliki suara atau gaya penulisan yang unik. Berlatihlah untuk menulis dengan cara yang menggambarkan kepribadian dan gaya Anda, sehingga pembaca merasa terhubung dengan tulisan Anda.
    6. Dapatkan Masukan dan Editor Profesional
      Setelah menyelesaikan draft pertama, mintalah orang lain untuk memberikan masukan. Selain itu, menggunakan jasa editor profesional dapat sangat membantu dalam memperbaiki struktur, tata bahasa, dan kejelasan pesan Anda.
    7. Siapkan Platform Pemasaran
      Di era digital, seorang penulis juga harus memahami pentingnya pemasaran buku. Bangun platform Anda melalui media sosial, blog, atau podcast untuk memperluas jangkauan pembaca. Pemasaran yang baik dapat mempengaruhi kesuksesan buku Anda.

    Public Figure yang Melambung Namanya Berkat Menulis Buku

    Ada berderet public figure yang melambung namanya atau semakin dikenal luas berkat menulis buku. Berikut di antaranya

    1. Barack Obama
      Sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat, Obama menulis beberapa buku, seperti “Dreams from My Father” dan “The Audacity of Hope”. Buku-buku ini tidak hanya meningkatkan profilnya sebagai politisi, tetapi juga memperkuat citranya sebagai pemimpin yang intelektual dan inspiratif.
    2. Malala Yousafzai
      Malala menjadi lebih dikenal di seluruh dunia setelah menulis buku “I Am Malala”, yang menceritakan perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan di Pakistan. Buku ini memperluas pengaruhnya sebagai aktivis hak asasi manusia.
    3. J.K. Rowling
      Penulis seri “Harry Potter” ini menjadi salah satu penulis paling terkenal di dunia. Buku Harry Potter tidak hanya mengubah hidupnya tetapi juga menjadi fenomena budaya global, menjadikannya salah satu figur publik paling berpengaruh di bidang literatur dan hiburan.
    4. Stephen King
      Meskipun King telah menulis sejak lama, kariernya benar-benar melambung dengan buku “Carrie”, yang kemudian diadaptasi menjadi film. Karya-karyanya dalam genre horor dan fiksi telah mengokohkannya sebagai salah satu penulis paling sukses di dunia.
    5. Michelle Obama
      Mantan Ibu Negara AS ini menulis buku memoar berjudul “Becoming”, yang langsung menjadi buku terlaris dan mendapat pengakuan internasional. Buku ini memberi wawasan mendalam tentang kehidupannya dan memperkuat citranya sebagai pemimpin yang inspiratif.
    6. Andrea Hirata
      Andrea Hirata dikenal luas setelah menulis novel “Laskar Pelangi” (2005). Buku ini menjadi fenomena sastra nasional dan internasional, serta diadaptasi menjadi film yang sangat sukses. Karya ini membuat Andrea Hirata dikenal sebagai salah satu penulis Indonesia terkemuka.
    7. Dewi Lestari (Dee Lestari)
      Dee Lestari memulai kariernya sebagai penyanyi, namun namanya semakin melambung berkat novel “Supernova”, yang pertama kali terbit pada tahun 2001. Seri Supernova menjadi buku yang sangat populer dan membuatnya dikenal sebagai salah satu penulis fiksi ilmiah terdepan di Indonesia.
    8. Tere Liye
      Tere Liye adalah nama pena dari Darwis, seorang penulis produktif yang telah menulis puluhan novel seperti “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”, “Bumi”, dan “Pulang”. Popularitas Tere Liye semakin meluas berkat karya-karyanya yang sangat digemari oleh berbagai kalangan, terutama remaja dan dewasa muda.
    9. Habiburrahman El Shirazy
      Habiburrahman dikenal luas berkat novel “Ayat-Ayat Cinta” (2004), yang menjadi bestseller dan diadaptasi menjadi film. Bukunya menggabungkan unsur-unsur Islam dengan kisah cinta, dan berhasil menarik perhatian banyak pembaca di Indonesia, serta memperkuat namanya di dunia literatur.
    10. Najwa Shihab
      Meskipun dikenal sebagai jurnalis dan presenter televisi, Najwa Shihab juga menulis beberapa buku, seperti “Catatan Najwa”. Buku ini berisi refleksi dari berbagai isu yang ia bahas dalam program televisinya. Karyanya semakin memperkuat citra Najwa sebagai figur publik yang intelektual dan vokal dalam membahas isu-isu sosial dan politik.
    11. Raditya Dika
      Raditya Dika memulai kariernya sebagai penulis blog, namun namanya semakin terkenal setelah menerbitkan buku “Kambing Jantan” (2005), yang merupakan kumpulan cerita lucu tentang kehidupannya sebagai mahasiswa di luar negeri. Kesuksesan bukunya melambungkan nama Raditya Dika, yang kemudian beralih menjadi komedian, aktor, dan sutradara.
    12. Alberthiene Endah
      Sebagai penulis biografi, Alberthiene Endah telah menulis kisah hidup sejumlah public figure Indonesia, seperti Krisdayanti dalam “My Life, My Secret”. Namanya semakin dikenal luas setelah menulis biografi BJ Habibie, “Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner”, yang menjadi buku terlaris dan difilmkan.
    13. Goenawan Mohamad
      Pendiri majalah Tempo, Goenawan Mohamad adalah jurnalis dan penulis esai terkenal. Buku kumpulan esainya, seperti “Catatan Pinggir”, memberikan pengaruh besar di kalangan intelektual dan pembaca Indonesia, menjadikannya salah satu tokoh terkemuka dalam dunia sastra dan jurnalisme.

      Buku-buku yang mereka tulis telah memainkan peran penting dalam meningkatkan profil mereka, baik di bidang sastra, jurnalisme, maupun dunia hiburan.

    Kesimpulan

    Menulis buku bukan hanya tentang menyampaikan ide, tetapi juga tentang membangun kredibilitas, mengembangkan diri, dan meninggalkan warisan. Persiapan matang, riset, dan disiplin menulis adalah beberapa kunci utama untuk menjadi penulis yang sukses. Banyak public figure yang telah membuktikan bahwa menulis buku dapat memberikan dampak besar pada karier dan reputasi mereka, memperluas jangkauan pengaruh mereka di berbagai bidang.

  • Senja Kala Industri Perbukuan

    Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia dihebohkan dengan tutupnya Toko Gunung Agung. Banyak yang menyayangkan tumbangnya jaringan toko buku yang berdiri sejak tahun 1953 tersebut.

    Sebelum menutup seluruh jaringan toko bukunya, Toko Gunung Agung bisa dikatakan pernah mengalami masa kejayaannya di tahun 1990an. Pada periode tersebut, usaha yang dirintis oleh Tjio Wie Tay tersebut menguasai 25% pangsa pasar penjualan buku di tanah air.

    Tutupnya Toko Gunung Agung secara permanen menjadi kabar buruk bagi kemajuan literasi di tanah air. Pasalnya, sebelumnya publik sudah dibuat sedih dengan tutupnya (sebagian) gerai-gerai milik jaringan toko buku kenamaan seperti Books and Beyond, Togamas dan Kinokuniya.

    Faktor Kehadiran Internet
    Harus diakui bahwa perkembangan internet menjadi awal anjloknya bisnis toko buku fisik. Pasalnya, kehadiran internet membuat masyarakat bisa lebih mudah membaca buku versi digital (ebook) dengan biaya jauh lebih terjangkau. Tak mengherankan bila Kindle, Google Play Books atau Gramedia Digital dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren perkembangan yang menakjubkan.

    Di sisi lain, budaya membaca buku masyarakat Indonesia memang dapat dikatakan memprihatinkan. Anak-anak muda kita jauh lebih betah berjam-jam menikmati konten digital di YouTube, TikTok, Instagram dan berderet platform media sosial lainnya dibandingkan dengan membaca buku.

    Dari perspektif (sebagian) penulis, pendapatan dari menulis buku juga belum dapat diharapkan banyak. Rendahnya besaran royalti, transparansi angka penjualan buku dari (sejumlah) penerbitan yang meragukan, tingginya pajak royalti, dan lesunya penjualan buku menjadi faktornya. Realita tersebut diperburuk dengan masifnya pembajakan buku yang dijual secara bebas melalui sejumlah ecommerce kenamaan seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan semacamnya.

    Tak mengherankan bila profesi penulis kurang menjanjikan di mata generasi “zaman now” dibandingkan menjadi Content Creator, PNS, pengusaha ataupun karyawan di perusahan multinasional.

    Faktanya adalah kita perlu menjual banyak buku untuk menjadi seorang penulis yang “sukses”. Bagi sebagian besar penerbit tradisional, bisa menjual 2.000 buku dianggap sukses. Angka tersebut adalah rata-rata jumlah eksemplar buku untuk satu periode cetak. Jika ada kebutuhan yang masih tinggi dari pembaca, biasanya penerbit akan mencetak ulang suatu buku.

    Namun, berapa banyak uang yang diperoleh seorang penulis dengan menjual 2.000 eksemplar dalam setahun? Katakanlah harga jual bukunya adalah Rp 50.000 dan royaltinya adalah 10%. Maka, dari satu buku yang diterbitkan, penulis akan mendapatkan Rp 10.000.000 setahun — itupun jika langsung ludes semuanya.

    Bagaimana strategi penulis full time agar bisa bertahan? Tentu saja, dengan menerbitkan semakin banyak buku (best-seller). Tidak sedikit yang menjual keahlian menulisnya menjadi seorang Co-writer, Ghostwriter, Copywriter, hingga Editor.

    Faktanya, jumlah penulis full time di Indonesia masih begitu rendah. Sebagian besar menjadikan penulis sebagai “profesi sambilan” dari pekerjaan utamanya. Kendati harus diakui ada segelintir penulis full time yang bisa eksis atau “sukses”. Namun jumlahnya ada berapa? Bisa dihitung dengan jari.

    “Lonceng Kematian” Industri Perbukuan?
    Dengan rendahnya minat generasi muda untuk menjadi penulis, makin menurunnya minat masyarakat untuk membaca buku, dan gempuran pembajakan buku; apakah itu semua menjadi pertanda tumbangnya industri perbukuan? Sebagian analis memang mengatakan bahwa era kejayaan penerbitan tradisional telah berlalu. Sementara itu, sebagian pihak lain mengatakan bahwa industri perbukuan hanya menyesuaikan diri — bukannya mati — karena fondasi literasi dan penyebaran pengetahuan masih bergantung pada buku — bukan pada konten-konten “murahan” berbasis digital.

    Penting bagi kita untuk memahami bahwa perdebatan mengenai kelangsungan industri perbukuan masih berkutat pada aspek profitabilitas. Akankah industri perbukuan terus menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mempertahankan operasinya di masa depan, atau apakah industri ini berada di ambang kematian?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk mempertimbangkan beberapa faktor kunci.

    Maraknya digitalisasi tidak diragukan lagi berdampak pada industri perbukuan. Masyarakat semakin beralih ke buku digital dan e-book dibandingkan buku cetak tradisional. Meskipun konten digital diyakini kurang menguntungkan dibandingkan buku bersampul keras, konten digital memiliki jangkauan yang lebih luas dan memenuhi preferensi audiens yang melek teknologi – khususnya generasi milenial, generasi Z, dan kemungkinan generasi-generasi yang lebih muda di masa depan.

    Format digital memungkinkan penyertaan konten tambahan, seperti elemen multimedia dan fitur interaktif, yang meningkatkan pengalaman membaca dan memberikan peluang pendapatan baru bagi penerbit. Memang benar bahwa jumlah pencetakan buku mengalami penurunan secara global namun masih jauh dari punah, khususnya di sektor pendidikan. Buku teks, bahan referensi, dan publikasi cetak terus menjadi penting bagi sekolah, perguruan tinggi, universitas, perpustakaan, fakultas kedokteran, firma hukum, dan berbagai institusi lainnya. Buktinya apa?

    Jika kita perhatikan secara saksama, jumlah penerbitan mayor maupun indie masih begitu subur di kota-kota pelajar seperti Yogyakarta, Malang, Bandung, dan Solo. Itu menandakan masih ada “kue” untuk diperebutkan.

    Di era digital yang berkembang pesat saat ini, perdebatan seputar keuntungan buku fisik versus e-book tetap menjadi topik yang kontroversial dan memiliki banyak segi. Meskipun mungkin tampak intuitif bahwa e-book, dengan kemudahan dan aksesibilitasnya, akan mendominasi pasar, kenyataannya tidak seperti yang terlihat. Masih ada begitu banyak orang yang lebih nyaman melipat, mencoret, atau menandai halaman yang terakhir dibaca melalui buku cetak dibandingkan dengan membaca buku digital dengan segala kepraktisannya.

    Bertentangan dengan anggapan umum, banyak penelitian dan analisis pasar secara konsisten menunjukkan bahwa penjualan buku fisik terus melebihi penjualan e-book. Menurut survei yang dilakukan oleh Pew Research Center (25 Januari – 8 Februari 2021), “% orang dewasa AS yang mengatakan bahwa mereka telah membaca ____ dalam 12 bulan sebelumnya” adalah sebagai berikut:
    · 32% hanya mencetak buku
    · 9% buku digital saja (termasuk e-book dan buku audio)
    · 23% tidak ada buku
    · 2% tidak tahu menolak
    · 33% buku cetak dan digital

    Sayangnya, saya belum atau tidak menemukan riset serupa untuk pasar Indonesia. Kendati demikian, menurut hemat saya sebagai penulis sekaligus penggemar buku; industri perbukuan masih jauh rasanya jika dikatakan akan tumbang. Penerbit-penerbit lokal kita hanya perlu beradaptasi menyesuaikan kebutuhan pasar. Misalnya, dengan merilis buku cetak dan ebook sekaligus di setiap penerbitan, membuat dan menjual versi audiobooknya, hingga membuat materi-materi pelatihan berbasis konten buku untuk genre buku pengembangan diri khususnya.

    Simalakama Pembajakan
    Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri perbukuan adalah pembajakan. Sama seperti industri musik dan film, pembajakan merupakan ancaman serius terhadap penghidupan penerbit dan penulis. Pembajakan tidak hanya menghilangkan pendapatan yang sah bagi pembuat konten, tetapi juga melemahkan insentif untuk memproduksi konten baru.

    Berbagai upaya telah dilakukan untuk memerangi pembajakan, termasuk tindakan hukum, teknologi manajemen hak digital (DRM), dan kampanye kesadaran masyarakat. Namun permasalahannya tetap ada dan belum ada solusi yang pasti. Penting bagi konsumen untuk memahami dampak negatif pembajakan dan mendukung penulis dan penerbit dengan membeli buku yang sah.

    Selain tantangan digitalisasi dan pembajakan, industri perbukuan juga menghadapi beberapa masalah mendesak lainnya yang berdampak signifikan terhadap operasional dan profitabilitasnya.

    Produksi buku cetak melibatkan berbagai biaya, termasuk biaya kertas, tinta, peralatan pencetakan, dan transportasi. Selama bertahun-tahun, harga komponen penting ini terus meningkat. Meningkatnya harga kertas dan tinta cetak tidak hanya mempengaruhi margin keuntungan penerbit tetapi juga menyebabkan harga buku yang lebih tinggi bagi konsumen. Penerbit sering kali perlu mengambil keputusan sulit mengenai proses pencetakan dan harga untuk mempertahankan daya saing mereka.

    Ketergantungan industri percetakan pada kertas telah menimbulkan permasalahan lingkungan. Produksi kertas melibatkan penggundulan hutan, penggunaan air, dan konsumsi energi. Selain itu, pengangkutan buku di seluruh dunia berkontribusi terhadap emisi karbon. Seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, penerbit menghadapi tekanan untuk menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan. Beberapa penerbit sedang menjajaki opsi seperti kertas daur ulang, metode pencetakan ramah lingkungan, dan penerbitan digital sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pencetakan tradisional.

    Menerbitkan buku, baik itu novel, karya non-fiksi, atau teks akademis, merupakan investasi yang signifikan bagi penerbit. Sayangnya, tidak semua buku mencapai tingkat kesuksesan yang diharapkan. Beberapa judul gagal mendapatkan daya tarik di pasar, sehingga mengakibatkan kerugian finansial bagi penerbit. Kerugian ini bisa sangat memberatkan bagi penerbit kecil dan independen (penerbit indie). Pasar buku yang tidak dapat diprediksi menyulitkan penerbit untuk mempertahankan profitabilitas yang konsisten.

    Preferensi pembaca terus berkembang. Meskipun banyak pembaca yang menyukai e-book dan konten digital, beberapa masih lebih menyukai pengalaman membaca buku fisik. Penerbit harus menavigasi perubahan preferensi ini dengan menawarkan beragam format. Hal ini memerlukan investasi pada platform penerbitan digital, strategi pemasaran, dan saluran distribusi untuk melayani spektrum pembaca yang luas.

    Epilog

    Kesimpulannya, industri perbukuan menghadapi banyak tantangan selain digitalisasi dan pembajakan. Meningkatnya biaya kertas, tinta, dan transportasi, ditambah dengan permasalahan lingkungan, memberikan tekanan pada model pencetakan tradisional. Hasil pasar yang tidak dapat diprediksi dan perubahan preferensi konsumen menambah kompleksitas industri ini.

    Terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, industri perbukuan tetap tangguh dan mudah beradaptasi, dan industri ini bukanlah industri yang sedang sekarat. Penerbit terus menemukan cara inovatif untuk mengatasi hambatan, seperti mengeksplorasi praktik ramah lingkungan dan mendiversifikasi penawaran produk mereka. Permintaan akan buku dan penyebaran pengetahuan tetap tinggi, sehingga memastikan adanya kebutuhan yang berkelanjutan akan layanan penerbitan. Digitalisasi mungkin telah mengubah lanskap, namun juga membuka jalan baru untuk menjangkau khalayak yang lebih luas dan menghasilkan pendapatan.

    Selama ada permintaan akan pengetahuan dan penyampaian cerita, industri perbukuan akan menemukan cara untuk berkembang dalam lanskap yang terus berubah, memastikan bahwa buku terus menjadi bagian penting dari masyarakat kita. Sebagai konsumen, dukungan kita terhadap konten yang sah sangat penting dalam mempertahankan industri perbukuan. Pada akhirnya, kemampuan industri untuk beradaptasi terhadap perubahan tren dan memanfaatkan teknologi baru akan menentukan keberhasilan jangka panjangnya. Penerbitan mungkin terus berkembang, namun masih jauh dari kepunahan. Industri perbukuan mungkin mengalami fluktuasi yang begitu besar, namun sepertinya masih jauh dari lonceng kematian.

    Bagaimana dengan Anda?
    Kapan terakhir kali Anda membaca buku cetak?
    Apakah kehadiran YouTube, TikTok, Instagram dan platfom-platform media sosial lain telah membuat Anda makin enggan membaca buku?

  • Mengapa Orang Indonesia (Masih) “Malas” Membaca?

    Baru-baru ini, saya mendapatkan temuan menarik mengenai profesi idaman masyarakat Asia Tenggara. Dari hasil riset tersebut disebutkan bahwa profesi impian masyarakat Indonesia adalah YouTuber. Sementara profesi impian masyarakat di negeri jiran kita ialah Guru untuk Malaysia dan Penulis untuk Singapura.

    Apa yang dapat saya petik dari temuan tersebut? Saya semakin menyadari bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya kurang suka membaca. Orang-orang di sekitar kita lebih betah berjam-jam mengamati linimasa media sosial ataupun menonton film dan televisi.

    Pemahaman saya tersebut semakin menguat menyadari fakta industri penerbitan buku di Indonesia bisa dikatakan kurang berkembang. Toko-toko buku banyak yang telah tutup permanen dan para penulis berteriak dengan tingginya pajak royalti.

    Di sisi lain, jam mengakses internet masyarakat kita dari hari ke hari makin tinggi. Coba cek sendiri, berapa jam rata-rata waktu yang teman-teman kita habiskan untuk TikTok, YouTube, Instagram, Facebook, Twitter dan semacamnya?

    Sebagai seorang penulis profesional, kenyataan ini tentu membuat sangat miris. Bagaimana dengan masa depan penulis? Apakah penulis profesional bisa hidup layak jika sepenuhnya fokus tanpa memiliki pekerjaan atau bisnis lain? Masih adakah harapan bagi para penulis agar karya-karyanya dibaca di tengah gempuran abad digital yang disruptif?

    Budaya Baca Masyarakat Indonesia
    Konon, leluhur orang Indonesia itu lebih suka bertutur dibandingkan dengan menuliskannya. Tak mengherankan berbagai dongeng atau cerita rakyat berhasil diturunkan dari generasi ke generasi hingga kini.

    Di sisi lain, meskipun tingkat melek huruf relatif tinggi, statistik menunjukkan bahwa membaca buku bukanlah kegiatan populer di Indonesia. Dibandingkan dengan orang di negara lain dengan tingkat melek huruf yang tinggi, orang  Indonesia yang mau membaca jauh lebih sedikit.

    Sebuah studi tahun 2013 dari UNESCO menunjukkan bahwa hanya 1 dari 1000 anak di Indonesia yang senang membaca. Sebuah studi tahun 2018 dari PISA (Program for International Student Assessment) menunjukkan bahwa skor membaca siswa Indonesia adalah 371 (dibandingkan dengan skor rata-rata 487), dan kemampuan membaca keseluruhan anak Indonesia berada di urutan ke-74 dari 79 negara OECD.

    Temuan penelitian lainnya menunjukkan bahwa kebiasaan membaca secara umum di era digital cenderung lebih tinggi daripada di masa sebelum internet. Hasil riset Universitas Kristen Indonesia (UI) menemukan bahwa, meskipun tidak membaca buku sesering siswa di negara lain, siswa Indonesia menggunakan internet untuk membaca, meskipun biasanya hanya untuk tugas sekolah. Membaca untuk kesenangan atau untuk belajar di luar yang diwajibkan jarang terjadi.

    Mengapa Orang Indonesia Enggan Membaca?

    Ada beberapa alasan mengapa kebiasaan membaca di Indonesia lebih rendah daripada di negara lain. Berikut di antaranya.

    Pertama, tradisi lisan: Di negeri kita, ada tradisi panjang berbagi cerita dan kebijaksanaan melalui kata-kata lisan, bukan melalui teks tertulis.

    Kedua, budaya sekolah: Membaca umumnya dipandang sebagai kegiatan yang hanya untuk tujuan sekolah, dan membaca buku atas kemauan sendiri sering dianggap sebagai perilaku yang tidak biasa. Tak mengejutkan anak-anak yang suka membaca diberi label “Kutu Buku”. Anak-anak yang berani berbeda dari kebanyakan mendapatkan perundungan hingga intimidasi.

    Ketiga, persaingan dengan bentuk media lain: Masyarakat kita menggunakan media sosial, streaming TV/film, dan game online dengan sangat masif. Bentuk-bentuk media yang lebih interaktif dan visual ini seringkali dapat lebih langsung merangsang siswa dibandingkan dengan buku, yang membutuhkan tingkat fokus, konsentrasi, dan keterlibatan aktif yang lebih besar. Teknologi agaknya  mengurangi tingkat membaca anak-anak kita.

    Keempat, kurangnya kesempatan: Rendahnya tingkat membaca di Indonesia mungkin tidak semata-mata karena kurangnya minat—kurangnya kesempatan juga dapat berperan. Dibandingkan dengan negara maju lainnya, sekolah di Indonesia memiliki lebih sedikit buku untuk diakses siswa. Menurut hasil kajian  Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2017, hanya 61% sekolah dasar yang memiliki perpustakaan, dan dari perpustakaan tersebut, hanya 31% yang terawat dengan baik. Perpustakaan sering digunakan untuk berbagai keperluan, seperti untuk olahraga atau kegiatan serupa, yang berarti bahwa buku seringkali tidak menjadi prioritas bahkan di perpustakaan sekolah.

    Kelima, kualitas buku yang tersedia buruk: Nirwan Ahmad Arsuka, pencipta program perpustakaan keliling di Indonesia, menyebutkan kualitas buku yang tersedia bagi banyak siswa sebagai hambatan untuk mendorong membaca. Ia percaya bahwa buku-buku yang dikeluarkan untuk sekolah oleh pemerintah pada umumnya tidak menarik, terlalu formal, dan ditulis dengan buruk, yang memberikan siswa persepsi negatif tentang buku sejak usia muda.

    Keenam, kurangnya ketersediaan buku asing: Selain buruknya kualitas buku di perpustakaan sekolah di Indonesia, akses buku dari luar negeri juga sangat minim. Buku-buku asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seringkali hanya dapat diperoleh dari toko buku khusus, dan harganya sangat mahal.

    Epilog
    Meningkatkan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia tak bisa diselesaikan oleh salah satu pihak saja. Diperlukan kerja sama yang erat antara sekolah, masyarakat, orang tua, dan para pemangku kepentingan lainnya.

    Minat membaca biasanya paling baik dibangun pada usia muda. Jadi, sangat penting memastikan bahwa siswa yang lebih muda memiliki akses ke buku-buku yang menarik bagi mereka.

    Temuan dari berbagai kajian telah menunjukkan bahwa minat membaca untuk tujuan pendidikan biasanya hanya meningkat sebagai akibat dari menikmati membaca untuk kesenangan. Menumbuhkan minat membaca pada generasi muda kemungkinan akan mengubah budaya dari waktu ke waktu dan menjadikan kegiatan membaca lebih umum untuk generasi mendatang.

    Manfaat ini untuk sistem pendidikan memang signifikan. Sebuah studi tahun 2015 oleh Universitas Kenyatta menemukan bahwa siswa dengan masalah membaca lebih cenderung berprestasi buruk di sekolah, dengan kemungkinan lebih tinggi untuk mengulang kelas atau putus sekolah pada usia dini. Sebaliknya, siswa dengan keterampilan membaca yang baik memiliki kinerja yang lebih baik di sekolah dan di dunia kerja, serta memiliki tingkat perkembangan emosi dan sosial yang lebih tinggi.

    Peningkatan akses  masyarakat Indonesia terhadap buku berkualitas tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi dan inisiatif. Ebooks, dan program untuk menyediakan akses ke sana, dapat memecahkan banyak hambatan dalam meningkatkan kebiasaan membaca di tanah air. Meningkatkan kebiasaan membaca meningkatkan pembelajaran secara umum—tidak hanya dalam konteks akademik, tetapi juga untuk pertumbuhan dan kesejahteraan pribadi.

  • Agar Karyamu Tembus Gramedia

    Buku adalah jendela dunia. Dengan buku kita bisa memperkaya wawasan. Membuka cakrawala tanpa batas.

    Di tengah gempuran internet yang menawarkan informasi gratis, pamor buku seakan memang makin meredup. Namun, itu bukan berarti buku sudah tidak ada peminatnya. Karena selama ada manusia, buku masih ada pasarnya.

    Menyadari hal itu, setiap hari ribuan penerbit masih kewalahan menyeleksi naskah demi naskah. Mereka menyaring naskah-naskah yang masuk untuk memastikan kualitas konten dan potensi pasarnya.

    Di sisi lain, penulis-penulis baru berdatangan dari hari ke hari. Mereka meramaikan bursa penulis di tanah air. Mereka turut mewarnai dunia literasi dengan para penulis senior yang lebih berpengalaman.

    Sebagai penulis 50+ buku dengan lebih dari 15 tahun pengalaman, saya telah merasakan sendiri jatuh-bangun berkecimpung di bidang ini. Dari berbagai pelatihan daring dan luring yang saya adakan, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah bagaimana tips agar naskah buku kita tembus Gramedia.

    Pertanyaan tersebut saya anggap mengandung dua unsur. Yang pertama, buku kita diterbitkan salah satu penerbit di bawah jaringan Kompas Gramedia Group yang mana secara otomatis buku kita akan dipasarkan di jaringan toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Yang kedua, buku kita diterbitkan oleh penerbit ternama, sehingga kemungkinan besar akan juga tampil di rak-rak Toko Buku Gramedia.

    Sederhana saja. Agar naskah buku kita tembus Gramedia, karya kita harus berkualitas. Tidak ada tawar-menawar di sini. Untuk mencapai titik itu, kita perlu memenuhi satu aspek utama.

    Aspak itu adalah: buku kita memecahkan masalah. Buku yang tembus Gramedia otomatis menjadi solusi bagi pembaca. Itu artinya, buku kita perlu memberikan nilai tambah bagi pembaca. Entah itu perspektif baru, pandangan berbeda, metodologi baru, kisah inspiratif yang unik, atau sesuatu yang ada “harga”-nya di mata publik.

    Jika kita ingin memenuhi aspek ini, kuncinya adalah riset. Kita perlu tahu apa saja keluhan, tantangan, atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Abad digital memudahkan kita untuk menemukannya yaitu dengan mengetahui apa saja yang sedang viral, menjadi trending di media sosial atau sedang hype. Ini yang namanya kebutuhan.

                  Dalam hal ini, kita perlu lebih peka. Kita bisa melakukan survei langsung ke toko buku, marketplace, atau toko-toko buku online.  Buku apa  di bidang kepakaran atau passion kita yang sudah atau belum ada. Kita hubungkan dengan kebutuhan masyarakat.  Dari sini, kita bisa menemukan gap-nya.  Begitu mudah bukan?

    Sebagai contoh untuk buku non-fiksi. Anda mengamati bahwa di pasaran belum ada buku yang mengulas tentang kesehatan mental, lalu Anda merasa memiliki kepakaran di situ dan Anda telah menemukan fakta bahwa isu kesehatan mental sedang naik daun di pasaran. Nah, di situlah sweet spot-nya. Anda telah menemukan benang merah. Oleh karena itu, Anda harus segera menulis naskah buku tersebut.

    Mungkin Anda akan bertanya lagi:

    • Minimal berapa halaman Mas?
    • Format penulisannya bagaimana?
    • Dikirimkan ke siapa ya?

    Ini pertanyaan begitu mendasar yang mudah dijawab. Setiap penerbit memiliki kebijakan atau syarat dan ketentuan masing-masing. Tinggal andalkan Google, lalu Anda bisa membacanya di situs web resmi mereka. Ikuti saja apa maunya mereka.

    Sudah begitu jelas bukan?

    Atau Anda merasa masih bingung?

    Jika ingin menerbitkan buku tapi Anda belum tahu harus mulai dari mana atau masih ragu ingin menulis dengan gaya seperti apa, jangan sungkan untuk bertanya.

    Anda bisa menghubungi saya melalui Whatsapp +62 852 3050 4735.  Japri aja saja. Kita bisa berdiskusi sambil ngopi-ngopi.

    Jika Anda tidak punya waktu untuk menghubungi saya secara daring maupun luring, tenang saja. Anda bisa membaca buku Write First. Beli saja versi digitalnya. Karena semua ilmu dan pengalaman saya dalam dunia menulis dan menerbitkan buku telah saya kupas tuntas di situ.

     

    Salam literasi,

    Depok, 23 Maret 2024

  • Buku yang “Menyelamatkan” Hidupku

    Buku telah menyelamatkan hidup saya . .

    Ungkapan di atas mungkin terdengar begitu berlebihan. Namun faktanya itu yang saya alami.

    Terlahir dari keluarga petani gurem, sejak kecil saya didorong oleh kedua orang tua saya untuk mencapai apa yang disebut dengan “kesuksesan” versi orang desa. Apa itu?

    Ya  minimal tidak menjadi pengangguran selepas sekolah. Syukur-syukur kalau bisa membanggakan orang-orang di sekitar.

    Lahir dan dibesarkan di pelosok desa yang warganya mayoritas sebagai buruh tani, TKI dan petani gurem; sejak belia saya memiliki dorongan untuk mengubah nasib. Meskipun pada kenyataannya, perjalanan saya untuk menggapai mimpi tidak selalu berjalan dengan mulus.

    Mengapa buku saya anggap telah menyelamatkan hidup saya?

    Karena dari bukulah saya terinspirasi untuk maju. Dari bukulah saya bisa melihat dunia. Dari bukulah saya terdorong untuk terus-menerus mengembangkan diri. Dan dari bukulah tentu saja saya terdorong untuk mengubah nasib.

    Berikut alasan saya menyebut buku sebagai “penyelamat” hidup saya.

    Pertama, mendapatkan “tiket” beasiswa S1. Saya begitu bersyukur bisa menerbitkan buku pertama saya di tahun 2007, tahun kelulusan SMA saya. Dan buku itulah yang saya rasa menjadi pertimbangan pewawancara untuk meloloskan saya sebagai penerima beasiswa penuh S1 bernama Paramadina Fellowship. Sebuah kesempatan emas yang mengantarkan saya untuk belajar ilmu hubungan internasional di Universitas Paramadina.

    Mungkin buku memang bukan satu-satunya faktor yang membuat saya “beruntung”  menjadi penerima beasiswa tersebut. Karena ada unsur penilaian lain seperti nilai rapor, rekam jejak organisasi, prestasi memenangkan perlombaan dan seterusnya. Namun, entah mengapa saya begitu yakin bahwa bukulah yang membuat para dosen akhirnya memberikan “tiket” bernama beasiswa. Terima kasih diriku yang telah berinisiatif untuk menerbitkan buku pertama selepas SMA.

    Kedua, keluar dari jeratan Quarter-Life Crisis. Berkat membaca dan menulis buku, saya bisa berhasil dari masa kegalauan yang mengerikan. Salah satu fase terburuk yang mengantarkan saya pada titik terendah dalam hidup sebelum akhirnya menemukan titik balik. Sebuah periode yang begitu fluktuatif.  Sebuah pengalaman hidup yang mendorong saya untuk menulis buku menjadi Mantra Kehidupan

    Ya, berkat membaca ribuan bukulah saya pada akhirnya menyadari bahwa menulis buku merupakan salah satu panggilan hidup saya. Membaca buku terbukti membantu saya mengenal diri sendiri lebih baik. Begitu pun proses menulis buku.

    Terima kasih diriku yang telah mau berjuang melewati fase yang tidak mudah. Dan membaca buku maupun menulis buku telah “menyelamatkan” masa depan saya.

    Ketiga, menjadi sumber penghidupan. Sebagai manusia biasa, saya tidak terlepas dari yang namanya kesulitan keuangan. Saya pernah merasa begitu pesimis untuk bisa keluar dari jeratan utang yang mirip “gali lubang, tutup lubang”.

    Saya sempat Down. Saya mencari segala cara untuk bisa keluar dari “lingkaran setan” bernama utang. Saya mencari segala peluang yang ada di depan mata. Dari meminta umpan balik dari teman dekat hingga browsing  di internet, saya sempat “tergiur” untuk menjalani (berbagai) profesi yang nampaknya menjanjikan untuk dijalani.

    Long story short, saya tidak bisa bertahan lama di profesi-profesi baru tersebut. Meskipun memang saya kerjakan secara paruh waktu a.k.a sambilan.

    Entah “energi” dari mana yang mendorong saya, saya lagi-lagi diselamatkan oleh buku. Saya merasa menulis buku merupakan aktivitas yang mengasyikkan dan menghasilkan. Setelah fokus di situ, ternyata memang benar adanya. Ratusan juta saya dapatkan hanya dalam hitungan beberapa bulan.  Dan tentu saja peluang mendapatkan milyaran atau triliunan dari menulis buku bukan tidak mungkin kelak terjadi. Nikmat mana lagi yang saya dustakan?

    Ini bukan tentang profit. Bukan tentang ego atau kebahagiaan semu dari aktivitas bernama menulis buku. Namun  bagi saya, ini adalah tentang amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

    Dan menulis bagi saya merupakan cara saya untuk mensyukuri sisa umur yang diberikan Sang Khalik. Kini, saya begitu bangga menyebut diri saya sebagai seorang penulis buku. Karena ini bukan semata-mata untuk mendapatkan cuan. Namun lebih dari itu. Menulis buku bagi saya merupakan panggilan yang bahkan jika tidak dibayar pun, saya ikhlas melakukannya. Karena saya menyukainya.

    Setidaknya  itulah tiga alasan yang membuat buku menjadi “penyelamat” hidup di mata saya. Entah masih ada berapa banyak alasan lagi di masa depan.

    Tulisan ini saya sengaja saya buat sebagai wujud terima kasih kepada diri sendiri yang tak pernah lelah untuk menulis. Terima kasih diriku.

    Teruslah menulis, Agung!