“Postinganmu viral, tapi besok orang lupa.”
Kalimat ini terasa menampar saat pertama kali saya benar-benar memahaminya.
Di era media sosial, kita sering terjebak pada satu ilusi besar: ramai = berhasil. Padahal, semakin sering saya mengamati—terutama di LinkedIn—semakin jelas satu fakta pahit: banyak orang terlihat terkenal, tapi tidak dipercaya. Banyak yang didengar, tapi tidak diingat. Banyak yang viral, tapi tidak relevan.
Di titik inilah saya membaca ulang buku Influencer: Building Your Personal Brand in the Age of Social Media karya Brittany Hennessy, dan menyadari satu hal penting:
menjadi influencer bukan soal jangkauan, tapi soal posisi.