Category: Blog

  • Hidup Gak Akan Pernah Sempurna, Tapi Lo Masih Bisa Bahagia

    Gue pernah sampai di titik di mana semua orang bilang,

    “Kamu udah punya semuanya, harusnya sih bahagia.”

    Tapi malam itu, gue justru nggak bisa tidur.
    Laptop terbuka, email kerjaan masih belum beres, dan pikiran gue muter kayak playlist yang nggak ada tombol stop-nya: “Apa ini hidup yang gue mau?”

    (more…)

  • Keberuntungan Itu Bisa “Dilatih”: Pelajaran Hidup dari The Luck Factor

    Aku nggak akan bohong: pernah banget gue merasa gagal.
    Lulus kuliah dengan statistik OK, kerja keras kirim ratusan lamaran, bikin portofolio. Tapi entah kenapa—seringnya jawaban “terima kasih atas minat Anda”.
    Kenyataannya, gue mikir: “Kenapa bukan gue yang dipanggil?”
    Gue merasa kayak pesepakbola cadangan—standby, tapi nggak pernah dapat giliran main.

    (more…)

  • Tulisan Pertamaku Jelek Banget — Tapi Di Situlah Hidupku Mulai Berubah

    Beberapa tahun lalu, saya punya momen jujur yang agak memalukan tapi juga penting. Saya duduk di depan laptop saya—tertarik, punya ide, sudah buka dokumen baru—tapi setelah beberapa menit… saya hanya menatap layar kosong sambil berpikir, “Apa yang mau saya tulis?” Dan akhirnya saya pikir: ah sudahlah. Saya tutup laptop dan pergi makan es krim.

    (more…)

  • Hidupmu Gak Padam, Kamu Cuma Salah Cari Saklar

    Bayangkan kamu sedang berdiri di tengah ruangan gelap, semua lampu mati, dan kamu mencari saklar. Kamu tahu pernah ada cahaya di situ, tapi sekarang hanya kegelapan yang menyelimuti. Itu saya, beberapa tahun lalu. Saya sudah “berhasil”: jabatan naik, proyek besar, penghargaan—tapi entah kenapa saya merasa kosong. Saya bertanya: “Apa yang sebenarnya saya kejar? Apa yang membuat saya betul-betul merasa hidup?”
    Tiba-tiba, saya menutup buku tugas malam itu dan menangis sendiri karena sadar: saya tidak merasa “menyala” lagi. Saya merasa hanya mengikuti alur, bukan memilih. Semua pencapaian terasa seperti checklist kosong.
    Itulah momen klimaks saya—di mana saya akhirnya buka buku What Lights You Up? dan megap-megap (ya, secara emosional) menyadari bahwa: cahaya saya padam bukan karena saya gagal, tapi karena saya lupa mana saklar saya.
    Dari titik itu saya mulai perjalanan baru. Dan saya ingin berbagi ke kamu—karena mungkin kamu juga pernah berdiri di ruangan gelap yang sama.

    (more…)

  • Koneksi Banyak, Tapi Gak Ada yang Nyaut? Mungkin Kamu Salah Main Jaringan

    Saat itu — tiba-tiba LinkedIn saya sepi.

    Saya ingat momen itu dengan cukup jelas: saya posting insight panjang tentang transformasi budaya, menyertakan angka, tag rekan kerja, berharap ada komentar, diskusi, mungkin tiga-empat orang yang “oke” dan kirim DM. Tapi yang terjadi… hanya dua like. Dua. Dan satu komentar singkat: “bagus, Bro.”
    Di saat saya merasa “oke ini konten bagus, relevan, saya kan banyak koneksi,” realitanya terasa hampa. Saya mengalami ketidaknyamanan: “kenapa saya punya banyak koneksi tapi engagement rendah?” “Kenapa saya posting panjang tapi cuma like tipis?” Saya merasa seperti sedang shout ke ruang kosong.

    (more…)

  • Bukan Tentang Siapa Kamu, Tapi Cerita Apa yang Kamu Bawa

    “Saya juga pernah merasa sendirian di feed LinkedIn…”

    Oke, sebelum kita masuk ke substansi, saya mau jujur dulu. Beberapa bulan lalu saya scroll LinkedIn—lihat koneksi banyak, endorse banyak skill, posting-an bagus pula—tapi saat saya kirim DM atau komentar, ada perasaan: “Udah connect kok kok ya tetap saja saya nggak merasa ‘terkoneksi’.” Rasanya seperti: saya berdiri di tengah kerumunan, semua orang bicara, tapi saya nggak tahu gimana caranya bicara yang bikin orang mendengar.

    (more…)