Category: Blog

  • Hidupmu Gak Padam, Kamu Cuma Salah Cari Saklar

    Bayangkan kamu sedang berdiri di tengah ruangan gelap, semua lampu mati, dan kamu mencari saklar. Kamu tahu pernah ada cahaya di situ, tapi sekarang hanya kegelapan yang menyelimuti. Itu saya, beberapa tahun lalu. Saya sudah “berhasil”: jabatan naik, proyek besar, penghargaan—tapi entah kenapa saya merasa kosong. Saya bertanya: “Apa yang sebenarnya saya kejar? Apa yang membuat saya betul-betul merasa hidup?”
    Tiba-tiba, saya menutup buku tugas malam itu dan menangis sendiri karena sadar: saya tidak merasa “menyala” lagi. Saya merasa hanya mengikuti alur, bukan memilih. Semua pencapaian terasa seperti checklist kosong.
    Itulah momen klimaks saya—di mana saya akhirnya buka buku What Lights You Up? dan megap-megap (ya, secara emosional) menyadari bahwa: cahaya saya padam bukan karena saya gagal, tapi karena saya lupa mana saklar saya.
    Dari titik itu saya mulai perjalanan baru. Dan saya ingin berbagi ke kamu—karena mungkin kamu juga pernah berdiri di ruangan gelap yang sama.

    (more…)

  • Koneksi Banyak, Tapi Gak Ada yang Nyaut? Mungkin Kamu Salah Main Jaringan

    Saat itu — tiba-tiba LinkedIn saya sepi.

    Saya ingat momen itu dengan cukup jelas: saya posting insight panjang tentang transformasi budaya, menyertakan angka, tag rekan kerja, berharap ada komentar, diskusi, mungkin tiga-empat orang yang “oke” dan kirim DM. Tapi yang terjadi… hanya dua like. Dua. Dan satu komentar singkat: “bagus, Bro.”
    Di saat saya merasa “oke ini konten bagus, relevan, saya kan banyak koneksi,” realitanya terasa hampa. Saya mengalami ketidaknyamanan: “kenapa saya punya banyak koneksi tapi engagement rendah?” “Kenapa saya posting panjang tapi cuma like tipis?” Saya merasa seperti sedang shout ke ruang kosong.

    (more…)

  • Bukan Tentang Siapa Kamu, Tapi Cerita Apa yang Kamu Bawa

    “Saya juga pernah merasa sendirian di feed LinkedIn…”

    Oke, sebelum kita masuk ke substansi, saya mau jujur dulu. Beberapa bulan lalu saya scroll LinkedIn—lihat koneksi banyak, endorse banyak skill, posting-an bagus pula—tapi saat saya kirim DM atau komentar, ada perasaan: “Udah connect kok kok ya tetap saja saya nggak merasa ‘terkoneksi’.” Rasanya seperti: saya berdiri di tengah kerumunan, semua orang bicara, tapi saya nggak tahu gimana caranya bicara yang bikin orang mendengar.

    (more…)

  • Terlalu Sibuk? Sebenarnya Kamu Punya Lebih Banyak Waktu Daripada yang Kamu Pikirkan

    Jujur aja: saya juga pernah merasa waktu melawan saya.

    Ada masa ketika kalender saya seperti monster yang menelan hari-hari saya.
    Sebagai personal branding consultant, jadwal meeting berlapis. Sebagai author, saya harus menjaga jam menulis biar naskah nggak mandek. Lalu sebagai public speaker, weekend yang seharusnya buat recharge malah sering diisi acara.

     

    (more…)

  • Jangan Biarkan Nasi Jadi Abu

    Di banyak sekolah dasar negeri, terutama di pelosok Indonesia, anak-anak masih datang ke kelas dengan perut kosong. Ada yang hanya sarapan teh manis, ada pula yang menunggu jam istirahat dengan menahan lapar. Pemandangan itu, sayangnya, masih menjadi kenyataan di negara yang menyebut dirinya sebagai lumbung pangan tropis.

    (more…)

  • Kerja Bukan Cuma Soal Diterima

    Bayangin: malam minggu, jam 10 malam, lo barusan terima email “Selamat, kami ingin menawarkan posisi…”. Jantung berdetak lebih kencang daripada waktu lo first date, karena ini tawaran kerja impian—setidaknya versi lo. Lo kirim “terima kasih” dalam sekejap, dan nanti malam langsung posting “READY FOR NEXT ADVENTURE” di LinkedIn.

    (more…)