Author: Agung Wibowo

  • Misteri Takdir

    Dalam hidup ada hal-hal sudah digariskan kepada kita. Itulah takdir.

    Sekeras apapun kita berupaya jika memang bukan untuk kita, ya bukan untuk kita. Tapi setidak niat apa pun kita jika Tuhan telah berkehendak, kita akan mendapatkan sesuatu.

    Hidup memang tidak sesederhana itu.

    Mana bisa kita membedakan mana yang memang sudah menjadi “bagian” kita versus mana yang bukan?  Tentu, tak seorang pun yang bisa “membaca”-nya.

    Sebagai contoh terkait kematian. Saya sudah mendapati salah satu orang di lingkaran terdekatan saya meninggal secara tiba-tiba. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu sudah menghadap Sang Khaliq. Semua sanak keluarga menangisi kepergiannya. Mungkin jika sebelumnya sudah bertahun-tahun sakit, mereka akan lebih cepat legowo. Namun, jika tidak ada “warning”  yang mendahului, itulah yang membuat mereka bersedih.

    Contoh lainnya sederhana sekali. Ada seorang laki-laki milenial yang berani mengambil cicilan KPR dengan nilai begitu tinggi karena memang pendapatan bulanannya “masuk”. Ia adalah seorang karyawan tetap di perusahaan asing dengan side hustle yang lumayan. Namun, apa mau dikata, tiba-tiba ia menjadi bagian dari korban layoff. Langit seperti mau runtuh, dunia berubah seketika. Laki itu merasa bersalah, menyesal, hingga down karena akibat cicilan tersebut beban hidupnya terlihat besar.

    Saya yakin kita semua memiliki cerita tentang misteri takdir yang beragam. Entah terkait kematian, jodoh, kesempatan, rezeki, bisnis, pekerjaan atau yang lainnya.

    Namun, itulah hidup. Sangat beralasan jika manusia tidak dapat “membaca” suratan takdirnya sendiri. Karena jika bisa, tentu jalan hidup kita datar-datar saja karena kita tinggal mengikuti “skenario” dari Sang Sutradara Kehidupan.

    Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Orang-orang yang kita temui, masalah-masalah yang menguji iman kita, kesempatan-kesempatan yang kelak akan datang tiba-tiba, atau kejadian-kejadian yang membuat kita kaget.

    Manusia hanya bisa menjalani takdir-Nya. Itu bukan berarti pasif atau pasrah. Kita boleh membuat gol atau target yang memotivasi. Namun, kita tidak sepenuhnya mengendalikan hasilnya.

    Kita hanya diminta untuk berusaha semaksimal mungkin yang kita bisa. Sisanya biarkan Tuhan yang berkuasa.

    Takdirmu. Takdirku.

    Sawangan, 22 Maret 2024

  • Terapi Menulis: Menggali Kesehatan Mental Melalui Kata

    Terapi menulis adalah metode psikologis yang memanfaatkan proses menulis sebagai cara untuk mengeksplorasi emosi, pemikiran, dan pengalaman. Melalui tulisan, individu dapat mengekspresikan diri dengan cara yang mungkin sulit dilakukan secara verbal. Terapi ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti menulis jurnal, puisi, atau cerita pendek, dan ditujukan untuk membantu seseorang memahami dan mengatasi masalah emosional serta psikologis.

    Pentingnya Terapi Menulis

    Terapi menulis memiliki sejumlah manfaat signifikan, antara lain:

    1. Ekspresi Emosi: Menulis memungkinkan individu untuk mengekspresikan perasaan yang terpendam, membantu meredakan tekanan emosional.
    2. Refleksi Diri: Proses ini mendorong individu untuk merenungkan pengalaman hidup, membantu mereka menemukan makna dan memahami diri sendiri lebih baik.
    3. Pengurangan Stres dan Kecemasan: Menulis dapat menjadi alat untuk mengurangi stres, memberikan saluran untuk mengatasi kecemasan dan ketegangan.
    4. Meningkatkan Kreativitas: Terapi menulis sering kali memicu proses kreatif, memberikan perspektif baru untuk menghadapi tantangan.

    Penelitian Tentang Terapi Menulis

    Berbagai penelitian mendukung efektivitas terapi menulis. Salah satu studi oleh James Pennebaker, seorang psikolog dari University of Texas, menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman traumatis dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang terlibat dalam sesi menulis memiliki peningkatan dalam kesehatan mental dan fisik dibandingkan dengan mereka yang tidak.

    Studi lain juga menunjukkan bahwa menulis secara teratur dapat memperbaiki suasana hati dan meningkatkan kepuasan hidup. Menulis tidak hanya membantu individu memahami perasaan mereka, tetapi juga memberi mereka rasa kontrol atas pengalaman yang sulit.

    Cara Melakukan Terapi Menulis

    Untuk memulai terapi menulis, ikuti langkah-langkah berikut:

    1. Siapkan Alat Tulis: Gunakan jurnal, buku catatan, atau aplikasi menulis yang nyaman untuk Anda.
    2. Pilih Waktu dan Tempat: Tentukan waktu dan tempat yang tenang dan nyaman untuk menulis, sehingga Anda dapat fokus.
    3. Tuliskan Pikiran dan Perasaan Anda: Mulailah dengan menulis bebas tentang apa pun yang terlintas di pikiran. Tidak ada batasan dalam hal tema atau bentuk tulisan.
    4. Jangan Khawatir tentang Kualitas: Fokus pada proses menulis, bukan pada hasil akhir. Biarkan diri Anda mengekspresikan apa yang dirasakan.
    5. Lakukan Secara Rutin: Jadikan menulis sebagai kebiasaan harian, meskipun hanya selama 10-15 menit.

    Tips untuk Pemula

    1. Mulai dengan Pertanyaan: Jika Anda bingung, ajukan pertanyaan kepada diri sendiri. Misalnya, “Apa yang membuat saya bahagia?” atau “Apa yang saya pelajari dari pengalaman ini?”
    2. Gunakan Prompt Menulis: Cari ide atau tema untuk ditulis agar lebih mudah memulai. Banyak buku dan situs web menyediakan prompt untuk inspirasi.
    3. Baca Kembali dan Refleksikan: Setelah beberapa waktu, coba baca kembali tulisan Anda untuk melihat bagaimana Anda telah berkembang.
    4. Berbagi dengan Orang Terdekat: Jika merasa nyaman, pertimbangkan untuk membagikan tulisan Anda dengan teman atau keluarga. Ini bisa membuka diskusi yang mendalam dan mendukung.
    5. Bersikap Fleksibel: Sesuaikan terapi menulis dengan gaya dan kebutuhan Anda. Tidak ada cara yang benar atau salah.

    Contoh Public Figure yang Mempraktikkan Terapi Menulis

    Beberapa public figure terkenal telah memanfaatkan terapi menulis sebagai cara untuk mengatasi tantangan emosional dan berbagi pengalaman mereka:

    1. Maya Angelou: Penyair dan penulis terkenal ini menggunakan tulisan sebagai sarana untuk mengatasi trauma masa lalu dan memperjuangkan hak asasi manusia. Karyanya, seperti “I Know Why the Caged Bird Sings,” adalah contoh kuat dari bagaimana menulis dapat menjadi bentuk penyembuhan.
    2. J.K. Rowling: Penulis seri Harry Potter ini pernah berbagi bahwa dia menggunakan menulis untuk mengatasi depresi. Proses menulis membantu Rowling menemukan cara untuk memahami dan mengatasi perasaannya.
    3. Elizabeth Gilbert: Penulis “Eat, Pray, Love” ini sering membahas bagaimana menulis membantunya menghadapi kesedihan dan kebangkitan setelah pengalaman pribadi yang sulit.
    4. Michelle Obama: Dalam bukunya “Becoming,” mantan Ibu Negara AS ini menggunakan menulis untuk menceritakan kisah hidupnya dan bagaimana ia mengatasi berbagai tantangan.

    Kesimpulan

    Terapi menulis adalah alat yang ampuh untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan. Dengan menjadikan menulis sebagai praktik rutin, Anda dapat menggali emosi, memahami diri sendiri lebih baik, dan menemukan ketenangan dalam proses. Cobalah untuk memulai perjalanan ini dan nikmati manfaat yang dapat diberikan oleh terapi menulis.

    Writing Heals: Seni Menulis untuk Kesehatan Mental dan Kebahagiaan adalah salah satu buku komprehensif tentang terapi menulis yang dapat Anda pertimbangkan. Buku ini sudah tersedia di Gramedia di seluruh Indonesia. Juga di lokapasar populer seperti Tokopedia, Shopee, Lazada dan seterusnya.

     

     

  • Mengapa Terapi Menulis Efektif?

    Menulis sering kali dipandang hanya sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran atau sebagai keterampilan yang perlu dikuasai, tetapi lebih dari itu, menulis memiliki kemampuan untuk menjadi alat terapi yang luar biasa. Terapi menulis atau “writing therapy” adalah teknik untuk mengungkapkan emosi, memahami diri sendiri, dan mengatasi masalah pribadi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menulis dapat membantu mengurangi kecemasan, depresi, serta meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan.

    Artikel ini akan membahas beberapa teknik terapi menulis yang efektif, lengkap dengan contoh nyata dari public figure yang telah mempraktikkannya.

    1. Journaling atau Catatan Harian: Mengungkap Pikiran dan Emosi

    Journaling adalah teknik yang paling umum dalam terapi menulis. Journaling berfungsi sebagai wadah untuk menuangkan pikiran dan perasaan sehari-hari tanpa ada tekanan. Ini bisa menjadi langkah pertama yang ringan namun berdampak besar, karena membantu kita memahami emosi yang mungkin sulit diutarakan. Dengan menulis jurnal, kita bisa melacak perasaan kita, mengenali pemicu stres, dan berproses menghadapinya.

    Contoh nyata: Emma Watson, pemeran dalam film Harry Potter, sering berbicara tentang journaling sebagai alat untuk menjaga kesehatan mentalnya. Dia menyatakan bahwa menulis jurnal membantunya menenangkan diri, mengeksplorasi pikiran dan perasaan, serta menghadapi stres akibat tekanan pekerjaan dan popularitas. Bagi Emma, journaling adalah tempat aman untuk berbicara dengan dirinya sendiri tanpa ada penilaian dari pihak luar.

    2. Expressive Writing: Menulis Tentang Trauma atau Pengalaman Mendalam

    Expressive writing adalah teknik yang fokus pada pengalaman mendalam atau trauma. Tujuannya adalah untuk menulis secara bebas tentang perasaan yang mungkin menyakitkan atau sulit. Teknik ini dapat membantu seseorang memproses emosi kompleks terkait trauma, mengurangi tekanan batin, dan memberi rasa lega.

    Contoh nyata: Penyanyi Lady Gaga telah menggunakan expressive writing untuk menyalurkan trauma masa lalunya, termasuk pelecehan seksual yang pernah dialaminya di usia muda. Ia mengatakan bahwa menulis lagu-lagunya yang penuh emosional membantu dirinya mengatasi rasa sakit dan bangkit dari pengalaman kelam. Lagu-lagu seperti “Till It Happens to You” menjadi bukti nyata bagaimana expressive writing dapat menjadi sarana penyembuhan.

    3. Gratitude Journal: Menghitung Rasa Syukur

    Menulis jurnal rasa syukur atau gratitude journal adalah cara sederhana namun kuat untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan mental. Dengan mencatat tiga hingga lima hal yang kita syukuri setiap hari, kita dapat memusatkan perhatian pada hal-hal positif dan meminimalisir fokus pada masalah atau kekurangan.

    Contoh nyata: Oprah Winfrey adalah salah satu penggemar besar dari gratitude journal. Setiap hari, dia mencatat hal-hal yang ia syukuri, meski terkadang hal-hal tersebut sangat sederhana seperti waktu tenang di pagi hari atau percakapan menyenangkan dengan teman. Oprah meyakini bahwa menulis tentang rasa syukur telah membantunya mengatasi stres dan menjaga perasaan positif yang konsisten dalam hidupnya.

    4. Unsent Letter: Menulis Surat Tanpa Mengirimnya

    Unsent letter adalah teknik terapi menulis di mana kita menulis surat yang tidak akan dikirim. Surat ini bisa ditujukan kepada orang yang memiliki peran penting dalam hidup kita, seperti mantan pasangan, orang tua, atau bahkan diri sendiri. Teknik ini membantu kita mengungkapkan hal-hal yang sulit diutarakan secara langsung, seperti kemarahan, pengampunan, atau perasaan terluka.

    Contoh nyata: Aktor Will Smith mengakui bahwa ia sering menulis surat kepada ayahnya yang sudah meninggal. Surat-surat tersebut tidak ia kirimkan atau bagikan, tetapi ia menyimpan sebagai bentuk pengingat dan terapi pribadi. Menulis surat kepada ayahnya yang sudah tiada membantunya mengatasi kesedihan dan perasaan kehilangan, sekaligus memberi ruang bagi dirinya untuk refleksi dan pemahaman diri.

    5. Stream of Consciousness Writing: Menulis Bebas Tanpa Struktur

    Stream of consciousness writing adalah teknik menulis bebas tanpa mengatur atau mengedit tulisan. Seseorang bisa menulis segala sesuatu yang muncul di benaknya tanpa memikirkan struktur atau kaidah bahasa. Teknik ini sering digunakan untuk mengosongkan pikiran atau sebagai bentuk relaksasi, membantu seseorang mengeluarkan beban mental dan kecemasan.

    Contoh nyata: Rapper dan penulis lirik Kendrick Lamar menggunakan teknik ini saat menciptakan lirik-lirik lagunya yang personal dan emosional. Kendrick mengatakan bahwa ia sering menulis dalam bentuk aliran pikiran tanpa memikirkan apakah hasilnya akan menjadi lirik atau tidak. Teknik ini memungkinkan Kendrick untuk mengekspresikan dirinya dengan jujur, mengatasi stres, dan menemukan kelegaan emosional melalui karya seninya.

    6. Goal Writing: Menulis Tujuan dan Harapan

    Goal writing adalah teknik terapi menulis yang fokus pada tujuan atau harapan kita. Menuliskan tujuan kita dapat membantu kita lebih fokus, mengurangi kecemasan, serta memberi motivasi untuk bertindak. Menulis tujuan jangka pendek maupun jangka panjang juga bisa memberi arah dan tujuan hidup, khususnya bagi mereka yang merasa “terjebak” atau kehilangan arah.

    Contoh nyata: Penulis dan motivator, Tony Robbins, selalu menekankan pentingnya menuliskan tujuan dalam hidup. Robbins memiliki kebiasaan mencatat tujuan jangka pendek maupun jangka panjang dalam bukunya dan bahkan mendorong para pengikutnya untuk melakukan hal yang sama. Baginya, menuliskan tujuan bukan hanya membantu meningkatkan fokus, tetapi juga memberikan perasaan puas karena setiap tujuan yang tercapai menjadi bukti nyata dari kemajuan pribadi.

    Mengapa Terapi Menulis Efektif?

    Terapi menulis efektif karena memberikan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Melalui menulis, kita dapat memperjelas pikiran dan memahami perasaan, yang mungkin sulit dilakukan jika hanya disimpan di dalam kepala. Menulis juga membantu kita melepaskan emosi negatif dan berfokus pada aspek positif, membuat kita lebih siap menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.

    Memulai Terapi Menulis Sendiri

    Anda tidak perlu menjadi penulis profesional untuk mencoba teknik-teknik ini. Anda hanya butuh komitmen dan keberanian untuk mengekspresikan diri secara jujur. Cobalah salah satu teknik yang paling menarik bagi Anda, seperti gratitude journal untuk memulai hari dengan rasa syukur, atau journaling di malam hari untuk melepaskan pikiran-pikiran yang mengganggu. Seiring waktu, Anda akan merasakan manfaat dari menulis sebagai terapi, baik untuk kesehatan mental maupun kebahagiaan Anda.

    Terapi menulis bukan hanya soal menghasilkan tulisan, tetapi lebih tentang proses mengenal diri dan bertransformasi. Semoga teknik-teknik di atas menginspirasi Anda untuk mencoba menulis sebagai cara menemukan kedamaian batin.

    Bagi Anda yang ingin belajar mengenai terapi menulis, buku Writing Heals sudah tersedia di Gramedia di seluruh Indonesia. Buku ini cocok bagi Anda yang ingin mendalami teori dan praktik terapi menulis.

  • Refleksi 3 Bulan Menjadi Self-Employee

    Tak terasa sudah lebih dari tiga bulan saya menjadi Self-Employee. Bukan waktu yang mudah untuk dijalani. Tapi saya begitu bersyukur bisa mencapai titik ini.

    Terbiasa berjibaku dengan kemacetan Jakarta pulang-pergi kini sudah tidak kurasakan lagi. Menahan haus dan lapar di jalan tidak lagi kualami. Kehujanan maupun pandangan silau ketika berkendara tak lagi kutemui.

    Sepertinya di rumah enak ya Mas?

    Ada enaknya, ada tantangannya juga. Karena saya percaya apapun itu sepaket. Tak ada yang benar-benar menyenangkan. Nggak ada yang benar-benar menyedihkan.

    Saya percaya dalam kondisi apapun kita bisa memilih. Untuk ceria atau murung. Untuk berprasangka baik atau buruk. Untuk sabar atau terpancing emosi. Untuk lebih termotivasi atau justru makin down.

    Dulu ketika bekerja ada sosok atasan yang setidaknya mengingatkan kita untuk mencapai to do list ini dan itu. Senggaknya ada rekan kerja yang kita ajak curhat tentang keseharian. Kini itu tinggal kenangan.

    Kendali Diri

    Hanya diri sendirilah yang membuat semangat. Hanya diri sendirilah yang mendorong saya bosan. Hanya diri sendirilah yang menciptakan suasana menjadi nyaman atau sebaliknya.

    Jadi, ketika saya sedang bosan, saya ingat lagi tagihan demi tagihan yang perlu kubayar.

    Ketika saya lagi down, saya merenungkan lagi perjuangan ayah dan ibu yang membesarkan saya.

    Ketika saya sedang galau, saya mengingat lagi alasan awal saya meninggalkan kampung halaman.

    Ketika saya hampir menyerah, saya ingat lagi tumbuh kembang anak saya.

    Dan ketika saya merasa hilang arah, saya ingat lagi Tuhan. Karena ini adalah sumber motivasi terbesar.

    Mengingat Kematian

    Saya merasa tiga bulan terakhir merupakan fase yang tidak mudah dilalui. Berbagai “drama” datang bertubi-tubi silih berganti.

    Andai saja saya bukan self-employee, rasanya sulit meminta izin seminggu untuk merawat kedua orang tua yang sakit bersamaan di rumah sakit berbeda.

    Andai saja saya masih orang kantoran, tidak mungkin saya secara bebas berlama-lama di rumah ketika ayah mertua wafat secara mendadak.

    Andai saja saya masih mengikuti pola 9-6, mustahil saya bisa mengantar dan menjemput anak dengan leluasa.

    Mengingat kematian sungguh menjadi pelecut. Karena untuk apa kita melakukan apa yang kita lakukan? Untuk siapa  kita berkarya? Mengapa kita perlu takut, cemas, dan bosan?

    Bukankah itu semua kelak tidak artinya ketika ajal datang?

    Ya Tuhan, ampuni saya. Selama ini saya masih jauh untuk dikatkaan sebagai orang baik. Saya masih belum bijak mengisi waktu saya.

    Saya yakin saya bisa memperbaiki diri untuk mengikuti kehendak-Mu.

    Saya berterima kasih atas rahmat-Mu selama ini.

    Saya pasrahkan hidupku kepada-Mu.

    Saya ikuti semua skenario-Mu.

    Sawangan, 21 Maret 2024

  • Seni Memimpin Milenial & Gen Z yang Efektif

    “Oh kamu termasuk milenial ya, pantes  suka pindah-pindah pekerjaan . . .”
    “Gen Z itu sebenarnya cepat banget belajar. Tapi sepertinya mudah bosan dan etikanya minus.”
    “Saat ini banyak pemimpin di segala sektor yang merupakan generasi Z loh!”
    Tiga ungkapan tersebut agaknya sering kita dengar dalam keseharian, khususnya dalam konteks mengelola sumber daya manusia. Suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap; milenial bersama Gen Z saat ini memang telah mendominasi angkatan kerja di tanah air.
    Berdasarkan hasil Sensus Penduduk per September 2020, populasi Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa. Dari jumlah itu milenial dan Gen Z masing-masing menyumbang 25,87 persen dan 27,94 persen.
    Berkaca pada data tersebut, setiap organisasi dalam industri apa pun harus mengembangkan pendekatan mereka untuk menarik dan mempertahankan aset terpenting mereka: karyawan mereka.
    Jika setiap organisasi ingin memastikan angkatan kerja milenialnya berkinerja tinggi sebagaimana yang diharapkan, mereka harus memimpin secara lebih efektif dengan fokus pada pemberdayaan, proses kerja yang didorong oleh tujuan, dan coaching untuk pengembangan dan perencanaan suksesi. Saatnya untuk menyingkirkan bias kita dan memimpin tenaga kerja progresif itu dengan lebih efektif.
    Untuk memperoleh, mempertahankan, dan mengembangkan tim organisasi yang efektif dalam demografi baru ini, kita selaku pemimpin harus memikirkan bagaimana mereka dapat mengembangkan pengalaman karyawan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan generasi baru itu. Manajer dan eksekutif harus mengeksplorasi metode yang lebih efektif untuk memimpin kelompok yang sedang berkembang ini dalam angkatan kerja. Dengan kata lain, para pemimpin harus melihat dengan cermat bagaimana karyawan milenial dan Gen-Z terlibat di dalam dan di luar bisnis mereka dan mempertimbangkan setiap bias yang mungkin ada saat mereka memimpin angkatan kerja baru ini.

    Jadi, bagaimana kita selaku pemimpin harus memulai proses evaluasi dan perubahan? Berdasarkan pengamatan penulis, berikut sejumlah pendekatan yang perlu diambil.

    Pertama, memberdayakan tim. Survei Deloitte Global Gen Z dan Milenial 2022 menemukan bahwa 29% pekerja Milenial dan Gen-Z memilih untuk bekerja di organisasi mereka saat ini karena peluang pembelajaran dan pengembangan. Organisasi harus melampaui komitmen lisan (klaim) yang dibuat untuk mengembangkan orang lain selama proses wawancara kandidat. Karyawan akan mengantisipasi dan mencari investasi dalam alat dan sumber daya yang akan membantu mendorong pertumbuhan profesional mereka. Apa yang dapat dilakukan organisasi kita untuk melibatkan generasi Milenial dan Gen-Z sebagai pemimpin pada tingkat individual atau personal?
    Idealnya, pemberdayaan didasarkan pada pembentukan tempat di mana karyawan dapat berbagi ide dan pemikiran tanpa merasa bahwa mereka melakukan kesalahan. Ini dimulai dengan menciptakan ruang yang aman di mana mereka dapat terbuka dan cenderung untuk berbagi ide dan di mana pemberdayaan dapat terjadi. Misalnya dengan cara seperti berikut:
    * Dorong ide dengan menyiapkan peluang untuk mengumpulkan ide (dari berbagai kesempatan) yang mencakup item agenda di mana ide merupakan persyaratan dan ada peluang untuk perbaikan.
    * Tetapkan aturan dasar dalam format tersebut (umur panjang atau hierarki tidak menjadi masalah dalam konteks ide) dan buat aturan dasar untuk mendorong ide.
    * Buat peluang opsional bagi orang-orang untuk berbagi ide anonim, seperti dengan membuat papan ide atau menyiapkan kotak umpan balik dan opini.
    Kedua, berpikir jangka panjang untuk mereka.  Seringkali mereka yang memimpin karyawan Milenial dan Gen-Z memproyeksikan pengalaman dan pemahaman mereka sendiri kepada populasi pekerja itu. Pendekatan ini lebih banyak tentang pemimpin daripada tentang karyawan. Memahami motivasi orang lain memungkinkan seorang pemimpin untuk terlibat dan memimpin tim dengan lebih baik.
    Mempelajari dan memikirkan nilai-nilai yang memotivasi tim kita pasti akan mengarahkan kita ke pertanyaan yang dapat kita pertimbangkan tentang retensi jangka panjang. Dalam salah satu hasil survei Gallup, 60% non-Milenial sangat setuju bahwa mereka berencana untuk bekerja di perusahaan yang sama dalam satu tahun, dibandingkan dengan separuh Milenial. Selain itu, 36% Milenial melaporkan bahwa mereka akan mencari pekerjaan baru dengan organisasi yang berbeda dalam 12 bulan ke depan jika pasar kerja membaik, dibandingkan dengan 21% non-Milenial yang mengatakan hal yang sama.
    Pemimpin harus menemukan apa yang memotivasi karyawan Milenial mereka dan mengembangkan keterampilan untuk membuat perubahan dalam gaya kepemimpinan mereka sendiri demi retensi. Hal ini akan berdampak pada kemungkinan karyawan untuk tetap berada di perusahaan dan lebih terlibat dalam pekerjaan mereka.

    Ketiga, menjadi Coach – Bukan Bos. Pada umumnya, orang sering menerapkan bias dan label pribadi pada generasi Milenial dan Gen-Z. Beberapa yang paling umum adalah istilah stereotip “generasi mager”, “generasi gamer”, “generasi gadget”, atau “generasi rebahan”.

    Non-Milenial menganggap generasi itu menginginkan pengakuan dan umpan balik hanya karena partisipasi mereka, bukan karena pencapaian mereka yang sebenarnya dan keinginan untuk diyakinkan dan divalidasi. Menurut pengamatan saya, sentimen ini sama sekali tidak benar, tetapi agak bias dan menyesatkan.
    Milenial dan Gen-Z mungkin menginginkan umpan balik rutin dari para pemimpin senior mereka. Umpan balik yang teratur, konsisten, dan membangun adalah salah satu cara terbaik untuk memberdayakan  dan membuat mereka tetap terlibat. Sebagai permulaan yang penting, sisihkan label yang sudah terbentuk sebelumnya dan berusahalah untuk memahami individu tersebut.

    Bagi sebagian orang, kepemimpinan yang efektif datang secara alami. Tetapi bagi sebagian besar, ini adalah perilaku yang dipelajari. Kepemimpinan adalah keterampilan yang membutuhkan waktu, usaha, dan kesabaran untuk dikuasai dan dimodelkan.

    Untuk mengelola tenaga kerja saat ini, sangat penting bagi para pemimpin untuk terbuka terhadap ide-ide baru dan membuang kebiasaan lama. Ini dimulai dengan fokus pada bagaimana seseorang terlibat dengan tenaga kerja yang sedang berkembang.
    Pemberdayaan sangat penting untuk mendorong pemikiran kritis, pengambilan keputusan, membangun kepercayaan diri, dan menciptakan hasil yang didorong oleh tujuan. Berperan seperti Coach akan mendukung upaya pemberdayaan kita dengan memastikan kita memberikan umpan balik yang membangun dan dapat mengarah pada refleksi diri dan kemungkinan yang lebih besar bahwa karyawan dapat menerapkan praktik terbaik secara real time.
    Rangkullah karyawan zaman Now itu dan persiapkan kepemimpinan organisasi kita untuk keberlanjutan di masa depan.
  • Super Child, Happy Child

    Segera Terbit Buku Terbaru Saya: SUPER CHILD, HAPPY CHILD

    sampul child

    Sinopsis

    Agar bisa mengendarai mobil secara legal kita perlu memiliki keterampilan mengemudi sekaligus Surat Izin Mengemudi (SIM) agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks profesi, semakin banyak profesi yang mengharuskan kita memiliki sertifikasi untuk menunjukkan kredibilitas. Mulai dari perencana keuangan, akuntan, dokter, hakim, guru, pilot, dan seterusnya. Anehnya untuk salah satu yang pekerjaan paling menantang dan vital — mengasuh anak — tidak diperlukan pelatihan atau kualifikasi.

    Kurangnya pengetahuan atau pendidikan ini adalah salah satu alasannya (walaupun bukan yang utama, seperti kita lihat) mengapa begitu banyak orang tua kelimpungan. Orang tua tersebut tidak serta merta gagal memenuhi kebutuhan fisik dan materi anak. Mereka mungkin sebenarnya mencintai anak mereka dan menginginkan yang terbaik untuk mereka. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi tantangan dari anak mereka setiap hari.  Mereka juga tidak tahu bagaimana menanggapi secara tepat emosi anak yang sedang tumbuh maupun memenuhi kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritualnya.

    Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas anaknya. Berhasil atau tidaknya seorang anak tentu ada peran orang tua yang mengasuh dan membesarkan dari kecil hingga dewasa.

    Karena seorang anak terlahir ibarat kertas kosong, orang tualah yang berperan sebagai pelukis atau penulisnya. Oleh karena itu, indah atau tidaknya hasil “coretan” tersebut, bergantung dari seberapa serius kerja sama antara ayah dan bunda untuk memantaskan diri. Yaitu keinginan untuk terus-menerus mendampingi anak-anak di di setiap fase pertumbuhan dan perkembangannya hingga mereka siap untuk “dilepas” menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir, berpikir atau bertindak.

    Buku ini adalah intisari dari pembelajaran penulis selama bertahun-tahun dalam upaya menjadi orang tua yang baik. Harapannya, buku ini menjadi pendamping bagi Anda untuk mencetak generasi yang berprestasi sekaligus bahagia.

     

    Apa Kata Mereka? 

    “Buku Saudara Agung Setiyo Wibowo ini masuk ranah Ilmu Psikologi sementara background keilmuannya adalah Hubungan Internasional. Bagi saya buku ini amat menarik karena muatan psikologisnya sebagai seorang ayah dari anak semata wayang. Bisa diasumsikan Buku Super Child, Happy Child merupakan refleksi unconscious penulis terhadap perannya selaku ayah untuk memberikan parenting terbaik bagi anaknya. Perasaan, pengalaman, harapan, curiosity dan concern penulis terhadap masalah perkembangan anak bisa mewakili generasi ayah yang sama.  Inilah yang dibagikan pada kita semua oleh penulis produktif.  Selamat membaca untuk peroleh insight. Sukses selalu untuk Saudara Agung Setiyo Wibowo.”

    Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M. Si., M.M., Psikolog

    Guru Besar Ilmu Psikologi Universitas Indonesia

     

    “Dalam buku panduan praktis ini, Agung menawarkan kepada orang tua pendekatan langkah demi langkah yang dapat dilakukan untuk membesarkan generasi berprestasi yang bahagia.”

    Pambudi Sunarsihanto

    Chairman of ASEAN Human Development Organization

     

    “Jika Anda adalah orang tua dan calon orang tua yang mendambakan mendidik anak-anak Anda menjadi pribadi berprestasi nan bahagia hidupnya, bacalah buku bermutu Super Child, Happy Child. Di buku ini penulis bukan saja fasih menyajikan bahasan ilmiah terkait pengembangan karakter anak agar berprestasi nan bahagia, lebih dari itu penulis berhasil menyuguhkan langkah praktis bagaimana mendidik anak berprestasi nan bahagia hidupnya.”

    Dedi Priadi, MT., MA.,

    Guru Kepribadian, Inventor PRiADI Psychological Fingerprints

     

    “Buku ilmiah yang sebenarnya berat untuk dibahas tapi mampu dinarasikan dengan sederhana. Saya mendorong semua orang tua yang menginginkan anak-anak yang sukses, bahagia, dan sehat secara emosional untuk membacanya. Saya berharap saya telah membacanya jauh-jauh hari selepas menikah.”

    Dr. Sonny Y. Soeharso, MM, MPsi.,

    Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

    Ketua Dewan Pembina Yayasan Pemantapan Ideologi Pancasila (YPIP)

     

    “Buku ini penuh dengan strategi untuk membesarkan anak-anak yang bahagia, sukses dan tangguh. Ini menawarkan alat yang ampuh untuk membantu anak-anak mengembangkan kecerdasan emosional yang mereka perlukan untuk sukses sekaligus bahagia di dunia. Orang tua akan belajar cara untuk merasa lebih terhubung dengan anak-anak mereka dan lebih puas dalam peran mereka sebagai orang tua.”

    Endy Abdurrahman

    Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Pos Indonesia

     

    “Agung berhasil merancang buku panduan parenting berbobot yang enak dibaca tanpa terkesan menggurui.  Penuh dengan hasil riset mutakhir, studi kasus, dan best practices yang dapat kita langsung terapkan dalam mendidik anak di abad digital.”

    Adrinal Tanjung

    Founder Satu Birokrat Satu Buku

    Dewan Pembina Yayasan Pusako Adrinal Tanjung

     

    “Dalam buku panduan yang mendalam dan praktis ini, Agung menawarkan kepada orang tua pendekatan langkah demi langkah yang dapat dilakukan untuk membesarkan generasi berprestasi tinggi yang bahagia.”

    Dr. Ir. Ahmad Syamil, MBA

    Dosen BINUS Business School (BBS), Bina Nusantara (BINUS) University Bandung

     

    “Dari semua buku parenting yang pernah saya baca sejauh ini, buku ini adalah salah satu yang paling saya rekomendasikan untuk dibaca oleh para ayah dan ibu. Buku ini bisa menenangkan orang tua maupun calon orang tua yang mungkin masih meragukan kompetensi mereka.”

    Yudi Candra

    Maximizer Coach

     

    “Anak-anak yang hebat diasuh oleh orang tua yang hebat. Agung dengan cerdas membumikan strategi mengasuh anak yang rumit dengan bahasa yang renyah. Sarat dengan cerita yang relates dengan keseharian kita.”

    Yubaedi Siron

    Mahasiswa PhD in Education, Queen’s University Belfast, United Kingdom

    Pengajar PIAUD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

     

    “Bacaan wajib bagi para orang tua dan calon orang tua yang ingin mencetak generasi berprestasi tinggi nan bahagia.”

    Kus Heryuwono

    Pengasuh Jipikus Channel

    Chairman & CEO PT. Intipesan Pariwara

     

    “Saya rasa tidak banyak penulis Indonesia yang mampu menciptakan buku berkelas sebaik Agung Setiyo Wibowo. Melalui buku ini kita diajak untuk untuk mencetak generasi emas Indonesia yang berprestasi tinggi, berakhlak mulia, dan bahagia.”

    Ahmad Faiz Zainuddin

    Founder SEFT.co.id

     

    “Sebuah karya yang luar biasa karena bukan sekadar buku panduan yang sudah banyak ditemui di pasaran. Semua orang tua dapat menggunakan metode yang disuguhkan oleh buku ini untuk meningkatkan kualitas hubungan sehari-hari mereka dengan anak-anak mereka.”

    Dede Farhan Aulawi

    Konsultan Pertahanan dan Keamanan

     

    “Bagaimana kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh menjadi orang dewasa yang banyak akal dan bahagia? Agung menunjukkan secara praktis bagaimana mencetak generasi berprestasi tinggi nan bahagia. Buku yang bijak dan menarik, mendalami penelitian ilmiah dan ditempa dengan akal sehat.”

    Jimmy Gani

    Founder & Chairman Proven Force Indonesia  & JG Group

     

    Mengapa Anda Perlu Membaca Buku Ini? 

    Kebanyakan buku bertema parenting yang terbit di pasaran lebih banyak berfokus untuk mencetak generasi yang berprestasi atau sukses di akademik, pekerjaan atau kehidupan. Namun, sejauh ini saya sulit (dan tidak menemukan) buku terbitan lokal yang mengangkat pentingnya mencetak anak yang tidak hanya sukses pada segala aspek yang terlihat/terukur, namun secara beriringan mengedukasi pentingnya menanamkan aspek kebahagiaan. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan semakin meningkatnya generasi muda Indonesia yang sangat sukses secara akademik dan karier (finansial), tapi berbanding terbalik dengan aspek kebahagiaannya. Buktinya angka bunuh diri semakin meningkat, penyalahgunaan narkoba sebagai pelampiasan stress berlebih dan seterusnya. Buku ini berupaya untuk mengisi Gap tersebut.

    Di buku ini, Anda akan belajar banyak pola asuh untuk “mencetak” anak yang sukses nan bahagia. Saya sendiri mengupas tuntas bagaimana berderet Public Figure dulu diasuh oleh orang tuanya. Sejumlah tokoh yang saya ulas di buku ini adalah sebagai berikut.

    1. Tantowi Ahmad, Juara Dunia Bulu Tangkis
    2. Adamas Belva Syah Devara, CEO & Cofounder Ruangguru
    3. Warren Buffet, CEO Berkshire Hathaway
    4. Michelle Obama, Mantan Ibu Negara Amerika Serikat
    5.  Anies Baswedan, Mantan Gubernur DKI Jakarta
    6.  Joko Widodo, Presiden RI ke-7
    7.  Muhammad Iman Usman, Cofounder  Ruangguru
    8.  Maudy Ayunda, Aktris
    9.  Liliyana Natsir, Juara Dunia Bulu Tangkis
    10.  Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah
    11.  Bill Gates, Pendiri Microsoft
    12.  Muhammad Alfatih Timur, CEO & Pendiri Kitabisa
    13.  Isyana Sarasvati, Penyanyi
    14.  Anne Avantie, Perancang Busana
    15.  Najwa Shihab, Jurnalis
    16.  Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat
    17.  Atta Halilintar, YouTuber
    18.  Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI
    19.  Sandiaga Salahuddin Uno, Pengusaha
    20.  Nadiem Makarim, Cofounder Gojek
    21.  Mark Zuckerberg, Pendiri Facebook

     

    Bagaimana Cara Memesan Buku Ini? 

    Hubungi +62 852 3050 4735 atau grandsaint@gmail.com