Author: Agung Wibowo

  • Refleksi 3 Bulan Menjadi Self-Employee

    Tak terasa sudah lebih dari tiga bulan saya menjadi Self-Employee. Bukan waktu yang mudah untuk dijalani. Tapi saya begitu bersyukur bisa mencapai titik ini.

    Terbiasa berjibaku dengan kemacetan Jakarta pulang-pergi kini sudah tidak kurasakan lagi. Menahan haus dan lapar di jalan tidak lagi kualami. Kehujanan maupun pandangan silau ketika berkendara tak lagi kutemui.

    Sepertinya di rumah enak ya Mas?

    Ada enaknya, ada tantangannya juga. Karena saya percaya apapun itu sepaket. Tak ada yang benar-benar menyenangkan. Nggak ada yang benar-benar menyedihkan.

    Saya percaya dalam kondisi apapun kita bisa memilih. Untuk ceria atau murung. Untuk berprasangka baik atau buruk. Untuk sabar atau terpancing emosi. Untuk lebih termotivasi atau justru makin down.

    Dulu ketika bekerja ada sosok atasan yang setidaknya mengingatkan kita untuk mencapai to do list ini dan itu. Senggaknya ada rekan kerja yang kita ajak curhat tentang keseharian. Kini itu tinggal kenangan.

    Kendali Diri

    Hanya diri sendirilah yang membuat semangat. Hanya diri sendirilah yang mendorong saya bosan. Hanya diri sendirilah yang menciptakan suasana menjadi nyaman atau sebaliknya.

    Jadi, ketika saya sedang bosan, saya ingat lagi tagihan demi tagihan yang perlu kubayar.

    Ketika saya lagi down, saya merenungkan lagi perjuangan ayah dan ibu yang membesarkan saya.

    Ketika saya sedang galau, saya mengingat lagi alasan awal saya meninggalkan kampung halaman.

    Ketika saya hampir menyerah, saya ingat lagi tumbuh kembang anak saya.

    Dan ketika saya merasa hilang arah, saya ingat lagi Tuhan. Karena ini adalah sumber motivasi terbesar.

    Mengingat Kematian

    Saya merasa tiga bulan terakhir merupakan fase yang tidak mudah dilalui. Berbagai “drama” datang bertubi-tubi silih berganti.

    Andai saja saya bukan self-employee, rasanya sulit meminta izin seminggu untuk merawat kedua orang tua yang sakit bersamaan di rumah sakit berbeda.

    Andai saja saya masih orang kantoran, tidak mungkin saya secara bebas berlama-lama di rumah ketika ayah mertua wafat secara mendadak.

    Andai saja saya masih mengikuti pola 9-6, mustahil saya bisa mengantar dan menjemput anak dengan leluasa.

    Mengingat kematian sungguh menjadi pelecut. Karena untuk apa kita melakukan apa yang kita lakukan? Untuk siapa  kita berkarya? Mengapa kita perlu takut, cemas, dan bosan?

    Bukankah itu semua kelak tidak artinya ketika ajal datang?

    Ya Tuhan, ampuni saya. Selama ini saya masih jauh untuk dikatkaan sebagai orang baik. Saya masih belum bijak mengisi waktu saya.

    Saya yakin saya bisa memperbaiki diri untuk mengikuti kehendak-Mu.

    Saya berterima kasih atas rahmat-Mu selama ini.

    Saya pasrahkan hidupku kepada-Mu.

    Saya ikuti semua skenario-Mu.

    Sawangan, 21 Maret 2024

  • Seni Memimpin Milenial & Gen Z yang Efektif

    “Oh kamu termasuk milenial ya, pantes  suka pindah-pindah pekerjaan . . .”
    “Gen Z itu sebenarnya cepat banget belajar. Tapi sepertinya mudah bosan dan etikanya minus.”
    “Saat ini banyak pemimpin di segala sektor yang merupakan generasi Z loh!”
    Tiga ungkapan tersebut agaknya sering kita dengar dalam keseharian, khususnya dalam konteks mengelola sumber daya manusia. Suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap; milenial bersama Gen Z saat ini memang telah mendominasi angkatan kerja di tanah air.
    Berdasarkan hasil Sensus Penduduk per September 2020, populasi Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa. Dari jumlah itu milenial dan Gen Z masing-masing menyumbang 25,87 persen dan 27,94 persen.
    Berkaca pada data tersebut, setiap organisasi dalam industri apa pun harus mengembangkan pendekatan mereka untuk menarik dan mempertahankan aset terpenting mereka: karyawan mereka.
    Jika setiap organisasi ingin memastikan angkatan kerja milenialnya berkinerja tinggi sebagaimana yang diharapkan, mereka harus memimpin secara lebih efektif dengan fokus pada pemberdayaan, proses kerja yang didorong oleh tujuan, dan coaching untuk pengembangan dan perencanaan suksesi. Saatnya untuk menyingkirkan bias kita dan memimpin tenaga kerja progresif itu dengan lebih efektif.
    Untuk memperoleh, mempertahankan, dan mengembangkan tim organisasi yang efektif dalam demografi baru ini, kita selaku pemimpin harus memikirkan bagaimana mereka dapat mengembangkan pengalaman karyawan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan generasi baru itu. Manajer dan eksekutif harus mengeksplorasi metode yang lebih efektif untuk memimpin kelompok yang sedang berkembang ini dalam angkatan kerja. Dengan kata lain, para pemimpin harus melihat dengan cermat bagaimana karyawan milenial dan Gen-Z terlibat di dalam dan di luar bisnis mereka dan mempertimbangkan setiap bias yang mungkin ada saat mereka memimpin angkatan kerja baru ini.

    Jadi, bagaimana kita selaku pemimpin harus memulai proses evaluasi dan perubahan? Berdasarkan pengamatan penulis, berikut sejumlah pendekatan yang perlu diambil.

    Pertama, memberdayakan tim. Survei Deloitte Global Gen Z dan Milenial 2022 menemukan bahwa 29% pekerja Milenial dan Gen-Z memilih untuk bekerja di organisasi mereka saat ini karena peluang pembelajaran dan pengembangan. Organisasi harus melampaui komitmen lisan (klaim) yang dibuat untuk mengembangkan orang lain selama proses wawancara kandidat. Karyawan akan mengantisipasi dan mencari investasi dalam alat dan sumber daya yang akan membantu mendorong pertumbuhan profesional mereka. Apa yang dapat dilakukan organisasi kita untuk melibatkan generasi Milenial dan Gen-Z sebagai pemimpin pada tingkat individual atau personal?
    Idealnya, pemberdayaan didasarkan pada pembentukan tempat di mana karyawan dapat berbagi ide dan pemikiran tanpa merasa bahwa mereka melakukan kesalahan. Ini dimulai dengan menciptakan ruang yang aman di mana mereka dapat terbuka dan cenderung untuk berbagi ide dan di mana pemberdayaan dapat terjadi. Misalnya dengan cara seperti berikut:
    * Dorong ide dengan menyiapkan peluang untuk mengumpulkan ide (dari berbagai kesempatan) yang mencakup item agenda di mana ide merupakan persyaratan dan ada peluang untuk perbaikan.
    * Tetapkan aturan dasar dalam format tersebut (umur panjang atau hierarki tidak menjadi masalah dalam konteks ide) dan buat aturan dasar untuk mendorong ide.
    * Buat peluang opsional bagi orang-orang untuk berbagi ide anonim, seperti dengan membuat papan ide atau menyiapkan kotak umpan balik dan opini.
    Kedua, berpikir jangka panjang untuk mereka.  Seringkali mereka yang memimpin karyawan Milenial dan Gen-Z memproyeksikan pengalaman dan pemahaman mereka sendiri kepada populasi pekerja itu. Pendekatan ini lebih banyak tentang pemimpin daripada tentang karyawan. Memahami motivasi orang lain memungkinkan seorang pemimpin untuk terlibat dan memimpin tim dengan lebih baik.
    Mempelajari dan memikirkan nilai-nilai yang memotivasi tim kita pasti akan mengarahkan kita ke pertanyaan yang dapat kita pertimbangkan tentang retensi jangka panjang. Dalam salah satu hasil survei Gallup, 60% non-Milenial sangat setuju bahwa mereka berencana untuk bekerja di perusahaan yang sama dalam satu tahun, dibandingkan dengan separuh Milenial. Selain itu, 36% Milenial melaporkan bahwa mereka akan mencari pekerjaan baru dengan organisasi yang berbeda dalam 12 bulan ke depan jika pasar kerja membaik, dibandingkan dengan 21% non-Milenial yang mengatakan hal yang sama.
    Pemimpin harus menemukan apa yang memotivasi karyawan Milenial mereka dan mengembangkan keterampilan untuk membuat perubahan dalam gaya kepemimpinan mereka sendiri demi retensi. Hal ini akan berdampak pada kemungkinan karyawan untuk tetap berada di perusahaan dan lebih terlibat dalam pekerjaan mereka.

    Ketiga, menjadi Coach – Bukan Bos. Pada umumnya, orang sering menerapkan bias dan label pribadi pada generasi Milenial dan Gen-Z. Beberapa yang paling umum adalah istilah stereotip “generasi mager”, “generasi gamer”, “generasi gadget”, atau “generasi rebahan”.

    Non-Milenial menganggap generasi itu menginginkan pengakuan dan umpan balik hanya karena partisipasi mereka, bukan karena pencapaian mereka yang sebenarnya dan keinginan untuk diyakinkan dan divalidasi. Menurut pengamatan saya, sentimen ini sama sekali tidak benar, tetapi agak bias dan menyesatkan.
    Milenial dan Gen-Z mungkin menginginkan umpan balik rutin dari para pemimpin senior mereka. Umpan balik yang teratur, konsisten, dan membangun adalah salah satu cara terbaik untuk memberdayakan  dan membuat mereka tetap terlibat. Sebagai permulaan yang penting, sisihkan label yang sudah terbentuk sebelumnya dan berusahalah untuk memahami individu tersebut.

    Bagi sebagian orang, kepemimpinan yang efektif datang secara alami. Tetapi bagi sebagian besar, ini adalah perilaku yang dipelajari. Kepemimpinan adalah keterampilan yang membutuhkan waktu, usaha, dan kesabaran untuk dikuasai dan dimodelkan.

    Untuk mengelola tenaga kerja saat ini, sangat penting bagi para pemimpin untuk terbuka terhadap ide-ide baru dan membuang kebiasaan lama. Ini dimulai dengan fokus pada bagaimana seseorang terlibat dengan tenaga kerja yang sedang berkembang.
    Pemberdayaan sangat penting untuk mendorong pemikiran kritis, pengambilan keputusan, membangun kepercayaan diri, dan menciptakan hasil yang didorong oleh tujuan. Berperan seperti Coach akan mendukung upaya pemberdayaan kita dengan memastikan kita memberikan umpan balik yang membangun dan dapat mengarah pada refleksi diri dan kemungkinan yang lebih besar bahwa karyawan dapat menerapkan praktik terbaik secara real time.
    Rangkullah karyawan zaman Now itu dan persiapkan kepemimpinan organisasi kita untuk keberlanjutan di masa depan.
  • Super Child, Happy Child

    Segera Terbit Buku Terbaru Saya: SUPER CHILD, HAPPY CHILD

    sampul child

    Sinopsis

    Agar bisa mengendarai mobil secara legal kita perlu memiliki keterampilan mengemudi sekaligus Surat Izin Mengemudi (SIM) agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks profesi, semakin banyak profesi yang mengharuskan kita memiliki sertifikasi untuk menunjukkan kredibilitas. Mulai dari perencana keuangan, akuntan, dokter, hakim, guru, pilot, dan seterusnya. Anehnya untuk salah satu yang pekerjaan paling menantang dan vital — mengasuh anak — tidak diperlukan pelatihan atau kualifikasi.

    Kurangnya pengetahuan atau pendidikan ini adalah salah satu alasannya (walaupun bukan yang utama, seperti kita lihat) mengapa begitu banyak orang tua kelimpungan. Orang tua tersebut tidak serta merta gagal memenuhi kebutuhan fisik dan materi anak. Mereka mungkin sebenarnya mencintai anak mereka dan menginginkan yang terbaik untuk mereka. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi tantangan dari anak mereka setiap hari.  Mereka juga tidak tahu bagaimana menanggapi secara tepat emosi anak yang sedang tumbuh maupun memenuhi kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritualnya.

    Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas anaknya. Berhasil atau tidaknya seorang anak tentu ada peran orang tua yang mengasuh dan membesarkan dari kecil hingga dewasa.

    Karena seorang anak terlahir ibarat kertas kosong, orang tualah yang berperan sebagai pelukis atau penulisnya. Oleh karena itu, indah atau tidaknya hasil “coretan” tersebut, bergantung dari seberapa serius kerja sama antara ayah dan bunda untuk memantaskan diri. Yaitu keinginan untuk terus-menerus mendampingi anak-anak di di setiap fase pertumbuhan dan perkembangannya hingga mereka siap untuk “dilepas” menjadi manusia yang merdeka dalam berpikir, berpikir atau bertindak.

    Buku ini adalah intisari dari pembelajaran penulis selama bertahun-tahun dalam upaya menjadi orang tua yang baik. Harapannya, buku ini menjadi pendamping bagi Anda untuk mencetak generasi yang berprestasi sekaligus bahagia.

     

    Apa Kata Mereka? 

    “Buku Saudara Agung Setiyo Wibowo ini masuk ranah Ilmu Psikologi sementara background keilmuannya adalah Hubungan Internasional. Bagi saya buku ini amat menarik karena muatan psikologisnya sebagai seorang ayah dari anak semata wayang. Bisa diasumsikan Buku Super Child, Happy Child merupakan refleksi unconscious penulis terhadap perannya selaku ayah untuk memberikan parenting terbaik bagi anaknya. Perasaan, pengalaman, harapan, curiosity dan concern penulis terhadap masalah perkembangan anak bisa mewakili generasi ayah yang sama.  Inilah yang dibagikan pada kita semua oleh penulis produktif.  Selamat membaca untuk peroleh insight. Sukses selalu untuk Saudara Agung Setiyo Wibowo.”

    Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M. Si., M.M., Psikolog

    Guru Besar Ilmu Psikologi Universitas Indonesia

     

    “Dalam buku panduan praktis ini, Agung menawarkan kepada orang tua pendekatan langkah demi langkah yang dapat dilakukan untuk membesarkan generasi berprestasi yang bahagia.”

    Pambudi Sunarsihanto

    Chairman of ASEAN Human Development Organization

     

    “Jika Anda adalah orang tua dan calon orang tua yang mendambakan mendidik anak-anak Anda menjadi pribadi berprestasi nan bahagia hidupnya, bacalah buku bermutu Super Child, Happy Child. Di buku ini penulis bukan saja fasih menyajikan bahasan ilmiah terkait pengembangan karakter anak agar berprestasi nan bahagia, lebih dari itu penulis berhasil menyuguhkan langkah praktis bagaimana mendidik anak berprestasi nan bahagia hidupnya.”

    Dedi Priadi, MT., MA.,

    Guru Kepribadian, Inventor PRiADI Psychological Fingerprints

     

    “Buku ilmiah yang sebenarnya berat untuk dibahas tapi mampu dinarasikan dengan sederhana. Saya mendorong semua orang tua yang menginginkan anak-anak yang sukses, bahagia, dan sehat secara emosional untuk membacanya. Saya berharap saya telah membacanya jauh-jauh hari selepas menikah.”

    Dr. Sonny Y. Soeharso, MM, MPsi.,

    Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

    Ketua Dewan Pembina Yayasan Pemantapan Ideologi Pancasila (YPIP)

     

    “Buku ini penuh dengan strategi untuk membesarkan anak-anak yang bahagia, sukses dan tangguh. Ini menawarkan alat yang ampuh untuk membantu anak-anak mengembangkan kecerdasan emosional yang mereka perlukan untuk sukses sekaligus bahagia di dunia. Orang tua akan belajar cara untuk merasa lebih terhubung dengan anak-anak mereka dan lebih puas dalam peran mereka sebagai orang tua.”

    Endy Abdurrahman

    Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Pos Indonesia

     

    “Agung berhasil merancang buku panduan parenting berbobot yang enak dibaca tanpa terkesan menggurui.  Penuh dengan hasil riset mutakhir, studi kasus, dan best practices yang dapat kita langsung terapkan dalam mendidik anak di abad digital.”

    Adrinal Tanjung

    Founder Satu Birokrat Satu Buku

    Dewan Pembina Yayasan Pusako Adrinal Tanjung

     

    “Dalam buku panduan yang mendalam dan praktis ini, Agung menawarkan kepada orang tua pendekatan langkah demi langkah yang dapat dilakukan untuk membesarkan generasi berprestasi tinggi yang bahagia.”

    Dr. Ir. Ahmad Syamil, MBA

    Dosen BINUS Business School (BBS), Bina Nusantara (BINUS) University Bandung

     

    “Dari semua buku parenting yang pernah saya baca sejauh ini, buku ini adalah salah satu yang paling saya rekomendasikan untuk dibaca oleh para ayah dan ibu. Buku ini bisa menenangkan orang tua maupun calon orang tua yang mungkin masih meragukan kompetensi mereka.”

    Yudi Candra

    Maximizer Coach

     

    “Anak-anak yang hebat diasuh oleh orang tua yang hebat. Agung dengan cerdas membumikan strategi mengasuh anak yang rumit dengan bahasa yang renyah. Sarat dengan cerita yang relates dengan keseharian kita.”

    Yubaedi Siron

    Mahasiswa PhD in Education, Queen’s University Belfast, United Kingdom

    Pengajar PIAUD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

     

    “Bacaan wajib bagi para orang tua dan calon orang tua yang ingin mencetak generasi berprestasi tinggi nan bahagia.”

    Kus Heryuwono

    Pengasuh Jipikus Channel

    Chairman & CEO PT. Intipesan Pariwara

     

    “Saya rasa tidak banyak penulis Indonesia yang mampu menciptakan buku berkelas sebaik Agung Setiyo Wibowo. Melalui buku ini kita diajak untuk untuk mencetak generasi emas Indonesia yang berprestasi tinggi, berakhlak mulia, dan bahagia.”

    Ahmad Faiz Zainuddin

    Founder SEFT.co.id

     

    “Sebuah karya yang luar biasa karena bukan sekadar buku panduan yang sudah banyak ditemui di pasaran. Semua orang tua dapat menggunakan metode yang disuguhkan oleh buku ini untuk meningkatkan kualitas hubungan sehari-hari mereka dengan anak-anak mereka.”

    Dede Farhan Aulawi

    Konsultan Pertahanan dan Keamanan

     

    “Bagaimana kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh menjadi orang dewasa yang banyak akal dan bahagia? Agung menunjukkan secara praktis bagaimana mencetak generasi berprestasi tinggi nan bahagia. Buku yang bijak dan menarik, mendalami penelitian ilmiah dan ditempa dengan akal sehat.”

    Jimmy Gani

    Founder & Chairman Proven Force Indonesia  & JG Group

     

    Mengapa Anda Perlu Membaca Buku Ini? 

    Kebanyakan buku bertema parenting yang terbit di pasaran lebih banyak berfokus untuk mencetak generasi yang berprestasi atau sukses di akademik, pekerjaan atau kehidupan. Namun, sejauh ini saya sulit (dan tidak menemukan) buku terbitan lokal yang mengangkat pentingnya mencetak anak yang tidak hanya sukses pada segala aspek yang terlihat/terukur, namun secara beriringan mengedukasi pentingnya menanamkan aspek kebahagiaan. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan semakin meningkatnya generasi muda Indonesia yang sangat sukses secara akademik dan karier (finansial), tapi berbanding terbalik dengan aspek kebahagiaannya. Buktinya angka bunuh diri semakin meningkat, penyalahgunaan narkoba sebagai pelampiasan stress berlebih dan seterusnya. Buku ini berupaya untuk mengisi Gap tersebut.

    Di buku ini, Anda akan belajar banyak pola asuh untuk “mencetak” anak yang sukses nan bahagia. Saya sendiri mengupas tuntas bagaimana berderet Public Figure dulu diasuh oleh orang tuanya. Sejumlah tokoh yang saya ulas di buku ini adalah sebagai berikut.

    1. Tantowi Ahmad, Juara Dunia Bulu Tangkis
    2. Adamas Belva Syah Devara, CEO & Cofounder Ruangguru
    3. Warren Buffet, CEO Berkshire Hathaway
    4. Michelle Obama, Mantan Ibu Negara Amerika Serikat
    5.  Anies Baswedan, Mantan Gubernur DKI Jakarta
    6.  Joko Widodo, Presiden RI ke-7
    7.  Muhammad Iman Usman, Cofounder  Ruangguru
    8.  Maudy Ayunda, Aktris
    9.  Liliyana Natsir, Juara Dunia Bulu Tangkis
    10.  Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah
    11.  Bill Gates, Pendiri Microsoft
    12.  Muhammad Alfatih Timur, CEO & Pendiri Kitabisa
    13.  Isyana Sarasvati, Penyanyi
    14.  Anne Avantie, Perancang Busana
    15.  Najwa Shihab, Jurnalis
    16.  Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat
    17.  Atta Halilintar, YouTuber
    18.  Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI
    19.  Sandiaga Salahuddin Uno, Pengusaha
    20.  Nadiem Makarim, Cofounder Gojek
    21.  Mark Zuckerberg, Pendiri Facebook

     

    Bagaimana Cara Memesan Buku Ini? 

    Hubungi +62 852 3050 4735 atau grandsaint@gmail.com

  • Writing Heals: Seni Menulis Untuk Kesehatan Mental & Kebahagiaan

    Pernahkah Anda merasa rendah diri, terpuruk, terjebak dalam rutinitas atau sekadar stres? Semua orang tentu akan menjawab ya untuk pertanyaan ini . Kita semua pernah, sedang atau pasti akan mengalami masa-masa sulit, dan kita semua harus berjuang untuk mengembalikan diri kita ke keseimbangan. Bagi sebagian orang, keseimbangan diri dapat diusahakan melalui seni.

    Banyak sekali cara untuk menggabungkan seni ke dalam penyembuhan spiritual dan pertumbuhan emosi, seperti menggambar, melukis, musik, atau menari. Sebuah cara kreatif, ekspresif dan tidak memerlukan bakat artistik khusus adalah terapi menulis. Kita tidak perlu menjadi penulis produktif, best seller atau punya bakat menulis, hanya untuk mendapatkan manfaat dari menulis. Semua yang kita butuhkan hanyalah selembar kertas, pena atau laptop Anda, dan sebuah motivasi menulis.

    Tujuan terapi menulis adalah membuat kita semakin menyadari makna hidup kita dengan cara mengartikulasikan perasaan kita sendiri ke dalam tulisan, dan secara jangka panjang membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan fisik. Melalui buku ini, Anda diajak melihat apa dan bagaimana terapi menulis itu, mulai dari sejarahnya, arti penting terapi menulis bagi kesehatan mental kita hingga langkah demi langkah bagaimana Anda dapat menggunakan terapi unik ini secara mandiri.

    IMG-20240903-WA0017

    Apa Kata Mereka?

    “Ketika saya pertama kali membaca buku ini, saya tiba-tiba merasakan hubungan langsung dengan apa yang penulis katakan. Gaya penulisannya yang berbeda, cara mengkomunikasikan ide-idenya dan bagaimana ia membimbing pembaca melalui proses terapi menulis sungguh brilian. Saya berharap saya bisa membaca buku ini bertahun-tahun yang lalu karena saya bisa mendapatkan lebih banyak hal dari tulisan saya sendiri.“

    Steven Yudiyantho

    Vice President Human Capital Strategy & Talent Management Bank Mandiri

     

    “Buku terbaru Agung Setiyo Wibowo penuh dengan wawasan indah dan menyentuh yang mengungkapkan nilai menulis kreatif. Ini menginspirasi, menantang dan sekaligus praktis. Semua orang yang membacanya dapat belajar darinya bagaimana membantu diri mereka sendiri dan orang lain – percayalah pada metode ini dan cobalah!”

    Tommy Sudjarwadi

    Direktur Dunamis Organizational Services

     

    “Buku ini akan membantu setiap pembaca untuk bereksperimen dengan berbagai cara menceritakan kisah mereka agar dapat lebih memahami diri mereka sendiri dan mengeksplorasi realitas pribadi mereka lebih dalam. Menulis sebagai terapi adalah proses yang ampuh, dan buku ini menawarkan pedoman praktis untuk melakukannya dengan aman dan kreatif.”

    Nur Fannie Prasetyo, MBA, PCC

    Presiden ICF Jakarta Charter Chapter 2023-2025

    ICF Professional Certified Coach & ICF Registry Coach Mentor

     

    “Buku ini memberikan saran yang praktis, telah dicoba dan diuji untuk mulai menulis dan mengembangkan tulisan lebih lanjut.”

    Chandra Ming

    Founder & CEO Jobseeker Company

     

    “Saya percaya bahwa semua orang akan menemukan sesuatu yang menarik dalam buku ini – khususnya para terapis dan masyarakat umum yang ingin mendapatkan manfaat tanpa batas dari terapi menulis.”

    Shei Layla

    Penulis Novel dan Buku Anak

     

    “Buku ini merupakan pengantar yang sangat baik tentang terapi menulis. Mas Agung menawarkan pendekatan terstruktur untuk penjurnalan terapeutik, mulai dari petunjuk menulis hingga berbagai teknik menulis untuk mendapatkan manfaat maksimal dari proses terapi.”

    Yasier Utama

    Learning Facilitator & CEO Jejak Pemimpin Indonesia

     

    “Penggunaan penulisan kreatif sebagai terapi dapat melengkapi diskusi verbal, dan menawarkan cara yang hemat biaya dan waktu untuk memberikan dukungan kepada pasien depresi atau tekanan psikologis. Cocok bagi para profesional layanan kesehatan yang ingin menerapkan penulisan terapeutik dengan pasien mereka, dan bagi mereka yang ingin mulai menulis secara kreatif untuk membantu diri mereka sendiri.”

    Michael Yamin

    President Sagedivine Academy & Pencipta Aplikasi HDTIX.com

     

    “Buku ini membeberkan bagaimana dan mengapa menulis merupakan proses yang iluminatif, menyembuhkan, dan katarsis, serta memberikan banyak latihan praktis yang mendorong eksplorasi emosi, kenangan, dan pengalaman. Dicontohkan secara menarik, buku ini cocok untuk semua kalangan yang ingin merasakan ampuhnya menulis untuk tujuan terapi.”

    Adang Adha

    Ketua Dewan Pembina Kesehatan Mental Indonesia

     

    “Saya sepakat bahwa menulis merupakan ruang yang sangat personal di mana kita bisa bercengkerama dengan  seluruh identitas diri kita yang lain, bahkan diri yang belum kita kenal sebelumnya . . . dan buku luar biasa ini mengajak kita kesana.”

    Haris Herdiansyah

    Penulis & Psikolog Klinis

     

    “In this book, Agung brilliantly harnesses the transformative power of words to not just reflect, but to actively shape one’s journey towards happiness and mental well-being. His methods resonate deeply with the HEROIC Coaching philosophy, as each chapter unfolds like a strategic map, guiding readers through self-exploration and emotional depth, to envisioning and implementing strategies for a fulfilled life. This book is a beacon for anyone who seeks to align their goals with their innermost values and emerge heroically on the other side of adversity. A true testament to the power of writing as a tool for therapeutic self-discovery and goal realization.”

    Coach Kang Zul

    Heroic Coach

     

    “Dalam buku terbarunya, Agung menawarkan cara-cara menulis untuk tujuan terapi. Ini adalah buku pegangan bagi siapa saja yang tertarik pada bidang penulisan kreatif dan pengembangan pribadi.”

    Kushartanto Koeswiranto

    Praktisi HR dan Mantan Direktur SDM di beberapa perusahaan

    (Pertamina, Jasa Marga, APL, MAP, dan ASW Hutchison)

    Chairman and Chief of Consultants Ktalents.asia

     

    “Buku ini mengeksplorasi potensi menulis sebagai terapi dalam format panduan yang ditulis secara lugas.”

    Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono

    Pengajar Leadership dan Manajemen di UMY dan Universitas Gadjah Mada

     

     Mengapa Buku Ini Perlu Anda Baca?

    Menulis bukan hanya tentang merangkai kata-kata. Namun menulis adalah sarana untuk memahami pengalaman, dan mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang diri. Dengan teknik yang benar, menulis bisa membantu individu mengekspresikan pikiran dan perasaan, sehingga bisa begitu ampuh untuk melepaskan emosi yang terpendam hingga menyembuhkan luka batin. Buku ini menawarkan pembaca panduan praktis untuk melakukan terapi menulis untuk memfasilitasi penyembuhan, merawat kesehatan mental, menemukan jati diri dan menggapai kebahagiaan.

    Dengan dasar teoritis yang kuat, buku ini memandu pembaca melalui pengembangan penulisan untuk digunakan sebagai alat terapi. Harapannya pembaca bisa mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri, hubungan mereka dan dunia di sekitar mereka, serta meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan maupun perencanaan.

    Buku ini wajib dibaca oleh terapis, praktisi kesehatan, guru, coach, psikolog, trainer, fasilitator menulis, profesional perawatan, dan semua orang yang mencari pengembangan pribadi dalam diri mereka atau klien mereka.

     

    Di Mana Buku Ini Bisa Diperoleh?

    Gramedia, Gramedia.com, Bukalapak, Tokopedia, Lazada, Shopee, dll

     

    Bagaimana dengan Format Buku Ini?

     

    Kepada Siapa Saya Bisa Menghubungi Jika Ingin Membeli atau Bekerja Sama?

    Klik di sini. 

  • Tips Menerbitkan Buku “Autotembus” Gramedia

    Hari gini masih nulis buku?

    Emang masih ada yang mau baca ya Mas?

    Pertanyaan itu sering kudapatkan di berbagai kesempatan. Sebagai orang yang sudah belasan tahun menulis buku, menurutku buku masih dan tetap akan relevan di tengah gempuran dunia digital.

    Buku tidak akan pernah tergantikan dengan kehadiran TikTok, YouTube, atau Reels Intagram. Kalau berbagai konten media sosial melengkapi itu benar. Tapi jika menggantikan menurutku tidak bisa ya karena tingkat kedalaman buku berbeda dengan konten-konten di media sosial.

    Lantas, bagaimana sih agar buku yang kita kirim ke penerbit itu bisa “autotembus” Gramedia Mas?

    Jawabnya sederhana. Tulislah buku yang ingin kamu baca. Artinya apa?

    Tuliskan buku yang ada nilainya. Bukan sekadar menulis.

    Jika buku kita tidak memberikan solusi, tentu saja peluang untuk ditolak itu sungguh besar. Sebaliknya, jika kehadirannya begitu berfaedah, ya tinggal menunggu waktu untuk diterbitkan.

    Kuncinya di sini adalah riset. Teruslah membaca apa yang dibutuhkan pasar. Teruslah mencari tahu topik-topik apa yang belum pernah dibahas oleh penulis sebelumnya. Perbanyaklah mendengarkan masalah orang lain.

    Menurutku itu saja kuncinya. Sebisa mungkin tulis buku yang kelak bisa membuat dirimu bangga.

    Nothing worth comes easy. So, selamat mencoba ya.

  • Seni Memimpin Milenial & Gen Z yang Efektif

    “Oh kamu termasuk milenial ya, pantes  suka pindah-pindah pekerjaan . . .”
    “Gen Z itu sebenarnya cepat banget belajar. Tapi sepertinya mudah bosan dan etikanya minus.”
    “Saat ini banyak pemimpin di segala sektor yang merupakan generasi Z loh!”
    Tiga ungkapan tersebut agaknya sering kita dengar dalam keseharian, khususnya dalam konteks mengelola sumber daya manusia. Suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap; milenial bersama Gen Z saat ini memang telah mendominasi angkatan kerja di tanah air.
    Berdasarkan hasil Sensus Penduduk per September 2020, populasi Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa. Dari jumlah itu milenial dan Gen Z masing-masing menyumbang 25,87 persen dan 27,94 persen.
    Berkaca pada data tersebut, setiap organisasi dalam industri apa pun harus mengembangkan pendekatan mereka untuk menarik dan mempertahankan aset terpenting mereka: karyawan mereka.
    Jika setiap organisasi ingin memastikan angkatan kerja milenialnya berkinerja tinggi sebagaimana yang diharapkan, mereka harus memimpin secara lebih efektif dengan fokus pada pemberdayaan, proses kerja yang didorong oleh tujuan, dan coaching untuk pengembangan dan perencanaan suksesi. Saatnya untuk menyingkirkan bias kita dan memimpin tenaga kerja progresif itu dengan lebih efektif.
    Untuk memperoleh, mempertahankan, dan mengembangkan tim organisasi yang efektif dalam demografi baru ini, kita selaku pemimpin harus memikirkan bagaimana mereka dapat mengembangkan pengalaman karyawan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan generasi baru itu. Manajer dan eksekutif harus mengeksplorasi metode yang lebih efektif untuk memimpin kelompok yang sedang berkembang ini dalam angkatan kerja. Dengan kata lain, para pemimpin harus melihat dengan cermat bagaimana karyawan milenial dan Gen-Z terlibat di dalam dan di luar bisnis mereka dan mempertimbangkan setiap bias yang mungkin ada saat mereka memimpin angkatan kerja baru ini.

    Jadi, bagaimana kita selaku pemimpin harus memulai proses evaluasi dan perubahan? Berdasarkan pengamatan penulis, berikut sejumlah pendekatan yang perlu diambil.

    Pertama, memberdayakan tim. Survei Deloitte Global Gen Z dan Milenial 2022 menemukan bahwa 29% pekerja Milenial dan Gen-Z memilih untuk bekerja di organisasi mereka saat ini karena peluang pembelajaran dan pengembangan. Organisasi harus melampaui komitmen lisan (klaim) yang dibuat untuk mengembangkan orang lain selama proses wawancara kandidat. Karyawan akan mengantisipasi dan mencari investasi dalam alat dan sumber daya yang akan membantu mendorong pertumbuhan profesional mereka. Apa yang dapat dilakukan organisasi kita untuk melibatkan generasi Milenial dan Gen-Z sebagai pemimpin pada tingkat individual atau personal?
    Idealnya, pemberdayaan didasarkan pada pembentukan tempat di mana karyawan dapat berbagi ide dan pemikiran tanpa merasa bahwa mereka melakukan kesalahan. Ini dimulai dengan menciptakan ruang yang aman di mana mereka dapat terbuka dan cenderung untuk berbagi ide dan di mana pemberdayaan dapat terjadi. Misalnya dengan cara seperti berikut:
    * Dorong ide dengan menyiapkan peluang untuk mengumpulkan ide (dari berbagai kesempatan) yang mencakup item agenda di mana ide merupakan persyaratan dan ada peluang untuk perbaikan.
    * Tetapkan aturan dasar dalam format tersebut (umur panjang atau hierarki tidak menjadi masalah dalam konteks ide) dan buat aturan dasar untuk mendorong ide.
    * Buat peluang opsional bagi orang-orang untuk berbagi ide anonim, seperti dengan membuat papan ide atau menyiapkan kotak umpan balik dan opini.
    Kedua, berpikir jangka panjang untuk mereka.  Seringkali mereka yang memimpin karyawan Milenial dan Gen-Z memproyeksikan pengalaman dan pemahaman mereka sendiri kepada populasi pekerja itu. Pendekatan ini lebih banyak tentang pemimpin daripada tentang karyawan. Memahami motivasi orang lain memungkinkan seorang pemimpin untuk terlibat dan memimpin tim dengan lebih baik.
    Mempelajari dan memikirkan nilai-nilai yang memotivasi tim kita pasti akan mengarahkan kita ke pertanyaan yang dapat kita pertimbangkan tentang retensi jangka panjang. Dalam salah satu hasil survei Gallup, 60% non-Milenial sangat setuju bahwa mereka berencana untuk bekerja di perusahaan yang sama dalam satu tahun, dibandingkan dengan separuh Milenial. Selain itu, 36% Milenial melaporkan bahwa mereka akan mencari pekerjaan baru dengan organisasi yang berbeda dalam 12 bulan ke depan jika pasar kerja membaik, dibandingkan dengan 21% non-Milenial yang mengatakan hal yang sama.
    Pemimpin harus menemukan apa yang memotivasi karyawan Milenial mereka dan mengembangkan keterampilan untuk membuat perubahan dalam gaya kepemimpinan mereka sendiri demi retensi. Hal ini akan berdampak pada kemungkinan karyawan untuk tetap berada di perusahaan dan lebih terlibat dalam pekerjaan mereka.

    Ketiga, menjadi Coach – Bukan Bos. Pada umumnya, orang sering menerapkan bias dan label pribadi pada generasi Milenial dan Gen-Z. Beberapa yang paling umum adalah istilah stereotip “generasi mager”, “generasi gamer”, “generasi gadget”, atau “generasi rebahan”.

    Non-Milenial menganggap generasi itu menginginkan pengakuan dan umpan balik hanya karena partisipasi mereka, bukan karena pencapaian mereka yang sebenarnya dan keinginan untuk diyakinkan dan divalidasi. Menurut pengamatan saya, sentimen ini sama sekali tidak benar, tetapi agak bias dan menyesatkan.
    Milenial dan Gen-Z mungkin menginginkan umpan balik rutin dari para pemimpin senior mereka. Umpan balik yang teratur, konsisten, dan membangun adalah salah satu cara terbaik untuk memberdayakan  dan membuat mereka tetap terlibat. Sebagai permulaan yang penting, sisihkan label yang sudah terbentuk sebelumnya dan berusahalah untuk memahami individu tersebut.

    Bagi sebagian orang, kepemimpinan yang efektif datang secara alami. Tetapi bagi sebagian besar, ini adalah perilaku yang dipelajari. Kepemimpinan adalah keterampilan yang membutuhkan waktu, usaha, dan kesabaran untuk dikuasai dan dimodelkan.

    Untuk mengelola tenaga kerja saat ini, sangat penting bagi para pemimpin untuk terbuka terhadap ide-ide baru dan membuang kebiasaan lama. Ini dimulai dengan fokus pada bagaimana seseorang terlibat dengan tenaga kerja yang sedang berkembang.
    Pemberdayaan sangat penting untuk mendorong pemikiran kritis, pengambilan keputusan, membangun kepercayaan diri, dan menciptakan hasil yang didorong oleh tujuan. Berperaan seperti Coach akan mendukung upaya pemberdayaan kita dengan memastikan kita memberikan umpan balik yang membangun dan dapat mengarah pada refleksi diri dan kemungkinan yang lebih besar bahwa karyawan dapat menerapkan praktik terbaik secara real time.
    Rangkullah karyawan zaman Now itu dan persiapkan kepemimpinan organisasi kita untuk keberlanjutan di masa depan.