Ini bukan tulisan yang akan berkata, “Bangunlah pukul lima pagi, minum air putih, dan hidup Anda akan berubah.”

Justru sebaliknya.

Selama bertahun-tahun, saya percaya bahwa persoalan saya adalah soal kemauan. Jika saya kurang bahagia, itu karena saya kurang bersyukur. Jika saya mudah marah, itu karena saya kurang sabar. Jika saya sulit berkomitmen dalam sebuah hubungan, itu karena saya belum bertemu orang yang tepat.

Keyakinan itu bertahan lama—sampai saya membaca sebuah buku yang membuat saya berhenti di tengah kalimat, menutup halamannya, dan terdiam cukup panjang menatap langit-langit kamar.

Buku itu berjudul How to Do the Work, ditulis oleh Dr. Nicole LePera, seorang psikolog klinis yang lebih dikenal publik lewat akun Instagram-nya, @the.holistic.psychologist.

 Kalimat pembuka di atas—bahwa kita tidak rusak—bukan sekadar afirmasi manis ala poster motivasi. Itu adalah inti dari seluruh buku ini. Sekaligus mitos besar yang selama ini kita telan tanpa pernah dipertanyakan: bahwa jika hidup kita berantakan, berarti kitalah yang berantakan.

LePera menawarkan pandangan berbeda. Menurutnya, kita bukan sedang rusak. Kita hanya sedang menjalankan pola lama—pola yang dulu, di masa kanak-kanak, adalah satu-satunya cara kita bertahan.

Mitos yang Kita Warisi Tanpa Disadari

Ada satu mitos populer dalam dunia pengembangan diri yang jarang dipertanyakan: bahwa trauma hanya milik mereka yang pernah mengalami peristiwa ekstrem—kekerasan, kecelakaan besar, kehilangan orang tua sejak dini.

LePera membongkar anggapan itu perlahan, dan tidak selalu nyaman untuk dibaca.

Menurutnya, trauma tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Ia bisa tumbuh dari hal-hal yang tampak sederhana dan biasa saja—orang tua yang terlalu sibuk, rumah yang penuh kritik, atau justru rumah yang terlalu tenang, sampai kita belajar bahwa perasaan kita tidak cukup penting untuk diungkapkan.

Saya masih ingat, ketika membaca bagian ini, pikiran saya langsung melompat pada satu kebiasaan lama: selalu tampil “baik-baik saja” di hadapan orang lain, sekalipun di dalam diri sedang berantakan. Ternyata itu bukan watak bawaan. Itu adalah strategi bertahan hidup yang terbentuk sejak kecil—agar tidak dianggap merepotkan.

Di titik itulah saya mulai memahami mengapa buku ini berbeda dari kebanyakan buku pengembangan diri lainnya. Ini bukan buku tentang menjadi versi yang lebih baik dari diri kita. Ini adalah buku tentang mengenali, terlebih dahulu, siapa diri kita yang sesungguhnya—sebelum segala topeng bertahan hidup itu terbentuk.

Inner Child: Bukan Istilah Sentimental, Melainkan Ilmiah

LePera memperkenalkan konsep conditioned self—versi diri yang terbentuk dari respons berulang terhadap lingkungan masa kecil—berhadapan dengan authentic self, versi diri yang sesungguhnya, sebelum dibentuk oleh rasa takut, malu, atau kebutuhan untuk diterima.

Salah satu bagian yang paling menohok bagi saya ada pada bab tentang kecenderungan people pleasing. LePera menjelaskan, seseorang yang selalu berkata “ya” padahal hatinya berkata “tidak”, bukan karena ia berhati baik. Melainkan karena sejak kecil, ia belajar bahwa menyenangkan orang lain adalah cara paling aman untuk memperoleh kasih sayang.

Bayangkan seorang anak kecil yang belajar: jika saya menurut, ibu tidak marah. Jika saya diam, ayah tidak kecewa. Bertahun-tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang kelelahan—tanpa pernah benar-benar memahami sumber kelelahannya. Padahal jawabannya telah ada sejak lama: ia belum pernah berhenti menyelamatkan diri dari rasa takut ditinggalkan.

Pada bagian ini, LePera memperkenalkan sebuah latihan yang tampak sederhana, namun sarat muatan emosional: menulis surat kepada diri kita yang kecil. Bukan sekadar curahan hati, melainkan benar-benar berbicara kepada versi diri kita yang berusia enam, delapan, atau sepuluh tahun—dan mengucapkan hal-hal yang dulu sangat ingin kita dengar dari orang dewasa di sekitar kita.

Ketika saya mencoba latihan itu, air mata saya jatuh sebelum kalimat kedua selesai ditulis.

Mengapa Kita Mudah “Meledak” atau “Mati Rasa”

Bagian paling ilmiah—sekaligus paling mengubah cara pandang saya terhadap emosi—terdapat pada pembahasan mengenai sistem saraf otonom.

LePera menjelaskan, banyak dari kita menjalani hidup dalam mode fight, flight, freeze, atau fawn tanpa kita sadari. Artinya, tubuh kita bereaksi terhadap tekanan hari ini dengan pola yang terbentuk sejak tekanan masa kecil.

Seseorang yang mudah marah ketika ditegur bukan karena memiliki temperamen buruk. Tubuhnya sedang membaca situasi itu seolah ancaman besar—persis seperti dulu, ketika kritik dari orang tua terasa mengancam rasa aman.

Seseorang yang mendadak diam dan kosong di tengah konflik bukan karena tidak peduli. Itu adalah mode freeze—tubuh yang telah belajar bahwa diam adalah cara paling aman untuk bertahan hidup.

Pemahaman ini mengubah cara saya memandang reaksi orang lain, sekaligus reaksi saya sendiri. Ternyata, banyak hal yang selama ini kita sebut sebagai “sifat”, sesungguhnya hanyalah respons tubuh yang belum pernah diajari cara untuk tenang.

Penyembuhan Diri Bukan Perjalanan Sendirian

Salah satu pesan yang paling saya pegang dari buku ini: penyembuhan diri bukan berarti menyalahkan orang tua, dan bukan pula soal menyembunyikan luka seorang diri.

LePera menyebut dirinya sebagai self-healer—bukan karena ia telah “selesai” dengan masa lalunya, melainkan karena ia terus memilih, hari demi hari, untuk menyadari pola-pola lamanya.

Dan di sinilah letak kalimat yang membuat saya benar-benar tercenung:

Anda tidak perlu sembuh dari masa lalu. Anda hanya perlu berhenti hidup di dalamnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun begitu saya menyadari betapa banyak keputusan hari ini yang sesungguhnya diambil oleh “anak kecil yang ketakutan” dalam diri saya—bukan oleh diri saya yang dewasa—semuanya menjadi masuk akal. Mengapa saya sulit menolak permintaan orang lain. Mengapa saya takut berkonflik. Mengapa saya lelah terus-menerus berusaha tampak baik.

Pulang ke Diri Sendiri

How to Do the Work bukan buku yang mudah dinikmati sambil bersantai. Ada bagian-bagian yang menohok, memaksa kita untuk berhenti sejenak, menutup buku, dan bertanya jujur kepada diri sendiri.

Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Buku ini tidak menjanjikan versi diri yang sempurna. Ia hanya mengajak kita untuk berhenti berlari dari luka, dan mulai duduk—sejenak saja—bersama diri kita yang dulu.

Sebab, sebagaimana dikatakan LePera, penyembuhan bukanlah tujuan akhir. Ia adalah proses harian, kecil, dan sangat manusiawi.

Jika Anda merasa lelah tanpa alasan yang jelas, jika Anda kerap bertanya mengapa Anda bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil, barangkali inilah saatnya berhenti mencari motivasi baru.

Barangkali inilah saatnya Anda pulang—kepada diri Anda yang paling awal.


Nah, bagaimana dengan diri Anda? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:

#LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding #HowToDoTheWork #NicoleLePera #SelfHealingJourney #InnerChildWork #MentalHealthMatters #PersonalGrowthIndonesia #TraumaHealing #SelfAwareness #LinkedInHacks #BookReview #HowToDoTheWork #NicoleLePera #SelfHealing #InnerChild #MentalHealthJourney #PersonalGrowth

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *