Semakin banyak proyek, peluang, koneksi, produk atau konten. Sekilas terdengar masuk akal.
Tetapi pernahkah Anda memperhatikan seorang pemahat? Ia tidak menciptakan patung dengan menambahkan batu, tapi justru menghilangkan bagian-bagian yang tidak penting. Semakin banyak yang dipahat, semakin jelas bentuk akhirnya.
Saya rasa, hidup juga bekerja dengan cara yang sama.
Kita sering berpikir kesuksesan datang dari menambah. Padahal sering kali, kesuksesan justru datang dari mengurangi.
Mengurangi distraksi, ego, dan hal-hal yang tidak benar-benar penting.
Itulah pelajaran pertama yang saya rasakan setelah menutup buku Steve Jobs karya Walter Isaacson.
Jujur saja, saya tidak selesai membaca buku ini dengan perasaan, “Saya ingin menjadi Steve Jobs.”
Justru sebaliknya. Saya selesai membacanya dengan pikiran, “Saya ingin memiliki keberanian untuk memegang prinsip seperti Steve Jobs, tanpa harus meniru semua kepribadiannya.”
Karena buku ini adalah kisah tentang seseorang yang sangat visioner, perfeksionis dan sering kali sulit diajak bekerja sama, tetapi berhasil mengubah cara dunia bekerja, berkomunikasi, dan berkreasi. Menurut saya, justru di situlah letak pelajarannya.
Inovasi Dimulai dari Cara Berpikir.
Banyak orang menganggap Steve Jobs adalah simbol teknologi. Saya justru melihatnya sebagai simbol rasa ingin tahu.
Ia tidak hanya belajar komputer, tapi juga desain, tipografi, kaligrafi, musik, film, psikologi, Zen, filsafat, hingga bisnis. Semua pengalaman itu akhirnya bertemu dalam satu titik dan melahirkan produk yang berbeda dari yang lain.
Ada satu kalimat Steve Jobs yang sangat terkenal:
Kreativitas adalah emampuan menghubungkan hal-hal yang sebelumnya tampak tidak berhubungan. Pelajaran ini sangat relevan bagi siapa pun.
Seorang guru yang belajar desain akan mengajar dengan lebih menarik. Seorang dokter yang belajar komunikasi akan lebih dipercaya pasien. Seorang pemimpin yang belajar psikologi akan lebih mudah membangun tim. Seorang pebisnis yang belajar storytelling akan lebih mudah menjual produknya.
Fokus Adalah Seni Mengatakan “Tidak”
Kalau ada satu kata yang paling sering muncul di kepala saya setelah membaca buku ini, jawabannya adalah focus.
Steve Jobs pernah mengatakan bahwa orang bangga terhadap hal-hal yang mereka kerjakan. Namun ia justru lebih bangga terhadap ribuan hal yang ia putuskan untuk tidak kerjakan.
Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi kalau dipikirkan lebih dalam, ternyata sangat sulit.
Hari ini kita hidup di era yang menganggap sibuk sebagai simbol kesuksesan. Ada undangan webinar, peluang bisnis, atau proyek baru.
Semuanya menarik dan menjanjikan. Tanpa sadar kita menghabiskan energi mengejar terlalu banyak arah.
Akibatnya bukan semakin cepat sampai. Justru semakin lelah.
Steve Jobs mengingatkan bahwa fokus bukan sekadar memilih apa yang akan dilakukan. Fokus adalah keberanian untuk menolak hal-hal baik demi mengerjakan hal yang benar-benar luar biasa.
Dalam karier, fokus berarti membangun satu kompetensi hingga dikenal. Dalam bisnis, fokus berarti menjadi solusi terbaik untuk masalah tertentu, bukan mencoba melayani semua orang. Dalam kehidupan, fokus berarti menyadari bahwa waktu adalah sumber daya yang tidak bisa diperbarui.
Detail Kecil Menciptakan Pengalaman Besar
Salah satu hal yang paling saya kagumi dari Steve Jobs adalah obsesinya terhadap detail. Bahkan bagian dalam komputer yang tidak akan dilihat pelanggan pun harus tetap rapi.
Banyak orang menganggap itu berlebihan. Namun ia percaya bahwa kualitas adalah kebiasaan.
Saya jadi teringat sebuah hotel yang pernah saya kunjungi. Kamarnya biasa saja. Tidak mewah. Tetapi resepsionisnya mengingat nama tamu.
Petugas kebersihan menyapa dengan senyum. Kopi di restoran selalu disajikan hangat. Hal-hal kecil itu membuat pengalaman menginap terasa berbeda.
Dalam bisnis, pelanggan sering kali lupa harga. Tetapi mereka mengingat pengalaman.
Dalam karier, atasan mungkin lupa presentasi kita. Tetapi mereka mengingat apakah kita selalu datang tepat waktu.
Dalam pertemanan, orang mungkin lupa hadiah yang kita berikan. Tetapi mereka mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa dihargai.
Steve Jobs mengajarkan bahwa detail kecil bukan sekadar pelengkap. Detail kecil adalah pembeda.
Jangan Jatuh Cinta pada Produk. Jatuh Cintalah pada Masalah yang Ingin Diselesaikan.
Salah satu kesalahan terbesar banyak orang adalah terlalu cepat jatuh cinta pada ide mereka sendiri.
Steve Jobs justru berkali-kali bertanya, “Bagaimana pengalaman pengguna?” Bukan, “Bagaimana fitur produk kita?”
Perbedaan dua pertanyaan ini sangat besar.
Yang satu berpusat pada perusahaan. Yang lain berpusat pada manusia.
Saya rasa inilah yang juga berlaku dalam personal branding.
Karena orang tidak mengikuti kita hanya karena kita hebat. Mereka mengikuti kita karena hidup mereka menjadi lebih baik setelah mengenal kita.
Dan menurut saya, itulah esensi dari karya yang bermakna. Bukan sekadar menciptakan sesuatu yang canggih. Tetapi menciptakan sesuatu yang benar-benar berguna.
Kegagalan Terkadang Sedang Menyelamatkan Kita
Ada bagian dari hidup Steve Jobs yang menurut saya jauh lebih penting daripada peluncuran iPhone.
Bukan ketika ia berdiri di panggung dengan tepuk tangan yang meriah atau ketika Apple menjadi perusahaan paling bernilai di dunia. Melainkan ketika… ia dipecat dari perusahaan yang ia dirikan sendiri.
Bayangkan. Anda membangun sesuatu dari garasi. Menghabiskan bertahun-tahun mengembangkannya. Lalu suatu hari, Anda diminta pergi.
Bagi sebagian orang, itu mungkin akhir cerita. Bagi Steve Jobs, justru di situlah babak baru dimulai. Ia mendirikan NeXT. Ia membeli sebuah studio animasi kecil bernama Pixar. Dan tanpa banyak orang sadari, dua keputusan itulah yang kelak mengubah sejarah.
Pixar melahirkan Toy Story dan mengubah industri animasi. NeXT menjadi fondasi teknologi yang kemudian digunakan Apple ketika Steve Jobs kembali.
Saya belajar satu hal yang sangat menenangkan.
Kadang hidup tidak sedang menghukum kita. Kadang hidup sedang memindahkan kita ke tempat yang lebih tepat.
PHK. Gagal bisnis. Ditolak klien. Tidak lolos promosi. Semuanya memang menyakitkan.
Tetapi rasa sakit tidak selalu berarti arah kita salah. Sering kali, rasa sakit hanyalah biaya masuk menuju versi diri yang lebih matang.
Kita Baru Paham Setelah Menoleh ke Belakang
Kalimat Steve Jobs yang paling sering dikutip adalah:
“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backward.”
Menurut saya, ini bukan sekadar kutipan motivasi. Ini adalah cara memandang kehidupan.
Ketika masih kuliah, ia mengikuti kelas kaligrafi. Tidak ada hubungannya dengan komputer. Tidak menghasilkan uang. Tidak memberi gelar tambahan. Namun bertahun-tahun kemudian, pelajaran itu membuat Macintosh menjadi komputer pertama yang memiliki tipografi indah.
Kalau saat itu Steve Jobs berpikir semuanya harus langsung menghasilkan, mungkin dunia tidak akan mengenal font yang kita gunakan hari ini.
Begitu juga hidup kita.
Mungkin pekerjaan pertama Anda bukan pekerjaan impian. Mungkin proyek kecil yang sedang Anda kerjakan hari ini terasa biasa saja. Mungkin hobi yang Anda tekuni belum menghasilkan apa pun.
Kesempurnaan Itu Tujuan, Bukan Alasan Menunda
Steve Jobs dikenal sangat perfeksionis. Kadang berlebihan. Kadang menyulitkan timnya.
Saya tidak menganggap semua perilakunya layak ditiru. Namun saya belajar satu prinsip penting. Jangan pernah puas dengan pekerjaan yang asal selesai.
Hari ini budaya “yang penting jadi” terasa semakin umum. Yang penting upload. Yang penting launching. Yang penting cepat. Padahal sesuatu yang baik membutuhkan waktu.
Sebuah buku yang bagus lahir dari berkali-kali revisi. Presentasi yang memukau lahir dari latihan. Bisnis yang dipercaya lahir dari konsistensi. Reputasi yang kuat lahir dari ribuan keputusan kecil yang benar.
Kesempurnaan memang mustahil. Tetapi mengejar standar tinggi adalah pilihan. Dan orang-orang terbaik hampir selalu memilih pilihan itu.
Jangan Sekadar Terlihat Berbeda. Jadilah Berbeda.
Kalau ada satu kesalahan yang sering saya lihat di era media sosial, ini dia.
Orang terlalu sibuk terlihat unik. Padahal mereka belum benar-benar memiliki sesuatu yang unik.
Steve Jobs tidak terkenal karena memakai turtleneck hitam. Ia memakai turtleneck setelah dunia mengenalnya.
Yang membuatnya berbeda bukan pakaiannya. Melainkan cara berpikirnya.
Ini pelajaran besar bagi siapa pun yang sedang membangun personal branding.
Logo bisa ditiru. Warna bisa ditiru. Gaya desain bisa ditiru. Bahkan cara berbicara pun bisa ditiru. Tetapi cara berpikir tidak bisa dipalsukan.
Karena itu, jangan habiskan terlalu banyak waktu membangun citra. Habiskan lebih banyak waktu membangun kompetensi. Suatu hari nanti, citra akan mengikuti kualitas.
Legacy Terbesar Bukan Produk, Tetapi Cara Berpikir
Kalau saya bertanya, “Apa warisan terbesar Steve Jobs?”
Sebagian orang mungkin menjawab:
iPhone.
MacBook.
iPad.
Apple.
Menurut saya bukan itu. Warisan terbesarnya adalah keberanian untuk menolak cara berpikir yang biasa.
Ia mengajarkan bahwa teknologi bisa menjadi indah, desain bukan sekadar dekorasi, pengalaman pengguna lebih penting daripada daftar fitur,
kesederhanaan sering kali lebih sulit daripada kerumitan dan orang-orang yang cukup “gila” untuk percaya bisa mengubah dunia sering kali benar-benar melakukannya. Warisan seperti itulah yang bertahan jauh lebih lama daripada sebuah produk.
Jangan Bangun Karier. Bangunlah Karya.
Setelah menutup halaman terakhir buku ini, saya justru tidak terlalu terpesona oleh Apple.
Saya lebih terpesona oleh cara Steve Jobs memandang hidup. Ia tidak mengejar jabatan. Ia mengejar karya. Ia tidak sibuk menjadi terkenal.
Ia sibuk membuat sesuatu yang layak dikenang. Lalu saya bertanya kepada diri sendiri.
- Bagaimana dengan kita?
- Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar promosi.
- Mengejar omzet.
- Mengejar jumlah followers.
- Mengejar validasi.
- Padahal semua itu hanyalah akibat.
Bukan sebab. Sebabnya adalah karya.
Kalau karya kita bernilai, reputasi akan datang. Kalau solusi yang kita berikan bermanfaat, pelanggan akan datang. Kalau karakter kita kuat, kesempatan akan datang.
Karena pada akhirnya…
Orang tidak mengingat kita karena jabatan yang pernah kita duduki. Mereka mengingat kita karena perubahan yang kita tinggalkan.
Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar dari Steve Jobs.
Karena jabatan memiliki masa pensiun. Tetapi karya yang bermakna bisa hidup jauh setelah nama kita tidak lagi disebut.
Kalau sepuluh tahun lagi seseorang menemukan nama Anda di internet…
- Apa yang ingin Anda wariskan?
- Daftar jabatan?
- Atau daftar karya yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik?
Pilihan itu… dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang Anda ambil hari ini.
———
Kalau Anda ingin membangun reputasi profesional, memperluas peluang karier, sekaligus mengembangkan bisnis melalui LinkedIn, saya membahas strategi praktisnya di buku LinkedIn Hacks. Download di sini.
Karena di era digital, orang tidak hanya membeli produk. Mereka mempercayai orang di balik produk tersebut. Dan LinkedIn adalah salah satu tempat terbaik untuk membangun kepercayaan itu.
Leave a Reply