Pernahkah Anda diam-diam merasa tertinggal?

Melihat teman yang kariernya melesat lebih cepat, rekan kerja yang presentasinya selalu memukau atau  pengusaha yang seolah selalu tahu keputusan terbaik. Lalu tanpa sadar kita berkata dalam hati, “Mungkin memang dia lebih berbakat.”

Saya juga pernah berpikir seperti itu. Bahkan berkali-kali.

Ada fase ketika saya merasa sudah bekerja keras, membaca banyak buku, mengikuti pelatihan, mengerjakan berbagai proyek, tetapi hasilnya tidak bertumbuh secepat yang saya harapkan.

Rasanya seperti sedang mendaki gunung menggunakan tenaga penuh, tetapi setiap kali menoleh ke belakang, ternyata posisi saya tidak banyak berubah.

Mungkin Anda juga pernah mengalaminya. Kita belajar, bekerja dan mencoba.  Tetapi mengapa ada orang yang berkembang jauh lebih cepat?

Lalu saya membaca sebuah buku yang benar-benar mengubah cara saya memandang proses menjadi hebat.

Judulnya Peak: Secrets from the New Science of Expertise karya K. Anders Ericsson.

Buku ini bukan sekadar buku motivasi. Ia lahir dari puluhan tahun penelitian mengenai para atlet dunia, musisi kelas internasional, pemain catur, dokter, pilot, hingga profesional terbaik di berbagai bidang.

Dan kesimpulan terbesarnya benar-benar mengguncang cara saya berpikir. Bukan bakat yang paling menentukan. Melainkan cara seseorang berlatih.

Analogi yang Mengubah Cara Saya Berpikir

Bayangkan dua orang ingin membangun otot.

Orang pertama datang ke gym setiap hari. Ia mengangkat beban yang sama. Jumlah repetisinya sama. Latihannya sama. Ia berkeringat setiap hari.

Orang kedua juga datang setiap hari. Tetapi setiap minggu bebannya ditambah. Tekniknya dievaluasi. Posturnya dikoreksi. Ada pelatih yang memberi umpan balik. Ada target yang semakin sulit.

Enam bulan kemudian, siapa yang lebih berkembang?

Padahal durasi latihannya hampir sama. Perbedaannya bukan pada lamanya latihan. Perbedaannya ada pada kualitas latihan.

Di sinilah letak gagasan terbesar Ericsson. Banyak orang menghabiskan ribuan jam untuk bekerja. Tetapi hanya sedikit yang benar-benar menggunakan jam-jam itu untuk bertumbuh.

Kesalahan Terbesar Kita: Mengira Pengalaman Sama dengan Keahlian

Di dunia kerja, kita sering mendengar kalimat seperti ini.

“Saya sudah bekerja 15 tahun.”

“Saya sudah menjadi manajer sejak lama.”

“Saya sudah mengajar puluhan tahun.”

Pengalaman memang penting. Tetapi pengalaman tidak otomatis melahirkan keahlian.

Ada orang yang memiliki pengalaman 20 tahun. Ada juga yang sebenarnya hanya mengulang pengalaman satu tahun sebanyak dua puluh kali.

Kalimat ini cukup menampar saya.

Karena saya sadar, rutinitas sering kali menyamar sebagai kemajuan. Padahal belum tentu.

Ericsson menunjukkan bahwa banyak profesional berhenti berkembang justru ketika mereka sudah merasa nyaman.

Mereka tidak lagi mencari kritik. Tidak lagi mencoba tantangan baru. Tidak lagi keluar dari zona nyaman.

Mereka bekerja. Tetapi tidak benar-benar belajar. Dan tanpa sadar, kemampuan mereka berhenti bertumbuh.

Deliberate Practice: Rahasia yang Sering Disalahpahami

Banyak orang mengenal aturan 10.000 jam. Sayangnya, konsep ini sering dipahami secara keliru.

Bukan jumlah jam yang membuat seseorang menjadi ahli. Yang membuat seseorang berkembang adalah deliberate practice.

Apa bedanya?

Deliberate practice bukan sekadar mengulang. Ia adalah latihan yang memiliki tujuan jelas, fokus pada kelemahan, mendapatkan umpan balik, dan dilakukan sedikit di luar batas kemampuan saat ini.

Artinya, latihan harus terasa tidak nyaman. Kalau setiap hari kita hanya melakukan hal-hal yang sudah kita kuasai, sebenarnya kita sedang bekerja, bukan berkembang.

Insight ini sangat relevan dalam dunia profesional.

Seorang presenter tidak akan menjadi lebih hebat hanya karena semakin sering presentasi. Ia menjadi hebat ketika setiap presentasi direkam, dievaluasi, diperbaiki, lalu dicoba lagi dengan standar yang lebih tinggi.

Seorang penulis tidak berkembang hanya karena menulis setiap hari. Ia berkembang ketika setiap tulisan dikritik, direvisi, dipelajari, lalu ditingkatkan.

Begitu pula seorang pemimpin.

Ia tidak otomatis menjadi leader hebat hanya karena naik jabatan. Ia bertumbuh ketika secara sadar mengevaluasi keputusan, meminta masukan dari tim, memperbaiki komunikasi, dan terus belajar menghadapi tantangan yang lebih kompleks.

Di sinilah saya merasa buku ini sangat relevan bagi siapa pun. Baik Anda seorang profesional, entrepreneur, akademisi, maupun mahasiswa.

Karena dunia hari ini tidak lagi memberi penghargaan hanya kepada orang yang bekerja paling lama. Dunia memberi penghargaan kepada mereka yang belajar paling cepat. 

Apa Artinya bagi Karier Kita?

Saya sering bertemu profesional yang bertanya, “Bagaimana agar karier saya terus naik?”

Pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya adalah, “Apa yang sedang saya latih hari ini yang membuat saya lebih baik daripada enam bulan lalu?”

Bayangkan dua karyawan.

Yang satu menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik. Yang satu lagi juga menyelesaikan pekerjaannya, tetapi setiap bulan ia mempelajari satu keterampilan baru, meminta feedback dari atasannya, memperbaiki cara presentasi, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan belajar menggunakan teknologi baru.

Lima tahun kemudian, siapa yang lebih siap memimpin?

Karier pada akhirnya bukan perlombaan siapa yang paling sibuk. Melainkan siapa yang paling cepat bertumbuh.

Dan pertumbuhan tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari latihan yang disengaja.

Lalu, Bagaimana Menerapkannya dalam Dunia Nyata?

Setelah menutup buku Peak, saya bertanya kepada diri sendiri. “Kalau konsep ini memang benar, mengapa masih banyak orang yang tetap tidak berkembang?”

Jawabannya ternyata sederhana. Karena bertumbuh itu tidak nyaman.

Sebagian besar dari kita lebih suka melakukan hal-hal yang sudah kita kuasai. Mengapa?

Karena kita merasa kompeten, kompeten atau produktif.  Padahal, justru di situlah jebakannya.

Ericsson menjelaskan bahwa zona nyaman bukan tempat bertumbuh. Zona nyaman adalah tempat kemampuan kita berhenti berkembang.

Semakin saya renungkan, semakin saya sadar bahwa hampir semua lompatan besar dalam hidup saya justru lahir ketika saya dipaksa belajar sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.

Menulis buku pertama. Berbicara di depan ratusan orang. Membangun bisnis sendiri. Mengembangkan personal branding.

Tidak ada satu pun yang terasa nyaman pada awalnya. Tetapi semuanya mengubah hidup saya.

Dalam Bisnis, Pemenang Adalah Mereka yang Belajar Lebih Cepat

Kita sering mengira keunggulan bisnis berasal dari modal, jaringan atau teknologi. Padahal, menurut saya, keunggulan terbesar sebuah organisasi adalah kecepatan belajar.

Lihatlah perusahaan yang mampu bertahan puluhan tahun. Mereka bukan selalu yang paling besar. Tetapi mereka selalu yang paling cepat beradaptasi,  berani menguji ide baru, mengevaluasi kegagalan,  mengubah strategi ketika pasar berubah dan menjadikan belajar sebagai budaya, bukan sekadar agenda pelatihan tahunan.

Saya sering melihat perusahaan mengeluarkan anggaran besar untuk training. Namun setelah pelatihan selesai, semua kembali seperti semula.

Mengapa?

Karena belajar diperlakukan sebagai event, bukan proses. Padahal, semangat deliberate practice justru sebaliknya.

Belajar harus menjadi kebiasaan yang terus-menerus. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari.  

Personal Branding Pun Mengikuti Prinsip yang Sama

Hal lain yang saya pelajari adalah bahwa prinsip ini sangat relevan dengan personal branding. Banyak orang bertanya kepada saya,

“Bagaimana caranya membangun personal branding?”

Sebagian berharap ada rumus cepat. Ada template. Ada trik.

Padahal personal branding tidak dibangun dalam semalam. Ia dibangun melalui ribuan latihan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Menulis. Membaca. Mendengarkan audiens. Memperbaiki cara berkomunikasi. Belajar menyampaikan ide dengan lebih sederhana. Mengevaluasi konten yang berhasil maupun yang gagal.

Kalau setiap konten hanya dibuat lalu dilupakan, kita sedang mengulang pekerjaan. Tetapi kalau setiap konten dievaluasi untuk menjadi lebih baik, kita sedang membangun keahlian.

Perbedaannya tipis.Namun hasilnya bisa sangat jauh.

Kehidupan Juga Membutuhkan Deliberate Practice

Yang menarik, saya merasa konsep ini tidak hanya berlaku untuk pekerjaan. Ia juga berlaku dalam kehidupan.

Menjadi pasangan yang baik juga perlu latihan. Menjadi orang tua yang baik juga perlu latihan. Menjadi pendengar yang baik juga perlu latihan. Menjadi pemimpin keluarga pun demikian.

Tidak ada yang otomatis ahli hanya karena usia bertambah.

Usia menambah pengalaman. Tetapi refleksi dan latihanlah yang menambah kebijaksanaan.

Mungkin inilah alasan mengapa ada orang yang semakin tua semakin bijaksana. Sementara ada juga yang hanya semakin tua.

Jangan Takut pada Feedback

Ada satu bagian dari buku ini yang cukup mengusik saya. Ericsson menjelaskan bahwa para ahli justru mencari umpan balik, bukan menghindarinya.

Sebaliknya, banyak dari kita justru takut dikritik. Kita takut salah. Takut terlihat belum mampu.

Padahal kritik adalah cermin. Tanpa cermin, kita tidak tahu apa yang perlu diperbaiki.

Saya jadi teringat banyak profesional yang hanya ingin mendengar pujian. Padahal pujian membuat kita nyaman. Tetapi feedback membuat kita bertumbuh.

Dalam dunia yang berubah sangat cepat seperti sekarang, kemampuan menerima masukan mungkin jauh lebih berharga daripada kemampuan mempertahankan ego.

Jangan Mengejar Kesempurnaan. Kejarlah Perbaikan

Ada satu kesalahan yang sering saya lakukan dulu. Saya ingin semuanya sempurna.

Tulisan harus sempurna. Presentasi harus sempurna. Program pelatihan harus sempurna.

Akibatnya? Saya sering menunda.

Setelah membaca Peak, saya menyadari bahwa orang-orang terbaik bukan mengejar kesempurnaan. Mereka mengejar perbaikan yang berkelanjutan.

Hari ini sedikit lebih baik daripada kemarin. Besok sedikit lebih baik daripada hari ini. Lalu diulang lagi.

Perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus akhirnya menghasilkan lompatan besar.  Persis seperti bunga majemuk dalam investasi.

Hasil terbesar bukan berasal dari perubahan drastis. Melainkan dari akumulasi perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Pelajaran yang Paling Menampar Saya

Kalau harus merangkum seluruh isi buku Peak dalam satu kalimat, mungkin saya akan mengatakan seperti ini.

Kita tidak menjadi hebat karena sering melakukan sesuatu. Kita menjadi hebat karena terus memperbaiki cara kita melakukannya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi implikasinya luar biasa. Ia mengubah cara saya melihat pekerjaan, belajar dan kegagalan.

Karena setiap kesalahan sebenarnya bukan bukti bahwa kita tidak mampu. Ia adalah informasi tentang apa yang perlu diperbaiki.

Sudut pandang ini membuat kegagalan terasa jauh lebih ringan.

Bukan akhir perjalanan. Melainkan bagian dari proses menjadi lebih baik.

Punchline: Mungkin Kita Tidak Kekurangan Bakat, tetapi Kekurangan Cara Berlatih

Inilah insight yang paling membekas bagi saya. Selama ini kita terlalu sibuk mencari jawaban atas pertanyaan,

“Apakah saya cukup berbakat?”

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apakah saya sudah berlatih dengan cara yang benar?”

Dua pertanyaan ini terdengar mirip. Namun menghasilkan kehidupan yang sangat berbeda.

Pertanyaan pertama membuat kita sibuk menilai diri. Pertanyaan kedua membuat kita sibuk memperbaiki diri.

Yang satu melahirkan rasa minder. Yang satu lagi melahirkan harapan.

Dan saya memilih yang kedua.

Karena selama kita masih mau belajar, menerima masukan, dan terus memperbaiki diri, peluang untuk menjadi lebih baik selalu terbuka.

Mungkin tidak instan. Mungkin tidak viral. Mungkin tidak spektakuler.

Tetapi perlahan. Pasti. Dan bertahan lama.

Saya rasa, itulah makna sejati dari menjadi seorang ahli. Bukan tentang menjadi yang paling berbakat. Melainkan tentang tidak pernah berhenti bertumbuh.

Refleksi

Sejak membaca Peak, saya semakin yakin bahwa kesuksesan bukanlah hadiah bagi mereka yang sejak awal terlihat paling hebat. Kesuksesan lebih sering menjadi hasil dari proses panjang yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Belajar. Mengevaluasi. Memperbaiki. Lalu mengulanginya lagi.

Mungkin itulah alasan mengapa sebagian orang terus berkembang, sementara yang lain merasa jalan di tempat.

Bukan karena mereka memiliki otak yang berbeda. Tetapi karena mereka memiliki kebiasaan belajar yang berbeda.

Dan kabar baiknya, kebiasaan selalu bisa dibangun. Selama kita masih memiliki kemauan untuk menjadi sedikit lebih baik setiap hari.

Karena pada akhirnya, masa depan bukan ditentukan oleh seberapa berbakat kita hari ini, tetapi oleh seberapa serius kita melatih diri untuk menjadi lebih baik esok hari. 

Jika Anda atau perusahaan Anda ingin membangun budaya belajar yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas kepemimpinan, memperkuat personal branding, atau mengembangkan kapabilitas SDM melalui program training, consulting, coaching, dan mentoring, The Pandita Institute siap menjadi mitra strategis Anda untuk membantu individu maupun organisasi terus Grow & Glow.

Mari bertumbuh, bukan hanya bekerja.


Nah, bagaimana dengan diri Anda? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:

#LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding #Leadership #LearningCulture #DeliberatePractice #Peak #KAndersEricsson #ContinuousLearning #CareerDevelopment #BusinessGrowth #PersonalBranding #HumanCapital #FutureSkills #ThePanditaInstitute

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *