Beberapa tahun terakhir, saya mulai menyadari satu hal yang agak mengganggu.
Semakin banyak target yang tercapai, semakin cepat pula muncul target baru.
Selesai satu proyek. Muncul proyek berikutnya.
Selesai satu sertifikasi. Muncul kebutuhan belajar yang baru.
Naik jabatan. Muncul ekspektasi yang lebih tinggi.
Pendapatan naik. Gaya hidup ikut naik.
Seolah-olah hidup sedang berlari di atas treadmill yang tidak pernah berhenti.
Capek. Tapi tidak benar-benar sampai ke mana-mana.
Saya yakin banyak dari kita pernah mengalami fase seperti ini.
Secara objektif hidup kita baik-baik saja.
Karier berjalan. Bisnis bertumbuh. Keluarga sehat.
Tetapi entah mengapa ada perasaan kosong yang sulit dijelaskan.
Seperti selalu ada sesuatu yang kurang.
Dan di tengah perasaan itulah saya menemukan buku Peace Is Every Step karya Thich Nhat Hanh.
Awalnya saya mengira buku ini hanya akan berisi nasihat spiritual yang abstrak.
Ternyata saya salah.
Buku ini justru terasa sangat relevan untuk siapa pun yang hidup di era modern. Termasuk para profesional, pemimpin, entrepreneur, konsultan, dan siapa saja yang setiap hari hidup dalam tekanan target dan ekspektasi.
Kita Terlalu Sibuk Mengejar Masa Depan
Bayangkan seorang pendaki gunung. Sepanjang perjalanan ia hanya fokus pada puncak.
Ia tidak menikmati udara pagi.
Tidak memperhatikan suara burung. Tidak menikmati pemandangan. Tidak bercakap dengan teman seperjalanan.
Pikirannya hanya satu:
“Puncak. Puncak. Puncak.”
Ironisnya, ketika sampai di puncak, ia hanya menikmati beberapa menit.
Lalu turun lagi.
Bukankah banyak dari kita menjalani hidup seperti itu?
Kita berpikir:
“Nanti kalau promosi saya akan bahagia.”
“Nanti kalau omzet tembus sekian saya akan tenang.”
“Nanti kalau punya rumah sendiri saya akan damai.”
“Nanti kalau pensiun saya akan menikmati hidup.”
Masalahnya, hidup selalu terjadi sekarang. Bukan nanti.
Thich Nhat Hanh mengingatkan bahwa kedamaian bukan tujuan akhir perjalanan.
Kedamaian adalah cara kita menjalani perjalanan itu sendiri.
Inilah ide yang sangat sederhana tetapi sekaligus sangat mengguncang.
Karena selama ini kita terbiasa menjadikan kebahagiaan sebagai hadiah di masa depan. Padahal mungkin kebahagiaan sedang menunggu untuk dirasakan hari ini.
Kesalahan Besar yang Dilakukan Banyak Profesional
Dalam dunia kerja, kita sering terjebak dalam mode autopilot.
Bangun pagi. Membuka WhatsApp. Membuka email.
Meeting. Target. Deadline.
Meeting lagi. Lembur. Tidur.
Ulangi lagi besok.
Tubuh kita berada di satu tempat. Tetapi pikiran kita berada di tempat lain.
Saat sarapan, kita memikirkan rapat.
Saat rapat, kita memikirkan pekerjaan berikutnya.
Saat bermain dengan anak, kita memikirkan target bulanan.
Saat liburan, kita memikirkan pekerjaan yang belum selesai.
Akibatnya kita kehilangan satu hal yang paling berharga: kehadiran.
Menurut Thich Nhat Hanh, sebagian besar penderitaan manusia muncul karena ketidakmampuan untuk hadir sepenuhnya pada momen saat ini.
Kita hidup di masa lalu. Atau hidup di masa depan. Jarang benar-benar hidup di hari ini.
Peace Is Every Step dalam Karier
Salah satu pelajaran yang paling mengubah cara pandang saya adalah bahwa produktivitas dan ketenangan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Selama ini kita menganggap bahwa orang sukses harus selalu sibuk. Padahal belum tentu.
Saya pernah bertemu pemimpin perusahaan yang jadwalnya sangat padat. Tetapi ketika berbicara dengan seseorang, ia hadir sepenuhnya.
Tidak memainkan ponsel. Tidak melirik layar. Tidak terburu-buru.
Inilah yang disebut mindful leadership.
Pemimpin yang hadir. Pemimpin yang mendengarkan. Pemimpin yang tidak sekadar bereaksi.
Karena keputusan terbaik sering lahir dari pikiran yang tenang. Bukan pikiran yang panik.
Peace Is Every Step dalam Bisnis
Dunia bisnis sering mengajarkan kita untuk tumbuh lebih cepat.
Lebih besar. Lebih agresif. Lebih ekspansif.
Tidak ada yang salah dengan pertumbuhan. Tetapi ada bahaya ketika pertumbuhan menjadi satu-satunya tujuan.
Banyak bisnis tumbuh secara finansial tetapi kehilangan jiwa. Banyak entrepreneur menghasilkan uang lebih banyak tetapi kehilangan kesehatan. Banyak profesional mencapai posisi tinggi tetapi kehilangan hubungan dengan keluarga.
Thich Nhat Hanh mengingatkan bahwa keberhasilan yang mengorbankan kedamaian sering kali hanyalah bentuk kegagalan yang terlihat mewah.
Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi jika direnungkan lebih dalam, ia sangat kuat.
Apa gunanya membangun kerajaan bisnis jika kita tidak pernah punya waktu menikmatinya?
Apa gunanya mengejar keuntungan jika kita kehilangan kesehatan?
Apa gunanya menjadi sukses jika setiap malam kita tetap gelisah?
Seni Menikmati Proses
Salah satu bagian favorit saya dari buku ini adalah gagasan bahwa mencuci piring bisa menjadi meditasi.
Awalnya terdengar aneh. Apa menariknya mencuci piring?
Tetapi pesan sebenarnya bukan soal piring.
Pesannya adalah:
Apa pun yang sedang kita lakukan, lakukan sepenuhnya.
Jika sedang bekerja, bekerjalah.
Jika sedang makan, makanlah.
Jika sedang berbicara dengan seseorang, hadir sepenuhnya.
Jika sedang beristirahat, beristirahatlah.
Kita sering melakukan semuanya sekaligus.
Makan sambil membalas email.
Meeting sambil membuka WhatsApp.
Liburan sambil memikirkan pekerjaan.
Tidak heran kalau pikiran kita selalu lelah.
Punchline yang Mengubah Cara Saya Melihat Hidup
Ada satu insight yang benar-benar membuat saya berhenti sejenak.
Selama ini kita berpikir:
“Kalau tujuan tercapai, saya akan damai.”
Thich Nhat Hanh mengajarkan kebalikannya.
Jika Anda damai, perjalanan menuju tujuan akan menjadi jauh lebih indah.
Mindblown.
Karena ternyata kedamaian bukan hadiah setelah sukses.
Kedamaian adalah fondasi untuk mencapai kesuksesan yang lebih sehat.
Pelajaran Terbesar yang Saya Bawa Pulang
Setelah membaca buku ini, saya tidak menjadi orang yang lebih lambat.
Saya tetap bekerja. Tetap membangun bisnis. Tetap memiliki target.
Tetapi saya mulai belajar untuk tidak kehilangan diri sendiri dalam prosesnya.
Karena pada akhirnya hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah.
Tetapi juga tentang bagaimana kita menikmati setiap langkah itu.
Dan mungkin itulah makna terdalam dari judul buku ini.
Bukan di langkah terakhir.
Bukan setelah semua target tercapai.
Bukan setelah semua masalah selesai.
Tetapi di setiap langkah yang sedang kita jalani hari ini.
Karena pertumbuhan yang sesungguhnya bukan hanya tentang menjadi lebih sukses, tetapi juga menjadi lebih bijaksana dalam menjalani perjalanan hidup.
Jika Anda atau perusahaan Anda membutuhkan mitra terbaik untuk training, consulting, coaching, dan mentoring dengan tujuan untuk Grow & Glow, jangan ragu untuk menghubungi The Pandita Institute.
Nah, bagaimana dengan diri Anda? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:
#LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding#PeaceIsEveryStep #ThichNhatHanh #Mindfulness #Leadership #SelfDevelopment #PersonalGrowth #CareerDevelopment #BusinessLeadership #LifeLessons #SuperCareer #GrowAndGlow #ThePanditaInstitute #LearningOrganization #Productivity #WellBeing
Leave a Reply