Pernah tidak…

Masuk ke ruang rapat lalu tiba-tiba merasa semua orang lebih pintar?

Datang ke acara networking, tetapi bingung harus memulai percakapan dari mana?

Duduk di ruang wawancara kerja sambil berharap pewawancara tidak menanyakan pertanyaan yang sulit?

Atau mungkin…

Sudah punya pengalaman dan kemampuan, tetapi setiap kali harus tampil di depan orang lain, tiba-tiba rasa percaya diri menghilang begitu saja.

Kalau iya, tenang.

Saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya. Masalahnya, kita sering menganggap penyebabnya adalah kurang percaya diri.

Setelah membaca buku Presence karya Amy Cuddy, saya justru menemukan sesuatu yang berbeda.

Mungkin masalahnya bukan karena kita kurang percaya diri, tapi terlalu sibuk menjadi orang lain.

Pohon Tidak Pernah Berusaha Menjadi Gunung

Saya jadi teringat sebuah pohon mangga di depan rumah.

Ia tidak pernah iri kepada pohon kelapa yang lebih tinggi. Ia juga tidak berusaha menjadi bunga karena sedang musim berbunga.

Ia hanya bertumbuh sesuai kodratnya. Aneh ya?

Hanya manusia yang sering merasa harus menjadi orang lain agar dianggap layak.

Kita membandingkan karier, gaji, jumlah followers bahkan cara berbicara.

Pelan-pelan kita kehilangan sesuatu yang sangat penting. Kehadiran. Bukan hadir secara fisik, tetapi hadir sepenuhnya sebagai diri sendiri.

Dan menurut saya, inilah inti dari buku Amy Cuddy.

Presence bukan tentang terlihat hebat. Presence adalah kemampuan untuk tampil apa adanya tanpa dikuasai rasa takut.   

Presence Bukan Percaya Diri

Ini bagian yang paling “menampar” saya. Selama ini saya mengira percaya diri adalah tujuan.

Amy Cuddy justru mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam.

Presence bukan berarti yakin bahwa kita akan berhasil. Presence berarti kita cukup tenang untuk memberikan versi terbaik diri kita saat ini.

Perbedaannya besar.

Percaya diri sering bergantung pada hasil. Presence bergantung pada keadaan batin.

Misalnya…

Ketika presentasi. Orang yang mengejar percaya diri sibuk berpikir, “Semoga mereka terkesan.”

Orang yang memiliki presence berpikir, “Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat.”

Fokusnya berpindah. Dari diri sendiri… menjadi orang lain.

Dan justru ketika fokus kita bergeser seperti itu, rasa gugup perlahan ikut mengecil.

Kita Tidak Takut Gagal. Kita Takut Dinilai.

Amy Cuddy menjelaskan bahwa sebagian besar kecemasan sosial sebenarnya bukan karena kita takut berbicara.

Kita takut dihakimi, terlihat bodoh, salah dan ditolak. Semua ketakutan itu akhirnya membuat kita memakai “topeng”.

Di kantor kita menjadi terlalu formal. Di LinkedIn kita menjadi terlalu sempurna. Di media sosial kita hanya menampilkan sisi terbaik.

Ironisnya…

Semakin banyak topeng yang kita pakai, semakin sulit orang mengenal siapa kita sebenarnya.

Padahal hubungan yang kuat selalu dibangun oleh keaslian. Bukan kesempurnaan. 

Mengapa Orang Nyaman Berbicara dengan Sebagian Orang?

Pernah bertemu seseorang yang membuat Anda merasa nyaman hanya dalam lima menit?

Bukan karena ia paling pintar atau paling kaya, tetapi karena ia benar-benar mendengarkan.

Tidak sibuk melihat ponsel, memotong pembicaraan dan  memikirkan jawaban berikutnya.

Ia hadir sepenuhnya.

Saya rasa inilah bentuk presence yang paling sederhana. Dan justru yang paling langka.

Di era notifikasi, multitasking, dan AI, kemampuan untuk benar-benar hadir ketika berbicara dengan seseorang menjadi keunggulan yang semakin mahal.

Mungkin itulah alasan mengapa sebagian orang selalu meninggalkan kesan mendalam.

Bukan karena kata-katanya luar biasa. Tetapi karena mereka membuat lawan bicaranya merasa dihargai.

Power Pose Bukan Tentang Gaya

Banyak orang mengenal Amy Cuddy karena konsep power pose. Sayangnya, banyak juga yang berhenti di sana.

Mereka mengira buku ini hanya mengajarkan cara berdiri agar terlihat percaya diri. Padahal inti bukunya jauh lebih dalam.

Power pose hanyalah simbol. Pesan utamanya adalah: Tubuh dan pikiran saling memengaruhi.

Cara kita berdiri memengaruhi cara kita berpikir. Cara kita bernapas memengaruhi emosi. Cara kita membawa diri memengaruhi keputusan yang kita ambil.

Artinya… Kadang perubahan besar dimulai dari perubahan kecil.

Mengangkat kepala sedikit lebih tegak. Mengatur napas sebelum presentasi. Menatap mata lawan bicara.  Tersenyum dengan tulus.

Hal-hal sederhana itu ternyata memberi sinyal kepada otak bahwa kita mampu menghadapi situasi tersebut.

Dan menurut saya, itu pelajaran yang sangat membumi.

Karena perubahan tidak selalu dimulai dari motivasi besar. Kadang dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan sadar. 

Pelajaran untuk Karier: Kompetensi Harus Terlihat

Saya sering bertemu profesional yang sangat pintar. Sayangnya… Mereka sulit menjelaskan idenya. Mereka sulit tampil, berbicara dan membangun koneksi. Akibatnya orang lain tidak pernah benar-benar melihat kualitas mereka.

Buku ini mengingatkan saya bahwa kompetensi dan presence harus berjalan bersama.

Kompetensi membuat Anda mampu. Presence membuat kemampuan itu terlihat.

Bayangkan seorang dokter yang sangat ahli tetapi tidak mampu menenangkan pasien. Atau seorang konsultan yang sangat cerdas tetapi selalu terlihat gugup ketika presentasi.

Ilmunya mungkin luar biasa. Tetapi dampaknya tidak maksimal.

Karena dalam dunia profesional, orang tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka juga merasakan bagaimana kita menyampaikannya.

Presence bukan pengganti kompetensi. Presence adalah jembatan agar kompetensi sampai kepada orang lain.

Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya setelah menutup buku ini.

Bukan tentang power pose ataupun bahasa tubuh, melainkan sebuah gagasan sederhana:

“Stop trying to impress. Start trying to connect.”

Bukankah itu yang sering kita lupakan?

Saat presentasi kita sibuk berpikir bagaimana terlihat pintar.

Saat wawancara kita sibuk memilih jawaban yang paling mengesankan.

Saat networking kita sibuk mencari orang yang “bermanfaat”.

Saat membuat konten di LinkedIn kita sibuk mengejar engagement.

Ironisnya, semakin keras kita berusaha mengesankan orang lain, justru semakin sulit kita hadir secara utuh.

Amy Cuddy mengingatkan bahwa orang tidak mencari manusia yang sempurna. Mereka mencari manusia yang terasa nyata.

Dan menurut saya, inilah yang membedakan orang yang hanya didengar dengan orang yang benar-benar dipercaya.

Pelajaran untuk Bisnis: Orang Membeli Perasaan Sebelum Membeli Produk

Kalau Anda memiliki dua penjual…

Yang satu hafal semua spesifikasi produknya. Yang satu lagi mendengarkan kebutuhan Anda dengan sungguh-sungguh.

Kira-kira Anda membeli dari siapa? Sebagian besar orang memilih yang kedua.

Mengapa? Karena keputusan membeli tidak hanya dipengaruhi logika. Tetapi juga emosi.

Presence membuat pelanggan merasa dihargai, didengarkan dan dipahami. Di situlah kepercayaan mulai tumbuh.

Saya rasa inilah alasan mengapa banyak bisnis kecil mampu bertahan menghadapi perusahaan besar.

Bukan karena modalnya lebih besar. Tetapi karena hubungan yang mereka bangun terasa lebih manusiawi.

Di era AI, otomatisasi, dan chatbot, kemampuan hadir sebagai manusia justru menjadi keunggulan yang tidak mudah digantikan. 


Pelajaran untuk Personal Branding: Jadilah Manusia, Bukan Brosur

Buku ini juga membuat saya merefleksikan personal branding.

Hari ini banyak orang mengira personal branding berarti selalu tampil sempurna.

Feed harus rapi. Foto harus profesional. Caption harus terlihat cerdas.

Padahal… Orang tidak mengikuti kita karena kita tampak sempurna. Mereka mengikuti kita karena mereka merasa terhubung.

Saya justru lebih percaya pada konsep ini:

People connect with authenticity before they admire expertise.

Orang terhubung dengan keaslian sebelum mereka mengagumi keahlian.

Artinya, jangan takut menunjukkan proses. Jangan takut mengakui kesalahan. Jangan takut bercerita tentang perjuangan.

Keaslian bukan kelemahan. Keaslian adalah fondasi kepercayaan.

Dan dalam dunia personal branding, kepercayaan selalu lebih mahal daripada popularitas.

Pelajaran untuk Networking: Hadir Lebih Penting daripada Banyak Bicara

Banyak orang datang ke acara networking dengan target: “Harus dapat sepuluh kartu nama.”

Saya justru belajar sebaliknya.

Lebih baik punya satu percakapan yang bermakna daripada sepuluh percakapan yang dangkal.

Networking bukan kompetisi mengumpulkan kontak. Networking adalah seni membuat seseorang merasa dihargai.

Coba ingat kembali. Siapa orang yang paling membekas dalam hidup Anda?

Kemungkinan besar bukan orang yang paling banyak berbicara. Tetapi orang yang paling sungguh-sungguh mendengarkan. Itulah presence.

Dan menurut saya, kualitas ini akan semakin langka sekaligus semakin bernilai di masa depan.

Dunia Tidak Membutuhkan Versi Palsu dari Diri Anda

Setelah menutup halaman terakhir buku Presence, saya tidak merasa harus menjadi pribadi yang lebih berani.

Saya justru merasa harus menjadi pribadi yang lebih jujur.

Jujur terhadap nilai yang saya pegang. Jujur terhadap kemampuan yang saya miliki. Jujur terhadap kekurangan yang masih perlu saya perbaiki.

Karena ternyata…

Kehadiran bukan lahir dari kesempurnaan. Ia lahir ketika kita berhenti berpura-pura.

Mungkin kita tidak akan menjadi pembicara terbaik ataupun  pemimpin paling terkenal. Mungkin kita juga tidak akan memiliki jutaan pengikut.

Tetapi kalau setiap kali bertemu orang lain, mereka merasa didengar, dihargai, dan pulang dengan energi yang lebih baik…

Bukankah itu juga bentuk kesuksesan?

Saya percaya, pada akhirnya hidup bukan tentang seberapa keras kita berusaha tampil.

Tetapi tentang seberapa dalam kita mampu hadir. Dan mungkin…

Warisan terbesar yang bisa kita tinggalkan bukanlah kesan bahwa kita luar biasa. Melainkan perasaan bahwa setiap orang yang pernah bertemu kita merasa lebih berarti.

Karena di era digital, orang mungkin lupa apa yang Anda unggah. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana Anda membuat mereka merasa.

Kalau kamu pengen belajar gimana cara membangun dan merawat relasi secara efektif, yuk ikutan book launching “The Wealth You Can’t Lose”. Daftar di sini secara GRATIS!

Kalau Anda ingin membangun reputasi profesional, memperluas peluang karier, sekaligus mengembangkan bisnis melalui LinkedIn, saya membahas strategi praktisnya di buku LinkedIn Hacks. Download di sini.

Karena di era digital, orang tidak hanya membeli produk. Mereka mempercayai orang di balik produk tersebut. Dan LinkedIn adalah salah satu tempat terbaik untuk membangun kepercayaan itu.

Tapi, bagaimana dengan dirimu? CV-mu udah menjual belum? Jika jawabannya belum …

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *