Ada pertanyaan sederhana yang sering saya ajukan kepada diri sendiri: “Kenapa ada orang yang sejak kecil terlihat menonjol, sementara sebagian lain butuh jalan memutar untuk menemukan dirinya?”
Pertanyaan itu selalu membawa saya ke orang yang sama:Dedi PRiADI, seorang alumnus Fisika ITB yang justru memilih terjun ke dunia psikologi—bukan karena gelar, bukan karena ambisi, tetapi karena kelahiran seorang anak.
Jarang sekali saya bertemu inovator yang perjalanan risetnya dimulai dari rasa penasaran seorang ayah, lalu berubah menjadiperjalanan panjang yang penuh penolakan, “fitnah” akademik, penelusuran ilmiah lintas disiplin, dan—yang paling penting—kebermanfaatan nyata bagi ribuan orang.
Di tengah hiruk pikuk “tes sidik jari abal-abal” yang sudah terlanjur terkenal di publik, Kang Dedi memilih jalan yang berbeda:membuktikan dengan data, sains, dan ketekunan. Ia membangun PRiADI bukan sebagai “ramalan nasib”, tetapi sebagai instrumen psikologi berbasis biometrik yang telah diuji bertahun-tahun dalam ranah talent mapping, pendidikan, hingga leadership military analytics.
Dalam wawancara ini, saya menemukan sisi yang jarang ditampilkan:
· perjuangan menghadapi stigma,
· keyakinan yang berakar pada sains dan fitrah manusia,
· dan “aha moment” besar yang membuat PRiADI menjadi culture-free—salah satu lompatan sains paling menarik yang pernah saya dengar dari inovator Indonesia.
Wawancara ini panjang, mendalam, dan penuh jawaban yang—jujur saja—bisa mengguncang cara kita memandang potensi manusia. Saya pribadi pernah “terselamatkan” setelah membaca laporan PriADI ketika menghadapiquarter-life crisis di titik terendah saya. Begitupun ketika saya memutuskan untuk menikah, istri saya “paksa” untuk mengikuti tes ini sebelum akad. Bahkan, anak saya sudah mengambil tes ini ketika umurnya masih kurang dari 4 bulan.
Selamat menyelami perjalanan seorang peneliti yang teguh, seorang ayah yang hebat, dan seorang inovator yang diam-diam mengubah masa depantalent analytics Indonesia.
A. Sejarah, Inspirasi dan Perjalanan Personal
Apa momen paling menentukan yang membuat Pak Dedi beralih dari dunia fisika ITB ke dunia psikologi manusia?
Kelahiran anak saya, Elhurr Zohaeri. Setelah anak lahir, timbul ketertarikan yang kuat memperhatikan perkembangan anak dan apa yang mereka pikirkan. Sampai suatu ketika, Elhurr yang ketika itu masuk PAUD usia 3 tahun, mendapatkan hasil penilaian psikologis dari Guru-gurunya di PAUD. Yang menarik dari hasil penilaian psikologis itu: 50% selaras dengan pandangan saya tentang Elhurr, tetapi 50% lainnya sangat berkebalikan dengan Elhurr. Karena peristiwa tersebut, saya kemudian memiliki ketertarikan yang kuat membangun sebuah instrumen psikologi mandiri.
Sebelum mulai riset sidik jari psikologi, di tahun 2006 saya dan tim sudah memulai riset membuat instrumen psikologi formal berbasis Internet. Bahkan sudah lebih dari lima instrumen formal psikologi yang sempat dibuat menjadiInternet Based Test, termasuk instrumen PAPI Kostick serta beberapa instrumen lainnya. Namun karena saya ketika itu kurang puas dengan hasil data reliability testinstrumen-instrumen berbasis kuesioner tersebut, pada tahun 2008 akhirnya saya coba beralih kepada asesmen berbasis biometrik– dalam hal ini sidik jari yang ketika itu mulai juga berkembang.
Apa fase paling menantang selama hampir satu dekade riset PRiADI, dan bagaimana Anda mengatasinya?
Penolakan yang masif dari kalangan psikolog hingga sekarang. Dan yang miris, penolakan itu salah satunya karena rumor yang berkembang di kalangan psikolog bahwa “Tes Sidik Jari itu Sebuah Kebohongan.” Perkataan tokoh psikolog itu yang sesungguhnya bukan merujuk langsung kepada Tes PRiADI, tetapi kepada tes sidik jari lainnya.
Sayangnya, banyak psikolog kemudian menyamaratakan kesimpulannya. Padahal Tes PRiADI itu berbeda, kami datang dengan argumentasi sains yang sahih, dan telah diuji dalam ragam sampel yang luas dan valid. Seandainya mereka mau lebih berdialog bersama kami, tentunya akan timbul titik terang yang baik untuk kedua belah pihak.
Ketika banyak orang meragukan konsep fingerprint-based psychology, apa yang membuat Anda tetap percaya untuk melanjutkan riset ini?
(1) Kebermanfaatan. Banyak orang terbantu menemukan titik cerah kepribadiannya setelah melakukan Tes PRiADI. Tes ini memiliki jangkauan pemakai dan kegunaan yang sangat luas, mulai dari bayi usia 3 bulan hingga orang dewasa. Dengan area pemetaan yang komprehensif, dari menelusur karakter kepribadian umum hingga ke sisi personality challenge yang dibawa sejak lahir; dari peminatan bakat hingga ke penelusuran level kecerdasan kognitif; dari pemetaan tim kerja hingga potret arah pengembangan diri dan kelompok (people analytics).
(2) Apa yang kami kembangkan dengan PRiADI memiliki diferensiasi dan competitive advantageyang tinggi dibandingkan riset psikologi sejenis, bukan saja di Indonesia bahkan global. Inilah energi yang menguatkan saya dan tim untuk tetap bertahan mengembang riset sidik jari, walaupun rintangan datang bertubi.
(3) Potensi scalabilitydan kebermanfaatan yang tinggi. Dengan dukungan teknologi informasi yang tepat, kami berkeyakinan bahwa cepat atau lambat Tes PRiADI memiliki potensi menjadi salah satu instrumen tes psikologi berbasis data genetik terbesar di dunia. Istilah kami di kantor, kami tengah menunggu godot “momentum ke atas” pada titik eksponensial kurva inovasi.
Dalam perjalanan riset yang panjang, apa “aha moment” yang mengubah arah riset PRiADI secara drastis?
Penemuan secara tidak sengaja “mirroring” data norm ke sampel populasi dunia. Sehingga menyebabkan instrumen PRiADI bersifat culture-free; interpretasi data Organized Brainuntuk orang Indonesia, misalnya, akan memiliki interpretasi dan konsekuensi yang sama dengan hasil data orang Amerika ketika nilai capaian sama di Tes PRiADI.
B. Riset & Sains di Balik PRiADI
Bagaimana Anda menjelaskan hubungan antara dermatoglyphics, genetik, dan perilaku manusia dengan bahasa yang mudah dipahami publik?
(1) Sejak 300 tahun sebelum Masehi, bangsa China telah menggunakan sidik jari untuk keperluan menganalisis kepribadian seseorang. Bagi saya pengetahuan masa lalu itu sangat bermakna, bahwa “riset” tentang kaitan sidik jari dan perilaku itu telah ada sejak lama. Sama halnya riset terkait manfaat tumbuhan tertentu terhadap pengobatan suatu penyakit.
(2) Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa sidik jari itu informasi unik yang dimiliki manusia, yang tidak ada seorangpun memiliki kesamaan. Dan yang menarik, masa di mana ruh Tuhan ditiupkan, itu relatif sejalan dengan masa di mana sidik jari terbentuk sempurna di dalam janin, 16 minggu setelah pembuahan, demikian informasi sebagian saintis.
(3) Bahwa setiap manusia memilikiinnate capability (fitrah) yang berbeda satu sama lainnya, yang ia berkembang layaknya blueprintyang membedakan satu individu ke individu lainnya. Dengan sifat sidik jari unik dan persisten, model bukti pola penurunan genetik di dalamnya, serta bukti ilmiah pengalaman riset masa lampau, adalah logis kita menggunakan sidik jari sebagai acuan dasar melihat karakter bawaan manusia.
Apa perbedaan paling signifikan antara PRiADI dan tes psikologi konvensional yang berbasis self-report?
Objektivitas hasil tes PRiADI yang sangat tinggi dibandingkan hasil tes psikologi konvensional. Di mana hasil tes PRiADI tidak terpengaruh mood, culture-free, tidak memungkinkan peserta melakukan kebohongan (faking in assessment) ataupun impresi manajemen. Sementara hasil tes psikologi formal cenderung mudah berubah hasil ketika mood berubah, mudah dimanipulasi hasilnya sesuai kepentingan peserta, dan mengandung social desirability biasyang tinggi.
Banyak tes psikologi dikritik karena bias. Bagaimana PRiADI memastikan objektivitas dan validitasnya?
Tes PRiADI murni hanya menggunakan data sidik jari — yang sifatnya unik dan persisten– sebagai satu-satunya acuan untuk menghasilkan laporan kepribadian seseorang. Tes PRIADI tidak menggunakan data tanggal lahir, golongan darah, kuesioner, atau bahkan wawancara untuk menilai karakter seseorang. Karena konsistensi penggunaan data sidik jari inilah, objektivitas dari hasil Tes PRiADI terpelihara. Sementara validitas sistem dirancang sejak awal terkait sisi konten, kriteria, dan konstruksi teoritisnya dengan standar yang baik.
Dalam hal reliabilitas sains, milestone apa yang membuat Anda yakin bahwa metode ini benar-benar siap digunakan publik?
Hasil uji reliabilitas yang sangat tinggi (mencapai 96%) dan konfirmasi positif mayoritas sampel dan pengguna Tes PRiADI dalam kurun hampir satu dekade. Dalam kurun hampir satu dekade, Tes PRiADI telah dipakai keperluan psikologi umum dan juga di ranah klinis.
Hingga sekarang, banyak psikolog keberatan dengan bagaimana Tes PRiADI masuk ke ranah klinis kepribadian. Tetapi keberanian ini justru muncul dikarenakan anugerah data norm PRiADI yang dibahas di atas, di mana ranah ekstrem sebuah facet kepribadian bisa terpetakan secara eksplisit dalam bentuk numerik jarak terhadap rata-rata populasi (distance to the means).
Apa mitos terbesar tentang fingerprint analysis yang ingin Anda luruskan melalui PRiADI?
Memang benar hasil tes sidik jari PRiADI (hasil genetics) dapat mengungkap gambaran besar dan detail kepribadian seseorang, tetapi hendaklah kita paham bahwa karakter manusia itu tidak semata terbentuk karena faktor genetik semata. Ada peran pengembangan (development) seperti parenting, pendidikan, dan training di dalamnya. Serta ada peran keberuntungan atau kesempatan peran (chance) dalam pembentukan karakter. Sehingga Tes PRiADI mempercayai faktor genetik besar atau sangat besar mempengaruhi pembentukan karakter seseorang– sebagaimana sains menunjukkan itu; tetapi kami juga percaya bahwa karakter juga tumbuh terasah karena respon kita dalam proses development and chance. Dengan demikian, kita tidak akan terjebak pada fatalisme negatif atau konsep kehendak bebas (free will) yang ekstrim dalam pembentukan kepribadian.
C. Dampak Nyata dan Transformasi Klien
Dari ratusan institusi dan ribuan individu yang sudah memakai PRiADI, kasus mana yang paling menyentuh dan menunjukkan kekuatan data yang sebenarnya?
Keterlibatan PRiADI empat tahun berturut-turut dalam proses seleksi tim Olimpiade Geografi Indonesia ke kancah iGEO Internasional. Di mana secara potret diri PRiADI sejalan dengan kecenderungan kepemimpinan, daya prestasi, prediksi level kecerdasan, dan potensi daya tahan terhadap stress peserta Olimpiade pada masa tes dan karantina. Alhamdulillah, pada tahun 2024 timnas Indonesia berhasil merebut juara umum iGEO di Dublin, Irlandia, dengan menyabet 3 medali emas dan satu perunggu.
Bagaimana PRiADI membantu Sesko TNI memahami karakter perwira secara lebih dalam?
Dengan memberikan gambaran tentang peta kelompok keseluruhan angkatan melalui analisis people analytics, sehingga tercipta ruang kelas yang dinamis untuk perkembangan studi para perwira menengah TNI. Di samping itu, analisis individu dari Tes PRiADI membantu para perwira menengah (Letnan Kolonel & Kolonel) untuk memahami karakter kepemimpinan dan kecerdasan alamiah mereka, hal ini dapat membantu mereka arah pengembangan karir sesuai dengan rujukan karir yang tersedia di TNI: pertempuran, intelijen, teritorial, logistik, personel, dan pendidikan.
Apa insight paling mengejutkan ketika Anda menganalisis kolektif leadership DNA di Pelindo Forum 2024?
Ternyata hasil analisis kelompok PRiADI terhadap 300-an pimpinan di holding dan sub-holding Pelindo dekat dan relevan dengan prediksi kinerja pimpinan terhadap individu yang bersangkutan. Permasalahan yang tampak pada lembar kebutuhan training kelompok, sejalan dengan kendala lapangan yang dihadapi. Misalkan terkait work engagement dan effective decision making, demikian pula terkait dengan potensi konflik dan stress yang dialami individu. Detail potret dan saran pengembangan pada data Tes PRiADI membantu Pelindo untuk menentukan arah strategis pengembangan dan penempatan SDM mereka.
Menurut Anda, mengapa banyak pemimpin senior—mulai dari Pertamina, Bank Indonesia, hingga TNI—merasa “terbaca” oleh PRiADI?
Setiap orang yang melakukan Tes PRiADI “terpaksa” melakukan self-reflection tentang dirinya dalam berbagai aspek kepribadian– sebab sumber datanya analisis konfigurasi sidik jari mereka. Mayoritas klien kami merasa amazed bahkan mind-blowing dengan hasil Tes PRiADI mereka; jika pun ada proses denialterhadap hasil Tes PRiADI, biasanya orang-orang di sekitar klien tersebut cenderung mengiyakan apa yang dikatakan dalam hasil data Tes PRiADI.
Dalam dunia pendidikan, bagaimana PRiADI bisa mengubah cara guru memahami murid sejak dini?
Pemahaman komprehensif guru terkait hasil Tes PRiADI anak-anak didiknya akan membuat pembelajaran menjadi lebih terarah; sebab guru menjadi paham bagaimana karakter fokus dan kedisiplinan anak didiknya, paham respon emosional dan sosial mereka, paham inisiatif dan spontanitas anak didiknya, dan yang terpenting guru dapat menjadi fasilitator yang baik untuk anak-anak didiknya karena paham personality challengeyang dimiliki anak-anak didiknya.
D. Keunggulan Produk & Filosofi Pembelajaran Manusia
Dari 50+ karakter bawaan yang dipetakan PRiADI, karakter mana yang paling sering disalahpahami orang tentang dirinya sendiri?
Social style. Sebagian klien mengira diri mereka ekstrovert, padahal di data Tes PRiADI introvert. Mereka mengira mereka enerjik dan mampu berkomunikasi, tetapi nyatanya mereka berkomunikasi dan bergaul dengan orang sebatas kepentingannya. Mereka fokus dengan pekerjaannya, untuk dekat dengan mereka butuh alasan. Ada layer pertemanan yang dalam.
Bagaimana konsep ‘Genetic Potential Optimization’ Anda terapkan sehingga tidak keliru menjadi ‘labeling’ atau ‘determinisme’?
Tes PRiADI meyakini konsep GDC (Genetics, Development, and Chance) dalam proses pembentukan karakter. Artinya, kami tidak menihilkan peran pengembangan diri dan peran kehidupan. Peran genetics memang besar, terutama terkait nilai persistensi dan permasalahan kepribadian seseorang, tetapi ruang untuk berkembang itu tetap dimungkinkan. Makanya, di dalam Tes PRiADI ada satu bab khusus terkait Training Needs Analysis (TNA).
Menurut Anda, mana yang lebih besar menentukan masa depan seseorang—bakat bawaan atau lingkungan?
Cerita kesuksesan adalah perpaduan bakat bawaan dan lingkungan secara berkesinambungan harus tetap diasah. Untuk orang dengan bakat yang besar dengan permasalahan kepribadian yang besar juga, fokus menangani terlebih dahulu permasalahan psikologisnya akan berdampak lebih baik bagi masa depannya. Untuk pribadi seperti ini, banyak kasus potensinya yang besar menjadi kurang berguna hanya karena ia abai dengan masalah ia dengan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Untuk orang yang berbakat besar dengan minor permasalahan, biasanya akan lebih mudah berkembang ketika pemicu lingkungan mendukung. Dalam beberapa kasus, mereka jika pun menghadapi lingkungan yang sedikit menantang, lebih sigap menghadapi tantangan tersebut. Sementara orang dengan bakat bawaan biasa, peran lingkungan signifikan mengarahkan ia kepada kesuksesan di masa depan. Problem umum bagi mereka dengan bakat bawaan biasa adalah fokus perhatian dan penghabisan energi kesehariannya. Ada kesan, jika role model dan lingkungannya kurang tepat, bisa jadi mereka lebih mengabaikan pentingnya waktu dan pencapaian.
Banyak orang terjebak pekerjaan yang tidak cocok. Bagaimana PRiADI membantu organisasi menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat?
Melalui fitur Job Fit Index dan pemotretan sikap kepribadian kerja, Tes PRiADI membantu banyak pegawai menemukan ritme terbaik dalam bekerja. Tidak semua orang pintar cocok jadi pemimpin, misalnya. Boleh jadi ia sangat menguasai detail pekerjaannya, tetapi karena sikap kepemimpinannya yang nggak enakan dan kurang tegas, ia merasa sungkan mengorganisasi dan mengarahkan tim untuk melakukan sebuah tindakan berisiko namun penting untuk keberlanjutan perusahaan.
Apa konsekuensi terbesar bagi perusahaan yang tidak memahami inborn character karyawannya?
Organisasi akan menemukan banyak kasus mismatch pada karyawannya. Lebih dari itu tanpa pemahaman peta karakter karyawan secara menyeluruh, organisasi “buta” terkait pengembangan strategis SDM dan pemahaman kontekstual interaksi dan engagement atau konflik yang terjadi di dalam organisasi. Konsekuensi terbesar dari ketidaktahuan informasi karakter bawaan organisasi adalah kinerja perusahaan yang kurang baik, apakah karena faktor skills yang tidak memadai, engagementyang tidak nyaman, atau konflik di dalam tubuh organisasi.
E. Teknologi, Data, dan Masa Depan
Seberapa besar potensi big data sidik jari dalam memetakan talent landscape Indonesia di masa depan?
Sangat besar potensinya, mengingat pemetaan talent dengan metode sidik jari ini bisa dilakukan sejak dini, bahkan pada usia bayi 3 bulan. Bayangkan jika Indonesia memiliki proyeksi peta talent mereka sejak dini, berapa besar potensi dapat dikuatkan sejak dini. Dan berapa banyak potensi permasalahan dapat diantisipasi sejak dini. Sehingga peta talent ini bisa dijadikan data-driven untuk strategi pengembangan bakat (talent optimizer) rakyat Indonesia secara lebih terstruktur, affordable, dan berkelanjutan.
Bagaimana Anda membayangkan PRiADI berkembang ketika AI dan machine learning semakin maju?
Tentunya kami optimis dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perubahan teknologi terjadi setiap detiknya, tetapi kita harus selektif memilah dan memilih teknologi seperti apa yang sebaiknya kami adaptasi. Karena pada akhirnya, kebermanfaatanlah — bukan canggihnya teknologi– yang menjadi tujuan utama Tes PRiADI.
Apakah Anda membayangkan PRiADI akan menjadi standar global dalam talent analytics? Jika iya, apa roadmap-nya?
Benar, insya Allah. Begin with the end in mind. Sepuluh tahun lalu, saat proses riset yang berliku, saya memiliki optimisme bahwa suatu waktu Tes PRiADI dapat menjadi global leader dalam bidang asesmen psikologi berbasis sidik jari. Dan alhamdulillah, secara sistem — bukan dalam hal market share— per hari ini boleh jadi Tes PRiADI menjelma menjadi asesmen psikologi berbasis sidik jari yang paling komprehensif, dengan standarisasi dan metode pelaporan yang unik. Road map-nya dengan membuka partnership program dengan beberapa perusahaan global, yang terdekat misalnya kami bekerja sama membuka layanan Tes PRiADI di Malaysia bersama Q3 Management Solutions.
F. Dimensi Personal, Filosofi, dan Legacy
Jika Anda bisa mengirim pesan kepada Dedi Priadi tahun 2006 yang baru mulai riset ini, apa pesan Anda?
Be consistent. Jangan patah semangat menebar benih kebaikan. Siapa yang menanam, ia akan menuai. Padi yang dipanen hari ini bukan padi yang ditanam kemarin sore.
Ketika nanti PRiADI menjadi warisan besar Anda untuk bangsa, apa satu hal yang Anda ingin orang ingat tentang misi Anda?
Semoga Tes PRiADI menjadi atsar –jejak kebaikan yang abadi– yang berpengaruh dan berdampak kepada proses perkembangan kepribadian individu, organisasi dan bangsa. Suatu waktu, saya ingin Tes PRiADI menjadi bahan kajian dan pembelajaran materi ajar Psikologi, Pendidikan, dan Manajemen di seluruh dunia. Semoga hal itu tercapai, bi ‘aunillah.
Dari wawancara dengan Kang Dedi, saya menyadari satu hal: PRiADI bukan sekadar alat tes. Ia adalah cermin—bukan untuk menilai kita secara statis, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap manusia lahir dengan blueprint unik yang perlu dipahami, bukan dihakimi.
Dari cerita tentang Elhurr di PAUD, hingga penggunaan PRiADI oleh para perwira TNI, hingga peta DNA kepemimpinan yang dipakai Pelindo, satu benang merahnya jelas:Kalau kita bisa memahami diri manusia sejak awal, kita bisa memperbaiki cara mendidik, memimpin, bekerja, dan membangun bangsa.
Saya percaya, sejarah selalu memulai bab pertamanya dari orang-orang yang berani menempuh jalan yang tidak biasa.
Dan setelah membaca jawaban-jawaban Mas Dedi, saya makin yakin bahwa PRiADI bukan sekadar eksperimen—melainkanlegacy project yang akan terus membesar nilai manfaatnya.
Semoga percakapan ini membuka ruang dialog yang lebih sehat antara dunia psikologi, dunia pendidikan, dunia sains, dan dunia talenta Indonesia. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini hanya bisa berkembang jika kita benar-benar mengerti manusia yang kita bangun.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Jika wawancara ini membuat Anda berpikir ulang tentang potensi manusia,bagikanlah—mungkin ada orang lain yang sedang mencari petunjuk tentang dirinya.
Nah, bagaimana dengan diri lo? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:
Leave a Reply