Tag: Agung Setiyo Wibowo

  • Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?

    Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?

    Proses transisi dari siswa menjadi mahasiswa merupakah salah satu momen penting di kalangan akademisi. Banyak sekali hal berbeda yang akan dihadapi khususnya di awal masa perkuliahan. Tidak jarang hal ini menyebabkan shock di kalangan beberapa mahasiswa baru (maba), mulai dari kultur belajar, bobot materi di dalam perkuliahan, interaksi sosial antar mahasiswa/mahasiswi, kegiatan organisasi dan lainnya. Untuk meminimalisir shock tersebut biasanya di kampus diadakan berbagai kegiatan dalam menyambut maba yang biasa disebut masa orientasi (atau apalah namanya). Hal ini diharapkan dapat mengenalkan maba kepada lingkungan barunya sehingga dapat mempermudah proses adaptasi dari maba dengan agenda-agenda yang ada di kampus.

     

    Jika masa orientasi tersebut diadakan oleh kampus untuk mengenalkan maba terhadap dunia perkuliahan, begitu pula dengan buku yang ditulis oleh Agung Setiyo Wibowo. M.Si. Buku dengan judul “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?” ini layaknya buku panduan bagi para calon maba yang berminat untuk bergabung dalam jurusan Hubungan Internasional. Buku ini ditulis oleh salah seorang HI-sir yang merupakan salah satu dosen yang aktif mengajar di Universitas Satya Negara Indonesia Jakarta. Hubunganinternasional.id mencoba mewawancarai penulis terkait buku karangannya tersebut. Mari simak wawancaranya!

     

    Hubunganinternasional.id (hi.id): Bisa anda jelaskan apa motivasi anda menulis buku ini?

     

    Agung Setiyo Wibowo (ASW): Buku ini merupakan salah satu bukti kegelisahan saya dengan kualitas lulusan hubungan internasional. Faktornya tidak lain ialah nihilnya buku panduan (populer) yang mengenalkan calon mahasiswa tentang jurusan hubungan internasional. Sehingga, banyak yang mengambil jurusan ini karena ikut-ikutan teman, dipaksa orang tua, atau sekedar coba-coba. Akibatnya, kualitas mereka ketika tamat belum dapat mencapai titik optimal.

     

    Mengapa saya gelisah? Karena saya menemukan banyak teman seangkatan kuliah maupun mahasiswa HI pada umumnya yang memprihatinkan proses belajarnya. Hal ini dipicu oleh minimnya pengetahuan mereka mengenai potensi diri sendiri (seperti minat, bakat, passion) dan “kebutaan” mereka tentang jurusan hubungan internasional.

     

    (hi.id): Beberapa hal yang ditulis dalam buku anda menggambarkan dunia perkuliahan khususnya di jurusan Hubungan Internasional dengan sangat baik. Apakah ini berasal dari sebuah pengalaman pribadi anda ketika duduk di bangku kuliah?

     

    (ASW):  Semua buku saya berbasis riset, termasuk buku “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI? Cerita Seorang Alumnus Hubungan Internasional dan Teman-temannya.” Tentu ada cerita pribadi yang mewarnai. Namun, hasil riset lebih menonjol. Karena data yang saya ambil melibatkan alumni HI lintas generasi, almamater dan profesi dari seluruh wilayah di tanah air.

    (hi.id): Menurut pendapat anda, apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh maba ketika awal bergabung dalam jurusan Hubungan Internasional?

     

    (ASW):  Kebutaan mengenai jurusan hubungan internasional menyebabkan mereka kaget. Karena persepsi mereka mengambil program studi ini tidak jarang yang berbeda dengan kenyataan di lapangan. Banyak yang menikmati proses perkuliahan hingga tamat. Namun, tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena merasa “salah jurusan”.

     

    Image: Agung Setiyo Wibowo, Penulis Buku “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?”

     

    (hi.id): Writing and Speaking! Seberapa penting skill ini bagi mahasiswa Hubungan Internasional?

     

    (ASW):  Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini, dunia telah berubah dengan sedemikian cepatnya. Oleh karena itu, memiliki sifat agile tidak bisa ditawar lagi untuk memenangkan era disrupsi yang dikenal dengan VUCA (VolatilityUncertaintyComplexity & Ambiguity) ini. Tentu alumni hubungan internasional bisa beraktualisasi di bidang apa saja ketika unggul dalam Writing dan Speaking. Entah menjadi diplomat, aktivis NGO, staf organisasi internasional, jurnalis, penyiar, dosen, peneliti, trainer, penulis, pemasar, atau yang lainnya. Itu mengapa saya (masih) ingat dan sepakat dengan pendapat Charles Darwin bahwa bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri dalam menanggapi perubahan.

     

    (hi.id): Organisasi kemahasiswaan menyita waktu dan energi yang cukup banyak pada masa perkuliahan. Tidak jarang anggotanya dihadapkan pada pilihan antara memprioritaskan organisasi atau perkuliahan. Meski demikian tidak dapat dipungkiri bahwa organisasi kemahasiswaan juga mampu memberikan hal-hal positif kepada mahasiswa/mahasiswi. Menurut pendapat anda, apa pentingnya bergabung dalam organisasi kemahasiswaan?

     

    (ASW): Keaktifan berorganisasi mampu menempa Soft Skill mahasiswa. Kelak itu bisa menjadi modal dalam memenangkan pasar kerja – khususnya jika mau bertarung di level regional dan global. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin dalam sektor bisnis, pemerintahan, swasta, maupun sosial wajib mengembangkan diri melalui “kendaraan” organisasi.

     

    (hi.id): Go internasional menjadi salah satu cita-cita bagi mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional. Terlebih jika hal ini berkaitan dengan kegiatan-kegiatan akademik yang dapat menunjang perkuliahan. Menurut pendapat anda, event akademik seperti apa yang layak menjadi alasan mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional untuk “go internasional”?

     

    (ASW): Saya kira belakangan makin banyak cara untuk bisa “go international” ya. Untuk ranah akademik bisa memanfaatkan konferensi internasional, forum regional maupun Model United Nations (MUN). Untuk yang non-akademik bisa mempertimbangkan pertukaran pemuda (mahasiswa) hingga international camp.

     

    (hi.id): Pengabdian pada masyarakat menjadi salah satu elemen penting dalam Tridarma Perguruan Tinggi. Menurut pendapat anda, pengabdian kepada masyarakat yang seperti apa bisa dilakukan oleh mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional?

     

    (ASW): Pengabdian masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Bergantung apa keterampilan, minat, dan passion. Namun yang lebih penting lagi ialah mampu menjawab persoalan yang terjadi di akar rumput. Karena sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

     

    (hi.id): Selain berbicara masa-masa kuliah, di buku ini anda juga menjelaskan terkait tahapan awal karir. Menurut pendapat anda apa yang menjadi tantangan terbesar di awal menghadapi dunia kerja?

     

    (ASW): Kurikulum HI di berbagai kampus banyak yang tidak terkait dan selaras (link & match) dengan pasar kerja. Ini diperburuk dengan minimnya assessment potensi diri maupun pelatihan seputar karir dari pihak perguruan tinggi. Jadi, banyak lulusan HI yang tidak siap dengan dunia kerja. Singkat kata, kualitas lulusan HI sangat beragam dari individu yang satu dengan yang lainnya.

     

    Image: Agung Setiyo Wibowo, Penulis Buku “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?”

     

    (hi.id): Tantangan dalam dunia kerja yang akan dihadapi oleh HI-bro dan HI-sis sekarang tentu berbeda dengan zaman anda kuliah dulu. Untuk itu, tolong sebutkan satu soft skill yang menurut anda perlu dipersiapkan dengan baik sejak duduk di bangku kuliah guna menghadapi dunia kerja kelak ketika mereka lulus kuliah. Berikan alasannya!

     

    (ASW): Menurut pendapat saya ialah agility (kelincahan). Pasalnya, orang yang lincah biasanya cenderung lebih peka dengan keadaan. Jadi, mereka lebih terdorong untuk memaksimalkan kemampuan berpikir analitis maupun kreatif, menyelesaikan masalah, dan di saat yang bersamaan terasah kecerdasan sosialnya.
    Era disrupsi dewasa ini sarat dengan volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas (VUCA). Hanya orang-orang yang terus-menerus mengembangkan diri yang akan menjadi pemenang.

     

    (hi.id): Apa pesan yang ingin anda sampaikan kepada pembaca melalui tulisan ini?

     

    (ASW): Kenalilah potensi diri sendiri sebelum mengambil jurusan kuliah dan profesi. Karena setiap orang unik dan memiliki bakat maupun kelebihan masing-masing. Selanjutnya gunakan minat, bakat, passion, pengetahuan, dan keterampilan yang Anda miliki untuk menyelesaikan masalah-masalah di sekitar – khususnya yang paling Anda gelisahkan dan pedulikan.

     

    (hi.id): Pada sesi berikut ini, anda akan diberikan beberapa pertanyaan maupun pilihan. Anda harus menjawab atau memilih salah satu jawaban dan menjelaskan jawaban anda. Jika saya diberikan pilihan antara berkarir menjadi dosen atau berkarir sebagai diplomat, maka saya memilih menjadi …. Jelaskan!

     

    (ASW): Sejak kecil saya ingin menjadi guru. Itu mengapa saat ini saya aktif sebagai konsultan, coach, konselor, penulis, pembicara publik dan trainer sekaligus. Saat ini saya memutuskan untuk menjadi dosen luar biasa. Meskipun tidak menutup kemungkinan akan menjadi dosen penuh waktu kelak.
    Misi hidup saya ialah membantu individu dan organisasi memaksimalkan potensi terbaik mereka. Berbeda dengan kebanyakan calon mahasiswa maupun lulusan HI, saya tidak pernah ingin menjadi diplomat. Itu mengapa saya tidak pernah mendaftar CPNS karena sudah tahu apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup.

     

    (hi.id): Jika saya bisa mendorong mahasiswa/mahasiswi saya, maka saya memilih untuk mengarahkan mereka mempublikasikan artikelnya atau memberdayakan masyarakat?

     

    (ASW): Saya akan mengarahkan mereka untuk memberdayakan masyarakat. Karena di situlah mereka bisa memanfaatkan ilmu yang diperoleh di kelas. Lantaran di sanalah “kualitas” diri sesungguhnya diuji.

     

    Semakin banyak masalah yang mahasiswa/i pecahkan, semakin besar manfaat yang mereka tebarkan untuk sesama. Karena bukankah tujuan kita hidup itu untuk mengabdi, melayani, berbagi, memberi, dan menawarkan solusi untuk orang lain?

     

    (hi.id): Menurut saya, mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional akan mendapatkan banyak pengalaman berharga melalui magang atau Kuliah Kerja Nyata (KKN)?

     

    (ASW): Keduanya baik dan saling melengkapi. Magang bisa membuka cakrawala mahasiswa/i akan sengitnya persaingan kerja. Jadi, mereka bisa mengukur diri mengenai kesiapan dan kemampuan diri sendiri di lapangan. Sementara itu, KKN bisa membantu mereka keluar dari “menara gading kampus” yang terkadang justru membatasi imaginasi.

     

    (hi.id): Berkarir sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Indonesia menjadi angan-angan dari banyak mahasiswa/mahasiswi Hubungan Internasional. Menurut saya hal tersebut ….

     

    (ASW):  Tidak salah dengan angan-angan menjadi diplomat. Yang perlu mereka sadari, lulusan HI bisa berkarya di mana saja sesuai dengan potensi diri. Jadikan pengalaman belajar di jurusan HI sebagai “gerbang emas” masa depan – bukan justru membatasi diri!

     

    (hi.id): Menurut pendapat saya, jika lulusan Hubungan Internasional tidak mampu meraih angan-angan berkarir sebagai diplomat, maka pekerjaan yang cocok untuk mereka adalah …. Jelaskan alasannya!

     

    (ASW): Pekerjaan apa saja yang sesuai dengan minat, bakat, keterampilan, passion dan “kebutuhan” pasar. Sebagaimana yang saya tulis dalam buku, banyak kok lulusan HI yang justru “bersinar” di luar profesi diplomat. Mulai dari penulis, penyiar, penyanyi, pebisnis, pembicara publik, aktivis sosial, bankir, jurnalis dan lainnya.

     

    (hi.id): Jika ada satu negara yang dapat saya rekomendasikan kepada HI-bro dan HI-sis untuk melanjutkan studinya, maka saya akan merekomendasikan mereka untuk melanjutkan kuliahnya di Negara …. Jelaskan alasannya!

     

    (ASW): Ehmmm, ini sangat subyektif. Karena bukankah hidup ialah kumpulan dari keputusan atau pilihan kita sendiri? Jika saya yang ditanya, maka saya sangat merekomendasikan HI-bro dan HI-sis untuk belajar di Amerika Serikat. Meskipun belakangan Tiongkok makin menunjukkan tajinya, Amerika Serikat saya rasa masih menjadi pusat peradaban dunia – setidaknya hingga satu hingga tiga dekade mendatang.

     

    (hi.id): Jika saya diberikan kesempatan untuk memilih, suatu saat nanti saya ingin mengajar di Universitas … Alasannya?

     

    (ASW): Saya lahir dan besar di Magetan, Jawa Timur. Jika Tuhan memberikan kesempatan, suatu saat saya ingin mengajar di kampus-kampus yang tidak jauh dari kampung halaman saya.

     

    (hi.id): Bagi saya menjadi dosen itu ….

     

    (ASW): ialah panggilan. Karena masa depan bangsa Indonesia ada pada kualitas manusianya.

     

    (hi.id): Jika saya tidak menjadi dosen, saya memilih menjadi …. Jelaskan alasannya!

     

    (ASW): Penulis dan Pebisnis Sosial. Karena dua profesi ini merupakan cerminan jiwa saya. Dengan menulis saya bisa “menyihir” orang lain melalui kata-kata. Dengan berbisnis sosial, saya bisa menyelesaikan masalah sosial yang paling saya pedulikan dengan mandiri – dengan cara saya sendiri.

     

     

    Sumber: hubunganinternasional.id, 24 November 2018 

  • Buku SOUP Lezat, Usaha Hebat

    Menyajikan soup lezat untuk bisnis skala besar jelas lebih rumit dibandingkan dengan soup lezat untuk skala “kaki lima”. Kuncinya dimulai dari membuat semangkok soup lezat. Baru bisa diperbanyak dengan standar resep dan cara memasak yang sama.

    Filosofi soup lezat menyadarkan kita mengapa 4 dari 5 pebisnis pemula gagal di dua tahun pertama dan mengapa 1 dari 25 perusahaan jatuh sebelum berumur 10 tahun. Konsep ini mengingatkan kita betapa ketidakseimbangan dalam menjalankan aspek sistem, orang, uang, dan pelanggan secara berkesinambungan menjadi bumerang yang mempercepat kehancuran usaha.

    Buku ini mengenalkan konsep Balanced Pillar sebagai alternatif Balanced Scorecard dengan gaya bertutur dan diksi yang membumi. Sehingga mudah dipahami pembaca untuk menyadarkan pentingnya menata keseimbangan pengembangan sistem yang dikelola oleh orang yang tepat, ditunjang oleh penataan uang yang tepat guna dan pengembangan jaringan pelanggan yang luas guna mencapai kinerja efisien yang berkelanjutan.

    Digodok bersama oleh tim solid yang berisi CEO di perusahaan multinasional & lokal, pengusaha, konsultan manajemen dan praktisi SDM; buku ini dilengkapi dengan kuisioner untuk membantu pembaca menilai organisasi secara paripurna dari empat aspek yang tak dapat dipisahkan yaitu sistem, orang, uang, dan pelanggan (SOUP). Sarat dengan studi kasus, lessons learned, best practices, dan temuan mutakhir dari persepektif lokal dan global; buku ini layak menjadi teman sekaligus guru yang mengajak pembaca belajar mengukur keseimbangan proses guna mewujudkan kinerja organisasi secara berkelanjutan – baik untuk lembaga profit maupun non-profit. Sehingga wajib digunakan sebagai “panduan” untuk pebisnis, direktur, manajer, Self-Employee, konsultan, mahasiswa, maupun masyarakat  luas.

     

    Mengapa Harus Membaca Buku Ini? 

    1. Menawarkan konsep manajemen asli Indonesia;
    2. Belum ada satupun buku terbitan lokal yang mengupas tuntas sistem manajemen strategis
    3. Menjadi konsep alternatif untuk melengkapi Balanced Scorecard (BSC);
    4. Ditulis dengan gaya bertutur yang menghadirkan engagement dengan pembaca sehingga lebih mudah dipahami;
    5. Dilengkapi dengan temuan mutakhir, best-practices dan studi-studi kasus dari dalam dan luar negeri;
    6. Dilengkapi dengan kuisioner yang berisi 76 pertanyaan untuk mengukur keseimbangan proses yang menjadi kunci kinerja organisasi, baik profit maupun non-profit;
    7. Membantu pembaca menilai organisasi secara paripurna dari empat aspek yang tak dapat dipisahkan yaitu sistem, orang, uang, dan pelanggan (SOUP);
    8. Menyadarkan pembaca pentingnya proses yang “seimbang” dan benar untuk keuntungan berkelanjutan.

     

    Di mana Bisa Mendapatkan Buku Ini?

    1. Versi cetak bisa diperoleh di toko buku Gramedia, Togamasdan Gunung Agung
    2. Versi digital bisa dibeli di 4 apps: iPusnas, iReader, iJogja dan E-Sentral 

     

    Apa Kata Para Tokoh? 

    “Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang ingin meningkatkan kinerja perusahaan dan mengerti konsep sistem manajemen strategis! Baca buku ini, perjuangkan mimpi Anda dan berkaryalah bagi negara kita tercinta. Indonesia, Pasti Bisa!”

    ~ Merry Riana, Motivator Wanita No.1 di Indonesia & Asia, Tokoh Inspirasi Buku & Film ‘MERRY RIANA: Mimpi Sejuta Dolar’,  TV Host ‘I’m Possible’ on Metro TV, Radio Host ‘The Merry Riana  Show’ on Sonora Network, www.MerryRiana.com

    “Membaca konsep dan narasi dalam buku ini secara utuh laksana menyelesaikan kuliah strategi di program MBA dalam waktu singkat namun tetap mendalam.”

    Harryadin Mahardika, Ph.D.

    Kepala Program Magister Manajemen

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

     

    “Apabila proses bisnis tidak seimbang, maka bisnis dengan usaha sekeras apapun akan tersendat bahkan bisa gagal total. Saya angkat topi untuk penulis yang telah mampu menuliskan gagasannya dengan cemerlang!”

    Dr. Ir., Ahmad Syamil, MBA

     Dekan Binus Business School Jakarta

     

    “Kita semua harus menjaga keberhasilan perusahaan kita, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dan untuk itu semua kegiatan perusahaan harus diukur agar mendukung keberhasilan dari kedua perspective itu. Balanced Pillar akan mengajak Anda untuk membuat pengukuran keberhasilan perusahaan Anda, baik untuk pencapaian objective di masa sekarang maupun keberlangsungan perusahaan di masa depan.”

    Pambudi Sunarsihanto

    Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (Indonesia)

    “Membangun bisnis bagi siapapun tidaklah mudah. Dibutuhkan sistem yang baik, sumber daya manusia  yang bertalenta, modal, dan kecakapan dalam memenuhi apa yang diinginkan pelanggan. Buku ini akan melengkapi tentang apa yang dibutuhkan dalam mengelola dan mengembangkan usaha.”

    Dr. Asto  Sunu Subroto

     CEO Mars Data Science

    Layaknya kehidupan manusia, bisnis yang sehat harus dijalankan secara seimbang. Dari aspek sistem, pengembangan sumber daya manusia, keuangan, hingga memuaskan pelanggan. Tanpa keseimbangan, bisnis memang masih bisa bergerak. Namun pasti akan datang suatu masa yang bernama ketumbangan. Congratulation Agung for writing this brilliant idea, keep up the good work! 
    Kus Heryuwono, President Director Intipesan Group
    “Buku ini hadir sebagai alternatif sekaligus pelengkap bagi Balanced Scorecard – konsep yang jauh dari sempurna untuk konteks Indonesia. Ia wajib dibaca oleh organisasi dan eksekutif yang ingin melakukan terobosan.”  
    Wijayanto Samirin, Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Ekonomi dan Keuangan & Komisaris Independen PT Indosat Ooredoo Tbk

    “Indonesia sebagai negara yang besar dan progresif membutuhkan buah pendalaman manajemen yang baik dan segar seperti buku ini. Para praktisi dan pemikir ilmu manajemen dapat menambah perspektifnya akan ketahanan organisasi dengan SOUP yang ditawarkan oleh Agung Setiyo Wibowo.”

    ~Andrew Emmanuel Tani, CEO AndrewTani & Co.

    “Ini merupakan buku pertama paling komprehensif yang pernah saya baca mengenai pentingnya menjaga keseimbangan seluruh aspek dalam roda organisasi. Studi-studi kasus yang dipaparkan mampu menyadarkan saya betapa mengelola organisasi  yang benar itu bermuara pada dua hal: strategy & execution. Yang terpenting, buku ini membantu saya memahami pengukuran kinerja organisasi dengan lebih masuk akal dan komprehensif.”
    Bahari Antono, CEO HRD Forum
    “Salah satu cara paling efektif dalam pembelajaran ialah meniru best practices dan lessons-learned dari the crème de la crème. Buku ini mampu menyuguhkan jalinan cerita perusahaan-perusahaan terbaik di buka bumi dalam mengelola aspek sistem (S), orang (O), uang (U) dan pelanggan (P)”.
    ~Hilbram Dunar; Pembawa Acara TV & Radio, Penulis Buku My Public Speaking
    “Buku ini kaya dengan inspirasi dan sekaligus how to yang aplikatif. Oleh karena itu, disarankan untuk menjadi rujukan para leader maupun manager yang ingin mewujudkan meaning dan effectiveness sekaligus.  Enjoy your reading. “
     ~ Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, Executive & Leadership Coach

    “Seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya, Agung menyajikan hasil kajian dan pemikirannya dalam tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami. Konsep “Balanced Pillar”, yang diajukan sebagai alternatif dari pendekatan “Balanced Scorecard” yang sudah lebih banyak dikenal dan dipakai, menekankan pada pentingnya keseimbangan empat aspek utama dalam organisasi, baik yang berorientasi profit maupun non-profit, yaitu sistem, orang, uang dan pelanggan (disingkat SOUP). Apa yang disampaikan dalam buku ini sangat mengena dan sesuai dengan pengalaman saya sendiri dalam mengelola usaha swasta maupun organisasi non-profit.”

    ~ Wicaksono Sarosa, Chief Knowledge Worker Ruang-Waktu Knowledge-Hub for Sustainable [Urban] Development dan Ketua Dewan Eksekutif Kemitraan-Habitat

    “Tidak semua orang bisa membaca kinerja perusahaan secara paripurna. Buku ini menawarkan semua yang perlu dipahami untuk menjalankan bisnis dengan benar. Saya rekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh pebisnis dan manager serta pimpinan perusahaan maupun organisasi nirlaba yang ingin meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasinya dengan signifikan.”

    ~ Aries Nugroho, General Manager Ogilvy Public Relations

    “Buku ini memiliki dua hal: komprehensif dan seimbang. Komprehensif dalam penyampaian mengenai pentingnya menjaga keseimbangan seluruh aspek dalam roda organisasi. Seimbang dalam penyajiannya yang komprehensif, mulai dari sejarah, filosofi, elaborasi aspek-aspek, hingga kuesioner untuk mengukur keseimbangan proses yang menjadi kunci kerja organisasi. Pun pula, studi-studi kasus yang dipaparkan mampu menyegarkan kita kembali mengenai cara mengelola organisasi yang benar yaitu bermuara pada dua hal: strategy & execution.”

    ~ Bambang Suseno, ST, CIIB, ANZIIF (Snr. Assoc.), CIP; Ketua Umum Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI)

    “Apa yang ditawarkan dalam buku ini tidak hanya bisa diterapkan untuk kalangan korporasi, tapi juga organisasi nirlaba. Agung dengan cerdas menggoreskan gagasannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Sehingga dapat dipahami oleh siapa saja.”

    ~ Tito Hananta Kusuma, Managing Partner Tito Hananta Kusuma & Co.

     

     

    Ingin Pesan Sekarang?

    Kamu bisa mendapatkan harga khusus sebelum 31 Agustus 2018. Jadi, tunggu apa lagi. Pesan sekarang  juga melalui Krishna di +62-852-3050-4735 (Whatsapp/Telegram/Line/SMS/Call) atau grandsaint@gmail.com.

  • Menjadi Politisi Millennial Idaman

    “Tidak ada kawan maupun musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi”.

    Ungkapan ini mungkin terdengar begitu klise bagi sebagian kita. Namun, memang begitulah adanya. Ia tidak lekang dimakan zaman.

    Politik memang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan. Siapapun yang berjuang di ranah ini, seyogyanya menjadikannya sebagai “kendaraan” untuk mewujudkan cita-citanya – bukan tujuan akhir.

    Saya sebut “kendaraan” karena tujuan politik itu sendiri ialah tidaklah tunggal. Idealnya, ia dijadikan “ladang” untuk mengabdi kepada Tuhan. Dengan cara memberikan solusi, menciptakan nilai tambah, melayani sesama, dan membantu kehidupan orang banyak. Itu semua dikristalkan dalam berderet luaran dari yang berbentuk undang-undang, kebijakan, hingga program-program.

    Karena politik hanyalah kendaraan, politisi idaman tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Ia justru dimanfaatkan sebagai “jalan tol” untuk memperjuangkan cita-cita bangsa yang telah terpatri dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

    Sayangnya, dalam konteks kekinian tidak mudah mendapati politisi idaman. Mungkin bisa dianalogikan dengan mencari jarum dalam tumpukan sekam. Pasalnya, bisa dibuktikan dengan tiada hentinya KPK menjerat para pemimpin daerah yang korup. Mereka ialah potret orang-orang yang menjadikan politik sebagai tujuan akhir. Menghisap uang rakyat dengan jubah agama, dan merampok aset negara dengan segala cara.

    Sebagai generasi yang sangat melek teknologi, sudah sepantasnya millennial bisa membedakan mana politisi busuk dan mana politisi idaman. Kategori pertama dengan mudah diidentifikasi karena mereka telah “diwakili” oleh para politisi yang sekarang ada di balik jeruji. Mereka sering “memainkan” proyek untuk kepentingan pribadi dan golongan, tidak banyak prestasi selama mengemban amanah, dan pada umumnya hanya licik dalam mengambil hati rakyat.

    Millennial adalah harapan bangsa. Mereka ialah agen perubahan sesungguhnya untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 – tepat seabad pasca kemerdekaan. Suatu fase yang disebut-sebut akan menempatkan negeri ini di peringkat lima besar ekonomi dunia. Suatu periode yang hanya bisa dicapai jika bonus demografi dimanfaatkan dengan benar.

    Dalam kacamata saya sebagai People Developer, ada beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada para calon politisi millennial idaman.

    Pertamamengenali diri sendiri. Sebelum benar-benar terjun ke ranah politik, langkah ini tidak bisa dilewati. Anda harus mengerti betul kekuatan, minat, bakat, passion, dan cita-cita diri sendiri. “Selesai dengan diri sendiri” ialah kunci sebelum menjadi pelayan masyarakat paripurna.

    Keduamenemukan panggilan hidup. Politik hanyalah salah satu cara untuk bermanfaat kepada orang lain. Karena untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik bisa dilakukan dari berbagai cara. Oleh karena itu, tanyalah diri Anda sendiri. Mengapa Anda ingin terjun ke politik praktis? Apa yang benar-benar Anda gelisahkan dalam politik Indonesia? Apa yang betul-betul Anda cari dan perjuangkan sebagai politisi? Di antara berderet masalah yang mendera bangsa ini, apa sektor yang akan Anda prioritaskan untuk dibenahi?

    Ketiga, merayakan kemajemukan. Karena NKRI harga mati, hanya Pancasila yang mampu menjadi bentengnya. Oleh karena itu perbedaan adalah rahmat, bukanlah kutukan. Itu mengapa ia ada untuk dirayakan, bukan dicari-cari segala cara untuk menambah masalah.  Menyadari hal ini, inklusifitas tidak bisa ditawar lagi. Politisi millennial harus benar-benar menjadi pribadi yang terbuka, progresif, dan memandang keragaman sebagai modal untuk mengantar kejayaan negeri.

    Keempat, memahami konteks glokal. Artinya, politisi millennial tidak hanya dituntut untuk berwawasan global, namun juga wajib memahami kearifikan lokal. Suka tidak suka, mau tidak mau, globalisasi tidak bisa  dihindarkan; itu mengapa menjadi pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah dengan konteks lokal menjadi keharusan. Untuk itu, membangun jejaring internasional demi kepentingan lokal menjadi kuncinya. Karena itu, membaca hikmah tersurat dan tersirat menjadi pedoman. Karena dewasa ini dan ke depannya, sinergitas atau kolaborasi ialah “panglima” bukan semata-mata kompetisi dalam arti sempit.

    Kelimamemiliki mentor. Memang benar, terjun langsung di lapangan ialah kunci untuk sukses di bidang apapun. Namun, memiliki mentor secara beriringan akan bisa menjadikan Anda lebih bernilai. Pasalnya, seorang mentor lebih dahulu menyelami ranahnya. Itu mengapa dengannya, Anda bisa mempelajari best practices, lessons learned, dan unique insights yang mungkin tak dapat didapatkan dari buku. Yang lebih penting lagi, Anda bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya agar tak jatuh di lubang yang sama. Jadi, tentukan segera “siapa saja mentor politisi Anda?”

    Keenammerancang obituari. Menjadi politisi rata-rata memang mudah, namun menjadi politisi idaman butuh perjuangan ekstra secara lahir maupun bathin. Oleh karena itu, sebelum mematok target setinggi langit, ada baiknya Anda untuk merancang obituari. Anda bisa berimaginasi dengan perjalanan hidup Anda sendiri, masalah-masalah yang ingin Anda selesaikan, orang-orang yang ingin Anda layani, prestasi yang ingin Anda torehkan, dan bagaimana Anda ingin dikenal oleh dunia. Mungkin ini terkesan idealis, namun tidak ada salahnya dicoba. Karena kata orang; nasib kita dimulai dari pikiran, bukan?

    Di luar dari enam poin di atas, sebenarnya masih ada berderet pesan lain yang ingin saya sampaikan untuk para calon politisi millennial idaman. Namun yang pasti, apapun ambisi yang Anda miliki, saya sarankan berpijak pada tiga kata: Be, Do, dan HaveBecoming yang diwakili oleh “Why” berarti misi hidup, mengapa ingin menjadi politisi dan apa motivasi terkuat dari dalam diri. Doing yang diwakili oleh “How” berarti apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencapai misi, itu mengapa disebut dengan strategi. Oleh karenanya, ini bersifat fleksibel karena menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kata kuncinya ialah cara, jalan, dan bagaimana. Having yang diwakili oleh “What” merupakan akibat dari upaya yang Anda kerahkan. Dalam kamus manajemen, bisa diartikan sebagai prestasi baik yang terlihat maupun tidak.

    Akhir kata, hidup ialah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda. Untuk apa Anda ada. Ke mana Anda ingin pergi. Dan mengapa Anda ingin sampai di sana. Selamat berjuang sababatku politisi millennial idaman!

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Biem.co pada 23 Juli 2018 

  • Sabbatical: Seni Menemukan Makna Hidup Dalam Jeda

    Jeda ialah kemewahan yang sepertinya sulit dicapai oleh manusia modern. Sebuah masyarakat yang identik dengan kejar-mengejar  kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran. Sebuah sistem sosial yang memuja-muja kesibukan, kecepatan, dan kompetisi di segala lini.

    Di Indonesia, jeda sepertinya masih dipandang tabu. Berhenti sejenak dari rutinitas nampaknya dianggap aib. Cuti agak panjang seringkali jadi bahan omongan. Karena katanya sukses identik dengan “bergerak”. Laksana mesin-mesin di pabrik.

    Namun, manusia bukanlah robot. Itu mengapa di  negara-negara Barat para lulusan SMA banyak yang “menunda perkuliahan” (Gap Year). Mereka menikmati satu tahun penuh untuk mencari apa yang benar-benar diinginkan dalam hidup sebelum masuk ke jenjang perguruan tinggi.   Begitupun dengan kaum profesional. Lumrah saja mereka mengambil cuti yang berkisar dua bulan hingga setahun (Career Break). Biasanya diisi dengan traveling, volunteering, menekuni hobi, mencoba hal-hal baru, atau sekedar kontemplasi.

    Buku ini menuturkan kisah nyata penulis mengambil Sabbatical. Suatu fase yang dimanfaatkan untuk mencari jati diri. Suatu masa yang diisi untuk menemukan apa  yang disebut dengan kebahagiaan. Suatu periode yang membawanya mewawancarai lebih dari 1200 orang dari semua strata sosial untuk menceritakan apa makna hidup. Dari pengamen sampai presiden. Dari bhiksu sampai jenderal. Dari penyanyi sampai profesor.

    Disajikan dengan gaya bertutur tanpa menggurui, buku ini mengajak pembaca melihat kehidupan dari sisi lain. Berhenti sejenak dari kesibukan untuk menemukenali diri sendiri (self-discovery), mencari tahu apa yang paling dianggap penting dalam hidup, dan mendatangkan kebahagiaan tanpa syarat. Lebih dari itu, memoar ini menyadarkan pentingnya mencari jati diri sebelum mematok goal yang lekat dengan be, do, dan have.

     

    Apa Yang Dibahas Dalam Buku Ini?

    • Mengedukasi pentingnya mengambil Sabbatical yang belum jamak dilakukan oleh masyarakat Indonesia
    • Menyadarkan para pelajar dan mahasiswa mengapa mengambil Gap Year penting sebelum menentukan jurusan dan profesi
    • Menuturkan manfaat Career Break dari perspektif individu dan profesional
    • Memaknai keberhasilan dan kebahagiaan dari beragam sudut pandang
    • Mengulas “seni mencari jati diri” melalui berderet metafora sederhana
    • Menemukenali minat, bakat, kekuatan, potensi, passion dan panggilan hidup
    • Mengajak pembaca mempertanyakan tujuan hidup

     

    Keunggulan Naskah

    • Belum ada satupun buku asli Indonesia yang membahas Sabbatical, Gap Year, atau Career Break. Sehingga, buku ini menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin mengambil “masa jeda” dalam hidupnya.
    • Menawarkan “intisari” penulis selama lebih dari setahun menikmati masa jeda.
    • Menguraikan pemaknaan hidup lebih dari 1200 orang di 50 kota dan 10 negara yang penulis temui selama masa jeda. Dari beragam latar belakang mulai dari Presiden, Menteri, Bupati, anggota DPR, Jenderal, dokter, pengacara, pemuka agama, artis, jurnalis, bankir, praktisi SDM, motivator, pembawa acara berita, PR, agen asuransi, petani, dosen, pelaut, programmer, pengusaha, dll.
    • Mengajak pembaca mempertanyakan tujuan hidup dengan metafora sederhana. Suatu hal yang sejatinya dibutuhkan oleh setiap orang tapi terabaikan.
    • Membantu pembaca memaknai kembali apa yang benar-benar diinginkan, dicari, diperjuangkan, dan dianggap penting dalam
    • Memberikan perspektif lain dalam memandang keberhasilan, kebahagiaan, kekuasaan, kekayaan, dan ketenaran.
    • Menyadarkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dari aspek spiritual, finansial, emosional, intelektual, keluarga, sosial, karir dan kesehatan.

     

    Apa Kata Mereka?

    “Hidup ini singkat. Itu mengapa sah-sah saja kita terus berpacu dengan waktu untuk mencapai target demi target. Namun kita sering lupa bahwa goal yang kita anggap bisa membuat bahagia tersebut ternyata hanya sementara. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk menjalani kemewahan yang tak bisa dibeli dengan Rupiah: Sabbatical. Saya rekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin serius mengenal dirinya sendiri.”

    Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, M.M., CPHCM

    Guru Besar Manajemen SDM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

     

    “Sederhana tapi berisi. Mencerahkan tapi tidak menggurui. Nampaknya dua kalimat tersebut dapat mewakili memoar buku Mas Agung ini.”

    Muqsith Ahmadi

    Co-Founder & CEO of Authentic Guards Pte Ltd

     

    Career Break harus diakui belum populer di tanah air. Mungkin karena orang Indonesia pada umumnya tidak ingin dilihat do nothing. Bisa jadi karena persepsi  masyarakat kita yang menganggap kesuksesan harus identik dengan sibuk, bergerak, dan berpacu dengan waktu. Saya salut dengan penulis yang berani menyuarakan hal berbeda dari orang kebanyakan. Untuk Anda yang punya “nyali” dan berani menantang hidup, saya rekomendasikan buku ini.  Anda WAJIB membacanya!”

    Vita Harsono

    Grapho-Therapist – Transformational Coach – Healing Practitioner

    Founder of Grapho Solution

     

    Intro-spectare yang lazim diucapkan orang menjadi introspeksi, sesungguhnya sebuah proses spiritual penuh makna dan mendalam di mana seseorang bukan saja harus berhenti, tetapi juga menyelami dalamnya samudera jiwa dengan satu tujuan utama mencari jati diri murni, apa dan siapa kita sesungguhnya, dan mau ke mana jiwa dan diri ini akan diarahkan. tulisan Mas Agung ini memberikan banyak pencerahan sekaligus tuntunan bagaimana melakukan perjalanan spiritual untuk mencari dan menemukan ulang arah diri dan jiwa kita. Bravo Mas Agung dan tetaplah mencerahkan…”

    Haris Herdiansyah, M.Si

    Dosen Psikologi, Penulis dan Peneliti Kualitatif

     

    Break kerja setahun, gilaa…! Itu pikiran banyak orang. Namun mengambil jeda sejenak sesungguhnya aktivitas bermanfaat untuk membuat Anda tidak sekedar merilekskan fisik dan hati. Tapi kesempatan berharga memperoleh hal-hal yang takkan anda dapati ketika tetap bekerja dan bekal untuk membuat anda melambung lebih tinggi dalam prestasi. Tidak percaya? Simak memoar ini. Siapa tahu Anda jadi terinspirasi dan tergoda mengikuti jejaknya.”

    Nunki Nilasari

    Konsultan dan Pendiri Subconsious Communication Academy

    (Handwriting, Body Languange, Physiognomy & Intuition)

     

    “Buku apik yang ditulis oleh sahabat Agung Setiyo Wibowo ini mengantarkan kita ke daratan kebahagiaan. Tema Sabbatical, Gap Year atau Career Break yang diangkatnya menurut saya laksana pitstop dalam arena perlombaan kebaikan dalam akhirat (fastabiqul khairat). Siapapun membutuhkannya. Dengan gaya bertutur, kita akan diajak untuk memahami renyahnya kata dan kalimat yang disajikan dalam buku ini. Karena itu, milikilah dan bacalah agar apa yang Anda harapkan dapat terwujud.”

    Abdul Muin Badrun SE, ME

    Passion for Improving Life Trainer dan Founder www.akubisaberbuatbaik.com

     

    “Original!!! Inilah buku pertama tentang “sabbatical” yang ditulis oleh penulis Indonesia. Penuh hikmah dan pengalaman. Karya “riset bertutur” yang cair dan mendalam. Teman ideal bagi Anda yang tengah menggali makna hidup di rimba peradaban modern.”

    Guru Kepribadian, Inventor PRiADI Psychological Fingerprints (P2F)

     

    Career Break harus diakui belum populer di tanah air. Mungkin karena orang Indonesia pada umumnya tidak ingin dilihat do nothing. Bisa jadi karena persepsi masyarakat kita yang menganggap kesuksesan harus identic dengan sibuk, bergerak, dan berpacu dengan waktu. Saya salut dengan penulis yang berani menyuarakan hal berbeda dari orang kebanyakan.”

    Guruh Taufan, M.Kom

    Trainer dan Penulis Buku Statement Analysis

     

    “Sebuah buku yang syarat dengan inspirasi fresh, ringan, applicable dan sangat masuk akal sehingga  mudah dicerna. Sebuah ‘Kitab Suci’, khususnya untuk kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai pegangan dasar. Baca, pahami, gali dan lakukan. Buku yang syarat ide. Pak Agung mampu menceritakan dalam bahasa sehari-hari yang sangat lugas dan simple.”

    Alfa Maulana, MBA., CEC

    Sales & Leadership Professional Trainer

     

    “Buku ini memberikan perspektif yang berbeda tentang Sabbatical Leave. ‘Kekosongan’ selama periode sabbatical bisa memberi pencerahan, inspirasi, kreativitas dan penemuan yang belum terbayangkan sebelumnya.”

    Rudy Efendy, CPCC, ACC, NLP, CWM, CHRM

    Executive Coach, Facilitator & Trainer

     

    Jangan engkau mendayung perahumu terus-menerus tetapi berhentilah sejenak untuk melihat arah. Itu kata bijak yang sangat sesuai menggambarkan buku ini. Pelita bagi kita semua yang larut dengan berderet aktivitas. Ambilah jeda itu … dan buku ini sangat saya rekomendasikan untuk Anda.”

    Nur Fannie Prasetyo, MBA, ACC

    Life, Business & Corporate Coach

    Learning Development Consultant  & Corporate Trainer

     

     

    Mau Pesan?

    Gampang! Hubungi +62 819- 0861-2832 (Krishna).

  • Jurus Mengarungi Quarter-Life Crisis

    Baru -baru ini saya bertemu dengan sahabat kuliah. Sebut saja masing-masing bernama Tom, Fahmi, dan Andi. Kami akhirnya bisa berjumpa setelah lebih dari tiga tahun jarang bertegur sapa. Bulan Ramadhan rupanya menjadikan persuaan kami menjadi nyata dalam momen klise bertajuk Buka Bersama (Bukber).

    Tom merupakan jebolan Teknik Kimia dari PTN terbaik Indonesia yang terletak di Kota Bandung. Sejak lulus kuliah di akhir 2012, ia sampai saat ini masih bekerja di sebuah perusahaan migas asal Malaysia. Berdasarkan pengakuannya, ia ingin menyegerakan diri untuk undur diri. Namun belum ada “gambaran” mau melakukan apa setelahnya. Pikirannya terombang-ambing antara mengambil MBA di Ivy League atau membesut startup sendiri.

    Fahmi merupakan alumni Universitas Gadjah Mada jurusan Ilmu Politik. Ketika menjadi mahasiswa di Kota Gudeg, ia pernah dipercaya sebagai pimpinan di organisasi kemahasiswaan paling bergengsi tingkat nasional. Di penghujung perkuliahannya hingga empat tahun setelah wisuda, ia menjabat sebagai Staf Ahli salah satu Menteri. Ia belum lama ini menyelesaikan jenjang Master di Australia jurusan Kebijakan Publik. Saat ini hatinya gundah apakah mau merintis organisasi nirlaba yang dari dulu diidam-idamkannya atau menjadi “orang kepercayaan” politisi ternama lagi.

    Sementara itu Andi merupakan Lulusan Ekonomi dari Universitas Indonesia. Sejak wisuda hingga saat ini masih aktif sebagai seorang Konsultan Manajemen ternama. Ia telah menikah tiga tahun lalu. Sayangnya, belum diberi buah hati. Berdasarkan curhatannya, ia memang cukup sukses di bidang karirnya. Namun, ia merasa “remah-remah” ketika membicarakan biduk rumah tangganya. Ia merasa iri dengan Tom dan Fahmi yang masih melajang. Sehingga bebas mau pergi ke mana saja tanpa  dipusingkan “perizinan” dengan pasangan.

    Tom, Fahmi, dan Andi adalah potret dari Gen Y Indonesia yang termasuk kelompok kelas menengah baru. Dalam perspektif psikologi, apa yang mereka utarakan di atas bisa dikatakan sebagai Quarter-Life CrisisSebuah masa ketika seorang early jobbers dan profesional berusia 20an hingga 30an mempertanyakan keputusan yang telah diambil sekaligus mencemaskan apa yang akan dihadapi. Sebuah periode ketika anak-anak muda yang terlihat sukses di mata orang kebanyakan namun realitanya takut salah mengambil keputusan, ragu-ragu dalam melangkah, terlalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan galau akut yang seakan tak berkesudahan.

    Cerita sahabat kuliah saya di atas hanyalah puncak gunung es. Ketiganya mungkin mewakili suara jutaan millennial Indonesia yang kini menekuni segala profesi.

    Quarter-Life Crisis bukanlah isu baru. Itu merupakan fenomena global  yang tidak pandang batasan geografis. Sebagaimana dalam buku saya Mantra Kehidupan yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo setahun silam.

    Berikut ialah beberapa jurus mengarungi Quarter-Life Crisis yang bisa jadi bermanfaat untuk rekan-rekan.

    Pertama, kenali misi hidupmu. Mungkin terdengar berlebihan. Namun, begitulah semestinya. Dengan mengenal misi hidup sendiri, hidup kamu akan lebih terarah.

    Misi berbeda dengan goal. Misi lebih berkaitan dengan tujuan hidup. Apa  saja yang akan menjadi “warisan” kelak ketika kamu tiada. Misi bersifat jangka panjang dan berkaitan erat dengan spiritual. Sementara itu goal merupakan target-target yang bisa mendukung misi tersebut. Jika goal lebih bersifat fleksibel, misi sebaliknya.

    Misi berkaitan dengan identitasmu. Ia sebaiknya sudah dulu lebih kamu miliki sebelum beraktifitas. Karena kata orang Barat, “Activity follows identity”. Maksudnya, segala bentuk aktivitasmu berbanding lurus dengan identitas yang kamu yakini.

    Kedua, jangan membanding-bandingkan. Ini sudah pasti harus kamu lakukan. Membandingkan dirimu dengan orang lain hanya akan membuatmu tidak bahagia.

    Apa guna membanding-bandingkan? Bukankah dari lahir kita memang sudah “berbeda”? Lagipula, mimpi kita tidaklah sama.

    Yang harus kamu sadari, hanya kamu yang mengetahui apa yang kamu inginkan. Karena setiap individu merupakan unik.

    Jadi, kamu jangan sekali-kali membandingkan prestasi diri sendiri dengan orang lain. Bandingkan saja prestasi dirimu saat ini dan sebelumnya. Karena sukses sejatinya bukanlah hasil akhir. Melainkan progress alias kemajuan yang kamu capai dari waktu ke waktu.

    Ketiga, nikmati setiap momennya. Dalam kamus Barat, bisa dikatakan sebagai “present” yang artinya hidup di saat ini, sekarang juga.

    Sederhana saja. Kamu hanya perlu untuk ikhlas menjalani setiap proses untuk mewujudkan misi hidupmu. Dengan senantiasa “sadar” tanpa terikat pada hasil.

    Karena pada akhirnya, bahagia itu tak ada syaratnya. Ia hanya perlu kita terima, kita lalui, kita selami. Ia bukan masa lalu yang perlu kita sesali. Ia bukan masa depan yang kita cemaskan. Ia ada di depanmu, sekarang juga.

    Ketiga di atas hanyalah tiga dari berderet jurus untuk mengarungi Quarter-Life CrisisBisa jadi sebagian cocok dengan dirimu. Sebagian lainnya mungkin tidak relevan.

    Yang pasti, hanya kamu yang tahu dengan dirimu sendiri. Cuma kamu yang memegang kendali kebahagiaanmu. Sebagaimana kata filsuf Persia Umar Khayyam bahwa “Be happy for this moment. This moment is your life.”

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Biem.com pada 30 April 2018

  • Benarkah Nasib Kita Ditentukan Oleh Cara Berpikir

    “Your beliefs become your thoughts, your thoughts become your words, your words become
    your actions, your actions become your habits, your habits become your values, and your values
    become your destiny.”
    ― Mahatma Gandhi

    Kutipan dari bapak bangsa India di atas bisa jadi belum tentu semua orang mengamininya. Namun, jika kita renungkan kembali sulit sekali untuk membantahnya.

    Nasib kita memang berpangkal dari pola pikir kita sendiri. Pasalnya, pikiran menjadi perkataan. Perkataan menjadi perbuatan. Perbuatan menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi nilai-nilai. Dan nilai-nilai menjadi nasib yang kita terima.

    Menyadari hal itu, cara paling efektif untuk mengubah diri sendiri ialah dengan mengubah cara berpikir. Begitu pula dalam berhubungan dengan orang lain. Cara termudah untuk mempengaruhi orang lain ialah dengan menyesuaikan sikap kita dengan cara berpikir mereka.

    Dalam konteks organisasi, saling mengetahui cara berpikir kolega merupakan pangkal dari keberhasilan. Pasalnya, setiap orang memiliki pola pikir unik.

    Dengan mengetahui cara berpikir orang lain; kita bisa terlatih untuk berempati, mengelola emosi, dan bijak menyikapi apa saja. Itu semua ditunjukkan dengan kelihaian berkomunikasi, seni memimpin, dan mengelola hubungan baik dengan sesama. Pada akhirnya timbullah kohesivitas tim yang mendorong terwujudnya kinerja unggul.

    Mengetahui bagaimana pikiran manusia bekerja memang baik. Namun akan lebih baik lagi jika juga mengetahui faktor genetika alias pembawaan sejak lahir.

    Memahami bagaimana unsur genetika dan cara berpikir dapat mempengaruhi “nasib”, menjadi keniscayaan jika kita ingin sukses. Baik dalam aspek personal maupun profesional. Pasalnya genetika (nature) dan pengalaman hidup (nurture) bagai koin bermata dua. Tak terpisahkan.

    Menurut Steven Pinker dalam bukunya The Blank Slite ditegaskan bahwa 70% variasi antar individu disebabkan oleh genetika. Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan menorehkan suatu tanda pada otaknya.

    Saya jadi teringat dengan kajian menarik bertajuk Emergenetika. Sebuah studi mengenai ciri-ciri watak/pembawaan yang muncul sebagai perpaduan dari unsur genetika/alami dan hasil asuhan/pendidikan/pengalalaman sehingga membentuk sikap dan perilaku tertentu.

    Emergenetika sendiri tak dapat dipisahkan dengan gagasan Psikolog Universitas Harvard Jerome Kagan. Menurut beliau otak seorang bagaikan sepotong kkain abu-abu puncat. Benang hitam genetika terjalin dengan benang putih lingkungan yang menghasilkan warna campuran hitam dengan putih yaitu abu-abu.

    Sementara itu penelitian riset David T. Lykken mengenai pasangan kembar dua atau tiga di seluruh dunia menunjukkan bahwa manusia kembar memiliki kesamaan watak atau perilaku. Seperti dalam kasus Jerry Levey dan Mark Newman – kembar identik yang telah berpisah puluhan tahun namun masih memiliki sejumlah kesamaan. Mulai dari memelihara kumis, potongan rambut, kacamata pilot hingga warna ikat pinggang. Demikian halnya dengan Jim Springer dan Jim Lewis yang terpisahkan berpuluh-puluh tahun ketika dipertemukan masih sama-sama senang merokok Salem, minum Miller elite, menggigit kuku dan balapan mobil.

    Otak memang faktor yang sangat menentukan cara berpikir manusia. Itu mengapa emergenetika mengkaji ranah tersebut secara mendalam. Pemindaian otak dengan teknologi canggih misalnya. Dapat mengungkapkan cara kerja otak, bagian otak mana yang berfungsi untuk memecahkan masalah serta berapa lama sebuah pengalaman berdampak dalam pikiran kita.

    Saya langsung teringat dengan Dr Geil Browning, Ph.D. dan Dr Wendell Williams, Ph.D. Pasalnya mereka telah melakukan penelitian yang hasilnya mampu memberikan gambaran secara komprehensif mengenai kombinasi preferensi berpikir dan atribut perilaku.

    Riset yang melibatkan lebih dari 300.000 orang dewasa tersebut membawa mereka mematenkan produk bernama Emergenetics®. Dalam perkembangannya, paten tersebut melahirkan perusahaan pengembangan organisasi bernama Emergenetics International. Sebuah institusi yang mengandalkan penelitian psikometrik dan studi perilaku untuk memberi saran dan berkonsultasi dengan bisnis dan individu tentang cara menilai sumber daya manusia. Berawal dari Amerika Utara, kini perusahaan tersebut telah menyebar ke berbagai negara di dunia – tak terkecuali Indonesia.

    Emergenetics menawarkan beberapa jasa. Salah satunya ialah assessment untuk mengetahui seseorang berdasarkan empat atribut berpikir (analitis, struktural, sosial, dan konseptual dan tiga atribut perilaku (ekspresif, asertifitas dan fleksibilitas). Sejak 1998, mereka telah memsertifikasi coach, profesional sumber daya manusia, dan trainer dengan ribuan individu telah menjadi penerima manfaat secara global.

    Emergenetics merupakan instrumen pembuat profil berbasis riset ilmiah yang menunjukkan cara berpikir individu secara genetik (genetic) dan bertindak dengan cara tertentu. Cara berpikir dan bertindak tersebut dapat berubah (emerge) akibat faktor sosial/lingkungan yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Kombinasi dari genetika dan pengalaman hidup ini terjalin dan membentuk pola yang dapat kita pelajari guna mendongkrak komunikasi dan produktivitas.

    Belum lama ini saya pun mencoba jasa Emergenetics. Hasilnya memang menggambarkan diri kita sebenarnya. Itu mengapa tidak mengherankan jika organisasi-organisasi yang pernah menjadi kliennya terbukti mampu membentuk tim lebih produktif, meningkatkan pemahaman dan mengurangi konflik di antara rekan kerja, menjamin kualitas pekerjaan yang lebih baik dan juga pengembangan solusi yang lebih efektif atas sebuah masalah. Pribadi yang menemukenali dengan baik atribut cara berpikir dan perilaku mereka, pada umumnya dapat berkomunikasi, memiliki kemampuan menjual, melakukan presentasi, mengajar dan memotivasi orang lain dengan lebih efektif.

    Emergenetics memang bukan satu-satunya peranti yang dapat kita pakai untuk mengetahui cara berpikir dan berperilaku kita. Di luar sana mungkin banyak penyedia layanan sejenis yang dapat membantu menemukan kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu selaku anggota tim dan kekuatan mana yang berhubungan dengan energi terbesarnya. Jika kekuatan tersebut dapat dimaksimalkan, maka setiap individu mampu bekerja lebih lama tanpa kehabisan energi.

    Saya pribadi telah mencobanya. Bagaimana dengan Anda ?

     

    Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 14 April 2018