Category: Blog

  • Kebermanfaatan

    “Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak bermanfaat untuk sesama.”

    Ungkapan itu mungkin terdengar klise bagi banyak orang. Namun, tidak berlaku bagi saya.
    Menurutku, kebermanfaatan adalah alasan mengapa kita diciptakan. Oleh karena itu, sebisa mungkin waktu yang kita habiskan setiap detik berorientasi padanya.
    Lagipula, apapun yang kita tabur, akan kita tuai. Jadi, itu menjadi pengingat kita untuk memberikan terbaik yang kita bisa.
    Untuk bisa bermanfaat, kita perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap atau kapasitas tertentu. Oleh karena itu, belajar sepanjang hayat menjadi keharusan.
    Karena hidup terlalu singkat untuk disia-siakan, kebermanfaatan menjadi kunci untuk berbahagia. Setuju?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 7 Juni 2021
  • Makna Musibah

    Musibah.

    Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ini? Apapun itu, setiap orang diuji oleh Tuhan dengan cara dan takaran masing-masing.
    Musibah tidak bisa kita kendalikan. Karena datang kapan saja, di mana saja.
    Musibah adalah ujian. Untuk “menyaring” kualitas insan. Kita bisa “naik kelas” jika cerdas dan bijak menyikapinya. Sebaliknya, kita akan berjalan di tempat atau bahkan mundur jika tidak arif menjalaninya.
    Musibah adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa kita adalah makhluk tak berdaya di hadapan-Nya.
    Musibah adalah bukti bahwa kita hanyalah butiran debu. Itu mengapa seyogyanya apa yang kita lakukan semata-mata karena-Nya.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 31 Mei 2021
  • Belajar Mati Selagi Hidup

    “Berupayalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Berupayalah untuk akhiratmu seakan-akan esok kau tiada.”

    Pernahkah kamu mendengar ungkapan di atas? Jika ya, apa tanggapanmu? Jika belum, apa komentarmu?
    Bagiku, ungkapan itu mengingatkan kita untuk hanya melakukan apapun yang bermakna. Mengingat mati menyadarkan kita untuk hidup dengan baik dan benar, secara vertikal dan horizontal.  Berandai-andai bahwa hidup di dunia bersifat abadi menyadarkan kita untuk serius mengejar mimpi.
    Ungkapan di atas menyadarkanku untuk hidup bahagia tanpa syarat. Karena sewaktu-waktu kematian datang kapan saja. Tiada guna mencemaskan, menggalaukan, atau takut dengan segala hal dalam hidup.
    Karena hidup ini begitu singkat. Jalani. Syukuri.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 24 Mei 2021
  • Kekuatan Kebiasaan

    Kebiasaan.

    Satu kata ini mungkin terdengar sepele. Namun, bagiku luar biasa.
    Kebiasaan adalah kunci orang sukses. Karena kebiasaan menunjukkan komitmen, kedisiplinan, konsistensi, karakter, sikap dan pola pikir orang-orang yang memiliki gol. Tanpa kebiasaan yang mendukung, sekeren apapun mimpi tak bisa diraih.
    Kebiasaan dimulai dari tekad yang bulat.  Diwujudkan dengan tindakan. Dan diperkuat dengan kedisiplinan.
    Sudahkah kebiasaanmu membahagiakan?
    Agung Setiyo Wibowo
    20 Mei 2021
  • Belajar dari Cermin

    Cermin.

    Apa makna cermin bagimu?
    Apapun itu, cermin adalah benda yang sangat berfaedah. Betapa tidak, kita bisa melihat gambaran fisik kita hanya dengan berada di depannya.
    Cermin mengingatkanku tentang cara pandang. Karena cara kita memandang diri kita memengaruhi sikap, tindakan, kebiasaan, karakter hingga nasib kita.
    Orang yang kamu lihat di depan cermin adalah musuh terberatmu. Ia juga bisa menjadi kawan terbaikmu.
    Jadi, seberapa baik hidupmu sekarang salah satunya bisa dilihat dari seberapa baik penilaianmu terhadap diri sendiri. Ada yang tidak setuju?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 19 Mei 2021
  • Transendensi Diri

    Ego

    Keakuan
    Hawa nafsu
    Tiga kata ini seringkali menjadi “musuh” kita. Sayangnya, kita justru “bersahabat” dengannya atas nama mengejar kebahagiaan.
    Harta, tahta dan ketenaran yang dikejar seringkali berujung penderitaan, penyesalan, kekecewaan, ketakutan, kecemasan dan kehampaan karenanya. Itu karena kita senantiasa berpusat dan berorientasi pada diri sendiri.
    Padahal, kebahagiaan hadir ketika kita menihilkannya. Bahagia adalah ketika kita terhubung dengan sesama. Itu mengapa berbagi, melayani, menolong atau memberi menjadikan diri kita lebih tenteram.
    Sekarang, pilihan ada di tanganmu. Apakah mau mengikuti ego terus-menerus? Ataukah menghilangkan kemelekatan diri?
    Hidup adalah pilihan.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 3 Mei 2021