Suatu sore, saya duduk di ruang kerja seorang kepala daerah yang beberapa bulan kemudian dilantik jadi menteri. Beliau bertanya satu hal yang sederhana tapi susah dijawab, “Gimana caranya orang percaya saya, bukan cuma kenal saya?”

Pertanyaan yang sama, dengan nada berbeda, pernah saya dengar dari seorang motivator nasional yang jemaahnya  jutaan api mengaku “capek jadi terkenal doang”. Dari seorang anggota DPR RI yang bingung kenapa elektabilitasnya nggak sebanding dengan seberapa sering dia diliput media hingga seorang wali kota, bupati, sampai CEO perusahaan besar yang semuanya, di titik tertentu, sampai pada kegelisahan yang sama: mereka dikenal, tapi belum tentu dipercaya.

Selama bertahun-tahun membantu mereka membangun branding — dari gubernur, pengusaha, hingga figur publik lintas industri — saya sadar satu benang merah yang selalu muncul. Bukan soal strategi konten yang canggih ataupun seberapa sering muncul di media. Tapi soal satu hal yang jauh lebih mendasar dan saya temukan setelah membaca buku tentang dunia influencer berjudul Influencer: Building Your Personal Brand in the Age of Social Media karya Brittany Hennessy.

Bayangkan personal brand itu seperti restoran kecil di pinggir jalan. Ada yang laris karena rasa masakannya konsisten — orang tahu, setiap datang, rasa itu-itu juga, dan itu yang bikin mereka balik lagi. Tapi ada juga restoran yang menunya berubah tiap minggu, rasanya kadang enak kadang aneh, dan pelanggannya nggak pernah tahu harus berekspektasi apa. Restoran itu mungkin ramai sesekali karena “viral”, tapi jarang jadi langganan.

Pejabat publik, pengusaha, motivator — semua figur yang pernah saya bantu — pada dasarnya menghadapi masalah restoran yang sama, hanya dengan taruhan yang jauh lebih besar. Karena yang mereka pertaruhkan adalah kepercayaan publik, suara pemilih, loyalitas klien, dan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.

Brittany Hennessy, lewat bukunya, pada dasarnya bilang satu hal sederhana yang menampar siapa pun — mau dia influencer TikTok atau kepala daerah sekalipun.

Brand yang bertahan bukan yang paling kreatif, tapi yang paling konsisten dengan siapa dirinya. 

Identitas Dulu, Baru Konten

Bab pertama buku ini nggak bicara soal algoritma atau hashtag. Dia bicara soal identitas. Hennessy — yang pernah jadi nightlife blogger sebelum jadi Senior Director of Influencer Strategy di Hearst Magazines — menekankan bahwa sebelum kamu posting apa pun, kamu harus tahu dulu tiga hal: apa yang kamu perjuangkan, apa yang bikin kamu beda, dan siapa sebenarnya yang ingin kamu ajak bicara.

Ini persis yang saya lakukan setiap kali mulai bekerja dengan klien baru — entah dia CEO startup atau kandidat kepala daerah. Sebelum kita bicara konten, kita bicara identitas dulu. Karena tanpa itu, tim media sosial paling canggih sekalipun cuma akan menghasilkan konten yang ramai sesaat tapi nggak membekas.

Konsistensi yang Membosankan (Tapi Menguntungkan)

Poin paling saya rasakan relevan dengan dunia politik dan bisnis adalah soal konsistensi. Hennessy menekankan bahwa brand yang berhasil monetisasi bukan yang paling sering viral, tapi yang paling bisa diprediksi oleh audiensnya — dan oleh pihak yang ingin bekerja sama dengannya.

Ini persis alasan kenapa sebagian pejabat yang sering “trending” belum tentu punya elektabilitas kuat, sementara yang jarang ramai di linimasa tapi konsisten pada satu narasi, justru dipercaya rakyatnya dalam jangka panjang. Predictability, dalam bahasa personal branding, ternyata adalah bentuk lain dari trust. Investor nggak menaruh uang pada CEO yang arah bisnisnya berubah tiap bulan. Pemilih nggak menaruh suara pada figur yang narasinya berubah tiap musim kampanye.

Transparansi Adalah Fondasi

Bagian lain yang menarik dari buku ini adalah penekanan Hennessy soal aturan FTC dan transparansi dalam kerja sama berbayar. Terdengar teknis, tapi maknanya dalam: audiens hari ini jauh lebih pintar mendeteksi kepalsuan daripada yang kita kira. Satu kali ketahuan “settingan” tanpa transparansi, kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam semalam.

Saya pernah melihat sendiri bagaimana satu momen yang terasa “dipaksakan” — sebuah endorsement dan pencitraan yang nggak nyambung dengan rekam jejak — bisa membuat publik yang tadinya loyal, diam-diam berhenti percaya. Bukan lewat kritik ramai di kolom komentar. Tapi lewat keheningan yang jauh lebih berbahaya. Mereka berhenti membela, membagikan, dan mempercayai.

Titik Paling Mindblown-nya

Tapi bagian yang paling membuat saya berhenti membaca sejenak adalah satu kalimat sederhana yang Hennessy tekankan berulang kali dalam berbagai bentuk.

Kamu nggak sedang membangun akun. Kamu sedang membangun agensi versi satu orang — dan dirimu sendiri adalah aset utamanya.

Kedengarannya sepele. Tapi coba pikirkan implikasinya untuk seorang gubernur, seorang CEO, seorang tokoh publik. Kalau kamu adalah aset, maka setiap keputusan publik yang kamu ambil — bukan cuma soal citra sesaat — adalah soal apakah keputusan itu menaikkan atau menurunkan nilai aset itu dalam jangka panjang. Personal branding, dalam definisi Hennessy, bukan soal jadi terkenal. Itu soal jadi investable — layak dipercaya,  dipilih,  diajak kerja sama, dan dipertaruhkan reputasi orang lain di atas namamu.

Itulah yang selalu saya sampaikan ke setiap klien saya, dari ruang rapat gubernur sampai studio podcast seorang CEO.

Branding bukan soal seberapa keras kamu bersuara. Itu soal seberapa konsisten kamu bisa dipercaya, bahkan ketika mikrofon dimatikan.


Halo Hai, Aku Agung Setiyo Wibowo, Narrative & Authority Strategist. Selama 18 tahun terakhir aku membantu para pemimpin, eksekutif, pengusaha, tokoh publik, organisasi, dan brand mengubah apa yang mereka ketahui, apa yang telah mereka alami, dan apa yang mereka yakini menjadi narasi, aset intelektual, dan visibilitas yang membangun otoritas yang bertahan lama.

Follow Agung Setiyo Wibowo biar lo terus dapetin insight untuk grow & glow

Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:

#LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding #Influencer

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *