Stories

  • Mengembangkan Diri & Berbagi, Why Not?

    Ehmmm. Ini sebenarnya merupakan nukilan wawancara saya dengan C2Live.com. Pranala aslinya di sini atau https://www.c2live.com/mengembangkan-diri-lewat-blog-bersama-grand/

    ***

    Menjadi seorang bloger, apakah yang sebenarnya ingin kamu capai? Tentu tiap bloger memiliki tujuan masing-masing yang ingin diraih. Namun, bisa dikatakan bahwa tiap bloger memiliki satu kesamaan dalam meraih tujuan tersebut, yakni menulis sajian konten agar informasi yang disampaikan bisa berguna bagi orang-orang yang membacanya.

    Akan tetapi, kamu pastinya setuju dong, kalau seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, tuntutan untuk mencapai berbagai tujuan dalam hidup pun bertambah? Sama halnya denggan blogging juga, nih. Kian hari, tantangan yang kamu hadapi sebagai bloger pun terus berevolusi. Karenanya, kalau kamu tetap ingin memenuhi tujuan-tujuanmu sebagai bloger, kamu harus terus mengembangkan dan mengasah diri.

    Hmm, kedengarannya nggak mudah, ya? Jangan khawatir! Agung Setiyo Wibowo punya cerita inspiratif dan cara-cara jitu yang bisa kamu manfaatkan untuk memoles dirimu agar bisa menjadi bloger yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Penasaran? Yuk, langsung aja simak ulasan kisahnya di kelanjutan artikel ini!

    Sekilas tentang Profil Agung Setiyo Wibowo

    Grand-Profil

    Mungkin banyak dari kamu yang sudah mengenal figur yang lahir dan besar di Magetan, Jawa Timur ini. Dengan sosoknya yang berwibawa, nggak heran kalau Agung Setiyo Wibowo punya nama panggilan “Grand”. Nggak cuma panggilannya saja, ternyata tujuan hidupnya juga grand, lho!

    Ia mengungkapkan bahwa tujuan hidup utamanya adalah untuk mencari ridho Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu hendak dilakukannya dengan menjadi pribadi yang bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain sesuai dengan renjana, minat, dan panggilan hidup.

    Lebih spesifik lagi, ia ingin membantu siapa saja untuk menemukan jati diri dan megeluarkan potensi terbaik dari dalam diri mereka. Oleh karena itu, selain menjadi konsultan manajemen, penulis, dan pembicara publik yang aktif berkarya di Jakarta, Grand juga memutuskan untuk menjadi Self-Discovery Coach.

    Karena saya percaya  self-discovery merupakan pintu gerbang kebahagiaan dan keberhasilan. Entah diterjemahkan dalam fortune, fame, power, maupun yang lainnya.

    Melihat pandangannya tersebut, nggak heran walaupun jadwalnya sudah padat dengan menjadi konsultan di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Grand juga masih sering menerima tawaran untuk menjadi pembicara dengan variasi topik yang luas, mulai dari politik, pendidikan, hingga pengembangan sumber daya manusia.

    Seakan masih belum cukup sibuk juga, ia pun juga merupakan co-founder sekaligus chief editor dari Kampusgw.com sejak 2010. Kampusgw.com sendiri merupakan portal pendidikan dan pengembangan diri. Melalui portal ini, Grand telah memberikan berbagai konsultasi, coachingmentoring, dan bimbingan kepada setidaknya 7.000 pemuda dari Sabang sampai Merauke untuk membantu mereka memilik program studi, menentukan perguruan tinggi, hingga menetapkan karier. Yang lebih mencengangkan lagi, semua itu dilakukannya secara cuma-cuma, alias tanpa dipungut biaya! Wah, benar-benar Self-Discovery Coach sejati, ya!

    Di Balik Keputusan untuk Menjadi Bloger

    Di-Balik-Keputusan-Menjadi-Bloger

    Grand mengaku memulai kegiatan blogging-nya sejak masa-masa awal menjalani kuliah jurusan Hubungan Internasional di Univestias Paramadina, tepatnya di tahun 2008. Kala itu, ia masih menggunakan platform tak berbayar karena berbagai faktor, mulai dari nggak rutin update karena semangat belum stabil, hasil tulisan yang random dan nggak terstruktur, fokus yang terpecah dengan kegiatan lain, dan sebagainya.

    Namun, dengan segudang tantangan yang dihadapi, ia terus menulis karena menurutnya hal ini bisa membuahkan berbagai manfaat, terutama sebagai sarana untuk self-healing. Walaupun tulisan bisa ia manfaatkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain hingga mendulang Rupiah bagi diri sendiri, ia mengakui bahwa hal-hal tersebut bukanlah tujuan utamanya. Pasalnya, ia meyakini bahwa lewat menulis, kita bisa meredam kadar stres, menjernihkan pikiran, hingga akhirnya bisa menjadi sarana penyembuhan diri dengan melakukannya dari waktu ke waktu. Inilah motivasi utama yang selalu membakar semangatnya untuk menulis.

    Kegelisahan yang Menghadirkan Manfaat bagi Orang Lain

    Kegelisahan-yang-Menghadirkan-Manfaat-bagi-Orang-Lain

    Kini, keputusannya untuk menjadi bloger dijalani sebagai sebatas hobi. Wajar saja, dengan berbagai kegiatan yang sebegitu padat, mampu mengelola blog secara berkala dari waktu ke waktu saja sudah patut diacungi jempol. Karenanya, topik yang ia bahas pun cukup beragam, tergantung apa yang sedang terlintas di kepalanya, mulai dari seputar hubungan internasional, curhatan pribadi, hingga agama.

    Akan tetapi, sejak 2016, Grand mulai memfokuskan diri pada isu pendidikan dan pengembangan diri. Mengapa? Karena kegelisahan dirinya ada pada ranah itu. Sesuai dengan tujuan hidupnya, Grand ingin kehadirannya di dunia membawa manfaat sebanyak mungkin bagi sesama, dan dua bidang yang saling berkaitan tersebut adalah jalur utama yang ingin ditempuhnya.

    Karena itulah, kini sajian blognya pun terpetakan menjadi tiga poin utama. Pertama, terkait informasi. Grand terbiasa menuliskan info-info yang bermanfaat bagi orang lain, mulai dari tips hingga strategi, baik berasal dari saduran hingga hasil riset sendiri.

    Kedua, tentang edukasi. Untuk soal yang ini, Grand tidak main-main. Sebab, seperti yang sudah kamu ketahui, pendidikan merupakan salah satu concern utama dalam hidupnya.

    Saya tidak pernah menulis artikel yang kontroversial, memancing konflik SARA, maupun gosip murahan. Semua yang saya hasilkan semuanya bersifat edukatif.

    Jadi, Grand nggak pernah menggadaikan tulisan saya hanya untuk mendapatkan uang, meningkatkan traffic pengunjung, atau sekadar mencari ketenaran. Semua ia lakukan karena murni ingin berbagi di bidang yang ia yakini.

    Sedangkan topik yang ketiga adalah inspirasi, sebab Grand memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia. Itulah sebabnya ia seringkali mengorbankan darah, keringat, dan airmata untuk menghasilkan tulisan yang bisa mengubah pola pikir, sikap, mental, hingga perilaku pembaca. Untuk menghasilkan tulisan seperti itu, dibutuhkan riset yang nggak jarang menguras waktu, tenaga, pikiran, dan biaya yang nggak murah.

    Semua hasil temuannya kemudian dikemas menjadi tulisan yang enak dibaca agar dapat menginspirasi dan memotivasi pembaca. Dengan melakukan hal ini, Grand meyakini bahwa dirinya hanyalah penyampai pesan (messenger), dan bukan pesan itu sendiri (message). Hmm, untuk hal sedemikian besar yang sudah dilakukannya, Grand tetap humble, ya?

    Kerja Keras yang Membuahkan Hasil

    Pembicara-Nasional

    Tujuan mulia yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuat seseorang bersinar pada waktunya. Hal itu pun mungkin juga dirasakan oleh Grand. Karena konten blognya yang inspiratif, pernah suatu kali ia dipanggil menjadi pembicara tingkat nasional dengan ratusan peserta. Dari situ, ia merasakan keajaiban internet yang mampu menghubungkan manusia tanpa sekat-sekat geografis.

    Duta-ASEAN-Blogger

    Nggak cuma itu, kerja keras yang ia tuangkan ke dalam blognya juga membawanya pada kesempatan untuk didaulat menjadi ASEAN Blogger Ambassador. Lebih membanggakan lagi, ia juga pernah diundang secara eksklusif untuk mengikuti ASEAN Summit pada tahun 2011 di Nusa Dua, Bali. Keren, ya! Nggak sembarang orang bisa ikut menghadiri summit yang dihadiri oleh para pemimpin negara dan tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia seperti ini, lho! Kala itu, kebahagiaan seorang Grand sebagai mahasiswa Hubungan Internasional nggak bisa diukur. Pasalnya, apa yang ia pelajari di kelas, akhirnya bisa benar-benar ia praktikkan di dunia nyata. Mengagumkan banget, ya?

    Tips Blogging yang Bisa Kamu Tiru dari Grand

    Tips-Blogging

    Selama ini, Grand mengaku bahwa dirinya nggak memakai tools khusus untuk blogging. Penulisan ia lakukan secara manual. Sedangkan di platform blog, ia hanya mendayagunakan berbagai piranti yang tersedia untuk memaksimalkan interaksi dengan pembaca, SEO, hingga desain.

    Tapi, apa yang membuat dirinya menjadi pribadi bloger yang begitu mengagumkan? Buat kamu yang ingin mulai membangun diri menjadi bloger yang lebih baik agar kelak bisa menjadi sosok inspiratif seperti Grand, simak yuk beberapa tips yang kali ini ia bagikan untuk kita!

    1. Banyak Membaca

    Banyak-Membaca

    “Karena nggak ada penulis keren yang nggak doyan baca,” itulah pesan pertama yang disampaikan oleh Grand. Kamu nggak mungkin bisa menyajikan berbagai konten inspiratif yang berguna bagi orang banyak kalau wawasanmu juga nggak luas. Ini-itu nggak tahu, akhirnya nggak ada informasi yang bisa kamu bagikan. Oleh karena itu, banyak-banyaklah membaca. Dengan pengetahuan dan wawasan yang lebih, kamu bisa mengulas dan berbagi informasi yang mungkin nggak tersentuh oleh orang-orang di luar sana.

    2. Rajin-rajinlah Melakukan Riset

    Riset

    Nah, untuk menjalankan tips yang satu ini, tips pertama akan berguna banget. Sebab, kalau kamu nggak banyak tahu, kamu nggak mungkin bisa melakukan sebuah penelitian. Namanya juga meneliti, tentu ada segudang material yang perlu kamu cermati.

    Supaya penelitianmu relevan dengan kepentingan sekitar di masa kini, ikutilah tren yang ada. Carilah sebanyak mungkin informasi, dan temukan di mana ada ceruk untuk penelitian yang belum pernah disentuh orang lain. Dari situ, galilah berbagai data terkait pembahasan yang ingin kamu angkat dan sajikan tulisan yang belum banyak diketahui orang. Dengan demikian, tulisanmu pun akan memiliki kekuatan tersendiri dan lebih menarik di mata orang-orang.

    3. Konsisten akan Topik Tertentu

    Konsisten

    Informasi memang beragam dan mencakup lingkup yang sangat luas. Tapi, sanggupkah kamu meng-cover setiap perkembangan informasi dari segala bidang yang ada di dunia? Nah, supaya pembahasan yang kamu sajikan di blog nggak terkesan cetek dan sepele, tentukanlah topik yang akan menjadi fokus utamamu. Dengan konsisten menggali informasi pada suatu bidang tertentu, kamu akan lebih fokus menemukan hal-hal baru di bidang tersebut, nggak terganggu dengan adanya update informasi lain. Dengan demikian, pembahasanmu akan topik terkait bisa lebih in-depth dan menginspirasi.

    Menurut Grand sendiri, dengan giat menggeluti satu pembahasan tertentu, kamu jadi bisa menghasilkan sesuatu di luar perkiraan. Di era seperti ini, blog menjadi salah satu sarana terbaik untuk menunjukkan keahlian, minat, bakat, dan kekuatan kita. Jadi, hal itu bisa kamu manfaatkan sebagai personal branding tool yang terjangkau tapi membawa dampak nyata.

    4. Jangan Cepat Berpuas Diri

    Jangan-Mudah-Berpuas-Diri

    “Di atas langit masih ada langit,” pepatah ini pun masih dipegang teguh oleh seorang Grand. Karenanya, ia berpesan juga pada kamu-kamu sekalian untuk terus menjadi pribadi yang bertumbuh. Teruslah mengasah pengetahuan, memperbanyak pengalaman, dan mempertajam keahlianmu.

    5. Perluas Network yang Kamu Miliki

    Network

    Kamu pun pasti sadar bahwa network adalah aset utama bagi bloger agar bisa berkembang ke jenjang yang lebih baik. Menjadi penyebar informasi, tujuanmu nggak akan terpenuhi dengan baik kalau lingkup yang bisa kamu jangkau nggak luas. Karenanya, Grand juga meng-encourage kamu untuk terus memperluas koneksi yang kamu miliki.

    Teman-teman harus rajin bersilaturahmi. Karena sekarang adalah era berkolaborasi atau bersinergi, bukan lagi berkompetisi secara mutlak.

    Perjuangan yang Belum Berakhir

    Harapan

    Dengan segala kerja keras yang ditumpahkan dan kerelaan untuk terus berbagi, tentunya ada, dong, hal yang ingin diraih oleh seorang Grand? Soal ini, ia menyampaikan bahwa keinginannya nggak muluk-muluk. Ia hanya berharap untuk terus bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas tulisan. Sebab, hal itu ia yakini sebagai salah satu indikator kebermanfaatannya bagi orang lain.

    Saya yakin, melalui tulisan kita bisa memberikan dampak kepada yang membutuhkan. Menciptakan nilai tambah, melayani, menolong, dan membantu orang-orang yang tepat sesuai dengan renjana dan panggilan hidup.

    Ke depannya, ia juga ingin mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang consultingtrainingcoachingcounseling, dan publishing dalam satu payung yang memiliki jaringan kuat dengan media dan komunitas bloger yang nggak cuma aktif di tingkat nasional, tapi juga di tingkat dunia. Hmm, suatu rencana pemberdayaan bloger yang menarik, nih! Setuju, kan?


    Bagaimana, guys? Sudah terpacu menjadi pribadi bloger yang inspirasional seperti Grand? Apapun tujuan yang ingin kamu rain dengan menjadi bloger, jangan pernah patah semangat, ya! Semua akan berbuah manis pada waktunya. Yang penting, kembangkan diri, dan jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Kalau kamu terus berusaha melakukannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, dijamin kamu akan jadi permata yang berharga bagi orang-orang di sekitarmu seperti Grand suatu saat nanti.

    Dan ingat juga, jangan mudah berhenti berjuang dan berpuas diri! Selalu ada achievement yang bisa kamu raih dari waktu ke waktu, karena tantangan dalam hidup pun juga terus berkembang.


  • Kelereng-Kelereng Kehidupan

    Pada tahun 2016, saya mengambil Sabbatical. Sebuah keputusan tidak populer dalam perspektif masyarakat Indonesia kekinian. Sebuah pilihan yang memungkinkan saya bertemu dengan ribuan orang dalam misi mencari “diri yang hilang”.

    Sabbatical memang masih asing di negeri ini. Di Barat program ini awalnya hanya dikenal di kalangan akademisi. Mereka meninggalkan rutinitas akademik dalam kurun waktu tertentu demi kepentingan riset, menulis ilmiah atau kegiatan lain dengan tetap mendapatkan benefit dari institusinya mengabdi.

    Dalam perkembangannya, Sabbatical tidak lagi menjadi “monopoli” kaum akademia. Di ranah korporasi, perusahaan yang membolehkan karyawannya untuk mengambil Sabbatical Leave semakin banyak. Mereka diizinkan untuk cuti dari satu bulan hingga beberapa tahun dengan dibayar maupun tidak.

    Kata Sabbatical sendiri berasal dari bahasa Ibrani “Shabbat” yang berarti istirahat, cuti, atau berhenti sementara dari pekerjaan. Dalam perspektif bisnis, Sabbatical identik dengan Career Break. Sebuah fase yang biasanya dimanfaatkan untuk jalan-jalan, menjadi relawan, mengikuti pelatihan, mendalami keahlian tertentu, membesarkan anak, merintis perusahaan, menyembuhkan diri dari penyakit atau pengembangan diri secara umum.

    Inggris merupakan salah satu negara yang masyarakatnya sangat sadar akan pentingnya Sabbatical. Menurut temuan dari berderet lembaga, dalam beberapa tahun terakhir sekitar tiga perempat warga Inggris mempertimbangkan untuk mengambil jeda karir (Career Break). Itu mengapa tidak kurang dari 90.000 orang di sana menikmati jeda setiap tahunnya. Sementara itu di Amerika Serikat juga tak kalah menarik untuk ditelaah. Dari hari ke hari makin banyak warga negeri Paman Sam yang menikmati jeda. Meskipun kadang-kadang pengertiannya saling tumpang tindih dengan Gap Year.

    Saya sendiri mengambil Sabbatical di sepanjang tahun 2016. Suatu fase yang saya manfaatkan benar-benar untuk menjadi relawan, mengembangkan hobi, mencoba beberapa profesi baru, dan jalan-jalan. Suatu periode yang mempertemukan saya dengan seorang “guru” kehidupan. Sebut saja bernama Khrisna.

    Khrisna mengajarkan saya akan makna hidup. Dalam kaca matanya, kehidupan bisa diibaratkan dengan (kumpulan) kelereng dalam gelas.

    Menurut Khrisna, kelereng dianalogikan bulan. Anggap saja rata-rata angka harapan hidup kita 70 tahun. Itu artinya, jumlah kelereng kehidupan kita ialah 70 x 12 + 840. Selanjutnya, semua kelereng yang kita miliki tersebut dimasukkan dalam gelas.

    Setiap tahun kita merayakan hari kelahiran. Itu artinya kita kehilangan 12 kelereng di dalam gelas. Semakin bertambah umur, hakekatnya semakin berkuranglah kelereng kita.

    Sekarang sejenak kita bisa menengok kehidupan kehidupan masing-masing. Tinggal tersisa berapakah jumlah kelereng dalam gelas kita? Kita memang tidak tahu secara pasti. Namun paling tidak kita bisa lebih menghargai detik demi detik, dalam mengarungi samudera kehidupan.

    Sabbatical mungkin bukan pilihan bijak bagi sebagian orang. Namun tidak sedikit saudara kita di luar sana, yang menemukan makna kehidupan di perjalanannya.

    Mengambil Sabbatical atau tidak ialah pilihan. Namun yang pasti, saya jadi teringat salah satu pesan mengesankan dari mendiang pendiri Apple Steve Jobs yang menegaskan bahwa. “Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan ‘hidup dalam kehidupan orang lain’. Jangan terjebak oleh dogma – yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan suara opini orang lain menenggelamkan suara hati Anda sendiri. Hal yang terpenting, beranilah untuk mengikuti hati dan intuisi Anda”.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 7 Maret 2018 


  • Menakar Daya Saing Indonesia

     

    Seperti yang mungkin sebagian dari Anda telah ketahui, negara kita merupakan bagian dari G-20. Sebuah blok yang menjadi kumpulan negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Kita bolehlah sedikit berbangga mengingat Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk dalam blok tersebut.

    Namun, apa guna terlalu terbuai dengan status? Faktanya, NKRI memang memiliki semua syarat untuk menjadi negara besar. Dari penduduk saja kita terbesar keempat di jagad raya. Dari geografis, tidak ada negara manapun yang membantah kita sebagai negara kepulauan terbesar di muka bumi. Dari kekayaan alam, saya tak perlu menjelaskan lagi. Karena sejak era kolonial, negeri ini sudah menjadi lahan empuk untuk terus dikeruk isinya. Anda barangkali sudah bosan dengan info klise tersebut.

    Dalam Laporan Daya Saing Global 2017 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF), Indonesia bertengger di urutan ke-36 dari 137 negara di dunia. Tidak buruk-buruk amat memang. Namun melihat potensi bawaan yang begitu besar dari Republik ini, negeri ini seharusnya malu. Pasalnya, masih kalah saing dengan tiga negeri jiran yaitu Singapura (3), Malaysia (23), dan Thailand (32).

    Indeks Daya Saing Global sendiri memiliki 12 pilar sebagai aspek penilaian yang dikelompokkan menjadi tiga subindeks. Pertama, subindeks persyaratan dasar yang meliputi pilar kelembagaan, infrastruktur, ekonomi makro, kesehatan dan pendidikan dasar. Kedua, subindeks penambah efisiensi yang mencakup pilar pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pasar finansial, kesiapan teknologi, dan ukuran pasar. Ketiga, subindeks faktor kecanggihan dan inovasi yang terdiri dari pilar penerapan teknik mutakhir dalam bisnis dan inovasi.

    Kita boleh sedikit girang. Negeri kita pada tahun lalu berada pada peringkat ke-36. Itu artinya lima langkah lebih baik dibandingkan dengan pencapaian di tahun 2016. Kendati demikian, perbaikan posisi Indonesia jika boleh jujur masih disetir oleh ukuran pasar (9) dan ekonomi makro yang kuat (36).

    Meskipun bertengger di peringkat ke-31 dan ke-32 untuk ranah inovasi dan penerapan teknik mutakhir dalam bisnis, Indonesia masih sangat jauh tertinggal dalam kesiapan teknologi (80). Hal lain yang masih mengkhawatirkan ialah parahnya efisiensi pasar tenaga kerja (96) sebagai akibat dari biaya redudansi yang berlebihan, terbatasnya fleksibilitas pengupahan, dan rendahnya keterwakilan perempuan dalam angkatan kerja.

    Lalu, apa yang paling menjadi “mimpi buruk” bagi kemajuan ekonomi Indonesia? Di urutan pertama mungkin bisa Anda tebak. Apalagi kalau bukan korupsi. Hal lain yang memperburuk situasi secara berurutan ialah tidak efisiensinya birokrasi pemerintah, akses pembiayaan, payahnya infrastruktur, hingga instabilitas kebijakan.

    Dari kedua belas pilar yang menjadi penilaian Indeks Daya Saing Global, sebagai pribadi saya paling trenyuh dengan pilar kelima yang tidak lain ialah pendidikan tinggi dan pelatihan. Pilar ini menilai tingkat penerimaan pendidikan tingkat menengah dan tinggi, kualitas sistem pendidikan, kualitas pendidikan sains dan matematika, kualitas sekolah manajemen, akses internet di sekolah, ketersediaan sarana pelatihan khusus di tingkat lokal, hingga tingkat pelatihan karyawan.

    Jika kita perhatikan, dalam tiga tahun terakhir pemerintah bisa dikatakan lumayan dalam hal memperbaiki infrastruktur atau hal-hal fisik. Hal tersebut bisa dilihat dari renovasi sarana dan prasarana gedung di berbagai tingkat. Penggantian (lebih tepatnya penyesuaian) kurikulum pendidikan juga tak terlewatkan. Sayangnya, pembangunan sumber daya manusia justru diabaikan. Akibatnya?

    Sederhana saja. Sebaik apapun sistem, secanggih apapun teknologi, dan semegah apapun gedung-gedung perguruan tinggi; belum memberikan dampak yang signifikan bagi “pembangunan manusia”. Buktinya paling mudah kita temukan pada kualitas lulusan Sarjana atau Diploma kita. Dari rendahnya kecakapan memecahkan masalah, buruknya soft skill, payahnya kreatifitas dan penalaran, dan ketidaksiapan dalam menerjemahkan teori yang dipelajari di kelas ke dunia nyata.

    Mungkin tidak berlebihan penggalan lirik dari lagu kebangsaan ciptaan W.R. Supratman ini. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Sebuah pesan yang mengingatkan anak bangsa akan pentingnya membangun daya saing. Dimulai dari manusianya.

     

    *) Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Portal Inti Pesan, 4 Februari 2018 


  • Ragam Peranti Pencarian Jati Diri

    “Setiap orang memiliki orbit masing-masing”. Ungkapan sederhana ini mungkin begitu klise bagi Anda, tapi faktanya memang tak lekang dimakan zaman.

    Ya, Tuhan telah memberikan karunia kepada setiap insan. Sejak lahir, masing-masing individu telah memiliki sejumlah “modal” yang bernama potensi. Sebutlah bakat, kekuatan, atau kepribadian.

    Seiring dengan bertambahnya usia, dinamika diri pun terjadi. Baik yang dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, interaksi dengan masyarakat, maupun pola pikir yang ditanamkan oleh para pengajar di bangku sekolah.

    Sebagai lulusan non-psikologi, saya bisa dikatakan abai mengenai isu-isu pengembangan sumber daya manusia. Ketertarikan saya mengenai isu ini meningkat signifikan ketika saya memasuki dunia kerja. Sebuah periode yang membawa saya dalam krisis seperempat baya. Sebuah fase yang menjadi titik balik saya dalam memandang karir maupun kehidupan.

    Dalam tiga tahun terakhir saya belajar otodidak mengenai ranah pengembangan diri – khususnya pencarian jati diri. Jika dihitung secara fair, jumlah buku maupun jurnal ilmiah yang saya baca mengenai topik ini sudah mengalahkan bacaan yang serap selama 5,5 tahun menempuh pendidikan formal S1 dan S2 jurusan Hubungan Internasional. Itu belum termasuk kursus, seminar, pelatihan, maupun forum yang saya ikuti untuk mendalami ranah Self-Discovery.

    Selama dan setelah menempuh setahunnmasa Sabbatical, saya bertemu dengan ribuan orang. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Baik dari strata pendidikan, profesi, maupun status sosial.Saya mengamati bagaimana orang-orang tersebut bertransformasi dari nobody menjadi“somebody”. Dalam arti, saya petakan mengapa mereka bisa meraih happiness, success, sekaligus fulfillment. Jika saya tarik benang merahnya, pencapaian tersebut ada polanya dan pola tersebut berakar pada Self-Discovery.

    Jika boleh saya sarikan, berikut ialah beberapa ragam peranti pencarian jati diri. Baik yang telah teruji secara ilmiah maupun yang “hanya” pseudoscience. Semuanya – dengan pendekatan masing-masing – bisa membantu Anda menemukenali diri sendiri, sehingga bisa lebih cepat mengantarkan pada “karpet merah”. Yang pasti secara keseluruhan saling mendukung, dalam upaya pemenuhan panggilan hidup.

    Fingerprint-based Genetic Test
    Merupakan peranti assessment jati diri berbasis sidik jari. Karena mengandalkan metode psycho-biometric, peranti seperti ini begitu aktual. Pasalnya hasil tes tidak tergantung mood maupun emosi seseorang. Sungguh bisa terhindar dari “faking assessment” ketika mengikuti tes yang berbasis kuisioner. Di Indonesia sendiri ada beberapa penyedia jasa yang tersohor. Namun yang paling saya rekomendasikan ialah PRiADI Psychological Fingerprints (P2F) dan STIFIn.

    Dengan biaya terjangkau dan waktu yang relatif singkat, Anda bisa memetakan karakter bawaan dengan rinci. Sebagai contoh P2F. Anda bisa mengenai preferensi berpikir, kepemimpinan, minat bakat, kecerdasan emosional, relasi sosial, gaya belajar, arahan bekerja, motivasi berprestasi, followership hingga temperamen.

    Grafologi
    Merupakan pendekatan analisis kepribadian manusia melalui tulisan tangan. Menurut paragrafolog kenamaan, tulisan tangan tidak lain ialah gambaran yang ada di dalam otaknya. Sehingga bisa membantu siapa saja untuk memetakan minat, menentukan kecocokan pasangan (jodoh), rekrutmen karyawan (preferensi bekerja), hingga menghilangkan kebiasaan buruk (dan penyakit mental). Percaya atau tidak, kita bisa mengubah “nasib” dengan mengubah tulisan tangan dan tanda tangan.

    Fisiognomi
    Pendekatannya begitu sederhana. Pasalnya siapapun bisa “dibaca” karakternya hanya melalui wajah. Kendati bisa melalui foto saja, analisis bisa lebih komprehensif jika pakar fisiognomi melihat langsung wajah kita. Meski banyak yang menganggapnya sebagai ilmu semu, pendekatan ini dapat membantu kita dalam urusan bisnis, persahabatan, percintaan, hingga karir.

    Numerologi
    Ialah salah satu pendekatan metafisika yang populer digunakan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Dengan “menghitung” angka dari tanggal, bulan, dan kelahiran (serta nama); setiap orang bisa dianalisis dirinya. Baik karakter, kekuatan, kelemahan, peluang, rintangan, hingga karir. Sebagaimana bakat, hasil analisis numerologi tidak lebih dari “potensi”. Jadi ia semakin berpengaruh dalam mendukung pencapaian jika dapat disambungkan dengan passion, minat, mimpi, dan panggilan hidup yang bersangkutan.

    Berasal dari Barat, dengan cepat tes kepribadian ini menjalar keseluruh dunia. Peranti ini dikembangkan oleh psikolog kelahiran Bolivia Oscar Ichazo dan psikiater kelahiran Chili Claudio Naranjo yang didasarkan atas pengajaran G.I.Gurdjieff. Enneagram berasal dari bahasa Yunani ennea yang berarti sembilan dan grammos (yang digambarkan). Oleh karena itu, Enneagram merupakan 9 (sembilan) jenis kepribadian yang digambarkan dalam diagram yang masing-masing memiliki hubungan. Selain membantu profesi apa yang cocok bagi kita, Enneagram bisa memetakan kepribadian secara lebih mendalam. Mulai dari karakteristik dasar, keinginan mendasar, passion, fiksasi ego, ketakutan alamiah, kebaikan, hal yang membuat stres hingga faktor-faktor yang dapat menjerumuskan seseorang.

    Nah, apakah Anda penasaran dengan beragam peranti pencarian jati diri di atas ? Terlepas bisa teruji secara ilmiah ataupun “hanya” pseudoscience, tidak ada salahnya untuk mencoba. Setidaknya bisa membantu mengenali diri sendiri dalam memenuhi panggilan hidup. Selain itu lima pendekatan di atas bisa menjadi alternatif jika bosan dengan tes psikologi tradisional maupun peranti populer lainnya, seperti Human Design, DISC, MBTI, Ba Zhi, Palmistri, Astrologi dan seterusnya.

    Selamat menyelami diri sendiri.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Inti Pesan, 17 Januari 2018 


  • Mendefinisikan Ulang Resolusi

     

    Belum lama ini, salah satu teman terdekat saya – Sebut saja bernama Tom, bertanya kepada saya, “Om. Sudah berapa persen resolusimu di tahun 2017 yang tercapai?”.

    Saya pun dengan enteng menjawab, “Alhamdulillah 100% telah tercapai”.

    “Ah yang bener. Saya serius nih”. Sanggah Tom sambil merapikan dasinya.

    “Saya serius. Ngapain juga bercanda? Kalau kamu? “ Sahut saya dengan penasaran.

    “Baaaaarrrru 60%. Malu sih sebenarnya. Tapi apa boleh buat. Mungkin tahun depan saya nggak akan mematok target yang muluk-muluk deh”. Tukas Tom sambil menundukkan kepala.

    “Saya tahu mengapa kamu tidak mampu memenuhi target yang dibuat sendiri.” Jawaban saya dengan muka serius.

    “Sotoy kamu. Memangnya kenapa?” Sanggah Tom dengan mata jelalatan.

    “Kamu tidak tahu apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidup. Ingin menjadi sosok yang seperti apa, mau melakukan apa saja, dan berhasrat memiliki apa saja”. Sahut saya dengan nada lirih.

    “Ih, bener banget. Kok kamu tahu banget sih tentang saya meski saya belum sepenuhnya terbuka kepada kamu?”

     

    ***

    Percakapan di atas mungkin sama sekali tidak relevan dengan diri Anda. Bisa jadi Anda anggap remeh begitu saja. Atau barangkali begitu menyentuh perasaan Anda meski berbeda konteks.

    Suka atau tidak, siap atau tidak, tak lama lagi Anda akan menyudahi perjalanan hidup di tahun 2017. Jika  diibaratkan sebuah lukisan, saya yakin apa yang Anda torehkan di tahun ini penuh warna. Pahit getir pastilah saling mengisi. Jatuh bangun mungkin tak mengherankan lagi. Tantangan hingga ujian silih berganti mengisi hari.

    Yang pasti, 2018 segera menyambut Anda. Jika dihubungkan dengan percakapan di atas, apakah perjalanan hidup Anda mirip dengan Tom? Masih perlukah Anda membuat resolusi di setiap pergantian tahun?

    Saya sama sekali tidak menggurui. Because, I don’t tell you what to do. But I just share you what I have done.

                Resolusi sangat berarti bagi orang-orang yang mengetahui apa yang diinginkan dalam hidupnya. Sebaliknya, ia kurang berdampak bagi mereka yang hanya memiliki semangat “hangat-hangat tahi ayam”. Ia tidak cocok untuk orang yang hanya mimpi di siang bolong, tapi memiliki disiplin dan komitmen yang rendah untuk mewujudkannya.

    Sebagai individu, Anda sah-sah saja memiliki mimpi setinggi langit. Sebagai pribadi, tidak ada seorang pun yang berhak melarang Anda untuk berambisi besar. Sebagai manusia, Anda diberikan kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk melakukan apapun asalkan bermanfaat kepada sesama dan tidak merugikan orang lain.

    Anda bisa menganggap resolusi sebagai “mantra kehidupan”. Tidak ada salahnya Anda memaknainya sebagai ultimate goal. Tidak ada ruginya jika Anda mengartikannya sebagai road map ataupun blue print.

    Yang pasti, resolusi hanyalah pepesan kosong jika Anda tidak tahu apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup. Yang jelas, resolusi tidak lebih dari “To Do List” yang nice to have jika Anda tidak beraksi.

    Sebagai “benang merah” dari pertemuan saya dengan ribuan orang dalam dua tahun terakhir, saya menemukan saripati dari apa yang disebut dengan resolusi. Tidak lain ialah Be, Do, dan Have.

                Pertama, Be. Anda harus tahu ingin menjadi sosok yang seperti apa ke depannya. Tahu saja tidaklah cukup. Anda harus memiliki alasan yang kuat untuk mencapai target tersebut. Dengan kata lain, motivasi Anda harus sejalan dengan nilai-nilai dan prinsip yang Anda pegang.

    Be sebanding dengan Why. Artinya, Anda harus menemukan burning desire mengapa ingin menjadi sosok yang diinginkan sebelum melangkah ke strategi (How) dan eksekusinya (What). Misalnya, ingin menjadi penyanyi untuk menghibur atau membahagiakan sesama, ingin menjadi dosen untuk mencerdaskan anak bangsa, ingin menjadi pengusaha untuk mengurangi pengangguran, ingin menjadi politisi untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan, ingin menjadi wartawan untuk menyuarakan kebenaran, dan seterusnya.

    Kedua, Do. Setelah menemukan motivasi dari dalam diri untuk menjadi “seseorang di masa depan”, Anda harus beraksi. Dalam kamus manajemen, Do ini berkaitan erat dengan goal. Oleh karena itu, sebaiknya benar-benar cerdas alias SMART dalam mewujudkannya. SMART sendiri merupakan kependekan dari specific (spesifik/rinci), measurable (terukur/dapat dievaluasi), attainable (dapat dicapai), realistic (realistis), dan time-bound (dibatasi oleh waktu).

    Do merupakan padanan dari How alias strategi. Yaitu, apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencapai Be tadi. Jika Why haruslah jelas dari awal, maka How ini bersifat fleksibel. Dengan kata lain, Anda harus habis-habisan untuk mewujudkan ingin menjadi apa, namun cara menuju ke sana bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan. Itu bukan berarti plin-plan, akan tetapi adaptif. Sehingga, pendekatan SMART bisa sangat membantu untuk memenuhi target demi target yang Anda inginkan.

    Ketiga alias yang terakhir adalah Have. Setelah Anda memiliki tujuan yang jelas dan upaya yang gigih untuk “memantaskan diri”, Anda berhak untuk memiliki sesuatu.

    Mungkin Anda pernah mengingat pepatah bahwa hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Barangkali Anda mengamini kata orang bijak bahwa barang siapa menanam, maka ia akan memanen. Dalam resolusi, sebenarnya sama saja. Anda hanya akan memperoleh apa yang benar-benar Anda percayai untuk dicapai. Anda hanya akan menuai apa  yang benar-benar Anda mimpikan, harapkan, dan imaginasikan. Anda hanya akan memperoleh Apa yang Anda upayakan.

    Apakah Anda telah paham sepenuhnya dengan Be, Do, dan Have? Saya harap demikian.

    Yang pasti, fokuskan saja dengan hanya yang benar-benar Anda inginkan. Disiplinkah diri dengan terus beraksi untuk mencapai tujuan yang disasar. Perkara hasil akhirnya nanti bagaimana, itu bukan urusan Anda.

    Resolusi merupakan doa. Resolusi merupakan cita. Itu mengapa penting sekali untuk  hanya berpikir, berprasangka, berupaya, dan bersikap yang baik-baik saja. Jangan terlalu mengikat bathin Anda dengan hasil. Karena itu merupakan “wilayah” Tuhan.

    Jadi, masih yakinkah Anda dengan adanya hari esok? Masih percayakah Anda dengan mimpi? Masih optimiskah Anda untuk mengejar cita? Jika ya, resolusi mungkin menjadi salah satu ikhtiar untuk memantaskan diri. Selamat tahun baru 2018.

     

    Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 25 Desember 2017


  • Memaknai Panggilan Hidup

     

    Dalam dua tahun terakhir saya meneliti tentang apa yang membuat saya paling bergairah. Suatu hal yang membuat saya bertanya-tanya, penasaran, dan larut dalam kenikmatan prosesnya. Riset tersebut bertajuk The Calling Journey.

                Sejauh ini, saya telah mewawancarai lebih dari 1200 orang dari beragam latar belakang. Dari menteri hingga jenderal, dari profesor hingga seniman, dari dokter hingga pemuka agama, dari pengacara hingga anggota DPR, dari ilmuwan hingga motivator, dari karyawan hingga  pengusaha, dan seterusnya.

    Saya mencari tahu apa yang benar-benar mereka inginkan dalam hidup hingga apa yang menjadikan mereka bahagia. Saya menggali sangat dalam apa yang paling mereka cari selama di dunia hingga apa yang menjadikan mereka bisa sukses. Saya penasaran dengan titik balik hingga apa yang menjadikan mereka bermakna dalam bekerja.

    Setelah saya analisis dengan seksama, apa yang dituturkan oleh ribuan orang tersebut bermuara pada benang merah yang sama. Tidak lain ialah panggilan hidup.

    Memang tidak ada definisi baku yang diamini oleh semua pihak untuk memaknai panggilan hidup. Namun, saya sendiri menilainya sebagai sebuah power dari dalam diri setiap individu untuk bekerja sesuai dengan “panggilan” Tuhan.

    Lantas, panggilan seperti apa yang dimaksud? Yang pasti panggilan itu tak perlu dicari-cari. Hanya perlu disadari.

    Kemudian, siapa yang memanggil? Jelas saja, sang pemanggil ialah Tuhan – pencipta kita. Ia mengundang seluruh umat manusia agar bisa berkarya sesuai dengan kemauan-Nya.

    Lalu, bagaimana jika kita belum mengenali panggilan hidup diri sendiri? Tenang saja. Mungkin kita perlu berhenti sejenak. Barangkali kita hanya perlu jujur dengan diri sendiri. Bisa jadi, kita cuma butuh belajar bersabar mengenalinya.

    Tidak semua orang menyadari pentingnya panggilan hidup. Namun hampir setiap dari diri kita mengejar setengah mati apa  yang dinamakan dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Padahal jika kita mau jujur, panggilan hidup merupakan akar dari apa yang kita perjuangkan habis-habisan selama ini. Setinggi apapun mimpinya. Sebesar apapun targetnya. Siapapun orangnya.

    Di luar sana banyak orang mengira bahwa panggilan hidup haruslah sesuatu yang luar  biasa. Misalnya saja melakukan hal-hal spektakuler seperti halnya Bunda Theresa, Martin Luther King, atau Mahatma Gandhi.

    Kita sering kali terlupa bahwa setiap individu memiliki kepribadian, passion, keterampilan, hobi, minat, bakat, kekuatan, dan mimpi yang unik. Oleh karena itu, jelas saja kurang arif jika membanding-bandingkan panggilan hidup diri sendiri dengan orang lain.

    Setelah saya renungkan lagi, kunci untuk menemukan panggilan hidup ternyata sederhana saja. Ia sepadan dengan apa yang betul-betul membuat kita gelisah. Ia sebanding dengan masalah apa yang benar-benar ingin kita pecahkan – setidaknya sekali seumur hidup.

    Ingin membantu menciptakan lapangan pekerjaan? Panggilan kita berarti sebagai pengusaha. Mau mengangkat derajat pendidikan? Panggilan hidup kita berarti sebagai dosen atau guru. Berhasrat memperbaiki negeri ini secara langsung dari sistemnya? Panggilan hidup kita berarti sebagai politisi.

    Perjalanan setiap orang dalam mengenai panggilan hidup beragam. Yang pasti, ia akan datang ketika kita telah mengenali diri sendiri. Yang jelas, ia akan muncul ketika kita telah menyadari apa yang benar-benar kita bisa berikan untuk dunia lebih baik.

    Cepat atau lambat, kita harus menemukan apa yang paling bermakna dalam hidup. Sekarang atau belakangan, kita harus mengetahui apa  yang menjadi cetak biru hidup.

    Jadi, apa panggilan hidup Anda? Apa yang sesungguhnya Anda ingin capai dalam hidup? Apa hal yang pantas Anda perjuangkan? Apa yang paling berarti bagi Anda?

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 17 Desember 2017