Saya pernah merasa ragu, apakah menulis buku masih relevan di era konten cepat?
Di tengah arus video pendek, carousel, dan thread yang bergerak cepat, buku terasa seperti medium yang lambat. Sementara dunia seolah menuntut segalanya instan.
Saya pun sempat bertanya pada diri sendiri, apakah orang masih membaca? Apakah buku masih punya tempat ketika perhatian manusia semakin pendek?
Keraguan itu wajar. Bahkan, banyak profesional mulai percaya bahwa cukup aktif di media sosial untuk membangun personal branding.
Di sinilah mitos perlu diluruskan.
Konten media sosial memang efektif untuk menarik perhatian. Namun perhatian tidak selalu sama dengan kepercayaan.
Perhatian bisa datang karena sensasi. Kepercayaan datang karena kedalaman.
Buku menawarkan sesuatu yang sulit digantikan oleh konten singkat: struktur pemikiran yang utuh.