Author: Agung Wibowo

  • Nafsu Gila

    Apa yang ada dibenakmu ketika mendengar kata nafsu? Mungkin kamu menghubungkannya dengan ambisi, keinginan, hingga keakuan.

    Apapun persepsimu, setiap dari diri kita memilikinya. Karena nafsu adalah simbol masih adanya nafas yang menjadi kunci kehidupan.
    Nafsu bersifat netral. Baik dan positifnya bergantung diri kita.
    Nafsu bisa menjerumuskan kita pada lembah keburukan yang menyengsarakan di kemudian hari. Nafsu pun bisa menjadi “sahabat”yang kelak mengantarkan pada surga.
    Sayangnya, sebagian besar manusia di dunia memiliki nafsu gila. Mereka serakus hewan, sejahat iblis. Maunya menang sendiri, kaya sendiri, senang sendiri, tenar sendiri, berkuasa sendiri.
    Jika kita ibaratkan nafsu adalah kuda dan kusir adalah diri kita, nafsu gila ibarat kusir yang tak dapat mengendalikan kuda. Bagaimana nasib kusir?
    Ya bisa berabe. Kemungkinan besar kusir tak hanya mencelakai dirinya, namun juga orang hingga benda di sekitarnya.
    Jika hidup adalah laksana perjalanan menaiki kuda yang mengantarkan pada tujuan (Tuhan/surga), kuda tidak perlu dimatikan namun dikendalikan. Karena kuda yang menjadi simbol ego atau keakuan tak dapat dipisahkan dari jiwa.
    Lantas, bagaimana dengan dirimu? Sudahkah kamu berhasil mengendalikan nafsu gilamu?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 17 Februari 2020
  • Makna Kehilangan

    Hilang.

    Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata itu?
    Yang pasti masing-masing diri kita memiliki persepsi unik.
    Di sepanjang hidup, ada berbagai jenis kehilangan. Mulai dari kehilangan nyawa orang yang kita sayangi, kehilangan pekerjaan akibat PHK, hingga kehilangan benda-benda sepele namun memiliki manfaat yang tak boleh diremehkan.
    Manusia memang seringkali tak pandai bersyukur. Kita senantiasa menyia-nyiakan apa yang kita miliki. Kita selalu baru menyadari pentingnya mereka setelah kehilangan.
    Kita sedih ketika orang yang kita sayangi pergi untuk selama-lamanya. Karena ketika mereka masih hidup, kita belum maksimal memberikan kebaikan.
    Kita sedih ketika barang kita hilang. Karena ketika masih ada kita sering meremehkannya.
    Kehilangan menjadi pengingat terkuat. Bahwa segala semuanya adalah titipan.
    Kehilangan menjadi penyadar hebat. Bahwa rasa keakuan kita adalah wujud kemelekatan pada dunia.
    Pernahkah kamu kehilangan? Bagaimana kamu memaknainya?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 17 Februari 2020
  • Tentang Sasaran

    Sasaran.

    Bagaimana kamu memandangnya? Apakah secara berkala kamu membuatnya?
    Seberapa baik kamu mencapai sasaran?
    Ya, saya yakin setiap orang memiliki sasaran terlepas dari ukuran dan jenisnya. Namun, tidak semua orang mampu meraihnya.
    Orang yang gagal mencapai sasaran biasanya pandai membuat alasan. Mereka seringkali ragu-ragu, keinginannya tidak kuat, kurang motivasi, tidak berkomitmen, cepat menyerah, pesimis, dan tidak fokus.
    Sebaliknya, orang yang sukses mencapai sasaran biasanya optimis. Ambisinya kuat, fokus, berkomitmen, pantang menyerah dan memiliki tenggat spesifik.
    Sukses atau tidaknya kamu mencapai sasaran ditentukan oleh bagaimana kamu memandang diri sendiri. Seberapa kuat konsep dirimu? Bagaimana kamu memandang diri sendiri 10 atau 25 tahun ke depan? Apakah sasan tersebut benar-benar kamu inginkan dan sejalan dengan visi pribadi?
    Pada akhirnya, semua kembali kepada individunya. Sasaranmu adalah masa depanmu. Sasaranmu adalah nasibmu.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 19 Februari 2020
  • Ilusi Kepemilikan

    Stres.

    Pembunuhan.
    Perceraian.
    Bunuh diri.
    Gila.
    Lima hal tersebut adalah segelintir efek negatif dari orang yang kemelekatannya pada dunia begitu tinggi. Keakuannya bergelora pada jiwanya.
    Gara-gara merasa memiliki, kehilangan harta benda dan orang-orang terdekat berujung stres.
    Gara-gara ingin memiliki, semakin banyak orang menghilangkan nyawa orang lain. Mereka pikir harta benda bisa memuaskan nafsu.
    Gara-gara kepemilikan, pasutri bercerai. Kurangnya kepemilikan membuat istri atau suami kecewa, kesal, dan marah yang berujung petaka.
    Gara-gara kepemilikan, tak terhitung jumlahnya orang tega membuat nyawa mereka melayang. Mereka malu karena miskin, terhimpit ekonomi yang menyesakkan. Tak sedikit yang berkelimpahan melakukan hal sama karena perebutan harta warisan hingga merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarganya.
    Gara-gara kepemilikan semakin banyak orang gila. Mereka tidak bisa mengendalikan diri.
    Teman, hidup ini adalah ujian. Semua yang kita miliki adalah titipan. Anak-anakmu dan pasanganmu bukan milikmu. Harta bendamu bukan milikmu. Jabatanmu dan ketenaranmu bukan milikmu.
    Lalu, apa guna kamu mengakuinya? Itu hanya membuatmu menjauh dari-Nya.
    Dunia seisinya adalah milik-Nya. Kita hanya diberi titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
    Ilusi kepemilikan. Makin kamu merasa memiliki, makin sengsara hidupmu.
    Tabik.
    Agung Setiyo Wibowo
    Jakarta, 19 Februari 2020
  • Bukan Tanpa Alasan

    Apakah kamu percaya takdir?

    Apakah kamu mengakui kekuasaan Tuhan?
    Apakah kamu sering menghadapi kebetulan?
    Aku tak memiliki hak untuk menghakimimu. Namun, aku hanya mengingatkan pentingnya iman.
    Dalam hidup ini, kita seringkali tak dapat mengendalikan kejadian. Kita pun tak dapat memaksa orang lain untuk mengikuti keinginan kita. Kabar baiknya, kita memiliki kuasa penuh untuk bersikap.
    Segala masalah yang datang kepadamu bukan tanpa alasan. Begitu pun peristiwa yang menghampirimu dan orang-orang yang kamu temui.
    Hidup ini laksana teka-teki. Segala hal yang kita lalui mungkin pada awalnya kita pikir tak berkaitan sama sekali. Namun seiring berjalannya waktu, kita menyadari bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini.
    Coba analisis hidupmu sekarang.
    1. Mengapa kamu memilih X menjadi pasanganmu? Pernahkah kamu mengenal sebelumnya?
    2. Mengapa perekonomianmu seperti sekarang? Seberapa gigih kamu memperjuangkan mimpi?
    3. Mengapa anakmu menjadi seperti itu? Bagaimana kamu mengasuhnya?
    4. Mengapa nasibmu begitu? Bagaimana kamu memandang hasil dan proses?
    Kawan, tak ada yang kebetulan. Semua hadir bukan tanpa sebab. Setuju?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 10 Februai 2020
  • Mengusir Kebosanan

    Bosan. Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ini?

    Aku tak mengenalmu satu persatu. Namun aku yakin semua pernah mengalami titik bosan di beberapa episode hidupnya.
    Bosan terjadi ketika kamu merasa tak berdaya, tak memiliki tantangan, dan tak berharga.
    Bosan adalah indikator zona nyamanmu. Bosan adalah  bukti bahwa dirimu tak memiliki sasaran yang jelas untuk diperjuangkan. Bosan adalah salah satu tanda bagimu untuk menetapkan target baru. Bosan adalah sinyal untuk melakukan perubahan.
    Apakah kamu pernah merasa bosan? Jika ya, seberapa sering?
    Bagaimana kamu memandang kebosanan?
    Sikapmu menentukan kualitas hidupmu. Caramu memandang kebosanan menentukan nasibmu.
    Agung Setiyo Wibowo
    Jakarta, 10 Februari 2020