Kadang kita percaya banget sama kalimat ini:
“Ah, personal branding itu cuma buat influencer.”
“Gue mah orang biasa, siapa juga yang mau peduli?”
Kadang kita percaya banget sama kalimat ini:
“Ah, personal branding itu cuma buat influencer.”
“Gue mah orang biasa, siapa juga yang mau peduli?”
Pernahkah Anda membayangkan seperti apa rasanya menghabiskan berbulan-bulan menyiapkan naskah buku, biografi, atau pidato penting… hanya untuk menyadari bahwa hasil akhirnya tidak mencerminkan kualitas dan reputasi Anda?
Saya sudah melihat kasus ini terlalu sering: pejabat, tokoh publik, CEO, influencer, bahkan menteri—semuanya menghadapi risiko yang sama. Mereka ingin meninggalkan legacy melalui buku atau membutuhkan naskah berkualitas untuk publik, tetapi jatuh pada pilihan ghostwriter yang salah.
Pernah nggak sih kamu merasa: “Aku sudah kerja keras, disiplin tiap hari, loyal ke perusahaan – tapi kenapa rasanya aku seperti hilang dalam keramaian?”
Aku pernah. Bahkan sering. Waktu itu aku merasa seperti bagian dari mesin besar: datang pagi-pulang malam, proyek demi proyek, meeting terus meeting. Tapi di malam hari, di cermin, aku melihat sosok yang sama—tanpa suara-yang-beda-dari-yang-lain. Aku mulai bertanya: “Apa bedaku? Kenapa aku harus di-ingat? Apa yang membuatku berbeda?”
Pernah nggak kamu merasa: “Wah, gue harus bikin branding yang keren supaya semua tahu gue hebat”?
Tapi kenyataannya—ternyata postinganmu ngga dibaca banyak, koneksi tetap datar, dan kamu malah makin bingung.
Itu ironi yang sering kita alami bila kita memperlakukan personal branding seperti setelan pakaian yang tinggal dikenakan—padahal, katanya, “branding itu susah”.
Mari kita mulai dengan merobohkan mitos itu dulu.