Gue masih inget jelas, suatu sore gue duduk di kafe kecil di Jakarta, habis ditolak klien gede yang udah lama gue kejar. Rasanya kayak dunia jatuh ke pundak. Semua kerja keras, pitch deck berlembar-lembar, lembur yang bikin mata panda, tiba-tiba cuma dibalas dengan kalimat singkat: “Maaf, kami putuskan untuk lanjut dengan pihak lain.”
Author: Agung Wibowo
-
Lo Tarik yang Lo Pikirin: Fakta Law of Attraction yang Jarang Dibahas
Ada masa di hidup gue, gue ngerasa stuck. Rasanya kayak lagi jalan di lorong panjang, lampunya remang-remang, dan ujungnya nggak kelihatan. Semua usaha gue buat sukses—kerja keras, networking, ambisi—kayak nggak cukup.
-
Seni Membangun Networking Buat yang Benci Networking
Bayangin momen ini: Lo lagi ada di sebuah event gede, ballroom hotel mewah, orang-orang pakai jas rapi, name tag menggantung di leher. Semua sibuk salaman, ketawa-ketawa, tukar kartu nama, dan ngobrol ngalor-ngidul. Sementara lo? Berdiri di pojokan, pura-pura sibuk buka HP, doa dalam hati semoga nggak ada yang ngajak ngobrol.
-
Kenapa Sukses Lo Ditentukan Sama 5 Orang Terdekat (dan 150 Koneksi Lainnya)
Honestly, ada masa di hidup gue ketika networking itu kerasa kayak kerja rodi. Setiap kali hadir di acara, gue kayak orang bingung: tangan dingin, mulut kaku, mata cari-cari siapa yang bisa diajak ngobrol. Kadang pulang cuma bawa name card tapi nggak pernah follow up. Bener-bener awkward.