Ini mungkin bukan hal yang nyaman untuk didengar: sebagian besar dari kita tidak gagal karena malas. Kita gagal karena terlalu sibuk — sibuk peduli pada hal-hal yang sebetulnya tidak pernah layak mendapatkan energi kita.
Kita peduli pada pendapat orang yang bahkan tidak mengenal kita. Kita panik melihat pencapaian orang lain di LinkedIn. Kita habiskan malam-malam yang panjang mempertahankan proyek yang sudah lama seharusnya dilepas, hanya karena tidak ingin terlihat menyerah.
Dan di sinilah masalahnya: bukan energinya yang kurang — tapi arahnya yang keliru.
Bayangkan Anda hendak terbang ke kota baru untuk memulai kehidupan segar. Anda mengemas satu koper besar — penuh sesak. Ada baju-baju lama yang sudah tidak muat, kenangan yang menyakitkan tapi sayang dibuang, dan berbagai “mungkin nanti berguna” yang tidak pernah benar-benar berguna.
Di bandara, koper Anda kelebihan berat. Anda harus membayar biaya ekstra. Anda tersengal-sengal membawanya. Dan ketika sampai di kota tujuan, Anda terlalu lelah untuk benar-benar memulai hal baru.
“Itulah yang terjadi ketika kita peduli pada terlalu banyak hal sekaligus. Kita tiba di tujuan — tapi sudah kehabisan tenaga untuk menikmatinya.”
Mark Manson, dalam bukunya The Subtle Art of Not Giving a F*ck, tidak sedang mengajak kita menjadi apatis atau tidak peduli. Ia mengajak kita untuk memilih dengan sadar — apa yang benar-benar layak mendapat perhatian kita, dan apa yang sebaiknya kita biarkan berlalu.