Saya harus jujur: bertahun-tahun hidup saya dipimpin oleh satu hal — reaksi spontan terhadap stres.
Saya pikir, semakin cepat saya merespons masalah, semakin kuat saya terlihat.
Ada klien marah? Saya buru-buru menjelaskan.
Ada target gagal? Saya panik dan bekerja dua kali lebih keras.
Ada konflik internal? Saya langsung mencari siapa yang salah.
Di titik itu, saya tidak sadar bahwa saya bukan sedang menghadapi stres…
Saya sedang dikendalikan oleh stres.
Dan ironisnya, semakin saya mencoba terlihat “tangguh”, semakin rapuh saya dibuatnya.
Saya bekerja keras, tapi mudah tersinggung.
Saya hadir dalam banyak ruang, tapi tidak sepenuhnya hadir di dalam diri.
Saya semakin produktif, tapi semakin jauh dari tenang.
Sampai akhirnya saya merasa ada yang salah — bukan pada dunia, bukan pada pekerjaan, bukan pada orang lain, tetapi pada otak saya sendiri.