Beberapa waktu lalu, saya bertemu seorang teman lama.
Kariernya luar biasa. Jabatan tinggi. Gaji besar. Rumah bagus. Mobil mewah.
Semua yang biasanya kita sebut sebagai “tanda kesuksesan.”
Tapi ketika kami duduk ngobrol lebih lama, ia berkata dengan nada yang tidak saya duga.
“Gue capek, Gung.”
Bukan capek fisik.
Capek hidup.
Ia bilang setiap hari seperti berlari di treadmill: kerja keras, mengejar target, rapat tanpa henti, tetapi entah kenapa semakin lama semakin terasa kosong.
Percakapan itu membuat saya teringat pada sebuah buku yang dulu cukup mengganggu pikiran saya.
Buku itu berjudul The Monk Who Sold His Ferrari karya Robin Sharma.
Judulnya terdengar seperti cerita spiritual klise.
Tetapi isi bukunya justru menampar cara kita memandang kesuksesan, karier, dan kebahagiaan.
Dan mungkin—tanpa kita sadari—buku ini juga menjelaskan kenapa banyak orang sukses justru merasa lelah dengan hidupnya sendiri.