“Bagaimana kalau selama ini yang salah bukan solusi Anda, melainkan pertanyaan yang Anda ajukan?”
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi efeknya bisa menampar siapa saja.
Bayangkan seseorang mengeluh mobilnya selalu boros bensin. Ia mengganti oli, membeli aditif mahal, bahkan mengganti ban premium. Namun ternyata masalah utamanya hanyalah rem yang terus menahan roda sehingga mobil bekerja lebih berat.
Semua usaha tadi tidak salah. Hanya saja diarahkan pada masalah yang keliru.
Saya merasa analogi itu sangat mirip dengan kehidupan kita. Banyak orang bekerja lebih keras, rapat lebih lama, menambah karyawan, membeli teknologi baru, atau mengambil sertifikasi demi sertifikasi. Namun hasilnya tetap biasa saja karena akar masalahnya tidak pernah benar-benar disentuh.
Di situlah saya merasa mendapat tamparan intelektual ketika membaca The McKinsey Mind. Buku ini bukan sekadar membahas dunia konsultansi. Buku ini mengajarkan sebuah cara berpikir yang bisa mengubah bagaimana kita mengambil keputusan dalam pekerjaan, membangun bisnis, bahkan menjalani hidup.
Yang menarik, ternyata kehebatan konsultan top dunia bukan karena mereka selalu punya jawaban. Mereka justru luar biasa dalam mendefinisikan masalah.