Saya tidak membaca The Art of War karena ingin belajar berperang.
Justru saya membacanya di satu fase hidup ketika saya lelah berkonflik—dengan pekerjaan, dengan ekspektasi orang, bahkan dengan diri sendiri.
Di titik itu, saya mulai bertanya:
kenapa rasanya saya selalu “sibuk bertarung”, tapi jarang benar-benar menang?
Buku tipis karya The Art of War ini sering dikutip di mana-mana. Di dunia bisnis, kepemimpinan, bahkan motivasi. Tapi anehnya, semakin sering dikutip, semakin sering disalahpahami.
Dan di situlah perjalanan saya dimulai.