Aku harus mengaku sesuatu yang agak memalukan buat orang yang profesinya “membantu orang lain jadi visible.”
Lima tahun lalu, ada klien datang ke aku. Produknya bagus. Skill-nya di atas rata-rata. Testimoninya pun tidak sedikit. Tapi dia hampir tidak dikenal siapa-siapa di luar lingkaran kecilnya. Dan waktu itu, aku memberi saran yang sekarang aku sesali: “Fokus aja perbaiki produknya dulu. Branding belakangan.”
Aku pikir itu saran bijak. Ternyata itu saran yang membuat dia diam-diam kalah dari kompetitor yang produknya biasa saja, tapi namanya lebih dulu nempel di kepala orang.
Butuh waktu cukup lama — dan satu buku yang mengubah cara aku bekerja — sebelum aku sadar bahwa aku salah karena aku belum paham apa itu branding sesungguhnya.
Bayangkan ada restoran di gang buntu, jauh dari jalan utama. Chef-nya juara masak, bahan bakunya premium, rasanya bahkan lebih enak dari restoran bintang lima di pusat kota. Tapi karena lokasinya tersembunyi dan tidak ada papan nama yang jelas, restoran itu sepi. Sementara restoran lain, dengan menu standar tapi neon sign mencolok dan nama yang gampang diingat, selalu ramai antre.
Itulah inti dari branding. Dan itu juga inti dari buku yang akhirnya membongkar cara berpikirku: The 22 Immutable Laws of Branding karya Al Ries dan Laura Ries.