Ada satu pertanyaan yang bikin gue nggak bisa tidur nyenyak selama beberapa malam setelah gue selesai baca buku ini.
Pertanyaannya sederhana, tapi jahat: kenapa ada bisnis dengan produk biasa-biasa aja, pelayanan pas-pasan, bahkan harga lebih mahal—tapi tetap dibanjiri pelanggan? Sementara di sisi lain, ada bisnis dengan produk jauh lebih bagus, harga lebih murah, pelayanan lebih ramah—tapi sepi kayak kuburan?
Selama bertahun-tahun gue percaya jawabannya ada di kualitas. Logikanya: kalau produk lo bagus, orang bakal datang sendiri.
“Rezeki nggak akan ke mana.” Ternyata, itu salah satu mitos paling mahal dalam dunia bisnis.
Buku The 1-Page Marketing Plan karya Allan Dib ini yang bikin gue sadar—dengan cara yang cukup menampar.
Coba bayangin begini. Lo dateng ke dokter karena kepala lo sakit terus-menerus selama sebulan. Belum sempat lo cerita gejalanya, dokter itu udah nyodorin resep obat penghilang nyeri paling mahal di apotek. “Ini, minum ini, pasti sembuh.”
Lo pasti mikir, “Lah, ini dokter apa apoteker karbitan?”
Masalahnya, ini persis yang dilakukan hampir semua pebisnis—termasuk gue dulu—setiap kali bisnis lagi sepi. Begitu omzet turun, refleks pertama adalah: pasang iklan lebih banyak. Ganti logo. Bikin promo diskon. Semua itu ibarat minum obat penghilang nyeri tanpa tahu apa penyakitnya.
Allan Dib bilang, sebelum lo mikirin taktik—iklan di mana, konten apa, promo berapa persen—lo harus punya peta. Bukan peta 50 halaman yang bikin pusing kayak rencana bisnis akademis, tapi cukup satu halaman. Itulah kenapa bukunya dinamai The 1-Page Marketing Plan. Simpel di permukaan, tapi dalemnya berat banget kalau lo kerjain dengan jujur.