Gue mau jujur dari awal:
Selama bertahun-tahun, gue bangga jadi orang yang susah istirahat.
Kerja sampai malam, balas chat klien jam 11, buka laptop lagi di hari Minggu. Di LinkedIn, itu kelihatan keren: “productive”, “dedicated”, “hustler”. Tapi pelan-pelan gue sadar, ada sesuatu yang rusak: fokus makin pendek, emosi gampang meledak, ide kreatif seret, tapi jam kerja justru makin panjang.
Sampai satu titik, gue nanya ke diri sendiri:
“Kalau gue udah kerja segila ini, kenapa hidup rasanya malah nanggung — capek iya, puas nggak?”
Pertanyaan itu pelan-pelan terjawab setelah gue baca satu buku yang judulnya sederhana tapi isinya nusuk:
Rest: Why You Get More Done When You Work Less karya Alex Soojung-Kim Pang.
Buku ini basically bilang:
Masalahnya bukan karena kita kurang kerja keras. Masalahnya karena kita bodoh mengelola istirahat.
Dan jujur, itu cukup bikin gue kaget dan… malu.