Tag: Relasi

  • Saya Pernah Mengira Networking Itu Menjilat. Ternyata Saya Salah Besar.

    Dulu, saya benar-benar percaya bahwa dunia kerja itu adil. Saya berpikir, kalau saya belajar lebih keras, bekerja lebih rajin, menambah sertifikasi, mempercantik CV, dan memberikan hasil terbaik, maka peluang pasti akan datang dengan sendirinya.

    Nyatanya? Tidak.

    Saya pernah melihat orang yang kemampuannya biasa saja justru mendapat promosi lebih dulu, melihat proyek bernilai miliaran rupiah jatuh ke tangan orang yang bahkan tidak pernah mengajukan proposal, dan posisi strategis terisi tanpa pernah diumumkan ke publik.

    Awalnya saya marah. Saya menyebutnya nepotisme, menganggapnya “orang dalam” dan merasa sistemnya tidak adil. Namun semakin lama saya berkarier, semakin saya memahami bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks daripada itu.

    Bayangkan dua restoran yang sama-sama menyajikan makanan terenak di kota. Yang satu berada di jalan protokol dengan papan nama besar. Yang satu lagi berada di gang sempit tanpa papan nama.

    Mana yang lebih dulu didatangi pelanggan? Belum tentu yang makanannya lebih enak. Tetapi yang lebih mudah ditemukan.

    Begitu pula dengan karier.

    Kompetensi adalah kualitas makananmu. Networking adalah alamat restoranmu.

    Kalau tidak ada yang tahu kamu ada, bagaimana kesempatan bisa datang mengetuk pintumu?

    (more…)

  • Jika Besok Kamu Kena PHK, Siapa yang Masih Mau Mengangkat Teleponmu?

    Kalau besok pagi semua yang Anda miliki hilang, siapa yang masih mau mengangkat telepon Anda?

    Bukan pertanyaan yang nyaman. Tetapi mungkin itulah pertanyaan paling jujur yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri.

    Karena dalam hidup profesional, kita sering mengukur kekayaan dari hal-hal yang terlihat.

    Jabatan. Gelar. Penghasilan. Aset. Jumlah pengikut. Kartu nama. Jabatan di LinkedIn. Omzet bisnis. Portofolio investasi.

    Semua itu penting. Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua itu tidak berharga.

    Tetapi ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita.

    Sebagian besar hal yang kita banggakan hari ini bisa hilang lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

    Perusahaan bisa melakukan restrukturisasi. Bisnis bisa menghadapi krisis. Pasar bisa berubah. Teknologi bisa menggantikan pekerjaan tertentu. Bahkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu keputusan yang salah.

    Lalu apa yang tersisa?

    Saya pernah melihat orang yang kehilangan jabatan tetapi tetap dihormati. Saya juga pernah melihat orang yang kehilangan jabatan lalu seolah menghilang dari peredaran.

    Perbedaannya bukan pada posisi mereka. Perbedaannya ada pada relasi yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

    Ibarat pohon besar, banyak orang sibuk merawat buahnya, tetapi lupa merawat akarnya.

    Padahal ketika badai datang, bukan buah yang menyelamatkan pohon. Akarlah yang membuatnya tetap berdiri.

    Dan dalam kehidupan profesional, akar itu bernama kepercayaan.  

    (more…)