“Bukunya sudah terbit. Tapi kenapa rasanya justru baru mulai berjuang?”
Kalimat itu pernah diucapkan seorang penulis pada saya—bukan penulis pemula, tapi seorang profesional dengan nama besar di bidangnya. Bukunya terbit di penerbit besar. Rak toko buku nasional memajang karyanya. Media sempat meliput. Foto peluncuran beredar.
Namun beberapa bulan kemudian, ia berbisik jujur,
“Mas, kok kayaknya buku ini jalan sendiri ya… saya bingung harus ngapain lagi.”
Di titik itulah kita masuk ke klimaks yang jarang dibahas secara terbuka:
menerbitkan buku itu bukan garis akhir. Ia justru titik start yang paling sepi.