Tag: Panggilan

  • Menyelami “Panggilan” Dalam Keseharian

    Belum lama ini saya mendapatkan pesan singkat melalui surat elektronik dari seseorang. Sebut saja bernama Krishna. Secara pribadi, saya belum pernah mengenal namanya – apalagi bertemu. Oleh karena itu, ketika ada surat masuk, saya langsung membacanya secara seksama.

    Selidik demi selidik, Krishna merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Mesin di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Semarang, Jawa Tengah. Akhir April lalu, ia menyelesaikan membaca buku saya terbitan 2017 yang berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Krisis Seperempat Baya.

    Singkat kata, Krishna merasa tercerahkan setelah membaca buku. Sebagai calon Sarjana, ia mengaku beruntung sekali mendapatkan semacam “pencerahan” karenanya. Namun, di saat yang bersamaan ia meminta nasehat untuk membuat peta jalan karir yang akan dilaluinya kelak.

    Krishna mungkin hanya satu dari jutaan lulusan perguruan tinggi yang setiap tahunnya dihadapkan pada fase terpenting dalam perjalanan hidup. Tidak lain ialah menentukan cetak biru karir. Ya, Krishna tidak sendirian. Jangankan fresh graduate, para profesional berusia 40 atau yang telah melewati titik paruh baya juga tidak jarang dirisaukan dengan urusan berkarya.

    Mencermati hal ini, saya langsung teringat dengan survei independen yang saya lakukan pada kurun 2016-2018. Sebuah riset yang melibatkan lebih dari 1000 orang di 100 kota di Indonesia, Asia – Pasifik, Eropa Utara, dan Amerika. Survei itu bertajuk panggilan hidup.

    Dari hasil temuan yang saat ini masih dalam proses pengolahan, lebih dari 90 persen responden mengaku bahwa karir merupakan salah satu aspek terpenting dalam hidup. Hal itu tidak mengherankan mengingat sebagian besar waktu produktif kita dihabiskan pada aspek tersebut.

    Yang menarik, lebih dari separuh responden mengatakan kurang puas dengan pekerjaan yang dimiliki saat ini. Akibatnya, kebahagiaan cukup terusik. Ketentraman apa lagi. Kenyataan ini menyebabkan mereka mulai mendefinisikan kembali apa yang paling diinginkan dalam hidup, apa yang dianggap paling penting, apa yang paling diprioritaskan, apa yang membuat hidup bermakna, dan bagaimana mereka bisa menjadi “pribadi baru” di kemudian hari.

    Dari temuan riset yang kelak akan saya beberkan lagi dalam bentuk buku, rupanya hanya sebagian responden yang benar-benar menyelami “panggilan” dalam berkarya dan menjalani hidup dengan “hidup”. Akibatnya, sebanyak apapun penghasilan yang didapatkan tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Konsekuensinya, sekeras apapun usaha yang dikerahkan untuk mencapai goal, menjadikan mereka cepat bosan, hampa, dan kehilangan motivasi. Pemaknaan “panggilan” antar individu memang beragam. Pasalnya, seringkali berkaitan dengan perjalanan intristik. Tidak lain merupakan titik temu antara minat, bakat, keterampilan, passion, apa yang benar-benar digelisahkan, dan bidang apa yang paling sungguh-sungguh ingin digeluti untuk memecahkan masalah di sekitar.

    Dari ribuan orang yang saya temui, “panggilan” memang salah satu pilar kunci yang menentukan bahagia atau tidaknya seorang individu. Pasalnya, orang yang menyelami “panggilan”, akan senantiasa terdorong untuk menciptakan nilai tambah, memberikan solusi, bermanfaat kepada sesama, dan membuat perbedaan dalam bidang-bidang yang kurang dipikirkan oleh orang lain.

    Orang yang memiliki “panggilan” pada umumnya tidak rentan bosan, hampa, dan kehilangan motivasi. Karena tujuan mereka berkarya (dan hidup) bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk memberi atau melayani orang lain sesuai dengan potensi.

    Orang yang menyelami “panggilan” berkarya dengan jiwa dan hati. Tidak hanya dengan otak yang seringkali berkutat pada masalah “untung-rugi”. Lantas, sudahkah Anda menyadari “panggilan” hidup Anda sendiri? Kalaupun belum, tidak usah khawatir. Karena panggilan tersebut sudah Ada di dalam diri. Anda hanya perlu traveling inside. Lebih tepatnya lagi, traveling within yourself. Selamat mencoba.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan pada 16 Mei 2018 

     

  • Memaknai Panggilan Hidup

     

    Dalam dua tahun terakhir saya meneliti tentang apa yang membuat saya paling bergairah. Suatu hal yang membuat saya bertanya-tanya, penasaran, dan larut dalam kenikmatan prosesnya. Riset tersebut bertajuk The Calling Journey.

                Sejauh ini, saya telah mewawancarai lebih dari 1200 orang dari beragam latar belakang. Dari menteri hingga jenderal, dari profesor hingga seniman, dari dokter hingga pemuka agama, dari pengacara hingga anggota DPR, dari ilmuwan hingga motivator, dari karyawan hingga  pengusaha, dan seterusnya.

    Saya mencari tahu apa yang benar-benar mereka inginkan dalam hidup hingga apa yang menjadikan mereka bahagia. Saya menggali sangat dalam apa yang paling mereka cari selama di dunia hingga apa yang menjadikan mereka bisa sukses. Saya penasaran dengan titik balik hingga apa yang menjadikan mereka bermakna dalam bekerja.

    Setelah saya analisis dengan seksama, apa yang dituturkan oleh ribuan orang tersebut bermuara pada benang merah yang sama. Tidak lain ialah panggilan hidup.

    Memang tidak ada definisi baku yang diamini oleh semua pihak untuk memaknai panggilan hidup. Namun, saya sendiri menilainya sebagai sebuah power dari dalam diri setiap individu untuk bekerja sesuai dengan “panggilan” Tuhan.

    Lantas, panggilan seperti apa yang dimaksud? Yang pasti panggilan itu tak perlu dicari-cari. Hanya perlu disadari.

    Kemudian, siapa yang memanggil? Jelas saja, sang pemanggil ialah Tuhan – pencipta kita. Ia mengundang seluruh umat manusia agar bisa berkarya sesuai dengan kemauan-Nya.

    Lalu, bagaimana jika kita belum mengenali panggilan hidup diri sendiri? Tenang saja. Mungkin kita perlu berhenti sejenak. Barangkali kita hanya perlu jujur dengan diri sendiri. Bisa jadi, kita cuma butuh belajar bersabar mengenalinya.

    Tidak semua orang menyadari pentingnya panggilan hidup. Namun hampir setiap dari diri kita mengejar setengah mati apa  yang dinamakan dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Padahal jika kita mau jujur, panggilan hidup merupakan akar dari apa yang kita perjuangkan habis-habisan selama ini. Setinggi apapun mimpinya. Sebesar apapun targetnya. Siapapun orangnya.

    Di luar sana banyak orang mengira bahwa panggilan hidup haruslah sesuatu yang luar  biasa. Misalnya saja melakukan hal-hal spektakuler seperti halnya Bunda Theresa, Martin Luther King, atau Mahatma Gandhi.

    Kita sering kali terlupa bahwa setiap individu memiliki kepribadian, passion, keterampilan, hobi, minat, bakat, kekuatan, dan mimpi yang unik. Oleh karena itu, jelas saja kurang arif jika membanding-bandingkan panggilan hidup diri sendiri dengan orang lain.

    Setelah saya renungkan lagi, kunci untuk menemukan panggilan hidup ternyata sederhana saja. Ia sepadan dengan apa yang betul-betul membuat kita gelisah. Ia sebanding dengan masalah apa yang benar-benar ingin kita pecahkan – setidaknya sekali seumur hidup.

    Ingin membantu menciptakan lapangan pekerjaan? Panggilan kita berarti sebagai pengusaha. Mau mengangkat derajat pendidikan? Panggilan hidup kita berarti sebagai dosen atau guru. Berhasrat memperbaiki negeri ini secara langsung dari sistemnya? Panggilan hidup kita berarti sebagai politisi.

    Perjalanan setiap orang dalam mengenai panggilan hidup beragam. Yang pasti, ia akan datang ketika kita telah mengenali diri sendiri. Yang jelas, ia akan muncul ketika kita telah menyadari apa yang benar-benar kita bisa berikan untuk dunia lebih baik.

    Cepat atau lambat, kita harus menemukan apa yang paling bermakna dalam hidup. Sekarang atau belakangan, kita harus mengetahui apa  yang menjadi cetak biru hidup.

    Jadi, apa panggilan hidup Anda? Apa yang sesungguhnya Anda ingin capai dalam hidup? Apa hal yang pantas Anda perjuangkan? Apa yang paling berarti bagi Anda?

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 17 Desember 2017 

     

     

     

  • Seni Menemukan Panggilan Hidup

    Setiap orang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan unik. Itu artinya, tidak ada satu pun individu di dunia ini yang memiliki tingkat kesamaan hingga seratus persen dengan individu lainnya. Menyadari hal tersebut, sudah seharusnya setiap pribadi menjadikan hidupnya luar biasa.

    Salah satu kunci untuk mewujudkan hidup yang luar biasa ialah menemukan dan menjalankan “pangggilan” hidup. Apa itu panggilan hidup. Kira-kira bisa diartikan sebagai “sesuatu” yang menjadi dorongan terbesar kita untuk terus diperjuangkan selama hayat masih di kandung badan.

    Mengapa panggilan hidup penting? Karena ia menjadi kompas mau dibawa ke mana perjalanan hidup kita. Lantaran ia merupakan sumber energi tak terbatas yang sudah ada di dalam diri kita.

    Panggilan hidup ialah kunci kekuatan Nelson Mandela bisa bertahan hingga 27 tahun di dalam penjara. Tanpa panggilan untuk memperjuangkan penghapusan apartheid, mungkin ia tak akan pernah menjadi presiden pertama berkulit hitam di Afrika Selatan. Panggilan hidup ialah jawaban mengapa Steve Jobs bisa membesut berderet mahakarya Apple. Tentu kita masih ingat bagaimana ia memutuskan berhenti dari Reed College, mengikuti kelas kaligrafi di kampus, melakukan perjalanan spiritual di pedalaman India, mendirikan perusahaan, hingga dikeluarkan dan akhirnya memimpin perusahaan yang berlogo “buah apel tergigit” itu.

    Panggilan hidup ialah energi Profesor Yohanes Surya dalam upaya “mengangkat derajat” dunia sains di Indonesia. Anda mungkin lebih mafhum bagaimana perjuangan tulus beliau dalam mencetak para “mutiara bangsa” menjadi juara olimpiade fisika internasional hingga mendirikan lembaga pendidikan mulai dari Surya Institute, STKIP Surya hingga Surya University. Keyakinan dengan “Mantra Mestakung”-nya berhasil mampu menarik para ilmuwan papan atas nusantara yang sebelumnya menjadi diaspora untuk kembali mengabdi di bumi pertiwi.

    Mungkin pertanyaan yang “berputar-putar” dalam benak Anda ialah bagaimana menemukan panggilan hidup dalam diri kita. Satu hal yang pernah juga saya alami beberapa tahun terakhir. Atas dasar tersebut, saya mewawancarai lebih dari 1.200 orang di 25 kota populer di tanah air dan diaspora di 7 negara yang datang dari beragam profesi mulai dari bankir, jurnalis, penulis, dokter, pengacara, akuntan, artis, petani, pengusaha, pedagang, tentara, polisi, hingga dosen. Dari sisi jabatan ada yang menjabat sebagai CEO, menteri, panglima TNI, juru bicara presiden, rektor, penemu kelas dunia, ulama, bhiksu, dan tentu saja karyawan.

    Lantas, apa “benang merah” yang saya dapatkan setelah riset yang memakan waktu lebih dari dua tahun tersebut? Harus jujur saya katakan, ada begitu banyak hikmah. Namun jika dikaitkan dengan panggilan hidup, saya menemukan tiga pertanyaan inti yang bisa membantu kita untuk menemukannya.

     

    Isu Apa Yang Paling Anda Pedulikan?

    Mungkin terlihat sepele, namun begitulah realitanya. Isu yang paling Anda pedulikan mencerminkan apa yang paling penting bagi hidup Anda. Ia menggambarkan bidang apa yang kemungkinan besar akan Anda perjuangkan kelak. Itu bisa dilihat dari genre buku, majalah dan film apa yang sering Anda konsumsi. Program televisi apa yang sering Anda tonton. Hingga komunitas apa yang ingin atau telah Anda masuki.

    Kegelisahan Anda dengan tak terbendungnya pengangguran mungkin mendorong Anda menjadi seorang pengusaha. Kerisauan Anda dengan buruknya sumber daya manusia di negeri ini bisa jadi menginspirasi Anda untuk menjadi  pendidik. Keprihatinan Anda dengan tak terurusnya anak jalanan, pengemis, dan yatim piatu bukan tidak mungkin memanggil Anda untuk menjadi aktivis sosial. Ketrenyuhan Anda melihat amburadulnya Indonesia di segala dimensi bukan tidak mungkin melecutmu untuk menjadi politisi di kemudian hari.

    Berangkat dari pertanyaan ini cepat atau lambat Anda bisa menjadi bagian dari solusi. Teruslah “merawat kegelisahan” Anda. Tetaplah berkumpul dengan orang-orang yang “setipe” dengan Anda dalam bingkai komunitas. Dan jadilah penggerak, perintis, pemrakarsa, pemimpin, atau aktor utama yang memperjuangkan masalah-masalah di bidang tersebut.

     

    Profesi Apa Yang Anda Nikmati Sekaligus Menjadi Solusi Dari Isu Yang Paling Anda Pedulikan?

    Profesi merupakan salah satu bukti jejak kita di dunia. Kendati hidup kita tidak semata-mata bekerja, profesi merupakan salah satu faktor paling penting yang mempengaruhi kebahagiaan kita. Anda bisa memulai dari pengenalan diri sendiri yang lebih baik. Mulai dari aspek kepribadian, kekuatan, minat, passion, dan bakat. Dari sini, Anda bisa lebih mudah memetakan profesi mana yang paling mendekati dari gabungan aspek-aspek tersebut.

    Yang perlu kita ingat, profesi ialah salah satu cara untuk menjalankan panggilan hidup. Jadi, ia merupakan sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Ia lebih mengedepankan proses, bukan hasil. Dengan demikian, sudah seharusnya kita menikmati bagaimana kita melintasi “orbit” sendiri.

    Laksana musafir. Ada kalanya kita menapaki jalur nan lurus, menuruni tikungan, berbelok di tengah tanjakan, mundur beberapa langkah, terjatuh, berhenti di perempatan, menyeberangi lautan, tercebur di sungai, melintasi padang pasir, hingga menikmati oase. Di sepanjang lajur tersebut tentu akan ada hujan badai, petir yang sahut menyahut, gerimis, panas terik hingga sesekali pelangi. Silih bergantinya siang ke malam, hingga pagi ke sore terus berpacu mengiringi langkah kita.

    Petualangan seorang musafir mendapati oase di tengah padang pasir bak “drama” setiap individu menemukan profesi yang paling sejalan dengan “suara hati”. Jadi, tidaklah heran jika begitu banyak orang yang harus bergonti-ganti profesi hingga bisa dengan lantang mengatakan “Ini nih yang gue cari selama ini!” Yang harus disadari, cepat atau lambatnya “penemuan” profesi yang paling tepat dengan potensi diri, sejalan dengan sejauh mana seseorang mengen diri sendiri.

     

    Bagaimana Anda Menghubungkan Mimpi Masa Kecil dengan Orang Yang Paling Anda Kagumi?

              Masa kecil merupakan salah satu masa yang paling mempengaruhi kehidupan seseorang. Dari sini, pondasi kita sebagai pribadi untuk pertama kalinya dibentuk oleh keluarga dan lingkungan. Dengan demikian, kondisi sosial dan budaya berperan besar dalam membentuk pola pikir setiap individu. Kendati kelak pendidikan formal dan pengaruh eksternal lainnya juga turut mewarnai.

    Seperti yang telah kita tahu, anak kecil memiliki kreatifitas yang tak terbatas. Ia selalu ingin mencoba hal-hal baru. Tak mempedulikan apakah yang dicoba tersebut berhasil atau gagal, disukai orang lain atau tidak. Singkat kata, anak kecil berani melakukan sesuatu karena mengikuti kata hatinya.

    Sayangnya, kreatifitas individu perlahan-lahan terpasung karena sistem pendidikan. Ia sering mendapati label “gagal”, “bodoh”, atau “salah” dari lingkungan yang seharusnya membuatnya lebih berdaya, bukan mengkerdilkan nyalinya. Hal tersebut diperparah dengan label-label yang diberikan oleh orang tuanya sendiri.

    Oleh karena itu, ingat-ingat lagi masa kecil Anda. Apakah yang benar-benar Anda inginkan di  masa itu? Apakah ada asa tertentu yang berhubungan dengan isu yang paling Anda pedulikan?

    Saya ambil contoh Emil Salim yang saya wawancarai beberapa waktu lalu. Di masa kecil, ia ingat betul bagaimana cerita nyata ayahnya yang merupakan seorang pejabat di era pemerintahan Hindia Belanda hendak membangun jalan di Sumatera Selatan. Warga setempat berpesan kepada ayahnya agar jalur yang dibuat jangan sampai memotong jalan yang dilalui gajah.  Ingatan itulah yang kelak mempengaruhi cara berpikirnya ketika menjabat sebagai Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara, Menteri Perhubungan, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup dan beragam amanah lainnya. Petuah dari sang ayah untuk melestarikan lingkungan menginspirasi Emil Salim untuk mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), menyuarakan pembangunan berkelanjutan, hingga mendapatkan The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF) dan Blue Planet Prize dari The Asahi Glass Foundation.

    Jika Anda mendapati kesulitan untuk mengingat asa di masa kecil, tengoklah ke depan. Ini bisa Anda mulai dari siapa orang yang paling Anda kagumi. Entah karena profesinya, pengaruh sosialnya, kontribusinya di masyarakat, hingga mungkin bakat dan keterampilannya.

    Menemukan sosok yang Anda kagumi membuat Anda terpacu untuk terus-menerus memantaskan diri. Anda memang tidak mungkin meniru mereka apa adanya, karena itu tidak membuat Anda tetap otentik. Justru dari situ Anda bisa  terinspirasi untuk menjadi sosok yang benar-benar Anda inginkan. Seorang individu yang memancarkan potensi terbaik dari dalam diri untuk menciptakan nilai tambah, melayani, membantu, dan menemukan solusi bagi permasalahan di sekitar.

    Anda tentu masih ingat dengan kisah nyata Merry Riana – Host & Coach I’m Possible di Metro TV. Sosok yang dikenal setelah meledaknya buku (dan belakangan film) Mimpi Sejuta Dolar tersebut di “masa susah”-nya di Singapura memberanikan diri untuk bertemu dengan Anthony Robbins yang dikaguminya. Ia rela membayar tiket yang begitu mahal untuk menghadiri seminar hingga berfoto dengan pembicara publik sekaligus pengusaha papan atas dari Negeri Paman Sam itu. Karena begitu terinspirasi dari sosok yang dikagumi, Merry Riana tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sukses. Kegigihannya selama menjadi agen asuransi di Negeri Singa bisa menutupi utangnya kepada Pemerintah Singapura yang membiayai studi di Nanyang Technological University (NTU) hingga mendapatkan pendapatan 1 juta Dolar Singapura pertamanya di usia 26 tahun.

    Nah dari tiga pertanyaan sederhana di atas, beranikah Anda untuk menemukan dan menjalani panggilan hidup? Apakah Anda terpanggil untuk bertekad memperjuangkan apa yang paling penting dalam hidup Anda ataukah hanya menunggu kejadian-kejadian tak terduga yang kelak membawa “nasib” Anda? Pada akhirnya, semua kembali kepada pilihan. Karena hidup adalan memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana.***

     

    ***) Artikel ini sebelumnya dimuat di Inti Pesan, 15 Juli 2017

     

     

     

  • Menemukan “Panggilan” Dalam Bekerja

    Artikel ini sebelumnya dimuat di Inti Pesan, 21 Juni 2017

                 Setiap individidu memiliki motivasi unik dalam bekerja. Sebagian mendambakan kekayaan. Beberapa di antaranya mengejar kekuasaan. Tidak sedikit yang mencari ketenaran. Sebagian lainnya berupaya mereguk keberhasilan yang sifatnya relatif.

    Sebenarnya, mengapa kita bekerja? Apa yang kita cari dalam bekerja? Bagaimana bekerja dapat membantu pencapaian mimpi kita? Tiga pertanyaan mendasar ini meski terdengar begitu klise, masih tetap relevan dalam menganalisis perilaku manusia.

    Karena memiliki hasrat yang bergelora, saya mengambil Sabbatical selama setahun penuh di sepanjang 2016. Satu keputusan yang kurang populer di mata masyarakat tanah air – khususnya generasi Y.  Saya  isi hari demi hari dengan mencoba hal-hal baru, menekuni hobi, membaca, bertemu ribuan orang, jalan-jalan, hingga menjadi relawan selama enam bulan di salah satu pulau terluar yang hanya memakan waktu 2 jam perjalanan via ferry dari Singapura  dan Malaysia.

    Di sela-sela masa kontemplasi yang dikenal dengan Gap Year tersebut, saya menyempatkan diri untuk melakukan riset independen. Saya mencari tahu bagaimana manusia-manusia Indonesia memandang hidup. Mulai dari kapan mereka menemukan “panggilan”, apa yang mereka cari dalam hidup, apa  yang paling penting dalam hidup mereka, bagaimana mereka memandang keberhasilan, bagaimana mereka mengartikan kebahagiaan, hingga mengapa mereka bekerja.

    Secara rinci, saya mewawancarai lebih dari 1100 responden yang tersebar di 40 kota lapis pertama dan kedua  di  tanah air. Belum termasuk para diaspora Indonesia yang tersebar di New York, Kuala Lumpur, Penang, Singapura, Bangkok, Amsterdam, London, Jeddah, Sydney, New Delhi, Tokyo,  Hong Kong, hingga Bandar Seri Begawan. Profesi (dan jabatan) mereka beragam mulai dari mantan Menteri, anggota DPR, motivator, humas, akuntan, pemuka agama, perencana keuangan, konsultan, dokter, insinyur, bankir, guru, dosen, diplomat, wartawan, peneliti, pengacara, seniman, penulis, inovator, juru bicara presiden, pembawa acara berita, pengusaha, petani, hingga buruh.

    Hasil riset yang lebih mendalam akan saya rilis dalam bentuk buku kelak, namun berikut beberapa (ringkasan) temuan menarik yang dapat disimak.

    Pertama, bekerja merupakan salah satu pengejawantahan “panggilan” hidup.  Temuan ini sama sekali tidak mengejutkan saya, mengingat sekurang-kurangnya 8 jam dihabiskan untuk bekerja setiap harinya. Itu mengapa orang yang menganggur dan pensiunan yang tidak beraktivitas cenderung kurang bahagia dalam hidupnya. Karena meski mengharuskan adanya pengorbanan, bekerja menjadi salah satu dorongan untuk menemukan “makna” dalam hidup.

    Kedua, pemaknaan bekerja manusia Indonesia beragam. Sebagian semata-mata bekerja untuk menumpuk bongkahan berlian, memburu habis jabatan tertentu, dan mencari segala cara untuk menjadi pesohor. Namun sebagian besar bekerja sebagai “ladang ibadah”, sarana aktualisasi ilmu, melayani (atau membantu) sesama, memberikan nilai tambah, dan memecahkan masalah orang lain.

    Ketiga, yang paling diinginkan manusia Indonesia ialah kebahagiaan. Meski  makna kebahagiaan relatif, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menempatkannya sebagai salah satu aspek utama dalam menjalani hidup – khususnya dalam bekerja. Kebahagiaan tersebut dapat direguk ketika turut menolong sesama sehingga merasa diri mereka “ada” dan bermanfaat. Dengan kata lain, bekerja merupakan salah satu pertanda eksistensi manusia.

    Keempat, kesuksesan memang penting tapi bukan segalanya. Sukses ialah mendapatkan apa yang kita  inginkan, sedangkan bahagia ialah menginginkan apa yang kita  dapatkan. Karena tidak ada patokan yang disepakati untuk mengukur kesuksesan, takaran satu-satunya (mungkin) ialah syukur. Itu mengapa orang yang paling bahagia ialah orang-orang yang paling pandai bersyukur. Sehingga sama sekali tidak ada hubungannya dengan ukuran yang dapat dinalar seperti keuangan, jabatan, popularitas atau strata pendidikan.

    Kelima, setiap individu memiliki “orbit” masing-masing. Salah satu motivasi terbesar saya mengambil “jeda bekerja” selama setahun penuh (career break) ialah menemukan passion hingga “panggilan” hidup. Yang mengagetkan, jawaban lebih dari 1000 responden penelitian saya begitu berbeda-beda ketika ditanya kapan mereka menemukan renjana dan tujuan hidup. Ada seorang cendekiawan yang menemukannya ketika masih duduk di bangku SMA, ada seorang pengusaha ternama yang mencapainya di usia 35, ada seorang motivator yang mengenali dirinya di usia 30, ada seorang CEO yang mendapatkannya di usia  40, dan ada pula seorang pembicara papan atas yang meyakini panggilan hidupnya di usia 9 tahun. Jadi, bagi saudara-saudara sekalian yang belum menemukan passion-nya, janganlah berkecil  hati. Karena setiap orang memiliki jalan hidup  yang berbeda-beda. Renjana dan panggilan hidup akan ditemukan ketika kita mengenali siapa diri kita dan untuk apa kita ada di dunia. Sehingga, bisa dikatakan sebagai sebuah perjalanan sepanjang hayat.

    Sebagian intisari dari riset di atas, telah saya paparkan dalam buku saya yang telah terbit beberapa waktu lalu berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life Crisis. Yang terpenting bagi Anda sekarang tentu saja mencari tahu apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup, nilai-nilai apa yang paling Anda pegang, apa yang membuat Anda bahagia dalam bekerja, dan menemukan jawaban “mengapa” Anda ada di jagad raya. Semua pertanyaan klise yang bermuara pada pengenalan jati diri kita sebagai manusia.

                Akhir kata, saya jadi teringat pelajaran paling berharga selama setahun menjalani Sabbatical. Bahwa hidup adalah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana. Doa saya untuk Anda adalah agar segera menemukan “panggilan” hidup, sehingga bisa mereguk makna bekerja dan kebahagiaan hakiki. Selamat mudik bagi yang menjalankan, semoga selamat sampai tujuan. Selamat berlebaran.