Tag: Networking

  • Banyak Orang Mengira Networking Itu Menjilat. Mungkin Itu Sebabnya Mereka Sulit Bertumbuh

    Coba jujur pada diri sendiri sebentar.

    Berapa banyak kartu nama yang Anda kumpulkan tahun lalu, tapi tidak pernah Anda hubungi lagi? Berapa banyak koneksi LinkedIn yang jumlahnya ribuan, tapi kalau besok Anda kehilangan pekerjaan, entah kenapa rasanya tidak ada satu pun yang akan benar-benar mengangkat telepon Anda?

    Kalau itu terasa familiar, saya ingin sampaikan sesuatu bahwa masalahnya bukan karena Anda introvert, tidak pandai basa-basi atau “kurang gaul”. Masalahnya adalah, Anda mungkin selama ini percaya pada mitos-mitos yang salah tentang apa itu networking. Nah, mitos itu banyak sekali.

    (more…)

  • Saya Dulu Benci Networking. Sampai Saya Kehilangan Peluang Besar Karena Tidak Punya “Orang Dalam”.

    Pernah nggak kamu merasa seperti  …

    Sudah belajar bertahun-tahun, bekerja keras, mengumpulkan sertifikat, upgrade diri, mempercantik CV
    dan mungkin sudah mengirim ratusan lamaran. Tapi kesempatan besar itu selalu jatuh ke… orang lain?

    Kalau iya, tenang. Saya juga pernah ada di titik itu.

    Dulu saya berpikir hidup ini sederhana.

    Siapa yang paling kompeten, dialah yang akan menang. Siapa yang paling rajin bekerja, dialah yang akan dipromosikan. Siapa yang paling pintar, dialah yang paling dicari.

    Sayangnya, kehidupan tidak selalu bekerja seperti itu.

    Ada satu kalimat yang dulu sangat saya benci. “Dia dapat proyek karena orang dalam.”

    Dalam hati saya langsung bereaksi. “Berarti dunia memang tidak adil.”

    Namun semakin lama saya bekerja, bertemu banyak pemimpin, pengusaha, investor, headhunter, hingga profesional lintas industri, saya mulai menyadari sesuatu.

    Yang selama ini saya sebut “orang dalam” ternyata tidak selalu berarti nepotisme.

    Sering kali itu hanyalah…

    kepercayaan.

    Dan sejak saat itu, cara saya memandang networking berubah total.

    (more…)

  • Saya Pernah Mengira Networking Itu Menjilat. Ternyata Saya Salah Besar.

    Dulu, saya benar-benar percaya bahwa dunia kerja itu adil. Saya berpikir, kalau saya belajar lebih keras, bekerja lebih rajin, menambah sertifikasi, mempercantik CV, dan memberikan hasil terbaik, maka peluang pasti akan datang dengan sendirinya.

    Nyatanya? Tidak.

    Saya pernah melihat orang yang kemampuannya biasa saja justru mendapat promosi lebih dulu, melihat proyek bernilai miliaran rupiah jatuh ke tangan orang yang bahkan tidak pernah mengajukan proposal, dan posisi strategis terisi tanpa pernah diumumkan ke publik.

    Awalnya saya marah. Saya menyebutnya nepotisme, menganggapnya “orang dalam” dan merasa sistemnya tidak adil. Namun semakin lama saya berkarier, semakin saya memahami bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks daripada itu.

    Bayangkan dua restoran yang sama-sama menyajikan makanan terenak di kota. Yang satu berada di jalan protokol dengan papan nama besar. Yang satu lagi berada di gang sempit tanpa papan nama.

    Mana yang lebih dulu didatangi pelanggan? Belum tentu yang makanannya lebih enak. Tetapi yang lebih mudah ditemukan.

    Begitu pula dengan karier.

    Kompetensi adalah kualitas makananmu. Networking adalah alamat restoranmu.

    Kalau tidak ada yang tahu kamu ada, bagaimana kesempatan bisa datang mengetuk pintumu?

    (more…)

  • Jika Besok Kamu Kena PHK, Siapa yang Masih Mau Mengangkat Teleponmu?

    Kalau besok pagi semua yang Anda miliki hilang, siapa yang masih mau mengangkat telepon Anda?

    Bukan pertanyaan yang nyaman. Tetapi mungkin itulah pertanyaan paling jujur yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri.

    Karena dalam hidup profesional, kita sering mengukur kekayaan dari hal-hal yang terlihat.

    Jabatan. Gelar. Penghasilan. Aset. Jumlah pengikut. Kartu nama. Jabatan di LinkedIn. Omzet bisnis. Portofolio investasi.

    Semua itu penting. Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua itu tidak berharga.

    Tetapi ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita.

    Sebagian besar hal yang kita banggakan hari ini bisa hilang lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

    Perusahaan bisa melakukan restrukturisasi. Bisnis bisa menghadapi krisis. Pasar bisa berubah. Teknologi bisa menggantikan pekerjaan tertentu. Bahkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu keputusan yang salah.

    Lalu apa yang tersisa?

    Saya pernah melihat orang yang kehilangan jabatan tetapi tetap dihormati. Saya juga pernah melihat orang yang kehilangan jabatan lalu seolah menghilang dari peredaran.

    Perbedaannya bukan pada posisi mereka. Perbedaannya ada pada relasi yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

    Ibarat pohon besar, banyak orang sibuk merawat buahnya, tetapi lupa merawat akarnya.

    Padahal ketika badai datang, bukan buah yang menyelamatkan pohon. Akarlah yang membuatnya tetap berdiri.

    Dan dalam kehidupan profesional, akar itu bernama kepercayaan.  

    (more…)

  • Bekerja Keras Saja Tidak Cukup: Inilah Alasan Banyak Orang Hebat Tetap Gag

    “Kalau besok pagi Anda kehilangan pekerjaan, siapa orang pertama yang akan menelepon dan berkata, ‘Saya punya peluang untuk Anda’?”

    Pertanyaan itu terdengar sederhana.

    Tapi justru di situlah letak masalahnya.

    Banyak dari kita menghabiskan puluhan tahun untuk belajar, mengejar IPK tinggi, mengambil sertifikasi, mengikuti pelatihan, bahkan lembur sampai larut malam. Kita percaya bahwa kalau bekerja cukup keras, dunia akan memberi penghargaan yang setimpal.

    Sayangnya…

    Dunia nyata tidak selalu bekerja seperti itu.

    Ada orang yang kemampuannya biasa saja, tetapi kariernya melesat. Ada pebisnis yang produknya tidak jauh lebih unggul, tetapi kliennya mengalir tanpa henti. Ada profesional yang selalu mendapat kesempatan berbicara, diajak kolaborasi, atau direkomendasikan untuk posisi strategis.

    Kenapa?

    Apakah mereka lebih pintar?

    Belum tentu.

    Sering kali jawabannya jauh lebih sederhana:

    Mereka dikenal. Mereka dipercaya. Mereka punya jaringan yang kuat. 

    (more…)

  • Seni Membangun Networking Buat yang Benci Networking

    Bayangin momen ini: Lo lagi ada di sebuah event gede, ballroom hotel mewah, orang-orang pakai jas rapi, name tag menggantung di leher. Semua sibuk salaman, ketawa-ketawa, tukar kartu nama, dan ngobrol ngalor-ngidul. Sementara lo? Berdiri di pojokan, pura-pura sibuk buka HP, doa dalam hati semoga nggak ada yang ngajak ngobrol.

    (more…)