Kamu nggak butuh menulis buku untuk jadi berpengaruh.
Cukup rajin posting konten, rutin bikin video motivasi, sesekali naik panggung seminar — reputasimu akan terbangun dengan sendirinya. Kedengarannya masuk akal, kan? Toh banyak juga motivator yang besar cuma lewat media sosial.
Kalau kamu percaya kalimat di atas, izinkan saya cerita dulu soal apa yang terjadi minggu lalu.
Saya diajak ketemuan oleh salah satu klien saya. Sebut saja namanya Bhrahma, bukan nama sebenarnya.
Kini Bhrahma bisa dibilang sebagai salah satu motivator paling berpengaruh di Asia. Kontennya ditonton jutaan kali, dan kalau saya sebutin nama aslinya, saya yakin kamu langsung tahu siapa dia. Tapi maaf saya tak bisa sembarangan spill namanya, karena sudah ada kode etiknya.
Beberapa tahun silam, saya bantu dia menulis sebuah buku. Buku itu meledak. Viral. Sejak saat itu, kariernya nggak pernah sama lagi. Bayarannya melonjak fantastis, reputasinya makin dipercaya, dan brandingnya makin kokoh di mata publik.
Malam itu, sambil menyantap makan malam, dia bilang satu kalimat yang bikin saya diam cukup lama: “Konten gue udah ditonton jutaan kali sebelum buku itu terbit. Tapi orang baru benar-benar menganggap gue ‘layak dibayar mahal’ setelah buku itu ada.”