Senin pagi. Alarm sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Kamu menatap langit-langit kamar, menghela napas, lalu bertanya dalam hati, “Sebenarnya gue ngelakuin semua ini buat apa sih?”
Kamu tetap bangun. Tetap mandi, berangkat, buka laptop, ikut rapat. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam, ada suara kecil yang pelan-pelan makin keras: capek, tapi nggak tahu capek untuk siapa.
Kalau kamu pernah merasa begitu, tenang. Kamu nggak sendirian, dan kamu nggak rusak. Kamu mungkin hanya sedang bekerja dengan sumber energi yang keliru.
Bayangkan dua perangkat. Yang pertama power bank. Tenaganya besar, tapi hanya selama isinya masih ada. Begitu habis, kamu harus mencari colokan lagi. Yang kedua panel surya. Selama matahari terbit, dia menghasilkan energinya sendiri, hari demi hari, tanpa harus dicolok ke mana-mana.
Kebanyakan dari kita bekerja seperti power bank. Energi kita diisi dari luar: target bulanan, bonus, takut ditegur atasan, gengsi di depan teman. Kita bergerak, tapi diam-diam bergantung pada colokan yang tidak kita kendalikan. Sementara orang yang berkinerja unggul secara konsisten biasanya punya panel surya di dalam dirinya: alasan yang membuat mereka tetap menyala bahkan ketika tidak ada yang menonton.
Pertanyaannya, bagaimana memasang panel surya itu? Sains punya jawabannya, dan jawabannya jauh lebih membumi daripada yang kita kira.